Rabu, 20 Juni 2018

Syaithoon atau Setan

Setan adalah bangsa jin yang dapat masuk ke dalam aliran darah manusia, membisikkan atau mengajak manusia agar hidup abadi, mempersekutukan Alloh, meminum minuman yang memabukkan, berzina, berjudi, mencuri, membunuh, dan sebagainya sampai manusia melakukan  perbuatan buruk tersebut dengan baik, setan telah berhasil menyesatkan manusia dan akan lepas tangan karena setan hanya membisikkan angan-angan atau janji-janji palsu, sedangkan janji-janji Alloh pasti benar.

Hanya orang-orang yang bertakwa, yang taat pada perintah dan larangan Alloh, yang dapat lolos dari godaan setan.

Setan adalah seburuk-buruk teman yang selalu mengajak pada keburukan dan jalan yang menyimpang dari ketaatan pada perintah dan larangan Alloh

Dengan kata lain, sesungguhnya yang mendorong mereka melakukan perbuatan yang buruk itu dan menyimpang dari jalan ketaatan adalah setan.

Setan yang membisikkan perbuatan buruk kepada mereka dan membuat mereka berangan-angan untuk melakukannya. Dan setan selalu menemani mereka hingga semua perbuatan yang buruk akan mereka kerjakan dengan baik.

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan seperti berikut: Barang siapa yang menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. (An-Nisa: 38)

A'uudzubillaahi minasysyaithoonirrojiim
Aku berlindung kepada Alloh dari syaithoon yang terkutuk.




Minggu, 17 Juni 2018

Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya

Qatadah mengatakan bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan yang akan ditinggalkan; tidak lama kemudian, demi Alloh yang tidak ada Tuhan selain Dia, pasti (kesenangan itu, red) menyurut dan hilang dari pemiliknya. Karena itu, ambillah dari kehidupan ini (dunia) sebagai sarana untuk taat kepada Alloh, jika kalian mampu dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa.

Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adziim

"Tidak ada daya (untuk menghindar dari maksiat) dan tidak ada kekuatan (untuk mengerjakan ibadah atau ketaatan kepada Alloh) kecuali dengan pertolongan Alloh Yang Mahatinggi Lagi Mahabesar'.”

Tafsir Ibnu Katsir


Jumat, 15 Juni 2018

Kemenangan yang Besar

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ  الْمَوْتِ ۗ  وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ  فَمَنْ  زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَازَ  ۗ  وَمَا  الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

kullu nafsin zaaa`iqotul mauut, wa innamaa tuwaffauna ujuurokum yaumal-qiyaamah, fa man zuhziha 'anin-naari wa udkhilal-jannata fa qod faaz, wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa mataa'ul-ghuruur

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 185)

Tafsir Ibnu Katsir
Ali Imran, ayat 185-186

كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّما تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فازَ وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُورِ (185) لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذىً كَثِيراً وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (186)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian. Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kalian BERSABAR dan BERTAKWA, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa memberitahukan kepada semua makhluknya secara umum. bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Perihalnya Sama dengan firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa yang mengatakan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْها فانٍ وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْإِكْرامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetap kekal Zat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman: 26-27)

Hanya Dia sendirilah yang Hidup Kekal dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia semuanya mati, begitu pula para malaikat umumnya dan para malaikat pemangku Arasy. Hanya Alloh sematalah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa Yang Kekal Abadi. Dengan demikian, berarti Alloh Yang Mahaakhir, sebagaimana Dia Maha Pertama (Akhirnya Alloh tidak ada kesudahannya dan Permulaan Alloh tidak ada awal-nya, pent.).

Ayat ini merupakan belasungkawa kepada semua manusia, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini melainkan pasti mati. Apabila masa telah habis dan nutfah yang telah ditakdirkan oleh Alloh keberadaannya dari sulbi Adam telah habis. serta semua makhluk habis, maka Alloh melakukan hari kiamat dan membalas semua makhluk sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing, yang besar, yang kecil, yang banyak, yang sedikit.serta yang tua dan yang muda, semuanya mendapat balasannya. Tiada seorang pun yang dianiaya barang sedikit pun dalam penerimaan pembalasannya. Karena itulah maka Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. (Ali Imran: 185)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Al-Uwaisi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Ali Al-Hasyimi, dari Ja'far ibnu Muhammad Ali ibnul Husain, dari ayah-nya, dari.Ali ibnu Abu Thalib r.a. yang menceritakan bahwa ketika Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam wafat, dan belasungkawa berdatangan, maka datanglah kepada mereka seseorang yang mereka rasakan keberadaannya, tetapi mereka tidak dapat melihat ujudnya. Orang tersebut mengatakan: Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, hai Ahlul Bait. Begitu pula rahmat Alloh dan berkahnya, tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Sesungguhnya belasungkawa dari setiap musibah itu hanyalah kepada Alloh, dan hanya kepada-Nya memohon ganti dari setiap yang telah binasa, dan hanya kepada-Nya meminta disusulkan dari setiap yang terlewatkan. Karena itu, hanya kepada Alloh-lah kalian percaya, dan hanya kepada-Nyalah kalian berharap, karena sesungguhnya orang yang tertimpa musibah itu ialah orang yang terhalang tidak mendapat pahala. Dan semoga keselamatan terlimpah kepada kalian. begitu pula rahmat Alloh dan berkah-Nya. Ja'far ibnu Muhammad mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, bahwa Ali Abu Talib berkata.”Tahukah kalian, siapakah orang ini?" Ali mengatakan pula, "Dia adalah Al-Khidir a.s."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}

Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. (Ali Imran)

Artinya, barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan selamat darinya serta dimasukkan ke dalam surga, berarti ia sangat beruntung.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرو بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَوْضع سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خيرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فيها، اقرؤوا إن شئم: {فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda: Tempat sebuah cemeti di dalam surga lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. Bacalah oleh kalian jika kalian suka, yaitu firman-Nya, "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguhlah ia telah beruntung" (Ali Imran: 186).

Hadis ini ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur lain tanpa memakai tambahan ayat.

Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim serta Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya tanpa memakai tambahan ini melalui hadis Muhammad ibnu Amr.

Telah diriwayatkan pula dengan memakai tambahan ini oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur yang lain. Untuk itu Ibnu Murdawaih mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَنَا حُمَيْد بْنُ مَسْعَدَةَ، أَنْبَأَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَمَوْضِعُ سَوط أحَدكم فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا". قَالَ: ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya. telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa’d yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda: sesungguhnya tempat sebuah cemeti seseorang di antara kalian di dalam surga lebih baik daripada dunia ini dan semua yang ada di dalamnya. Sahl ibnu Sa'd melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu beliau Shollalloohu'alaihi wasallam membacakan firman-Nya: Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. (Ali Imran: 185)

Dalam pembahasan yang lalu sehubungan dengan firman-Nya:

{وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}

dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Waki' ibnul Jarrah di dalam kitab tafsimya, dari Al-A'masy ibnu Zaid ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَأَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أن يؤتى إليه»

Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati sedang ia dalam keadaan beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Dan hendaklah ia memberikan kepada orang-orang apa yang ia suka bila diberikan kepada dirinya sendiri.

Imam  Ahmad meriwayatkannya  di  dalam  kitab  musnadnya  dari Waki' dengan lafaz yang sama.

*******

Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ}

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185)

Makna ayat ini mengecilkan perkara duniawi dan meremehkan urusannya. Bahwa masalah duniawi itu adalah masalah yang rendah, pasti lenyap, sedikit, dan pasti rusak. Seperti yang diungkapkan oleh Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَياةَ الدُّنْيا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقى

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.(Al-A'la: 16-17)

وَما أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَزِينَتُها وَما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقى

Dan apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al-Qashash: 60)

Dan dalam sebuah hadis disebutkan:

«وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يَغْمِسُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ إِلَيْهِ»

Demi Alloh, tiadalah dunia ini dalam kehidupan di akhirat, melainkan sebagaimana seseorang di antara kalian mencelupkan jari telunjuknya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat apa yang didapat olehnya dari laut itu.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185) Bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan yang akan ditinggalkan; tidak lama kemudian, demi Alloh yang tidak ada Robb selain Dia, pasti menyurut dan hilang dari pemiliknya. Karena itu, ambillah dari kehidupan ini sebagai sarana untuk taat kepada Alloh, jika kalian mampu dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ}

Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian. (Ali Imran: 186)

Ayat ini sama maknanya dengan ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَراتِ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. (Al-Baqarah: 155), hingga akhir ayat berikutnya.

Dengan kata lain, seorang mukmin itu harus diuji terhadap sesuatu dari hartanya atau dirinya atau anaknya atau istrinya. Seorang mukmin mendapat ujian (dari Alloh) sesuai dengan tingkatan kadar agamanya; apabila agamanya kuat, maka ujiannya lebih dari yang lain.

{وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا}

Dan (Juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186)

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman kepada orang-orang mukmin ketika mereka tiba di Madinah sebelum Perang Badar untuk meringankan beban mereka dari tekanan gangguan yang menyakitkan hati yang dilakukan oleh kaum Ahli Kitab dan kaum musyrik. Sekaligus memerintahkan mereka agar bersikap pemaaf dan bersabar serta memberikan ampunan hingga Alloh memberikan jalan keluar dari hal tersebut. Untuk itu Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ}

Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.(Ali Imran: 186)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib ibnu Abu Hamzah, dari Az-Zuhri; Urwah ibnuz Zubair menceritakan kepadanya, Usamah ibnu Zaid pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi dan para sahabatnya di masa lalu selalu bersikap pemaaf terhadap orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, sesuai dengan perintah Alloh kepada mereka, dan mereka bersabar dalam menghadapi gangguan yang menyakitkan. Perintah Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa tersebut adalah melalui firman-Nya: Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186) Tersebutlah bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam bersikap pemaaf sesuai dengan pengertiannya dari apa yang diperintahkan oleh Alloh kepadanya, sehingga Alloh mengizinkan kepada beliau terhadap mereka (yakni bertindak terhadap mereka). Demikianlah menurut apa yang diketengahkannya secara ringkas.

Imam Bukhari mengetengahkannya dalam bentuk yang panjang lebar di saat ia menafsirkan ayat ini. Dia mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَنْبَأَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ؛ أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكِبَ عَلَى حمَار، عَلَيْهِ قَطِيفَةٌ فَدكيَّة وَأَرْدَفَ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ وَرَاءَهُ، يَعُودُ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ فِي بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ، قَبْل وَقْعَةِ بَدْر، قَالَ: حَتَّى مَرَّ بِمَجْلِسٍ فِيهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ بن سَلُول، وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُسْلِمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ، فَإِذَا فِي الْمَجْلِسِ أَخْلَاطٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ، عَبَدَة الْأَوْثَانِ وَالْيَهُودِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَفِي الْمَجْلِسِ عبدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحة، فَلَمَّا غَشَيت المجلسَ عَجَاجةُ الدَّابَّةِ خَمَّر عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ أَنْفَهُ بِرِدَائِهِ وَقَالَ: "لَا تُغَبروا عَلَيْنَا. فَسَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ وَقَفَ، فَنَزَلَ فَدَعَاهُمْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وجل،وَقَرَأَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أبَي: أَيُّهَا المَرْء، إِنَّهُ لَا أحْسَنَ مِمَّا تَقُولُ، إِنْ كَانَ حَقًّا فَلَا تؤْذنا بِهِ فِي مَجَالِسِنَا، ارْجِعْ إِلَى رَحْلِكَ، فَمَنْ جَاءَكَ فَاقْصُصْ عَلَيْهِ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَاغْشنَا بِهِ فِي مَجَالِسِنَا فَإِنَّا نُحب ذَلِكَ. فاستَب الْمُسْلِمُونَ وَالْمُشْرِكُونَ وَالْيَهُودُ حَتَّى كَادُوا يَتَثَاورون فَلَمْ يَزَلِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخفضهم حَتَّى سَكَتُوا، ثُمَّ رَكِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَابته، فَسَارَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادة، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا سَعْدُ، أَلَمْ تَسْمَع إِلَى مَا قَالَ أَبُو حُبَاب -يُرِيدُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ-قَالَ كَذَا وَكَذَا". فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اعْفُ عَنْهُ وَاصْفَحْ فوَالله الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ لَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْحَقِّ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ، وَلَقَدِ اصْطَلَحَ أَهْلُ هَذِهِ البُحَيْرَة عَلَى أَنْ يُتَوِّجوه وَيُعَصِّبُوه بِالْعِصَابَةِ، فَلَمَّا أَبَى اللَّهُ ذَلِكَ بِالْحَقِّ الَّذِي أَعْطَاكَ اللَّهُ شَرِقَ بِذَلِكَ، فَذَلِكَ الَّذِي فَعَل بِهِ مَا رأيتَ، فَعَفَا عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ يَعْفُونَ عَنِ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلِ الْكِتَابِ، كَمَا أَمَرَهُمُ اللَّهُ، وَيَصْبِرُونَ عَلَى الْأَذَى، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا [وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ] } وَقَالَ تَعَالَى: {وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ} الْآيَةَ [الْبَقَرَةِ:109] ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَأوّل فِي الْعَفْوِ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ بِهِ، حَتَّى أذنَ اللَّهُ فِيهِمْ، فَلَمَّا غَزَا رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدْرًا، فَقَتَلَ اللَّهُ بِهِ صَنَادِيدَ كُفَّارِ قُرَيْشٍ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أبَيّ ابْنُ سَلُول وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَعَبَدَةِ الْأَوْثَانِ: هَذَا أَمْرٌ قَدْ تَوَجّه، فبايعُوا الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَسْلَمُوا

telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Urwah ibnuz Zubair; Usamah ibnu Zaid telah menceritakan kepadanya bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam mengendarai himar (keledai) dengan memakai kain qatifah fadakiyah, seraya membonceng Usamah ibnu Zaid di belakangnya, dalam rangka hendak menjenguk Sa'd ibnu Ubadah yang ada di Banil Haris ibnul Khazraj. Hal ini terjadi sebelum Perang Badar. Ketika beliau melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul sebelum dia Islam (lahiriahnya), ternyata di dalam majelis terdapat campuran orang-orang yang terdiri atas kaum muslim, kaum musyrik penyembah berhala, dan Ahli Kitab Yahudi. Di dalam majelis itu terdapat pula Abdullah ibnu Rawwahah. Di saat majelis tersebut tertutup oleh debu kendaraan Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam, maka Abdullah ibnu Ubay menutupi hidungnya dengan kain selendangnya, lalu berkata, "Janganlah engkau membuat kami berdebu." Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam mengucapkan salam kepada mereka, lalu berhenti dan turun dari kendaraannya, kemudian menyeru mereka untuk menyembah Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka. Maka Abdullah ibnu Ubay berkata, "Hai manusia, sesungguhnya aku tidak pandai mengucapkan apa yang kamu katakan itu, jika hal itu benar. Maka janganlah kamu ganggu kami dengannya dalam majelis kami ini. Kembalilah ke kendaraanmu, dan barang siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah (hal itu) kepadanya!' Abdullah ibnu Rawwahah berkata, "Tidak, wahai Rosuulullooh, liputilah kami dengan debumu di majelis kami ini, karena sesungguhnya kami menyukai apa yang engkau sampaikan itu!" Akhirnya kaum muslim saling mencaci dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi, hingga hampir saja mereka saling baku hantam, tetapi Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam terus-menerus melerai mereka hingga mereka tenang kembali. Sesudah itu Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam mengendarai kembali keledainya, lalu meneruskan perjalanannya hingga sampai di rumah Sa'd ibnu Ubadah. Beliau masuk ke dalam rumahnya, lalu bersabda kepadanya, "Hai Sa'd, tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Hubab —yang beliau maksud adalah Abdullah ibnu Ubay—? Dia telah mengatakan anu dan anu." Sa'd ibnu Ubadah menjawab, "Wahai Rasulullah, maafkanlah dia dan ampunilah dia. Demi Robb yang telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu, sesungguhnya Alloh telah menurunkan perkara yang hak kepadamu, dan sesungguhnya semua penduduk kota ini telah berdamai (setuju) untuk mengangkat dia (Ibnu Ubay) menjadi pemimpin mereka dan membelanya dengan penuh kefanatikan. Akan tetapi, setelah Alloh menolak hal tersebut dengan perkara hak yang telah Dia turunkan kepadamu, maka dia merasa tersisihkan, maka apa yang telah engkau lihat itu merupakan ungkapan rasa tidak puasnya." Maka Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam memaafkan tindakan Ibnu Ubay itu. Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam dan para sahabatnya bersikap pemaaf terhadap gangguan kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab seperti apa yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, dan tetap bersabar serta menahan diri. Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa telah berfirman: Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186), hingga akhir ayat. Dalam ayat yang lainnya Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa telah berfirman: Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Alloh mendatangkan perintah-Nya. (Al-Baqarah: 109), hingga akhir ayat. Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam bersikap pemaaf menurut pengertian yang beliau pahami dari perintah Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa sehingga Alloh memberikan izin kepada beliau untuk bertindak terhadap mereka. Ketika Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam melakukan Perang Badar, yang di dalam perang itu Alloh mematikan banyak para pemimpin orang-orang kafir Quraisy, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan orang-orang musyrik penyembah berhala yang mengikutinya mengatakan, "Ini merupakan suatu perkara yang sudah kuat, maka berbaiatlah kalian kepada Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam untuk Islam." Akhirnya mereka berbaiat dan masuk Islam.

Setiap orang yang menegakkan kebenaran atau memerintahkan kepada kebajikan atau melarang terhadap perbuatan mungkar pasti mendapat gangguan dan rintangan, dan tiada jalan baginya kecuali bersabar demi membela agama Alloh dan meminta pertolongan kepada-Nya serta mengembalikan segala sesuatunya kepada Dia.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Rabu, 13 Juni 2018

Merayakan Iidul Fithri bersama Keluarga

Anas radhiallohu anhu berkata: Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga menjadikanku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya. (HR.Bukhori)

Pada malam Takbiran, keluarga Ali ibn Abi Tholib alaihissalam istrinya Fathimah az-Zahro radhiyallohu anha  terlihat sibuk membagikan gandum dan kurma untuk fakir miskin.

Ali radhiyallohu anhu menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma. Ali radhiyallohu anhu memanggul gandum, sementara Fathimah radhiyallahu anha menuntun kedua putranya, Hasan dan Husein. Mereka sekeluarga menyantuni kaum fakir miskin.

Keesokan harinya sholat ‘
Iidul Fithri. Mereka sekeluarga mengikuti sholat berjama’ah dengan khusyu' dan mendengarkan khutbah sampai selesai. Selepas khutbah ‘Iid, keluarga Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau Shollalloohu'alaihi wasallam bahwa, Ibnu Rofi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Iidul Fithri kepada keluarga putri Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengangnya Ibnu Rofi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rosuulullooh.

Ali radhiyallohu anhu, Fathimah radhiyallohu anha, putranya Hasan dan Husein yang masih kanak-kanak, dalam merayakan ‘Iidul Fithri hanya makan gandum basi tanpa mentega, yang baunya tercium apek oleh sahabat Nabi itu. Seketika Ibnu Rofi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rofi’i berlinang butiran air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Dalam dadanya berkecamuk sangat kuat, setengah berlari, Ibnu Rofi’i bergegas menghadap Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam. 

Tiba di depan rumah Rosuulullooh, “Ya Rosuulullooh, ya Rosuulullooh, ya Rosuulullooh. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rofi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rosuulullooh.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rosuulullooh. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rosuululloh Shollalloohu'alaihi wasallam pun bergegas menuju rumah anaknya, Fathimah az-Zahro radhiyallohu anha. Tiba di teras rumah, Rosuulullooh mendengar tawa bahagia mengisi percakapan antara Ali radhiyallohu anhu dengan Fathimah radhiyallahu anha dan kedua anaknya. Mata Rosuululloh pun berlinang air mata.  Butiran air mata bening menghiasi wajah Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam.

