Kamis, 22 Desember 2016

Kegiatan Komersial Warisan Budaya Takbenda

Kegiatan komersial yang terkait dengan warisan budaya takbenda, misalnya Wayang, Batik Indonesia, Keris Indonesia, Angklung Indonesia, Saman-Gayo, Noken Papua, dan Tari Tradisi Bali yang telah diinkripsi oleh UNESCO -red, perdagangan barang dan jasa yang terkait dengan warisan budaya takbenda, dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya warisan budaya takbenda dan menghasilkan pendapatan bagi praktisi warisan budaya budaya takbenda. Kegiatan komersial tersebut dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan standar hidup masyarakat pengampu dan praktisi warisan budaya takbenda, meningkatkan ekonomi lokal, dan berkontribusi untuk kohesi sosial. 

Kegiatan komersial dan perdagangan barang dan jasa, tidak harus, bagaimanapun, mengancam kelangsungan hidup warisan budaya takbenda, dan semua langkah yang tepat harus diambil untuk memastikan bahwa masyarakat yang bersangkutan sebagai penerima manfaat utama. Perhatian khusus harus diberikan dengan cara agar kegiatan komersial dapat memengaruhi sifat dan kelangsungan hidup warisan budaya takbenda, khususnya warisan budaya takbenda yang diwujudkan dalam domain ritual, praktik-praktik sosial, atau pengetahuan tentang alam dan alam semesta.

Perhatian khusus harus diberikan untuk menghindari penyalahgunaan komersial, untuk mengelola pariwisata secara berkelanjutan, untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara kepentingan untuk komersial, administrasi publik, dan praktisi warisan budaya takbudaya, dan untuk memastikan bahwa penggunaan komersial tidak mendistorsi makna dan tujuan dari warisan budaya takbenda bagi masyarakat yang bersangkutan.


Sumber: Operational Directives 2016, Convention 2003 on Safeguarding of Intangible Cultural Heritage

Jumat, 09 Desember 2016

Dedikasi Komunitas Lokal untuk Geopark Toba

Dedikasi Komunitas Lokal untuk Geopark, dalam rangka pengusulan kembali Geopark Caldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark

UNESCO Global Geopark (UGG) adalah harta yang tidak ternilai di dunia, tidak hanya karena mengandung nilai geologis, tetapi juga keinginan kuat dan dedikasi dari komunitas lokal yang telah bekerja keras menjaga/memelihara nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan menawarkan peluang yang paling bermanfaat untuk pendidikan dan ekonomi. Itu semua adalah ilustrasi dari komunitas lokal yang bekerja efektif di daerah terpencil dan indah di planet kita (Dr. Beth Taylor, Director Natural Sciences, UK National Commission for UNESCO).
UGG memberdayakan komunitas-komunitas lokal dan memberi mereka peluang untuk mengembangkan kemitraan yang erat dengan kesamaan tujuan mempromosikan kawasan geologis yang signifikan dengan proses-proses, fitur-fitur, periode waktu, dan tema-tema kesejarahan, yang terhubung dengan geologi, atau keindahan geologis yang luar biasa. 
Dari Bawah ke Atas
UGG ditetapkan melalui proses dari bawah ke atas (bottom-up) melibatkan seluruh pemangku kepentingan lokal dan regional yang relevan serta otoritas yang berkuasa di daerah itu (misalnya para pemilik tanah, kelompok-kelompok komunitas, para penyedia jasa pariwisata, penduduk setempat, dan organisasi lokal). Proses ini memerlukan komitmen yang kuat dari komunitas lokal, sebuah kemitraan dari berbagai komunitas lokal dan dukungan politis dan publik dalam jangka panjang (misalnya, memiliki master plan tidak kurang dari 10 tahun-red) serta pembangunan sebuah strategi komprehensif yang akan menyatukan semua tujuan komunitas sambil memperlihatkan dan melindungi kawasan yang mengandung warisan geologis.

Dr. Alan Mandell gives advice for your health


Kamis, 08 Desember 2016

Krisis


Krisis memiliki Dua Karakter:

Seperti yang pernah dikatakan oleh John F. Kennedy, bagi orang China, krisis terdiri atas dua karakter, yang pertama mewakili yang Berbahaya, yang lainnya, Kesempatan.

Jika Anda dapat mengendalikan yang berbahaya, hal itu akan menjadi peluang bisnis, misalnya Taman Nasional Komodo, Arung Jeram, Terbang Layang, Berselancar, Menyelam, Naik Gunung, Sirkus, Kolam Ombak, Rumah Hantu, Wisata Malam di Museum, Roller Coaster, Off Road, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu saja semua atraksi tersebut telah memerhitungkan aspek Keselamatan dan Keamanan bagi Wisatawan. 

