Kamis, 20 September 2018

Rahasia Keimanan Abu Bakar RodhiyAlloohu Anhu

Rahasia menakjubkan, tentang seorang sahabat Nabi, Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu, orang yang paling mulia dari umat ini.

Sungguh dia bukan seorang yang fakir seperti Abu Dzar atau Abu Hurairah, tapi dia lebih mulia dari mereka.

Dia juga bukan orang yang banyak mendapat siksaan, seperti Khabbab atau Bilal, atau Yasir, atau Sumayyah, tapi dia lebih utama dari mereka.

Dia tidak pula terluka dalam peperangan sebagaimana terlukanya Tholhah, atau Abu Ubaidah, atau Kholid bin Walid, tapi dia lebih afdhol dari mereka.

Dia bukan orang yang mati syahid di jalan Alloh sebagaimana Umar bin Khaththob, atau Hamzah bin Abdul Muttholib, atau Mush'ab bin Umair, atau Sa'ad bin Mu'adz, tapi dia lebih mulia dari mereka.

Rahasia apa yang menjadikannya sangat mulia? Mari kita simak penuturan Bakr bin Abdullah al-Muzani, seorang ulama dari generasi tabiin tentang rahasia di balik ini, dia mengatakan: "Abu Bakar tidaklah mengungguli mereka dengan banyaknya amalan sholat ataupun puasa, namun dengan sesuatu yang meresap sempurna di dalam hatinya."

Ternyata rahasianya adalah AMALAN HATI, itulah yang menyampaikan beliau kepada kedudukan yang begitu tinggi dan mulia. Amalan hati itulah yang menjadikan iman beliau lebih berat meski ditimbang dg iman penduduk bumi seluruhnya, sebagaimana dikatakan oleh Sahabat Umar rodhiyAlloohu anhu.

Kita semua tahu, bahwa iman adalah amalan hati, perkataan lisan, dan amalan anggota badan. Sayangnya, seringkali usaha kita bertumpu pada bentuk lahir sebuah amalan, namun kita lupakan inti dan pokoknya, yakni amalan hati.

Pada setiap ibadah, ada inti dan ada bentuk lahir. Bentuk lahir sholat adalah ruku', sujud, dan rukun-rukun yang lainnya, sedang intinya: kekhusyu'an.

Bentuk lahir puasa adalah menahan diri dari semua pembatalnya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, sedang intinya: ketakwaan.

Bentuk lahir haji adalah thowaf, sai, wukuf di arafah, mabit di muzdalifah, melempar jumroh, dst, sedang intinya: mengagungkan syiar-syiar Alloh.

Bentuk lahir ibadah doa adalah mengangkat tangan, menghadap kiblat, kata-kata munajat dan permohonan, sedang intinya: perasaan butuh dan bergantung kepada Alloh.

Bentuk lahir amalan dzikir adalah bacaan tasbih, tahlil, takbir, hamdalah, dst, sedang intinya: mengagungkan Sang Pencipta, dan hadirnya rasa cinta, takut, dan berharap kepadaNya.

‘’Yang terpenting dari itu semua adalah amalan hati, baru kemudian amalan luarnya.’’

Karena, kelak yang akan tersingkap adalah semua rahasia. [QS. At-Thoriq:9]

Kelak, yang akan disingkap adalah hati yang ada di dalam dada. [QS. Al-Adiyat:10]

Kelak, tidaklah selamat, kecuali orang yang mendatangi Allah dengan hati yang suci. [QS. Asy-Syu'aro':89]

Kelak, tidaklah masuk surga, kecuali orang yang takut kepada Alloh yang maha penyayang saat menyendiri, dan dia datang dengan hati yang bertaubat. [QS. Qof:33]

Jika jarak di dunia ini bisa ditempuh dengan langkah kaki... maka jarak di akhirat bisa ditempuh dengan langkah HATI.

[Terjemahan dari status berbahasa arab]

Oleh Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny, Lc, MA.
Dewan Pembina RisalahIslam.or.id

Rabu, 19 September 2018

Penguasa dan Sikap Imam 4 Madzhab terhadap Penguasa

QS. Shod 38: ayat 26 berisi  perintah dari Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa kepada para penguasa agar mereka memutuskan perkara di antara manusia dengan kebenaran yang diturunkan dari sisi-Nya, dan janganlah mereka menyimpang darinya, yang berakibat mereka akan sesat dari jalan Alloh. Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa telah mengancam orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan yang melupakan hari perhitungan, yaitu dengan ancaman yang tegas dan azab yang keras.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Kholid, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Janah, telah menceritakan kepadaku Ibrahim alias Abu Zar'ah yang pandai membaca kitab-kitab terdahulu, bahwa Al-Walid ibnu Abdul Malik pernah bertanya kepadanya, "Apakah khalifah (penguasa) juga mendapat hisab? Kuajukan pertanyaan ini kepadamu karena kamu telah membaca kitab-kitab terdahulu, juga telah membaca Al-Qur'an serta memahaminya." Aku (Abu Zar'ah) menjawab, "Wahai Amirul Mukminin (khalifah, penguasa), saya hanya berpesan kepadamu, hendaknyalah engkau berdoa semoga berada di dalam keamanan dari Alloh." Kukatakan lagi, "Hai Amirul Mukminin, apakah engkau lebih mulia bagi Alloh ataukah Daud a.s? Sesungguhnya Alloh telah menghimpunkan baginya antara kenabian dan kekhalifahan (kekuasaan), tetapi sekalipun demikian Alloh mengancamnya melalui firman-Nya," sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur'an; Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka Bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. (QS. Shod: 26) hingga akhir hayat.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Sikap Imam 4 madzhab terhadap penguasa pada masa itu

1. Imam Ahmad menolak jabatan hakim dan pengurus aset negara (baitul mal), akibatnya menerima hukuman cambuk dan masuk jeruji besi.
2. Imam Malik, meskipun dekat dengan penguasa, tetap objektif dan konsisten dalam menjalankan syariat sehingga pernah dihukum cambuk sampai tulang pundaknya terlepas.
3. Imam Syafi'i pernah difitnah sebagai pendukung Syi'ah sehingga dirantai besi dari Yaman sampai kediaman khalifah Harun Ar-Rasyid di Baghdad.
4. Imam Ahmad, tidak mengakui Al-Quran sebagai makhluk yang diyakini oleh penguasa pada masa itu sehingga beliau dihukum cambuk dan masuk jeruji besi.

Sumber tautan:
http://m.hidayatullah.com/berita/read/2018/01/14/132992/inilah-sikap-imam-madzhab-empat-terhadap-penguasa.html


Selasa, 18 September 2018

Sarang Laba-laba

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung atau penolong selain Alloh seperti sarang laba-laba yang lemah, sedangkan bagi orang-orang yang beriman dan berpegang pada hukum syariat, sesungguhnya berpegang pada tali yang sangat kuat dan kukuh.

Tafsir Ibnu Katsir
Al-'Ankabut, ayat 41-43

{مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41) إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (42) وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ (43) }

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Alloh adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui: Sesungguhnya Alloh mengetahui apa saja yang mereka seru selain Alloh. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Alloh untuk menggambarkan perihal kaum musyrik karena mereka mengambil ilah-ilah selain Alloh yang mereka harapkan pertolongan dan rezekinya serta mereka pegang di saat mereka tertimpa kesengsaraan.

Keadaan mereka dalam hal tersebut sama dengan rumah laba-laba dalam hal kelemahan dan kerapuhannya. Orang yang menyembah ilah-ilah seperti mereka tiada lain seperti orang yang berpegangan pada rumah laba-laba, maka sesungguhnya hal itu tidak dapat memberikan suatu manfaat pun kepadanya. Sekiranya mereka mengetahui keadaan tersebut, tentulah mereka tidak akan menjadikan penolong-penolong mereka selain dari Alloh.

Berbeda halnya dengan orang muslim lagi beriman hatinya kepada Alloh, selain dia beramal dengan baik sesuai dengan hukum syariat,  sesungguhnya dia berpegang teguh pada tali yang kuat yang tidak akan terputus karena kekuatan dan kekukuhannya.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Minggu, 16 September 2018

Hati, Mata, dan Telinga

Hati untuk memahami ayat-ayat Alloh.
Mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Alloh.
Telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Alloh.



***

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ   ۖ  لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا  ۖ  وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا  ۖ  وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا   ۗ  اُولٰٓئِكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ   ۗ  اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

wa laqod zaro`naa lijahannama kasiirom minal-jinni wal-insi lahum quluubul laa yafqohuuna bihaa wa lahum a'yunul laa yubshiruuna bihaa wa lahum aazaanul laa yasma'uuna bihaa, ulaaa`ika kal-an'aami bal hum adholl, ulaaa`ika humul-ghoofiluun

"Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 179)

Sumber:
Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Tafsir Ibnu Katsir
Al-A'raf, ayat 179

{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179) }

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ}

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam. (Al-A'raf: 179)

Artinya, Kami ciptakan dan Kami jadikan mereka untuk isi neraka Jahannam.

{ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ}

kebanyakan dari jin dan manusia. (Al-A'raf: 179)

Yakni Kami sediakan mereka untuk isi neraka Jahannam, dan hanya amal ahli nerakalah yang dapat mereka kerjakan. Karena sesungguhnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa ketika hendak menciptakan mereka, Dia telah mengetahui apa yang bakal mereka amalkan sebelum kejadian mereka. Lalu hal itu Dia catatkan di dalam suatu kitab (Lauh Mahfuz) yang ada di sisi-Nya, yang hal ini terjadi sebelum langit dan bumi diciptakan dalam tenggang masa lima puluh ribu tahun.

Hal ini seperti yang disebutkan di dalam kitab Shohih Muslim melalui riwayat Abdullah ibnu Amr, bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ قَدَّرَ مَقَادِيرَ الْخَلْقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ"

Sesungguhnya Alloh telah mencatat takdir-takdir makhluk-(Nya) sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak masa lima puluh ribu tahun, sedangkan A'rasy-Nya berada di atas air.

Di dalam kitab Shohih Muslim pula telah disebutkan melalui hadis Aisyah binti Talhah, dari bibinya (yaitu Siti Aisyah r.a., Ummul Mu’minin). Dia telah menceritakan:

دُعِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِنَازَةِ صَبِيٍّ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لَهُ، عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ، لَمْ يَعْمَلِ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ. فَقَالَ [رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ] أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ؟ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ، وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ، وَخَلَقَ النَّارَ، وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ"

bahwa Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam diundang untuk menghadiri pemakaman jenazah seorang bayi dari kalangan kaum Ansar. Lalu Siti Aisyah berkata, "Wahai Rosuulullooh, beruntunglah dia, dia akan menjadi burung pipit surga, dia tidak pernah berbuat keburukan dan tidak menjumpainya." Maka Rosuulullooh Shollalloohu'alahi wasallam bersabda:
Hai Aisyah, tidaklah seperti itu. Sesungguhnya Alloh telah menciptakan surga dan Dia telah menciptakan pula para penghuninya, sedangkan mereka masih berada di dalam sulbi bapak-bapak mereka. Dan Alloh telah menciptakan neraka, dan Dia telah menciptakan pula para penghuninya, sedangkan mereka masih berada di dalam sulbi bapak-bapak mereka.

Di dalam kitab Shohihain, melalui hadis Ibnu Mas'ud disebutkan seperti berikut:

ثُمَّ يَبْعَثُ إِلَيْهِ الْمَلِكَ، فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيَكْتُبُ: رِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَعَمَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ".

Kemudian Alloh mengirimkan malaikat kepadanya, malaikat diperintahkan untuk mencatat empat kalimat. Maka dicatatlah (1) rezekinya, (2) ajalnya, dan (3) amalnya serta (4) apakah dia orang yang Celaka ataukah orang yang berbahagia

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa ketika Alloh mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbinya dan menjadikan mereka dua golongan, yaitu gotongan kanan dan golongan kiri, maka Alloh berfirman:

"هَؤُلَاءِ لِلْجَنَّةِ وَلَا أُبَالِي، وَهَؤُلَاءِ لِلنَّارِ وَلَا أُبَالِي".

Mereka untuk menghuni surga dan Aku tidak peduli. Dan mereka untuk menghuni neraka dan Aku tidak peduli.

Hadis-hadis yang menerangkan masalah ini cukup banyak. Masalah takdir memang merupakan suatu pembahasan yang cukup panjang, tetapi disebutkan dalam kitab yang lain, bukan kitab ini tempatnya.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا}

mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan­nya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). (Al-A’raf: 179)

Dengan kata lain, mereka tidak memanfaatkan sesuatu pun dari indra-indra ini yang telah dijadikan oleh Alloh sebagai sarana untuk mendapat hidayah, seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلا أَبْصَارُهُمْ وَلا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ

dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka, karena  selalu mengingkari ayat-ayat Alloh (al Ahqaf: 26) hingga akhir hayat

{صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ}

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (Al-Baqarah: 18)

Demikianlah sifat orang-orang munafik, sedangkan mengenai sifat orang-orang kafir, Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa telah berfirman:

{صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ}

Mereka tuli, bisu, dan buta; maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Al-Baqoroh: 171)

Pada kenyataannya mereka tidak tuli, tidak bisu, dan tidak buta, melainkan hanya terhadap hidayah, seperti yang disebutkan oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa dalam firman-Nya:

{وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ}

Kalau kiranya Alloh mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Alloh menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Alloh menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedangkan mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). (Al-Anfal: 23)

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ}

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj: 46)

{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ * وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ}

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Robb Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya syaithoon (yang menyesatkan); maka syaithoon itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaithoon-syaithoon itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar, dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (Az-Zukhruf: 36-37)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ}

Mereka itu seperti binatang ternak (Al-A'raf: 179)

Maksudnya, mereka yang tidak mau mendengar perkara yang hak, tidak mau menolongnya serta tidak mau melihat jalan hidayah adalah seperti binatang ternak yang terlepas bebas. Mereka tidak dapat memanfaatkan indra-indea tersebut kecuali hanya yang berkaitan dengan masalah keduniawiannya saja. Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلا دُعَاءً وَنِدَاءً

Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. (Al-Baqoroh: 171)

Perumpamaan mereka di saat mereka diseru kepada keimanan sama dengan hewan ternak di saat diseru oleh penggembalanya; ternak itu tidaklah mendengar selain hanya suaranya saja, tanpa memahami apa yang diserukan penggembalanya. Karena itulah dalam ayat ini mereka disebutkan oleh firman-Nya:

{بَلْ هُمْ أَضَلُّ}

Bahkan Mereka lebih sesat Lagi (Al Araf : 179)

Yakni lebih sesat daripada hewan ternak, karena hewan ternak adakalanya memenuhi seruan penggembalanya di saat penggembalanya memanggilnya, sekalipun ia tidak mengerti apa yang diucapkan penggembalanya. Lain halnya dengan mereka. Hewan ternak melakukan perbuatan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya, adakalanya berdasarkan tabiatnya, adakalanya pula karena ditundukkan. Lain halnya dengan orang kafir, karena sesungguhnya dia diciptakan hanya semata-mata untuk menyembah Alloh dan mengesakan-Nya, tetapi ternyata dia kafir dan mempersekutukan-Nya.

Karena itu, disebutkan bahwa barang siapa yang taat kepada Alloh, maka dia lebih mulia daripada malaikat ketak di hari dia kembali ke alam akhirat. Dan barang siapa yang kafir kepada Alloh, maka hewan ternak lebih sempurna daripadanya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ}

Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Sabtu, 15 September 2018

Karunia dan Rahmat Alloh

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا}

Seandainya tidaklah karena Karunia Alloh dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. (An-Nur: 21)

Seandainya Alloh tidak memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk bertobat, kembali kepada-Nya, dan membersihkan dirinya dari keburukan, kekotoran, dan semua akhlak yang rendah, yang masing-masing orang disesuaikan dengan keadaannya, tentulah tidak akan ada seorang pun yang bersih dan tidak (pula) beroleh kebaikan.

{وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ}

tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nur: 21)

dari kalangan makhluk-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, lalu menjerumuskannya ke dalam kesesatan yang membinasakan dirinya.

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَاللَّهُ سَمِيعٌ}

Dan Alloh Maha Mendengar. (An-N ur: 21)

semua ucapan hamba-hamba-Nya.

{عَلِيمٌ}

lagi Maha Mengetahui. (An-N ur: 21)

siapa di antara mereka yang berhak memperoleh petunjuk dan siapa yang berhak beroleh kesesatan.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Jumat, 14 September 2018

Hukum memakai Konde

Konde, gelung rambut, sanggul, kundai (KBBI)

Pertama, Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam melarang keras menyambung rambut.
Sekalipun itu dilakukan karena sakit atau untuk menutupi aib. Berdasarkan hadis dari Asma’ binti Abu bakr rodhiyAlloohu ‘anhuma, beliau menceritakan,

Ada seorang wanita yang mendatangi Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, ‘Saya telah menikahkan putriku, kemudian dia sakit, sampai rambutnya banyak yang rontok. Sementara suaminya memintaku untuk menanganinya. Bolehkah saya sambung rambutnya?’ kemudian Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam mencela keras orang yang menyambung rambut dan orang yang disambungkan rambutnya.
(HR. Bukhari nomor 5935).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah rodhiyAlloohu ‘anhu, Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman yang sangat keras untuk tindakan menyambung rambut semacam ini.

Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Alloh melaknat orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya…” (HR. Bukhari nomor 5933).

Kedua, sambungan rambut yang statusnya terlaknat adalah sambungan rambut yang bentuknya rambut, baik rambut manusia atau rambut sintetis. Karena semacam ini mengandung kesan penipuan.

Ketiga, memakai Konde dalam rangka mengagungkan tokoh
Wanita yang datang kepada Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam dalam kisah di atas, sangat membutuhkan untuk bisa menutupi aib putrinya dengan menyambung rambutnya. Terlebih dia didesak oleh suami putrinya agar segera menangani masalah fisik putrinya. Meskipun demikian, Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Ibnu Abdil Bar mengatakan,

فَإِذَا كَانَ هَذَا لِضَرُورَةٍ فَلَا يَحِلُّ، فَكَيْفَ بِهِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ؟

Jika menyambung rambut untuk kondisi darurat hukumnya tidak halal, bagaimana lagi untuk kasus tidak darurat? (Al-Istidzkar, 8/431)

Untuk itu, tidak mungkin kita mengatakan, boleh pakai konde pada hari Kartini karena kondisi darurat.

Sumber:
Konsultasi syariah

Kamis, 13 September 2018

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

Quu anfusakum wa ahliikum naaron

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (At-Tahrim, ayat 6)

Tafsir Ibnu Katsir

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari seorang lelaki, dari Ali ibnu Abu Talib r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (naar). (At-Tahrim: 6) Makna yang dimaksud ialah didiklah mereka dan ajarilah mereka.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar. (At-Tahrim: ayat 6) Yakni amalkanlah ketaatan kepada Alloh dan hindarilah perbuatan-perbuatan durhaka kepada Alloh, serta perintahkanlah kepada keluargamu untuk berdzikir, niscaya Alloh akan menyelamatkan kamu dari api naar.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (At-Tahrim: 6) Yaitu bertakwalah kamu kepada Alloh dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Alloh.

Qatadah mengatakan bahwa engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Alloh dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadap­Nya. Dan hendaklah engkau tegakkan terhadap mereka perintah Alloh dan engkau anjurkan mereka untuk mengerjakannya serta engkau bantu mereka untuk mengamalkannya. Dan apabila engkau melihat di kalangan mereka terdapat suatu perbuatan maksiat terhadap Alloh, maka engkau harus cegah mereka darinya dan engkau larang mereka melakukannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Muqatil, bahwa sudah merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim mengajarkan kepada keluarganya—baik dari kalangan kerabatnya ataupun budak-budaknya (saat ini tidak ada lagi perbudakan seperti pada masa itu-red) — hal-hal yang difardukan oleh Alloh dan mengajarkan kepada mereka hal-hal yang dilarang oleh Alloh yang harus mereka jauhi.

Semakna dengan ayat ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, dan Imam Turmuzi melalui hadis Abdul Malik ibnur Rabi' ibnu Sabrah, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah bersabda:

"مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، فَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا"

Perintahkanlah kepada anak untuk mengerjakan sholat bila usianya mencapai tujuh tahun; dan apabila usianya mencapai sepuluh tahun, maka pukullah dia karena meninggalkannya.

Ini menurut lafaz Abu Daud. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan. Imam Abu Daud telah meriwayatkan pula melalui hadis Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam hal yang semisal. Ulama fiqih mengatakan bahwa hal yang sama diberlakukan terhadap anak dalam masalah puasa, agar hal tersebut menjadi latihan baginya dalam ibadah, dan bila ia sampai pada usia balig sudah terbiasa untuk mengerjakan ibadah, ketaatan, dan menjauhi maksiat serta meninggalkan perkara yang mungkar.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Rahasia Keimanan Abu Bakar RodhiyAlloohu Anhu

Rahasia menakjubkan, tentang seorang sahabat Nabi, Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu, orang yang paling mulia dari umat ini. Sungguh dia bukan...