Air mata Rosululloh berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fithri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rosuululloh Shollalloohu alaihi wasallam penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tidak sedap karena sudah basi.

“Ya Alloh, Allohumma Isyhad. Ya Alloh saksikanlah, saksikanlah. Di hari ‘Iidul Fithri,  keluargaku makanannya gandum yang telah basi. Di hari ‘Iidul Fithri, keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum fakir-miskin, ya Alloh. Mereka mencintai kaum fuqoro' dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa makan makanan yang lezat. Allohumma Isyhad, saksikanlah ya Alloh, saksikanlah,” bibir Rosuulullooh berbisik lembut.

Fathimah radhiyallohu anha tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri di depan pintu. “Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rosuulullooh tidak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rofi’i, keluarga Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam merayakan hari raya ‘Iidul Fithri dengan menyantap makanan yang sudah basi. Ibnu Rofi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rosuululloh Shollalloohu alaihi wasallam agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Iidul Fithri. Aku pun menyimpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritakan agar menjadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman 232).

Ya Rosuulullooh, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga. Siapa gerangan yang tidak malu? Siapa orangnya yang tidak miris? Kami di hari nan fithri, selalu menyediakan makanan yang lezat untuk disantap bersama keluarga. Harus kami apakan diri ini, ya Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam? Ya Alloh berilah kami taufik dan hidayah-Mu, lapangkan dada kami agar tidak bermegah-megah dengan kehidupan dunia, sementara kaum fakir-miskin menderita. Lapangkanlah hati kami untuk bisa mencintai kaum fakir-miskin sebagaimana keluarga baginda Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam telah memberikan teladan yang sangat mulia...

۞ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَل ﻋَﻠﮱ ﻣُﺤَﻤّﺪْ
 ﻭَﻋَﻠﮱ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪ۞

Allahumma sholli alaa aali muhammad wa alaa aali muhammad

Alloh memberi perbendaharaan Arasy-Nya kepada Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam

Abu Na'im di dalam kitab Dala'ilun Nubuwwah mengatakan: telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Al-Gatrifi, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Sahl Al-Juwaini, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Qasim ibnu Bahzan Al-Haiti, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Hammad, dari Usman ibnu Ata, dari Az-Zuhri, dari Anas yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda: Setelah aku selesai dari menerima apa yang diperintahkan kepadaku menyangkut semua urusan langit dan bumi, lalu aku bertanya, "Ya Robb-ku, sesungguhnya tiada seorang nabi pun sebelumku melainkan Engkau telah memuliakannya; Engkau telah menjadikan IBRAHIM alaihissalam sebagai KHALIL (kekasih), MUSA alaihissalam sebagai KALIM (yang Engkau ajak bicara langsung), Engkau telah tundukkan gunung-gunung bagi DAUD alaihissalam, dan bagi SULAIMAN alaihissalam angin dan semua syaithon, dan Engkau hidupkan bagi ISA alaihissalam orang-orang yang telah mati. Maka apakah yang Engkau berikan kepadaku?”Alloh berfirman, "Bukankah Aku telah MEMBERIMU dari hal tersebut SELURUHNYA, bahwa sesungguhnya TIDAKLAH NAMA-NAMA-KU DISEBUT MELAINKAN ENGKAU DISEBUT PULA BERSAMA-KU; dan Aku telah menjadikan DADA UMATMU SEBAGAI KITAB-KITAB, MEREKA DAPAT MEMBACA AL-QUR’AN SECARA HAFALAN, dan hal itu belum pernah Kuberikan kepada suatu umat pun. Dan Aku telah memberimu suatu PERBENDAHARAAN DARI 'ARASY-KU, yaitu kalimah 'TIDAK ADA DAYA (untuk menghindar dari maksiat) DAN TIADA KEKUATAN (untuk mengerjakan ibadah) KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLOH YANG MAHATINGGI LAGI MAHABESAR'.”

LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL ADZIIM

Sumber:
Ibnu Katsir

Selasa, 12 Juni 2018

HATI

HATI yang KOTOR mempunyai sifat IRI (kurang senang dengan kelebihan orang lain) dan DENGKI (perasaan marah, benci kepada keberuntungan orang lain), sedangkan hati yang BERSIH akan memiliki perasaan LEMBUT terhadap anak kecil dan KASIH SAYANG kepada orang dewasa.

Abu Hurairah adalah orang yang paling berani menanyakan kepada Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam tentang berbagai masalah yang tidak ada seorang pun berani menanyakannya kepada beliau Shollalloohu'alaihi wasallam selain dia. Maka Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rosuulullooh, apakah yang mula-mula engkau Iihat dari urusan kenabian ini?" Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam duduk tegak dan menjawab:
Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak sepuluh tahun lebih beberapa bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?” Maka keduanya datang menyambutku dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya, dan sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya, dan belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh seseorang. Keduanya datang kepadaku dengan jalan kaki, hingga masing-masing dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya, 'Rebahkanlah dia.' Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit. Kemudian salah seorangnya berkata kepada yang lainnya, "Belahlah dadanya, " maka salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang mengalir dan tanpa rasa sakit. Lalu berkata kepada yang membelahku, "Keluarkanlah iri hati dan dengki.” Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti segumpal darah, kemudian ia membuangnya jauh-jauh. Dan berkata lagi ia kepada orang yang membelahku, "Masukkanlah lemah lembut dan kasih sayang.” Maka tiba-tiba kulihat sesuatu sebesar apa yang baru dikeluarkan, bentuknya mengilap seperti perak (dimasukkan ke dalam dadaku), kemudian ia mengguncangkan jempol kakiku yang sebelah kanan, dan berkata, "Kembalikanlah ke semula dalam keadaan utuh.” Maka setelah itu aku pulang dengan berlari dan terasa dadaku dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Pendidikan Anak

Pembentukan generasi dimulai dari dalam lingkungan keluarga, siapakah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak?

Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api).
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Sumber informasi sudah semakin terbuka sehingga informasi dapat diperoleh dengan mudah dari internet.

GiGo (Garbage in Garbage out)

Informasi yang masuk kali pertama ke dalam diri seorang anak melalui mata, telinga, dan hatinya akan menjadi nilai dasar yang akan membentuk  kepribadian anak di kemudian hari.

Informasi yang salah, ibarat sampah, akan menghasilkan sampah (garbage in, garbage out).

Informasi yang diserap anak secara terus menerus akan menjadi kebiasaan, selanjutnya akan menjadi karakter,  yang akan diaktualisasikan menjadi identitasnya. Akhirnya, akan menjadi takdirnya, yang dapat diubah hanya oleh tangannya sendiri, setelah anak dapat berpikir dan mengambil keputusannya sendiri.

Jadi, sebelum anak dewasa dan berumah tangga masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya.

Hanya orang-orang yang hatinya bersih, yang dapat membedakan yang benar (hak) dengan jalan yang salah (batil).

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6-7)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allah murka kepada orang-orang Yahudi, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ

yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Alloh. (Al-Maidah: 60)

Yang dikhususkan mendapat predikat sesat adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَواءِ السَّبِيلِ

mereka telah sesat sebelum (kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah: 77)

(Tafsir Ibnu Katsir surah al-Fatihah, ayat 7)

Dari Abu Hurairah, Nabi shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari nomor 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri rodhiyalloohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rosuulullooh, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim nomor 2669).

Imam Nawawi rohimahulloh ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah laku orang Yahudi dan Nasrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”  (Syarh Muslim, 16: 219)

Semoga Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa memberi pertolongan kepada kita di jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat, Aamiiin, Aamiin, Aamiiin Ya Robbal' Aalamiin. 

Entri yang Diunggulkan

Syaithoon atau Setan

Setan adalah bangsa jin yang dapat masuk ke dalam aliran darah manusia, membisikkan atau mengajak manusia agar hidup abadi, mempersekutukan...