Dunia Besar dan Dunia Kecil

Karena ringan dan mudah sekali mengucapkannya seakan dunia besar tidak mendengar apa yang terjadi di dunia kecil. Dunia kecil adalah kehidupan di sekitar kita, yang saat ini tidak lagi dapat dipisahkan dengan dunia besar karena perkembangan teknologi internet. 

Rabu, 07 Desember 2016

Produk Baru, Riset Pasar dan Pemasaran Pariwisata

Produk pariwisata meliputi layanan-layanan (services) yang dibutuhkan atau yang diinginkan wisatawan sejak dari keberangkatan (tourist generating countries) sampai ke destinasi pariwisata (tourist receiving countries), melakukan berbagai aktivitas di destinasi untuk mendapat pengetahuan dan pengalaman baru, kemudian kembali lagi ke negara atau tempat asalnya.

Pengembangan suatu produk baru sangat bervariasi sesuai dengan keinginan dan kemampuan wisatawan. Untuk mengetahui hal ini diperlukan riset pasar dan pemasaran. Riset pasar dilakukan di negara atau atau tempat asal wisatawan untuk mengetahui perubahan karakter, minat, dan gaya hidup  yang sedang tren saat itu serta strategi pemasaran yang dilakukan oleh negara pesaing, sedangkan riset pemasaran berhubungan dengan proses pemasaran sejak dari pengenalan suatu produk sampai produk tersebut dikenal (awareness), dipromosikan melalui iklan, hingga produk tersebut dibeli atau dikonsumsi oleh wisatawan. Hasil yang diperoleh dari riset pemasaran adalah umpan-balik dari wisatawan terhadap produk pariwisata yang telah dibeli atau digunakan wisatawan, yang berupa kekurangan atau kelemahan produk pariwisata, yang perlu diperbaiki oleh penyedia jasa, seperti jasa administrasi, jasa mengangkat barang (porter), jasa online travel agent, jasa tour operator (wholesaler), jasa pertukaran uang, jasa transportasi, jasa akomodasi, jasa restoran, jasa pramuwisata, jasa pengiriman barang, jasa pengawalan, jasa asuransi, jasa kesehatan, jasa kebersihan, dan jasa di obyek wisata dsb, agar wisatawan merasa puas dan mau berkunjung kembali.

Pengembangan produk baru hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan (needs) atau keinginan (wants) wisatawan yang juga mengalami perubahan akibat perubahan tren dunia, misalnya perubahan mindset wisatawan dunia dari wisata untuk bersenang-senang (pleasure/leisure) ke wisata untuk meningkatkan kualitas hidup (quality tourism).

Keputusan untuk mengembangkan produk baru memerlukan data dari analisis riset pasar dan pemasaran. Di samping itu, pengembangan produk baru juga perlu mempertimbangkan posisi produk di dalam paket wisata yang ada serta segmen pasar (target group).

Dalam menyusun rencana pengembangan produk baru perlu memerhatikan beberapa hal, antara lain: 

1. pemahaman mengenai pasar dan keahlian memasarkan produk baru; 
2. pengembangan produk baru yang sesuai dengan tren dan  kebutuhan konsumen (wisatawan internasional atau domestik);
3. sumber daya keuangan yang tersedia untuk pengembangan produk baru;
4. persaingan dengan produk  yang sejenis; 

5. produk baru akan menjadi "mata uang baru" bagi industri pariwisata atau devisa negara.

Museum dan Ekonomi Kreatif

Pertemuan Nasional Museum 
Malang, 26-27 Mei 2015

Penjelasan 

Slide 1. Global Creativity Gap
Seluruh dunia percaya bahwa kreativitas dihambat di tempat kerja dan sekolah. 80% (2/3) penduduk dunia percaya bahwa hanya dengan kreativitas akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia. Dipercaya bahwa satu dari empat orang di dunia mempunyai potensi kreatif. Tetapi, 75% penduduk dunia merasa tertekan karena harus produktif daripada kreatif di tempat kerja. Hanya 39% penduduk dunia yang kreatif, sedangkan Amerika Serikat mengatakan 52% penduduknya kreatif. 

Slide ini menggambarkan bahwa semakin banyak orang kreatif (wirausaha) di suatu negara, pertumbuhan ekonominya semakin baik. Indonesia masih membutuhkan 2000 orang kreatif (wirausaha) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. 

Cerminan yang kedua, adalah dalam hal kesehatan ekosistem kewirausahaan, Indonesia menempati peringkat ke-68 dari 121 negara di dunia menurut The Global Entrepreneurship & Development Index 2014.

“Perkembangan wirausaha Indonesia masih terbatas. Hal ini tercermin dari tiga hal. Pertama, Populasi wirausaha baru mencapai angka 1,65 persen dari jumlah penduduk, jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura yang sudah mencapai di atas 4 persen," ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah saat membuka acara Entrepreneurship Strategic Policy Forum dengan tema “Policy Recommendation on Entrepreneurship Ecosystem Development in Indonesia”, Jumat (21/11/2014)

Apakah pendidikan di negara kita lebih banyak melahirkan orang kreatif yang salah cirinya adalah menciptakan lapangan kerja, atau lebih banyak menghasilkan pencari kerja. 

Slide 2. Tantangan MEA 2015 
MEA bertujuan agar kawasan ASEAN menjadi kawasan bebas perdagangan barang, jasa, dan modal serta sebagai basis produksi dunia dalam arti menjadi jejaring suplai barang dan jasa di dunia. Di samping itu, kawasan ASEAN akan menjadi pasar regional bagi 575 juta jiwa penduduk ASEAN (42% berasal dari RI, 16,5% Philipina, 15% Viet Nam, dan 12% Thailand).

Indonesia bersama negara-negara ASEAN lainnya telah bersepakat mewujudkan MEA pada akhir 2015. 

Slide 3. Ada 4 (empat) pilar MEA 2015 yaitu 
- Pilar 1 tentang Pasar Tunggal dan Basis Produksi (peredaran bebas barang, jasa, investasi, modal, tenaga kerja terampil, dan juga makanan, pertanian dan kehutanan; 
- Pilar 2 tentang Wilayah Ekonomi yang Kompetitif, yang menjadi perhatian utama adalah HKI
- Pilar 3 tentang Pengembangan Ekonomi yang Adil, utamanya untuk pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Hampir seluruh industri kreatif yang tumbuh di Indonesia dalam skala UMKM.
- Pilar 4 tentang Partisipasi dalam Jejaring Suplai Global. Negara2 ASEAN ingin mengembangkan hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan global. Kalau kita tidak mempersiapkan diri menghadapi MEA pada akhir 2015, Indonesia akan menjadi Konsumen terbesar di ASEAN. Oleh karena itu, pemerintah ingin mendorong  pertumbuhan ekonomi nasional melalui ekonomi kreatif. 

Sektor prioritas yang akan diintegrasikan menurut ASEAN Framework Agreement ada 12 sektor. Sektor yang paling siap menghadapi MEA adalah pariwisata karena telah memiliki Mutual Recognition Agreement (MRA), SKKNI, Diklat, dan LSP. 

Slide 4. Dalam persaingan global, kita perlu mengevaluasi lulusan pendidikan dan lapangan kerja yang tersedia. Inggris saja baru menyadari bahwa lulusan pendidikan terkemuka di Inggris sulit mendapatkan pekerjaan pada tahun 90-an. Kondisi tersebut mendorong pemerintah Inggris mengembangkan industri kreatif (C4CC).

Pada tahun 2014, ekonomi kreatif Indonesia telah berkontribusi terhadap PDB sebesar Rp 700T, tenaga kerja sebanyak 12,4 juta orang, dan ekspor sebesar 5,8%.

Ekspor terbesar ekraf ...

Salah satu ciri ekonomi kreatif adalah penciptaan lapangan kerja, bukan pencari kerja. Oleh karena itu, sistem pendidikan kita perlu ditinjau kembali agar menghasilkan lulusan yang akan menjadi wirausaha baru. 

Slide 5. Kita juga tidak menginginkan, berdasarkan Indeks Kebahagiaan orang Indonesia yang diterbitkan BPS 2014, orang Indonesia sangat mendambakan keluarga yang harmonis, bukan "Flux Generation." Gejala seperti ini terjadi di seluruh dunia akinat globalisasi yang dipicu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. 

Slide 6. Berdasarkan Global Innovation Indeks (GII), pada tahun 2014, Indonesia menempati ranking 87 dari 134 negara. Oleh karena itu, kita perlu membuat skenario perubahan pada pilar regulasi dari skor 17,9 (2014) menjadi 49 (2019); edukasi dari skor 30,1 (2014) menjadi 75 (2019); investasi (modal ventura) dari skor 31,4 (2014) menjadi 70 (2019); kreasi pengetahuan dari skor 3,8 (2014) menjadi 48 (2019); dan pekerja terampil dari skor 7,4 (2014) menjadi 47 (2019).

Dengan program dan alokasi anggaran yang tepat, kita mengharapkan akan terjadi peningkatan GII tahun 2019 di atas skor 45, menempati ranking 40 dalam lingkup global, ranking ke-4 untuk 100 juta penduduk, dan ranking ke-3 untuk Asia Tenggara. 

Kalaupun target tersebut tercapai tahun 2019, posisi Indonesia di kawasan ASEAN masih di bawah Malaysia dan untuk 100 juta penduduk, Indonesia di bawah Tiongkok. 

Slide 7. Koordinasi, Integrasi, dan Sinkronisasi. Kita perlu memperbaiki cara bekerja dengan menerapkan Triple Helix dan Sistem Inovasi berbasis Pengetahuan. Para pihak yang terlibat dalam Triple Helix yaitu Akademikus dalam hal ini berperan dalam membaca pasar regional dan global, Pemerintah berperan mendorong investasi, mengembangkan kebijakan sains dan teknologi serta melakukan intervensi melalui regulasi dan anggaran, dan Industri yang dalam hal ini berperan melakukan riset dan pengembangan produk dan jasa kreatif. Selama ini belum terjadi koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi diantara para pelaku utama sehingga pengembangan ekonomi kreatif yang fokus utamanya pelaku kreatif, kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan yang lalu, telah disusun Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Menuju 2025 dan Pengembangan Ekonomi Kreatif 2015-2019, yang disusun dengan melibatkan pelaku kreatif, rencananya akan dikaji oleh Menko Perekonomian untuk diusulkan dalam bentuk Perpres Pengembangan Ekonomi Kreatif agar lebih terarah, sistematis, dan terencana.

Sebagai informasi, pada saat ini kami sedang melakukan proses seleksi terbuka untuk Jabatan Pimpinan Tinggi Madya dan kemudian dilanjutkan dengan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, mudah-mudahan pada bulan Juli, BeKRAF dapat segera melaksanakan program dan anggaran yang telah direncanakan. 

Slide 8. Ekonomi kreatif merupakan gelombang ekonomi baru, yang diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Pada mulanya ekonomi kreatif berkembang dalam industri  pertanian, kemudian berkembang industri manufaktur dan informasi. Sebagai kekuatan baru, ekonomi kreatif merupakan pabrik uang baru. 

Slide 9. Ekonomi kreatif tumbuh dan berkembang dari kolaborasi kreativitas ilmu pengetahuan, kreativitas budaya, kreativitas ekonomi, dan kreativitas teknologi. 

Slide 10. Rantai Nilai Kreatif. Ekonomi kreatif menghubungkan penawaran (supply) dengan permintaan (demand). Prosesnya dimulai dari  Kreasi, Produksi, Diseminasi, Pameran, Resepsi,  dan Dagang. Metoda pertama yang digunakan dengan merawat dan mendokumentasikan proses dan produk dalam Bank Data, yang dapat digunakan untuk pengembangan ekonomi kreatif. Metoda kedua melalui edukasi yang akan menghasilkan wirausaha. Metoda ketiga melakukan riset dan pengembangan produk dan jasa kreatif yang akan dikonsumsi pasar. 

Slide 11. Inti pengembangan ekonomi kreatif adalah nilai, makna, dan identitas yang dilindungi hak kekayaan intelektual. Lingkaran yang kedua adalah industri budaya yang diproduksi secara massal, yang juga dilindungi hak kekayaan intelektual. Lingkaran ketiga adalah industri kreatif yang berkembang dengan mengeksploitasi hak kekayaan intelektual. Lingkaran yang paling luar adalah manufaktur dan jasa yang dihasilkan dari eksploitasi industri kreatif. 

Slide 12. Dimensi pengembangan ekonomi kreatif (UNCTAD), basis utamanya adalah multikultur, dengan cara saling mengenal, saling belajar, dan saling menghormati perbedaan. 

Slide 13. Portofolio bisnis ekonomi kreatif (UNCTAD), disebut portofolio bisnis karena turunan bisnis adalah industri kreatif. 

Slide 14. Subsektor industri kreatif versi Bekraf dan UNCTAD, 

Slide 15. Strategi pengembangan ekonomi kreatif (market share & growth share)

Slide 16. Definisi kebudayaan, industri kreatif, dan ekonomi kreatif

Slide 17. Industri kreatif dan hak kekayaan intelektual (John Howkins)

Slide 18. Ciri orang kreatif (artist, magician, warrior), apakah cukup? Cukup untuk memuaskan diri sendiri, tetapi tidak cukup untuk membuat orang lain bahagia. Artinya, orang kreatif perlu berkolaborasi dengan orang lain. 

Slide 19. Manusia sebagai penggerak utama ekonomi kreatif (insan kreatif sebagai agen perubahan, yang selalu bergairah, dinamis, untuk meraih mimpi) - film adalah industri mimpi yang membuat penonton bahagia (Night at Museum)

Slide 20. