Senin, 03 Desember 2018

Big data warisan budaya takbenda

Pertemuan informal
dengan Adam Cao dari Yong Xin Hua Yun Cultural Industry Investment Group Co., Ltd. pada Sesi ke-13 the Intergovernmental Committee for Safeguarding of Intangible Cultural Heritage di Mauritius, 28 November 2018.

Pada 23 September 2018, Asisten Direktur Jenderal UNESCO berkunjung ke Qianmen Cultural Park dan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Yong Xin Hua Yun.

Yong Xin Hua Yun adalah partner global UNESCO di bidang warisan budaya takbenda, dan perusahaan yang membangun dan mengoperasikan platform big data warisan budaya takbenda.

Perusahaan Yong Xin Hua Yun bertujuan membangun sebuah platform tentang warisan budaya takbenda di seluruh dunia, yang distandardisasikan, didigitalisasikan, menjadi data warisan budaya takbenda yang cerdas dan terbuka. Perusahaan Yong Xin Hua Yun berupaya membangun sebuah proyek klasifikasi standar untuk warisan budaya takbenda, pewaris (inheritors) dan hasil karyanya, juga sebuah otoritatif sistem kodifikasi identifikasi internasional. Selain itu, dengan menggunakan kemajuan internet, kreativitas artistik, keuangan, dan kekuatan industri lainnya, perusahaan Yong Xin Hua Yun melakukan upaya kerja sama untuk membangun rancangan ekologis tiga dimensi dan  sistem komunikasi untuk menunjukkan nilai historis dan keindahan masa lalu dengan cara membuat sebuah brand baru. Di samping itu, perusahaan Yong Xin Hua Yun membangun proteksi warisan budaya takbenda terbesar di dunia dan platform warisan budaya untuk membantu mempromosikan keberagaman budaya dari seluruh komunitas warisan budaya takbenda di seluruh dunia.

Kerja sama antara Yong Xin Hua Yun dengan UNESCO

Sejak 2015, Yong Xin Hua Yun telah melakukan sejumlah kerja sama dengan UNESCO di bidang warisan budaya takbenda, meliput pembangunan budaya yang berkelanjutan, proteksi warisan budaya takbenda, promosi keberagaman budaya, kerja sama internasional tentang kota kreatif, dan partner UNESCO dalam pendanaan, dan sebagainya.

Dalam tiga tahun bekerja sama dengan UNESCO, Yong Xin Hua Yun menyadari bahwa warisan budaya takbenda merupakan bagian penting dari kebudayaan manusia, adalah kristalisasi pengetahuan dan kebijaksanaan. Warisan budaya takbenda mengandung konotasi dan nilai-nilai.

Saat ini, dengan perkembangan sains dan teknologi, warisan budaya takbenda tradisional semakin tertinggal dalam kehidupan kita. Dengan kata lain, media baru dan internet lebih populer dan memasuki kehidupan semua orang. Semua orang memasuki era kecerdasan yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Perpaduan peningkatan penggunaan teknologi yang semakin populer dengan warisan budaya takbenda yang terancam punah diperkuat dengan sains dan teknologi adalah sebuah isu yang sangat penting tentang warisan budaya dan keberlanjutan peradaban.

Di bawah panduan konsep tersebut di atas, berbagai upaya yang dilakukan Yong Xin Hua Yun telah berhasil melakukan terobosan, khususnya proyek big data tentang warisan budaya takbenda dan ruang publik warisan budaya takbenda. Selain itu, platform big data warisan budaya takbenda bertujuan menegakkan prinsip sukarela, dan mengajak komunitas untuk mendaftarkan proyek-proyek warisan budaya takbenda pada daftar warisan budaya takbenda nasional, provinsi, dan kabupaten/ kota. Di samping itu, dengan menerapkan kemajuan teknologi seperi big data, cloud computing, dan internet, sebuah platform untuk informasi warisan budaya takbenda telah dibangun, menyajikan nilai-nilai budaya dan daya tarik artistik warisan budaya takbenda dalam sebuah bentuk baru sehingga terlihat sebagai warisan yang lebih baik dan berkembang.

Proyek ruang publik warisan budaya takbenda memperbarui model industri kreatif dan budaya dengan mendorong partisipasi publik dan menginspirasi keterampilan (craftmanship). Pada waktu yang bersamaan, Yong Xin Hua Yun berdedikasi memainkan sebuah peran memperkuat pembangunan berkelanjutan tentang warisan budaya takbenda di dunia. Yong Xin Hua Yun bekerja keras untuk meningkatkan pengakuan dan popularitas warisan budaya takbenda di antara masyarakat umum dan bersedia berbagi upaya dan pengalaman yang telah dilakukan dengan seluruh dunia. Dan Yong Xin Hua Yun juga mencari opini dan saran dari seluruh partner, dan memutuskan untuk melakukan eksplorasi sebagai cara yang terbaik untuk bekerja sama antara pemerintah dengan dunia usaha (public-private partnership), yang menguntungkan untuk proteksi dan keberlanjutan warisan budaya takbenda.
Secara singkat, melalui kerja sama online dan offline, Yong Xin Hua Yun mengadopsi dua model, yaitu model platform berbagi informasi dan ruang publik yang berupa fisik, sebagai sebuah platform komunikasi dan pewarisan warisan budaya takbenda. Dengan cara ini, pewaris warisan budaya takbenda (inheritors) dapat memperoleh dukungan keuangan dan keuntungan. Lebih dari itu, pengentasan kemiskinan dapat dicapai dalam proteksi warisan budaya takbenda dan warisan budaya takbenda dapat lebih baik terintegrasi dalam kehidupan modern melalui kombinasi teknologi dan kreasi budaya. Akhirnya, Yong Xin Hua Yun menyadari diseminasi warisan warisan budaya takbenda di dunia dan membuat warisan budaya takbenda sebagai bagian penting dari promosi pembangunan berkelanjutan dari komunitas yang bersangkutan.

Apa yang dapat Yong Xin Hua Yun lakukan untuk memproteksi warisan budaya takbenda

Sebagai sebuah perusahaan yang berpartner dengan UNESCO, Yong Xin Hua Yun akan mengimplementasikan tujuan pembangunan berkelanjutan UNESCO dengan cara tanpa susah payah melakukan proteksi, promosi dan pewarisan warisan budaya takbenda, serta mempromosikan pembangunan kreativitas budaya. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, Yong Xin Hua Yun melakukan beberapa hal sebagai berikut.

1. Membangun platform warisan budaya takbenda, yang terbuka bagi seluruh komunitas di seluruh dunia tanpa biaya (free). Setiap komunitas dapat mengunggah dan mendaftarkan informasi yang relevan sendiri, dan menikmati hak untuk menentukan sendiri dan menggunakan informasi.

2. Menetapkan sebuah mekanisme kerja sama internasional untuk proteksi hak cipta warisan budaya takbenda dan mendorong peningkatan kapasitas untuk proteksi, promosi, dan diseminasi dengan cara yang telah diatur.

3. Melaksanakan secara komprehensif, inklusif, pendidikan warisan budaya takbenda secara berkualitas melalui kerja sama dengan berbagai institusi dan mengorganisasi workshop, seminar dan pelatihan serta mengintegrasikan warisan budaya takbenda ke dalam kurikulum sekolah dan pelatihan praktik, dengan cara itu akan membawa energi baru (vitalitas) terhadap warisan budaya takbenda.

4. Menetapkan sebuah mekanisme kerja sama internasional untuk diseminasi warisan budaya takbenda di seluruh dunia, mempromosikan diseminasi warisan budaya takbenda dari berbagai aspek pengembangan warisan budaya takbenda, promosi aktivitas warisan budaya takbenda, riset dan analisis pemerhati warisan budaya takbenda, dan efek umpan balik dari komunikasi tentang warisan budaya takbenda.

5. Mengandalkan seluruh sumber data platform warisan budaya takbenda, mengembangkan analisis artificial intelligence (AI), dan mempromosikan inovasi warisan budaya takbenda melalui penerapan analisis data untuk membentuk sebuah peninggalan (legacy) ekosistem pewarisan warisan budaya takbenda.

Sobat budaya,
Harry WALUYO,
Global Network Facilitators, UNESCO.

Jumat, 30 November 2018

Kebudayaan Indonesia mau dibawa kemana?

Kebudayaan Indonesia lalu, kini, dan esok

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjelaskan tentang tujuan hidup kita berbangsa dan bernegara sangat jelas tertulis dalam pembukaan UUD 1945 dan tidak pernah diubah sampai sekarang, kecuali batang tubuh dan pasal-pasalnya yang telah mengalami revisi beberapa kali.

Alinea keempat pembukaan UUD 1945 menyebutkan:
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pasal 32, UUD 1945 juga telah mengatur tentang kebudayaan.

Bagaimana dengan pendidikan?

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pun masih dipelajari sampai sekarang sejak pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita sudah menjadi manusia Indonesia, seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa dan negara ini?

Agama dan Kebudayaan

Negara mengakui agama dan kepercayaan dijelaskan dalam pasal 29, UUD 1945. Pasal 29 UUD 1945 adalah ayat (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Ayat (2) berbunyi, Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Demikian juga dengan kebudayaan, Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional (pasal 32, ayat 1 dan 2)

Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. 

Demikian juga kebudayaan, Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Karena masyarakat Indonesia majemuk, yang memiliki latar sejarah, geografis, dan pengalaman kontak-kontak budaya dengan budaya luar (asing), selama hal itu tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, budaya asing yang positif dapat memperkaya kebudayaan Indonesia.

Karena Kebudayaan  bersumber dari, oleh, dan untuk masyarakat, maka masyarakat yang memiliki kebudayaan yang majemuk juga mempunyai nilai-nilai budaya yang beragam dalam menyikapi pengaruh-pengaruh dari luar. 

Kebudayaan nasional Indonesia berasal dari masa sebelum kemerdekaan, yang tumbuh dan berkembang sampai saat ini, melalui pinjam meminjam, tukar menukar pengetahuan dan pengalaman di antara penerus tradisi dan praktisi budaya, baik yang tinggal di dalam maupun di luar negeri, sehingga terbentuk manusia Indonesia seperti saat ini. 

Dinamika masyarakat Indonesia semakin cepat mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi digital yang sangat pesat.

Bagaimana sikap kita dalam menghadapi perubahan  tersebut?

Belajar dan beradaptasi agar kita tidak tergerus dengan arus globalisasi dan industrialisasi yang mengancam keberagaman budaya di tanah air.

Pemanfaatan kebudayaan untuk memberi manfaat sosial dan ekonomi telah menjadi bahan perdebatan di UNESCO sehingga kita tidak perlu khawatir dengan perubahan yang terjadi selama kita mau belajar dan beradaptasi. 

Dalam Konvensi 2003 tentang Pelindungan Warisan Budaya Takbenda (living tradition), pemanfaatan warisan budaya takbenda sangat dimungkinkan, bahkan didorong untuk tetap tampil dalam kekinian, diciptakan kembali dengan daya cipta insani, tidak distandardisasikan karena akan mematikan keberagaman budaya, tidak dibekukan dengan pengulangan yang membuat kebudayaan tidak tumbuh dan berkembang, dan tidak dikomersialisasikan di luar konteks ruang budaya yang bersangkutan.

Pemerhati budaya, pariwisata, dan industri budaya

Sabtu, 24 November 2018

Kedahsyatan Dzikir Hasbunalloh Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir

Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, Cukuplah Alloh (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَـكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًا    ۖ  وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

allaziina qoola lahumun-naasu innan-naasa qod jama'uu lakum fakhsyauhum fa zaadahum iimaanaw wa qooluu hasbunallohu wa ni'mal-wakiil

"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Alloh dan Rosul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, Cukuplah Alloh (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 173)

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوْۤا  اَنَّ اللّٰهَ مَوْلٰٮكُمْ ۗ  نِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

wa in tawallau fa'lamuuu annalloha maulaakum, ni'mal-maulaa wa ni'man-nashiir

"Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 40)

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ ۗ  هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ  مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ  هُوَ سَمّٰٮكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ  ۙ  مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ  ۖ  فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗ  هُوَ مَوْلٰٮكُمْ ۚ  فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

wa jaahiduu fillaahi haqqo jihaadih, huwajtabaakum wa maa ja'ala 'alaikum fid-diini min haroj, millata abiikum ibroohiim, huwa sammaakumul-muslimiina ming qoblu wa fii haazaa liyakuunar-rosuulu syahiidan 'alaikum wa takuunuu syuhadaaa`a 'alan-naasi fa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata wa'tashimuu billaah, huwa maulaakum, fa ni'mal-maulaa wa ni'man-nashiir

"Dan berjihadlah kamu di jalan Alloh dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Alloh) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini agar Rosul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah SHOLAT dan tunaikanlah ZAKAT, dan berpegang teguhlah kepada Alloh. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 78)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

*******

"Hasbunalloh Wani'mal Wakil, Ni'mal Maula Wani'man Nasir."

Artinya: “Cukuplah ALLOH sebagai penolong kami, dan ALLOH adalah sebaik-baik pelindung.”

Dzikir di atas merupakan dzikir pendek, namun mengandung makna yang sangat luar biasa. Seperti kita ketahui bahwa manusia seringkali merasakan suka dan duka yang silih berganti. Meski telah dijelaskan dalam Al-Quran bahwa manusia itu akan diuji dengan perasaan gelisah, orang-orang yang beriman akan tetap percaya kalau Alloh Subhaanahuu wa Ta’aalaa selalu bersamanya sehingga perasaan galau dan gelisah dapat teratasi. Kepasrahan mereka menerima takdir Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa, membuat jiwa lebih sabar dan tenteram dalam menghadapi cobaan kerasnya kehidupan.

Bacaan Dzikir "Hasbunalloh Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir" adalah dzikir pilihan untuk seluruh umat Muslim.

Dengan selalu membacanya maka hati akan senantiasa dekat dengan Yang Maha Pencipta, memiliki perasaan yang sangat peka terhadap keadaan sekitar sehingga terhindar dari berbagai kemungkinan buruk dan kejahatan yang akan dilakukan orang lain terhadapnya. Alloh Ta’aalaa menceritakan mengenai Rosul dan sahabatnya dalam firman-Nya,

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَـكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًا    ۖ  وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

allaziina qoola lahumun-naasu innan-naasa qod jama'uu lakum fakhsyauhum fa zaadahum iimaanaw wa qooluu hasbunallohu wa ni'mal-wakiil

"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Alloh dan Rosul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, Cukuplah Alloh (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 173)

Sahabat Abdullah bin ‘Abbas pernah berkata, bahwa “Hasbunalloh wa ni’mal wakil” adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau akan dilempar ke dalam api yang membara.

Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan kalimat tersebut dalam ayat, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhori no. 4563)

Sejarah mencatat, bahwa dzikir "Hasbunalloh Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir" adalah salah satu bacaan yang kerap diucapkan oleh para nabi dan ulama salaf, baik dalam keadaan lapang maupun saat menghadapi cobaan besar ataupun fitnah yang berat.

Kekuatan dzikir "Hasbunalloh Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir" melebihi kekuatan apa pun di dunia ini, serta menegaskan semangat tauhid pada diri orang mukmin. Yaitu bahwa hanya kepada Alloh sajalah tempat untuk berserah diri, dan pengakuan bahwa semua makhluk ciptaan-Nya adalah lemah atau tidak abadi.

Bahkan, dzikir "Hasbunallah Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir' merupakan untaian ayat Al-Quran dengan makna yang terkandung hikmah agung di dalamnya. Dengan mempelajarinya, maka menjadi tahu arti, makna, hikmah, keutamaan, dan kelebihannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta’aalaa sekaligus meminta perlindungan hanya kepada-Nya.

Berikut ini adalah beberapa kedahsyatan dzikir "Hasbunalloh wani'mal wakil."

1. Membaca dzikir "Hasbunallah Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir" adalah satu di antara bentuk ketakwaan kita kepada Alloh. Bentuk dan rasa tawakal kita kepada Alloh dengan sepenuhnya mendekatkan diri kepada Alloh. Dengan kalimat ini, kita menyerahkan segenap jiwa dan raga kepada Alloh, menyerahkan segala urusan, beban, dan masalah kita kepada Alloh karena Alloh lah sebaik-baiknya wakil. Tawakal dan ikhlas menyerahkan sepenuhnya urusan kepada Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa.

2. Pada saat dihimpit berbagai problematika kehidupan dunia yang begitu menyesakkan, dirundung duka dan derita, serta masalah-masalah yang berkecamuk, termasuk kesulitan hidup, maka kita hendaknya mengucapkan ayat "Hasbunalloh wani'mal wakil ni'mal maula wani'man nasir." Selain itu, merupakan wujud ketergantungan manusia kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa, manifestasi permohonan tolong kepada Alloh, dan bentuk tawakal untuk mengembalikan segala urusan kepada-Nya.

3. Adapun makna "Hasbunalloh wani’mal wakil" secara implisit (tersirat) menegaskan tentang ke-Esa-an Alloh, yakni sebagai satu-satunya dzat yang patut kita untuk menyerahkan semua urusan, meminta pertolongan, dan memohon perlindungan dari segala gangguan. Karena Dia lah sebaik-baiknya dzat yang patut disembah dan dimintai pertolongan.

Kedahsyatan dzikir "Hasbunalloh wani'mal wakil" yang memiliki arti dan makna sangat mendalam atas kedekatan dan rasa tawakal kita kepada Alloh sebagai Robb Yang Maha Pencipta yang Maha Kuasa. Berikut adalah berbagai kisah tentang kedahsyatan Dzikir "Hasbunalloh Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir."

Kisah-kisah kedahsyatan Dzikir Hasbunalloh wani’mal wakil:

1. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Ibrahim alaihissallam diletakkan di atas tungku api, Jibril bertanya kepada beliau –Apakah engkau memerlukan sesuatu pertolongan dariku?’ Nabi Ibrahim lantas menjawab – “Aku tidak memerlukan apa-apa pertolongan darimu. Aku hanya memerlukan pertolongan dari Alloh.”

“Hasbunalloh wa ni’mal wakil” itulah kalimat yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim alaihissalaam ketika akan dilempar ke dalam kobaran api. Nabi Ibrahim mempercayakan seluruh jiwa dan raganya sepenuhnya kepada Alloh, maka Alloh berfirman “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Alloh menjadikan api yang panas itu dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar. Demikian halnya dengan Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam dan para sahabat ketika menghadapi ancaman dari pasukan kafir, mereka juga mengucapkan “Hasbunalloh wa ni’mal wakil,” Cukuplah Alloh menjadi penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik pelindung.

2. Nabi Muhammad Shollalloohu alaihi wasallam juga diriwayatkan menyebut kalimah "Hasbunallah wa ni’mal wakil" ketika di dalam perang Badar, sehingga Alloh memberikan kemenangan kepada baginda.

3. Pernah ada suatu cerita tentang seorang pedagang yang hendak meminjam uang untuk modal usaha kepada seorang mukmin.  Mukmin bertanya kepada sang pedagang “Apa jaminan darimu, agar dapat membayar pinjamanmu?” Pedagang menjawab, “Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa,” maka Mukmin berkata” jika itu yang jadi jaminanmu, maka aku percaya.” Lalu disepakati jadwal pelunasan utang.

Pedagang pun menggunakan uang itu untuk berdagang. Ketika menjelang jatuh tempo pembayaran utang,  Pedagang dengan membawa hasil keuntungan dagangannya pergi untuk melunasi utangnya kepada Mukmin. Akan tetapi, setibanya di tempat perahu yang biasa mengantarkan penumpang, tidak ada satupun perahu yang dapat membawanya ke tempat tujuan. Dia khawatir akan lewat jatuh tempo kesepakatan yang telah disepakati dengan Mukmin. Lalu dia mengambil sebuah kayu dan melubangi kayu itu. Dia kemudian memasukkan uang dan sebuah surat ke dalam lubang di kayu itu.  Pedagang kemudian menaruh kayu itu ke laut dan berdoa kepada Alloh semoga uang ini dapat sampai ke tangan  Mukmin.

Keesokan harinya,  Pedagang dapat menyeberang lautan dengan membawa uang penganti yang lain. Pedagang itu kemudian menyerahkan uang kepada Mukmin.  Mukmin menjawab dengan tersenyum, “Uang pinjamanmu sudah aku terima kemarin, ketika aku sedang menunggumu. Aku menemukan sebuah batang kayu, lalu batang kayu itu aku bawa pulang untuk aku jadikan kayu bakar. Pada saat aku membelahnya ada uang beserta surat darimu." Pedagangpun tersenyum dan bersyukur kepada Alloh.

4. Berkaitan dengan doa kepasrahan di atas, pada tahun 2007, seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia di Hong Kong didakwa membunuh bayi majikan. Pekerja asal Malang itu mengaku saat itu sangat lelah setelah kerja beberapa hari tanpa istirahat yang cukup.

Tiba-tiba saja bayi dalam gendongannya jatuh dan mati dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia ditangkap polisi dan dimasukkan dalam tahanan dengan dakwaan pembunuhan sambil menunggu proses pengadilan.

Dalam pengadilan yang berlangsung beberapa kali dengan didampingi pembela dari KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia), ia dituntut penjara tujuh tahun. Pada malam menjelang sidang esok harinya, perempuan berusia dua puluhan tahun dan baru masuk Islam itu pamit untuk menjalani hukuman yang sudah pasti dijalani berdasar beberapa pengalaman serupa dalam pengadilan di Hong Kong.

Namun, ia tetap meminta doa selamat. Sekalipun belum bisa membaca dengan lancar, saya tuliskan "Hasbunallah wani'mal wakil" (cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah Pelindung Yang Terbaik).

Saya tambahkan juga doa "Ni’mal maula wani’man nashir" (Robb Maha Penolong dan Pemberi kemenangan. QS. Al-Anfal 8:40, al-Haj 22:78). Ia baca doa itu sepanjang malam sambil menangis karena teringat orang tuanya di Indonesia yang tidak tahu menahu kejadian itu.

Esok harinya, sebuah keajaiban terjadi. Dalam sidang terakhir, ia dibebaskan dari semua tuduhan, tapi dalam waktu 48 jam harus meninggalkan Hong Kong. Pengacaranya terheran-heran karena hampir tidak masuk akal. Jaksa penuntut juga bersungut-sungut dengan keputusan hakim.

Subhaanalloh, Alloohu Akbar, Kita tidak perlu takut dengan segala tantangan, karena kita telah memiliki kekuatan besar: keimanan, dan senjata ampuh: "Hasbunalloh wani'mal wakil, ni’mal maula wani’man nasir."

Inilah kehebatan kita sebagai seorang mukmin: tidak cengeng, waswas, gelisah, pesimis menghadapai suatu masalah. Kita baca berulangkali dzikir "Hasbunallah Wani’mal Wakil Ni’mal Maula Wani’man Nasir" sambil merenungkan Ke-Mahaperkasaan dan ke-Mahakuasa-an Alloh dalam menolong hamba-Nya.

Kita hadapi semua tantangan dengan penuh iman dan percaya diri, lalu kita serahkan sepenuhnya kepada Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa. Pasrahkan semua masalah yang Anda hadapi kepada Alloh sepenuhnya, Alloh pasti hadir dan berkata, “Tenanglah, Aku hadir untuk mengambil alih semua masalahmu!.”

"Hasbunalloh Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'man Nasir."

Cukuplah ALLOH sebagai penolong kami, dan ALLOH adalah sebaik-baik pelindung

Sumber tautan:
http://www.kabarmakkah.com/2017/02/dzikir-hasbunallah-wanikmal-wakil-nikmal-maula.html


Kamis, 22 November 2018

Sebuah pemikiran untuk strategi pemajuan kebudayaan

Isu-isu pokok kongres kebudayaan

8 dari 10 pokok-pokok isu yang akan dibahas dalam Kongres Kebudayaan, 5-9 Desember mendatang termasuk dalam warisan budaya takbenda, yaitu (1) bahasa, (2) manuskrip*, (3) adat istiadat, (4) ritus, (5) tradisi lisan, (6) pengetahuan tradisional, (7) teknologi tradisional, (8) seni permainan rakyat, (9) olahraga tradisional, dan (10) cagar budaya.

* Manuskrip termasuk program Memory of the World, UNESCO.

Indonesia telah meratifikasi konvensi internasional di bawah naungan UNESCO.

UNESCO adalah lembaga dunia yang menangani pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, yang bertujuan mewujudkan perdamaian dunia melalui promosi keberagaman budaya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.  

Inter-relasi 3 Konvensi UNESCO

Ada 3 Konvensi di bawah naungan UNESCO, yaitu Konvensi 1972 tentang Proteksi Warisan Alam dan Dunia, atau disebut juga Warisan Dunia; Konvensi 2003 tentang Pelindungan Warisan Budaya Takbenda (budaya hidup), dan Konvensi 2005 tentang Proteksi dan Promosi Ekspresi Keberagaman Budaya.

Warisan Dunia (Konvensi 1972)

- Konservasi warisan dan tempat-tempat yang tidak dapat dipindahkan (immovable heritage)
- Nilai universal yang luar biasa (outstanding universal value)
- Keaslian, keutuhan membantu untuk menentukan nilai, dan seringkali membatasi perubahan.

Ruang lingkup:
- Warisan alam, seperti taman nasional
- Warisan budaya benda (tangible heritage), seperti candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Situs Manusia Purba
- Gabungan warisan alam dan budaya benda (natural and culture heritage)

Warisan Budaya Takbenda (Konvensi 2003)

- Pelindungan atas ekspresi, keterampilan, praktik-praktik, dan pengetahuan.
- Budaya dan/ atau sosial
- Komunitas mendefinisikan nilai yang relevan dengan mereka.
- Orang-orang memberlakukan dan mentransmisikan, jadi warisan budaya takbenda selalu berubah dari waktu ke waktu.
- Warisan budaya takbenda adalah praktik-praktik kolektif, yang ditransmisikan sedikitnya satu generasi.
- Fokus pada pelindungan atas praktik dan transmisi warisan budaya takbenda.

Ruang Lingkup:
- Ekspresi tradisi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda, seperti Saman.
- Seni pertunjukan, seperti pertunjukan Wayang, Angklung, Tari Bali
- Praktik-praktik sosial, ritual-ritual dan festival-festival, seperti Tari Bali
- Pengetahuan dan praktik-praktik tentang alam dan alam semesta, seperti Tari Bali, Batik
- Keterampilan tradisional, seperti Keris, Noken Papua, Pinisi, Batik

Produk dan Jasa (Konvensi 2005)

- Aktivitas budaya, produk (barang-barang dan jasa-jasa)
- Ekspresi-ekspresi budaya yang seringkali baru.
- Fokus pada industri budaya, diseminasi, dan pengembangan

Ruang lingkup:
- Pertunjukan dan perayaan-perayaan (Seni pertunjukan, musik, festival, fair, dan pesta)
- Seni-seni visual dan kerajinan (seni rupa, fotografi, kerajinan)
- Buku dan Penerbitan (buku, surat kabar dan majalah, barang cetakan lainnya, perpustakaan termasuk virtual library; pameran buku).
- Audio-visual dan media interaktif (film dan video, televisi dan radio termasuk live streaming televisi dan radio.
- Video games (permainan video)
- Desain dan jasa-jasa kreatif (desain mode, desain grafis, desain interior, desain lanskap, jasa arsitektural, dan jasa iklan)

Dalam konteks nasional, warisan budaya benda (tangible heritage/ world heritage) telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sedangkan warisan budaya hidup (intangible cultural heritage) telah diatur dalam undang-undang, antara lain Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta dan Undang-Undang Nomor 5  Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. 

Konvensi 2005 tentang Proteksi dan Promosi Ekspresi Keberagaman Budaya, antara lain diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan tidak mengatur pelindungan, pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan tentang produk budaya yang  berupa barang maupun jasa.

Konvensi 2005 sangat erat kaitannya dengan industri budaya, yang kemudian berkembang menjadi industri kreatif, yang sekarang dikenal  dengan istilah ekonomi baru atau ekonomi kreatif (UNCTAD).

Bahan baku industri budaya atau industri kreatif bersumber dari budaya atau nilai-nilai, yang digali dan dikembangkan dari warisan alam dan budaya benda (cagar budaya) dan/ atau warisan budaya takbenda (budaya hidup), yang diekspresikan dalam berbagai aktivitas sosial dan perlengkapan hidup manusia untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan hidupnya. 

Konteks ruang dan waktu

Budaya mempunyai konteks ruang dan waktu atau lokalitas tertentu. Dengan kemajuan teknologi saat ini, konteks ruang dan waktu menjadi tanpa batas (borderless) sehingga budaya di suatu tempat (spatial) dan waktu tertentu (temporal) dapat dilihat dan didengar oleh orang-orang dari berbagai tempat di dunia (borderless society). 

Dalam kondisi demikian akan terjadi pinjam-meminjam dan tukar-menukar budaya di antara orang-orang dari berbagai belahan dunia, yang akan membentuk karakter dan identitas budaya yang diwarnai dengan nilai-nilai yang bersumber dari alam,  budaya, dan lingkungan, yang terus menerus mengalami perubahan sejak dari masa lalu, masa kini, dan masa depan seiring dengan dengan perjalanan sejarah umat manusia.

Intinya, proses pembelajaran di antara orang-orang di berbagai belahan dunia, yang dipercepat dengan kemajuan teknologi informasi, telah mengubah wajah dunia menjadi "Satu untuk semua atau semua untuk satu." Artinya, nilai-nilai yang diekspresikan melalui berbagai aktivitas dan perlengkapan hidup untuk memenuhi tujuan hidup orang-orang di suatu tempat dan waktu tertentu di dunia, selama terhubung dengan jaringan frekuensi, internet, atau satelit, akan memberi pengaruh terhadap orang-orang di seluruh dunia. Demikian juga nilai-nilai dari orang-orang di seluruh dunia, yang diekspresikan dalam berbagai aktivitas sosial dan perlengkapan hidup dalam rangka memenuhi kebutuhan atau tujuan hidupnya akan memengaruhi orang-orang di berbagai tempat di dunia. 

Ilustrasi:
Orang-orang yang menggunakan smartphone dapat memengaruhi gaya hidup orang-orang di seluruh dunia atau dipengaruhi oleh gaya hidup orang-orang dari seluruh dunia.

Pendidikan seumur hidup

Karena budaya dipelajari secara terus dari lingkungan dan digunakan secara selektif untuk menghadapi lingkungan (learning and adaptation) yang dinamis sehingga strategi pemajuan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan seumur hidup (lifelong education).

Belajar dari pengalaman

Manusia diberi akal untuk belajar dari perjalanan hidup manusia di masa lalu, dari perspektif kekinian untuk masa depan yang lebih baik. 

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Peradaban manusia di masa lalu, ada yang sudah hilang, rusak, atau punah; ada yang terancam punah; ada yang dikonservasi; ada yang masih hidup sampai sekarang; ada yang sedang berkembang, dan adapula yang menjadi praktik-praktik terbaik sehingga menjadi model pembelajaran di seluruh dunia. 

Data kebudayaan

Untuk menyusun sebuah strategi kebudayaan diperlukan data statistik kebudayaan yang mengacu pada Kerangka Statistik Kebudayaan yang dirilis oleh UNESCO Institute for Statistics tahun 2010, yang meliputi data warisan alam dan budaya (Konvensi 1972); data seni pertunjukan dan perayaan, data seni visual dan kerajinan, data buku dan penerbitan, data audio-visual dan media interaktif, data desain dan jasa kreatif (Konvensi 2005), data yang terkait dengan pariwisata, data yang terkait dengan olahraga dan rekreasi, dan data warisan budaya takbenda (Konvensi 2003).

Tanpa data statistik kebudayaan yang menyeluruh dan terkait dengan kebudayaan, mustahil dapat menyusun strategi pemajuan kebudayaan untuk 5 sampai 10 tahun ke depan. 

Strategi pemajuan kebudayaan

Kerangka statistik kebudayaan dapat digunakan untuk mengorganisasi data kebudayaan, yang antara lain bermanfaat untuk:

1. Pendidikan dan pelatihan seumur hidup melalui pendidikan formal dan nonformal (transmission).
2. Pengarsipan dan pelestarian 
3. Perlengkapan (sarana dan prasarana pendidikan)

Strategi pemajuan kebudayaan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi komunitas, kelompok, dan/ atau  individu-individu. 

Komunitas terdiri atas
praktisi (practitioner) dan 
penerus tradisi (tradition-bearer), orang yang meneruskan keahliannya kepada orang lain.

Komunitas adalah orang-orang yang berpartisipasi secara langsung atau tidak langsung dalam praktik dan/ atau transmisi (melalui pendidikan formal dan non-formal) unsur warisan budaya takbenda (atau sekumpulan unsur) dan/ atau yang mempertimbangkan warisan budaya takbenda sebagai bagian dari warisan budaya mereka.

Menurut Konvensi 2003, "Komunitas, khususnya komunitas adat, kelompok, dan dalam beberapa kasus individu, memainkan peran penting dalam produksi, pelindungan, pemeliharaan, dan penciptaan kembali warisan budaya takbenda, sehingga membantu memperkaya keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia."

Konvensi 2003 tidak membedakan "komunitas" dengan "kelompok." Beberapa penafsiran mengartikan "kelompok" sebagai jejaring orang (seperti praktisi, pelindung, atau penerus tradisi) di dalam komunitas, atau di seluruh komunitas yang memiliki pengetahuan khusus tentang unsur warisan budaya takbenda tertentu, atau yang mempunyai peran khusus dalam transmisi atau penggunaan atau praktik warisan budaya takbenda.

Pemerhati budaya, industri budaya, industri kreatif, ekonomi kreatif.


Kamis, 15 November 2018

Namanya tertulis dalam Taurat dan Injil

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. (Al-A'raf: 157)

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

اَ لَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰٮهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْ   ۗ  فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَ اتَّبَـعُوا النُّوْرَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ مَعَهٗۤ  ۙ  اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

allaziina yattabi'uunar-rosuulan-nabiyyal-ummiyyallazii yajiduunahuu maktuuban 'indahum fit-taurooti wal-injiili ya`muruhum bil-ma'ruufi wa yan-haahum 'anil-mungkari wa yuhillu lahumuth-thoyyibaati wa yuharrimu 'alaihimul-khobaaa`isa wa yadho'u 'an-hum ishrohum wal-aghlaalallatii kaanat 'alaihim, fallaziina aamanuu bihii wa 'azzaruuhu wa nashoruuhu wattaba'un-nuurollaziii unzila ma'ahuuu ulaaa`ika humul-muflihuun

"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rosul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 157)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Al-A'raf, ayat 157

{الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157) }

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharam­kan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

{الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ}

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. (Al-A'raf: 157)

Demikianlah sifat dan ciri khas Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam yang tertera di dalam kitab-kitab para nabi terdahulu. Para nabi terdahulu menyampai­kan berita gembira kepada umatnya masing-masing akan kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam dan memerintahkan kepada umatnya untuk mengikutinya (apabila mereka mengalami masanya). Dan sifat-sifat Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam masih tetap ada dalam kitab-kitab mereka serta diketahui oleh ulama dan rahib mereka. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنِ الجُرَيري، عَنْ أَبِي صَخْرٍ الْعُقَيْلِيِّ، حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنَ الْأَعْرَابِ، قَالَ: جَلَبْتُ جَلُوبَةً إِلَى الْمَدِينَةِ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْ بَيْعَتِي قُلْتُ: لَأَلْقِيَنَّ هَذَا الرَّجُلَ فَلْأَسْمَعَنَّ مِنْهُ، قَالَ: فَتَلَقَّانِي بَيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُونَ، فَتَبِعْتُهُمْ فِي أَقْفَائِهِمْ حَتَّى أَتَوْا عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْيَهُودِ نَاشِرًا التَّوْرَاةَ يَقْرَؤُهَا، يُعَزِّي بِهَا نَفْسَهُ عَنِ ابْنٍ لَهُ فِي الْمَوْتِ كَأَحْسَنِ الْفِتْيَانِ وَأَجْمَلِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنْشُدُكَ بِالَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ، هَلْ تَجِدُ فِي كِتَابِكَ هَذَا صِفَتِي وَمَخْرَجِي؟ " فَقَالَ بِرَأْسِهِ هَكَذَا، أَيْ: لَا. فَقَالَ ابْنُهُ، إِي: وَالَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ إِنَّا لِنَجِدُ فِي كِتَابِنَا صِفَتَكَ ومَخرجك، وَإِنِّي أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ: "أَقِيمُوا الْيَهُودِيَّ عَنْ أَخِيكُمْ". ثُمَّ وَلِيَ كَفَنَهُ (6) وَالصَّلَاةَ عَلَيْهِ

telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Al-Jariri, dari Abu Sakhr Al-Uqaili, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki Badui yang menceritakan bahwa di masa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam ia pernah datang ke Madinah membawa sapi perahan. Setelah selesai dari jual belinya, lelaki Badui itu berkata, "Aku sungguh akan menemui lelaki ini (maksudnyaNabi Shallallahu'alaihi Wasallam), dan sungguh aku akan mendengar darinya." Lelaki Badui itu melanjutkan kisahnya; lalu aku menjumpainya sedang berjalan di antara Abu Bakar dan Umar, maka aku mengikuti mereka berjalan hingga sampailah mereka kepada seorang lelaki Yahudi. Lelaki Yahudi itu sedang membuka kitab Taurat seraya membacanya, sebagai ungkapan rasa duka dan belasungkawanya atas anak lelakinya yang sedang menghadapi kematian; anak lakt-Iakinya itu adalah seorang pemuda yang paling tampan dan paling gagah. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bertanya: Aku memohon kepadamu dengan nama Tuhan yang telah menurun­kan kitab Taurat, apakah engkau menjumpai dalam kitabmu ini sifat dan tempat hijrahku? Lelaki Yahudi itu menjawab pertanyaan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam hanya dengan isyarat gelengan kepala yang berarti 'tidak'. Tetapi anak lelakinya yang sedang menghadapi kematian itu berkata, "Ya, demi Tuhan yang telah menurun­kan kitab Taurat, sesungguhnya kami menjumpai di dalam kitab kami sifatmu dan tempat hijrahmu. Dan sesungguhnya aku sekarang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi (pula) bahwa engkau adalah utusan Allah." (Kemudian anak orang Yahudi itu meninggal dunia). Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: Singkirkanlah orang Yahudi ini dari saudara kalian! Kemudian Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam mengurus pengafanan dan menyalati mayat anak lelaki Yahudi itu.

Hadis ini baik lagi kuat dan mempunyai syahid (bukti) yang menguatkannya di dalam kitab Sahih melalui hadis Anas.

Imam Hakim —penulis kitab Al-Mustadrak— mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ishaq Al-Bagawi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Aisam Al-Baladi, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muslim ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Idris, dari Syurahbil ibnu Muslim, dari Abu Umamah Al-Bahili, dari Hisyam ibnul  As Al-Umawi yang menceritakan bahwa dia dan seorang lelaki lain diutus untuk menemui Heraklius—Raja Romawi— untuk menyerunya (mengajaknya) masuk Islam. "Kami berangkat, dan ketika kami sampai di Al-Gautah —bagian dari kota Dimasyq (Damaskus)— kami turun istirahat di perkampungan Al-Jabalah ibnul Aiham Al-Gassani. Lalu kami masuk menemuinya, tiba-tiba kami jumpai dia berada di atas singgasananya. Ia mengirimkan utusannya kepada kami agar kami berbicara dengannya, tetapi kami mengatakan, 'Demi Allah, kami tidak akan berbicara kepada utusan. Sesungguhnya kami diutus hanya untuk menemui raja (kalian). Jika kami diberi izin untuk masuk, maka kami akan berbicara langsung dengannya; dan jika tidak, kami tidak akan berbicara kepada utusan.' Kemudian utusan Jabalah ibnul Aiham kembali kepadanya dan menceritakan segala sesuatunya kepadanya. Akhirnya kami diberi izin untuk menemuinya, lalu Jabalah berkata, "Berbicaralah kalian.' Maka Hisyam ibnul As berbicara dengannya dan menyerunya untuk memeluk agama Islam. Ternyata Jabalah memakai pakaian hitam, maka Hisyam bertanya kepadanya, 'Pakaian apakah yang engkau kenakan itu?' Jabalah menjawab, 'Saya memakainya dan saya telah bersumpah bahwa saya tidak akan menanggalkannya sebelum mengusir kalian dari negeri Syam.' Kami berkata, 'Majelismu ini, demi Allah, akan benar-benar kami rebut dari tangan kekuasaanmu, dan sesungguhnya kami akan merebut kerajaan rajamu yang paling besar, Insya Allah. Hal ini telah diberitakan kepada kami oleh Nabi kami, yaitu Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam' Jabalah mengatakan, 'Kalian bukanlah mereka, bahkan mereka adalah suatu kaum yang puasa siang harinya dan salat pada malam harinya, maka bagaimanakah cara puasa kalian?' Maka kami menceritakan cara puasa kami. Wajah Jabalah menjadi hitam (marah) dan berkata, 'Berangkatlah kalian,' dan ia menyertakan seorang utusan bersama kami untuk menghadap kepada Kaisar Romawi. Kami berangkat, dan ketika kami sudah dekat dengan ibu kota, berkatalah orang yang bersama kami, 'Sesungguhnya hewan kendaraan kalian ini dilarang memasuki ibu kota kerajaan. Jika kalian suka, maka kami akan membawa kalian dengan kendaraan kuda dan Bagal. Kami menjawab, 'Demi Allah, kami tidak akan masuk melainkan dengan memakai kendaraan ini.' Kemudian orang yang bersama kami itu mengirimkan utusan (kurir)nya kepada kaisar untuk menyampaikan bahwa para utusan kaum muslim menolak peraturan tersebut. Akhirnya Raja Romawi memerin­tahkan kepada utusan itu untuk membawa kami masuk dengan kendaraan yang kami bawa. Kami masuk ke dalam ibu kota dengan menyandang pedang-pedang kami, hingga sampailah kami pada salah satu gedung milik Kaisar. Lalu kami istirahatkan unta kendaraan kami pada bagian bawahnya, sedangkan Raja Romawi memandang kami. Lalu kami ucapkan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.' Allah-lah yang mengetahui, karena sesungguhnya gedung itu mendadak menjadi awut-awutan seperti pohon kurma yang tertiup angin besar. Lalu raja mengirimkan kurirnya kepada kami untuk menyampaikan, 'Kalian tidak usah menggembar-gemborkan agama kalian kepada kami.' Dan raja mengirimkan lagi kurirnya untuk menyampaikan, 'Silakan kalian masuk.' Maka kami masuk menghadapnya, sedangkan dia berada di atas pelaminannya, di hadapan para pastur Romawi. Segala sesuatu yang ada di majelisnya berwarna merah, raja sendiri memakai baju merah, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya semuanya berwarna merah. Lalu kami mendekat kepadanya. Dia tertawa, lalu berkata, 'Bagaimanakah menurut kalian jika kalian datang menghadap kepadaku dengan mengucapkan kalimat salam penghormatan yang berlaku di antara sesama kalian? Tiba-tiba di sisinya terdapat seorang lelaki yang fasih berbicara Arab lagi banyak bicara. Maka kami menjawab, 'Sesungguhnya salam penghormatan kami di antara sesama kami tidak halal bagimu, dan salam penghormatan kamu yang biasa kamu pakai tidak halal pula bagi kami memakainya.' Raja menjawab, 'Bagaimanakah ucapan salam penghormatan kalian di antara sesama kalian? Kami menjawab, 'Assalamu 'alaika. Raja ber­tanya, 'Bagaimanakah caranya kalian mengucapkan salam penghormat­an kepada raja kalian?' Kami menjawab, 'Sama dengan kalimat itu.! Raja bertanya, 'Bagaimanakah kalian mendapat jawabannya?' Kami menjawab, Kalimat yang sama. Raja bertanya, 'Kalimat apakah yang paling besar dalam ucapan kalian? Kami menjawab, 'Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.' Ketika kami mengucapkan kalimah itu, hanya Allah-lah yang lebih mengetahui, tiba-tiba gedung istana itu bergetar sehingga si raja mengangkat kepalanya memandang ke atas gedung itu. Raja berkata, 'Kalimat yang baru saja kalian ucapkan dan membuat gedung ini bergetar. Apakah setiap kalian mengucapkannya di dalam rumah kalian, lalu kamar-kamar kalian bergetar karenanya? Kami menjawab, 'Tidak, kami belum pernah melihat peristiwa ini kecuali hanya di tempatmu sekarang ini? Raja berkata, 'Sesungguhnya aku mengharapkan seandainya saja setiap kali kalian mengucapkan segala sesuatu bergetar atas kalian. Dan sesungguhnya aku rela mengeluarkan separo dari kerajaanku? Kami bertanya, 'Mengapa?' Ia menjawab, 'Karena sesungguhnya hal itu lebih mudah dan lebih layak untuk dikatakan bukan merupakan perkara kenabian, dan bahwa hal tersebut hanyalah terjadi semata-mata karena perbuatan manusia.' Kemudian raja menanyai kami tentang tujuan kami, lalu kami menceritakan hal itu kepadanya. Setelah itu raja bertanya, 'Bagaimana­kah salat dan puasa kalian?' Kami menceritakan hal itu kepadanya, lalu raja berkata. 'Bangkitlah kalian.' Kemudian ia memerintahkan agar menyediakan rumah yang baik dan tempat peristirahatan yang cukup buat kami, dan kami tinggal di sana selama tiga hari. Pada suatu malam raja mengirimkan kurirnya kepada kami, lalu kami masuk menemui raja, dan ia meminta agar kami mengulangi ucapan kami, maka kami mengulanginya. Sesudah itu ia memerintahkan agar dibawakan sesuatu yang berbentuk seperti kota yang cukup besar, terbuat dari emas. Di dalamnya terdapat rumah-rumah kecil yang masing-masingnya berpintu. Raja membuka sebuah rumah dan membuka kuncinya, lalu menge­luarkan (dari dalamnya) selembar kain sutera hitam. Ketika kami membeberkan kain sutera itu, tiba-tiba padanya terdapat gambar merah, dan pada gambar yang merah itu terdapat gambar seorang lelaki yang bermata besar lagi berpantai besar, saya belum pernah melihat leher sepanjang yang dimilikinya. Ternyata lelaki itu tidak berjanggut, dan ternyata pada rambutnya terdapat dua kepangan rambut yang paling indah di antara semua makhluk Allah. Lalu raja berkata, 'Tahukah kalian gambar siapakah ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Ia berkata, 'Ini adalah gambar Adam 'alaihissalam' Ternyata Nabi Adam 'alaihissalam adalah orang yang sangat lebat rambutnya. Kemudian raja membuka rumah yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera berwarna hitam darinya. Tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar orang yang berkulit putih, memiliki rambut yang keriting, kedua matanya merah, berkepala besar, dan sangat bagus janggutnya. Lalu raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Dia adalah Nuh 'alaihissalam' Kemudian ia membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam lainnya, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang kelaki yang sangat putih, kedua matanya sangat indah, keningnya lebar, dan pipinya panjang (lonjong), sedangkan janggutnya berwarna pulih, seakan-akan gambar lelaki itu tersenyum. Lalu raja bertanya, 'Tahu­kan kalian, siapakah orang ini?7 Kami menjawab, 'Tidak.' Ia berkata, 'Orang ini adalah Ibrahim 'alaihissalam' Lalu raja membuka pintu yang lain (dan mengeluarkan kain sutera hitam) tiba-tiba padanya terdapat gambar orang yang putih, dan tiba-tiba—demi Allah—dia adalah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam sendiri." Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab. ‘Ya. orang ini adalah Muhammad, utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala’ Kami menangis, dan raja bangkit berdiri sejenak, kemudian duduk lagi, lalu bertanya, 'Demi Allah, benarkah gambar ini adalah dia (Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam)?' Kami menjawab, 'Ya, sesungguhnya gambar ini adalah gambar dia, seakan-akan engkau sedang memandang kepadanya.' Raja memegang kain sutera itu sesaat seraya memandangnya, lalu berkata, 'Ingatlah, sesungguhnya rumah ini adalah rumah yang terakhir, tetapi sengaja saya segerakan buat kalian untuk melihat apa yang ada pada kalian.' Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam darinya, tiba-tiba padanya terdapat gambar seseorang yang hitam manis, dia adalah seorang lelaki yang berambut keriting dengan mata yang agak cekung, tetapi pandangannya tajam, wajahnya murung, giginya bertumpang tindih, bibirnya dicibirkan seakan-akan sedang dalam keadaan marah. Raja bertanya “Tahukah kalian siapakah orang ini?'Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata 'Dia adalah Musa 'alaihissalam' Sedangkan di sebelahnya terdapat gambar seseorang yang mirip dengannya, hanya rambutnya berminyak, dahinya lebar, dan kedua matanya kelihatan agak juling. Raja itu bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Harun ibnu Imran 'alaihissalam' Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih dari dalamnya. Ternyata di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki hitam manis, tingginya pertengahan, dadanya bidang, dan seakan-akan sedang marah. Lalu si raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini? Kami menjawab, 'Tidak.' Dia menjawab bahwa orang tersebut adalah Lut 'alaihissalam Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera berwarna putih, tiba-tiba padanya terdapat gambar seorang lelaki yang kulitnya putih kemerah-merahan dengan pinggang yang kecil dan memiliki wajah yang tampan. Lalu si raja bertanya, 'Tahukah kaitan siapakah orang ini?* Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Dia adalah Ishaq 'alaihissalam Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih darinya, dan ternyata di dalamnya terdapat gambar seseorang yang mirip dengan Ishaq, hanya saja pada bibirnya terdapat tahi lalat. Raja bertanya, 'Tahukah kalian, siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Ya'qub 'alaihissalam' Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera yang berwarna hitam, di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki berkulit putih, berwajah tampan, berhidung mancung dengan tinggi yang cukup baik, pada wajahnya terpancarkan nur (cahaya), dan terbaca dari wajahnya pertanda khusyuk dengan kulit yang putih kemerah-merahan. Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata.”Orang ini adalah kakek nabi kalian, yaitu Nabi Ismail 'alaihissalam" Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, dan ternyata di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang mirip dengan Nabi Adam, hanya wajahnya bercahaya seperti mentari. Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, Tidak tahu. Raja berkata ‘Orang ini adalah Yusuf AS. Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang berkulit merah, kedua betisnya kecil, dan matanya rabun, sedang-kan perutnya besar dan tingginya sedang, seraya menyandang pedang. Raja bertanya, 'Tahukan kalian siapakah orang ini?* Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Daud 'alaihissalam' lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang berpantat besar, kedua kakinya agak panjang seraya mengendarai kuda. Lalu raja bertanya, 'Tahukah kalian, siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Sulaiman ibnu Daud 'alaihissalam' Kemudian raja membuka pintu yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera hitam darinya, pada kain sutera itu terdapat gambar orang yang berpakatan putih, dan ternyata dia adalah seorang pemuda yang janggutnya berwarna hitam pekat, berambut lebat, kedua matanya indah, dan wajahnya tampan. Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab. 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Isa ibnu Maryam 'alaihissalam' Kami bertanya, 'Dari manakah kamu mendapatkan gambar-gambar ini? Karena kami mengetahui bahwa gambar-gambar tersebut sesuai dengan gambar nabi-nabi yang dimaksud, mengingat kami melihat gambar nabi kami persis seperti yang tertera padanya.' Raja menjawab, 'Sesungguhnya Adam 'alaihissalam pernah memohon kepada Tuhannya agar Dia memperlihatkan kepadanya para nabi dari keturunannya, maka Allah menurunkan kepadanya gambar-gambar mereka. Gambar-gambar tersebut berada di dalam perbendaharaan Nabi Adam 'alaihissalam yang terletak di tempat tenggelamnya matahari. Kemudian dikeluarkan oleh Zul Qarnain dari tempat penyimpanannya di tempat tenggelamnya matahari, lalu Zul Qarnain menyerahkannya kepada Nabi Danial.' Kemudian raja berkata, 'Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya pribadiku suka bila keluar dari kerajaanku, dan sesungguhnya aku nanti akan menjadi orang yang memiliki kerajaan yang paling kecil di antara kalian hingga aku mati.' Lalu raja memberikan hadiah, Dan ternyata hadiah yang diberikannya sangat baik, lalu dia melepas kami pulang. Ketika kami sampai pada Khalifah Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Anhu. kami ceritakan kepadanya semua yang telah kami lihat, demikian pula perkataan raja serta hadiah yang diberikannya kepada kami. Maka Abu Bakar menangis dan berkata, 'Kasihan dia. Seandainya Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia melakukannya (masuk Islam).' Kemudian Abu Bakar As-Siddiq berkata, 'Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, bahwa mereka (orang-orang Nasrani) dan orang-orang Yahudi menjumpai sifat Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam pada kitab yang ada pada mereka'."

Hal yang sama telah diketengahkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalailun Nubuwwah, dari Al-Hakim secara ijazah, lalu ia menuturkan kisah tersebut, sanad dari kisah ini tidak ada celanya.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَر، حَدَّثَنَا فُلَيْح، عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو فَقُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّوْرَاةِ. قَالَ: أَجَلْ وَاللَّهِ، إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ كَصِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ: "يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّينَ، أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي، سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ، وَلَا صخَّاب فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ، وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللَّهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ، بِأَنْ يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيَفْتَحَ بِهِ قُلُوبًا غُلفا، وَآذَانًا صُمًّا، وَأَعْيُنًا عُمْيًا" قَالَ عَطَاءٌ: ثُمَّ لَقِيتُ كَعْبًا فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ، فَمَا اخْتَلَفَ حَرْفًا، إِلَّا أَنَّ كَعْبًا قَالَ بِلُغَتِهِ، قَالَ: "قُلُوبًا غُلوفيًا وَآذَانًا صُمُومِيًا وَأَعْيُنًا عُمُومِيًا".

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Falih, dari Hilal ibnu Ali, dari Ata ibnu Yasar yang menceritakan bahwa ia pernah bersua dengan Abdullah ibnu Amr, lalu ia bertanya kepadanya, "Ceritakanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam di dalam kitab Taurat." Abdullah ibnu Amr menjawab, "Memang benar, demi Allah, sesungguhnya sifat beliau tertera di dalam kitab Taurat," sebagaimana yang didapat di dalam Al-Qur’an: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, serta menjadi benteng bagi orang-orang yang ummi. Engkau adalah hamba dan Rasul-Ku, namamu muiawakkil (orang yang berserah diri), tidak bersikap keras, dan tidak berhati kasar. Allah tidak akan mewafatkannya sebelum meluruskan agama yang bengkok dengan melaluinya. sehingga mereka mengucapkan kalimat, "Tidak ada Tuhan selain Allah", dan membuka hati-hati yang tertutup, telinga-telinga yang tuli serta mata-mata yang buta dengan melaluinya. Selanjutnya Ata mengatakan bahwa kemudian ia menjumpai Ka'b dan menanyakan hal itu kepadanya, ternyata ia pun mengatakan hal yang sama tanpa ada perbedaan satu huruf pun, hanya Ka'b mengungkapkan­nya menurut dialeknya, yakni dia mengatakan gulufiyan, sumumiyan, dan 'umumiyan.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya di dalam kitab Sahih-nya, dari Muhammad ibnu Sinan, dari Falih, dari Hilal ibnu Ali, lalu ia menyebutkan hadis berikut dengan sanadnya dengan lafaz yang semisal, tetapi dalam riwayatnya ditambahkan sesudah 'tidak bersikap keras dan tidak berhati kasar", yaitu kalimat berikut: 'tidak membuat keributan di pasar-pasar dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan lagi, tetapi penyantun dan pemaaf.

Imam Bukhari pun menuturkan hadis Abdullah ibnu Amr, lalu mengatakan, "Menurut peristilahan kebanyakan ulama Salaf, pengertian kitab Taurat ditujukan kepada semua kitab orang-orang Ahli Kitab."

Hal-hal yang serupa dengan ini telah disebutkan pada sebagian hadis.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan: telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Idris ibnu Warraq ibnul Humaidi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Umar ibnu Ibrahim (salah seorang putra Jubair ibnu Mut'im) yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Ummu Usman, putri Sa:id (yaitu nenekku), dari ayahnya (Sa'id ibnu Muhammad ibnu Jubair), dari ayahnya (Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut'im) yang menceritakan, "Pada suatu hari ia berangkat menuju negeri Syam untuk berniaga. Ketika sampai di dataran rendah negeri Syam, saya ditemui oleh seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab. Lelaki Ahli Kitab itu berkata, 'Apakah di kalangan kalian terdapat seorang lelaki yang menjadi nabi?' Saya menjawab,'Ya.’ Ia bertanya, 'Apakah engkau mengenalnya jika aku perlihatkan gambarnya kepadamu?' Saya menjawab, 'Ya’, Lalu ia memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya banyak terdapat gambar, tetapi saya tidak melihat gambar Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba masuklah seorang lelaki, lalu bertanya, 'Sedang apakah kalian?' Maka kami ceritakan kepadanya perihal urusan kami. Lalu lelaki yang baru datang ini mengajak kami ke rumahnya. Ketika saya memasuki rumahnya, saya melihat gambar Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, dan ternyata dalam gambar itu terdapat gambar seorang lelaki yang sedang memegang tumit Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam Saya bertanya, 'Siapakah lelaki yang sedang memegang tumitnya?' Ia menjawab, 'Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun melainkan sesudahnya ada nabi yang lain. Kecuali nabi ini, karena sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahnya, dan lelaki yang memegang tumitnya ini adalah khalifah sesudahnya.' Dan ternyata gambar lelaki itu sama dengan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu"

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs Abu Amr Ad-Darir, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, bahwa Sa'id ibnu Iyas Al-Jariri telah menceritakan kepada mereka, dari Abdullah ibnu Syaqiq Al-Uqaili, dari Al-Aqra' —muazzin Umar ibnul Khattab Radhiyallahu Anhu— yang menceritakan, "Khalifah Umar menyu­ruhku untuk memanggil seorang uskup. Lalu Umar bertanya kepadanya, 'Apakah kamu menjumpai diriku dalam kitabmu?' Uskup itu menjawab, 'Ya’, Umar bertanya, 'Bagaimanakah engkau menjumpai diriku?' Uskup menjawab, 'Saya menjumpai dirimu bagaikan tanduk.' Maka Umar mengangkat cambuknya seraya bertanya, 'Tanduk apakah yang kamu maksudkan?' Uskup menjawab, 'Tanduk besi, amir yang keras.' Umar bertanya, 'Bagaimanakah kamu jumpai orang yang sesudahku?'Uskup menjawab, 'Saya menjumpainya sebagai khalifah yang saleh, hanya dia lebih mementingkan kaum kerabatnya (untuk menduduki jabatan pembantu-pembantu khalifah).' Umar berkata, 'Semoga Allah merahmati Usman,* sebanyak tiga kali. Umar bertanya,'Bagaimanakah engkau jumpai orang yang sesudah­nya?' Uskup menjawab. 'Saya jumpai dia besi karatan’, Maka Umar meletakkan tangannya di atas kepalanya dan berkata, 'Aduhai celakanya, aduhai celakanya' Uskup berkata, 'Hai Amirul Mu’minm, sesungguhnya dia adalah khalifah yang saleh, hanya saja dia diangkat menjadi khalifah dalam situasi yang kacau di mana pedang terhunus dan darah teralirkan'."

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ}

yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar. (Al-A'raf: 157)

Demikianlah sifat Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam yang termaktub di dalam kitab-kitab terdahulu. Demikian pula keadaan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pada kenyataannya, beliau tidak memerintahkan kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang kecuali terhadap perbuatan jahat, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Mas'ud, "Apabila engkau mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا}

Hai orang-orang yang beriman.

Maka bukalah lebar-lebar telingamu, karena sesungguhnya hal itu merupakan kebaikan yang diperintahkan atau kejahatan yang dilarang. Dan hal yang paling penting dan paling besar daripada itu ialah apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dari Allah, berupa perintah menyem­bah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan larangan menyembah selain-Nya. Perihalnya sama dengan risalah yang disampaikan oleh nabi-nabi lain sebelumnya." seperti apa yang disebutkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut." (An-Nahl:36)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ -هُوَ الْعَقَدِيُّ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو -حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ -هُوَ ابْنُ بِلَالٍ -عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ، عن أبي حميد وأبي أسيد، رضي اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا سَمِعْتُمُ الْحَدِيثَ عَنِّي تَعْرِفُهُ قُلُوبُكُمْ، وَتَلِينُ لَهُ أَشْعَارُكُمْ وَأَبْشَارُكُمْ، وَتَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْكُمْ قَرِيبٌ، فَأَنَا أَوْلَاكُمْ بِهِ. وَإِذَا سَمِعْتُمُ الْحَدِيثَ عَنِّي تُنْكِرُهُ قُلُوبُكُمْ، وَتَنْفُرُ مِنْهُ أَشْعَارُكُمْ وَأَبْشَارُكُمْ، وَتَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْكُمْ بَعِيدٌ، فَأَنَا أَبْعَدُكُمْ مِنْهُ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir (yaitu Al-Aqdi alias Abdul Malik ibnu Amr); telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, dari Rabi'ah ibnu Abu Abdur Rahman, dari Abdul Malik ibnu Sa'id, dari Abu Humaid dan Abu Usaid Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Saw pemah bersabda:   Apabila kalian mendengar suatu hadis dariku yang kalian ketahui melalui hati kalian dan membuat perasaan serta kulit kalian menjadi lembut karenanya, serta kalian memandang bahwa hal itu dekat dengan kalian, maka (ketahuilah bahwa) aku adalah orang yang lebih utama daripada kalian terhadapnya. Dan apabila kalian mendengar suatu hadis dariku yang kalian ingkari oleh hati kalian dan perasaan serta kulit kalian merasa jijik terhadapnya, dan kalian memandang bahwa hal itu jauh dari kalian, maka (ketahuilah bahwa) aku adalah orang yang paling jauh terhadapnya daripada kalian.

Imam Ahmad meriwayatkannya dengan sanad yang jayyid (baik), tetapi tidak ada seorang pun dari pemilik kitab-kitab hadis yang mengetengah­kannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Ali Radhiyallahu Anhu yang mengatakan, "Apabila kalian mendengar dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam suatu hadis, maka yakinilah oleh kalian bahwa diri Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam adalah orang yang paling mendapat petunjuk tentangnya, beliaulah yang paling dahulu mengamalkannya dan yang paling bertakwa."

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Yahya, dari Ibnu Sa'id, dari Mis'ar, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Abdur Rahman, dari Ali Radhiyallahu Anhu yang mengatakan, "Apabila kalian mendengar suatu hadis dari Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam, maka yakinilah bahwa beliaulah orang yang paling mendapat petunjuk, paling dahulu mengamalkannya dan paling bertakwa."

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ}

dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharam­kan bagi mereka segala yang buruk. (Al-A'raf: 157}

Maksudnya, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam menghalalkan bagi mereka apa yang dahulunya mereka haramkan atas diri mereka sendiri —seperti bahirah, saibah, wasilah, ham, dan lain-lainnya yang sejenis— yang dahulu mereka ada-adakan untuk mempersempit diri mereka sendiri. dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (Al-A'raf: 157)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan 'segala yang buruk' ialah seperti daging babi, riba, dan semua barang haram yang dahulunya mereka halalkan, yaitu makanan-makanan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Sebagian ulama mengatakan bahwa semua jenis makanan yang dihalalkan oleh Allah adalah baik lagi bermanfaat bagi tubuh dan agama, dan semua yang diharamkan oleh-Nya adalah buruk lagi membahayakan tubuh dan agama. Ayat ini dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat bahwa nilai baik dan buruk itu berdasarkan rasio. Tetapi pendapat ini dibantah, pembahasannya tidak termuatkan dalam kitab ini. Ayat ini pun dijadikan hujah oleh ulama yang berpendapat bahwa hal yang dijadikan rujukan dalam menghalalkan makanan-makanan yang penghalalan dan pengharamannya tidak disebutkan oleh suatu nas pun ialah apa yang dianggap baik oleh orang-orang Arab dalam menghalalkannya, dan dalam mengharamkannya pun merujuk kepada penilaian mereka. Pembahasan mengenainya cukup panjang.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ}

dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (Al-A'raf: 157)

Artinya, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam datang dengan membawa kemudahan dan toleransi, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ"

Saya diutus dengan membawa agama yang hanif lagi penuh toleransi.

Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda pula dalam pesannya kepada dua orang amirnya —yaitu Mu'az dan Abu Musa Al-Asy'ari— ketika beliau Shalallahu'alaihi Wasallam mengutus mereka ke negeri Yaman, yaitu:

"بَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا، وَيَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا"

Sampaikanlah berita gembira oleh kalian berdua, janganlah kalian membuat hati (mereka) antipati; dan bersikap mudahlah kalian berdua, janganlah mempersulit; dan saling bantulah kalian, janganlah berselisih.

Abu Barzah Al-Aslami —salah seorang sahabat— pernah mengatakan bahwa ia telah menemani Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan menyaksikan kemudahannya. Di masa lalu pada umat-umat terdahulu syariat-syariat yang ditetapkan atas mereka mempersempit diri mereka, kemudian Allah memberikan keluasan kepada umat ini dalam semua urusannya dan mempermudahnya bagi mereka. Karena itulah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَقُلْ أَوْ تَعْمَلْ"

Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku hal-hal yang dibisikkan oleh hatinya, selagi ia tidak mengucapkannya atau mengerjakannya.

Dalam hadis lain disebutkan:

"رُفِعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ"

Telah dimaafkan dari umatku kekeliruan, kelupaan, dan hal-hal yang dipaksakan kepada mereka.

Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada umat ini agar dalam doanya mereka senantiasa mengucapkan seperti apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ}

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (Al-Baqarah: 286}

Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan pula bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman setelah permohonan tersebut dipanjatkan kepada-Nya, "Aku lakukan, Aku lakukan."

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ}

Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya. (Al-A'raf: 157)

Yaitu beriman kepadanya, mengagungkannya, dan menghormatinya.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزلَ مَعَهُ}

dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-A'raf: 157)

Artinya Al-Qur'an dan wahyu yang disampaikan kepadanya untuk ia sampaikan kepada umat manusia.

{أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A'raf: 157)

Yakni beruntung di dunia dan akhiratnya.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Selasa, 13 November 2018

Sikap orang mukmin dan orang-orang durhaka

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alloh (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Alloh kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A'raf, ayat 96-99)

Karena itulah Al-Hasan Al-Basri rohimahullooh
pernah mengatakan bahwa orang mukmin mengerjakan amal-amal ketaatan, sedangkan hatinya dalam keadaan takut, bergetar, dan khawatir; sementara orang yang durhaka mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat dengan penuh rasa aman.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Orang-orang yang mewarisi negeri yang telah lenyap

Apakah masih belum terang bagi orang-orang yang menjadi pengganti di tempat itu sesudah kebinasaan orang-orang sebelum mereka yang mendiaminya?

{أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ (100) }

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
(QS. Al-A'raf, ayat 100)

Ibnu Abbas RodhiyAlloohu Anhu pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya. (QS. Al-A'raf: ayat 100) Yakni apakah masih belum terang bagi mereka bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya. (QS. Al-A'raf: ayat 100)

Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid dan lain-lainnya.

Sehubungan dengan tafsir ayat ini Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa apakah masih belum terang bagi orang-orang yang menjadi pengganti di tempat itu sesudah kebinasaan orang-orang sebelum mereka yang mendiaminya? Kemudian pada akhirnya mereka mengikuti perjalanan hidup mereka, dan mengerjakan perbuatan yang sama dengan mereka, yakni mereka berbuat durhaka terhadap Robb-nya.
bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya. (QS. Al-A'raf: ayat 100). Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami akan menimpakan atas mereka azab seperti apa yang pernah menimpa orang-orang sebelum mereka. dan Kami kunci mati hati mereka. (QS. Al-A'raf: ayat 100). Maksudnya, Kami tutup rapat-rapat dan Kami lak hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar? (Al-A'raf: 100) Yakni tidak dapat mendengar pelajaran dan peringatan lagi.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Big data warisan budaya takbenda

Pertemuan informal dengan Adam Cao dari Yong Xin Hua Yun Cultural Industry Investment Group Co., Ltd. pada Sesi ke-13 the Intergovernmenta...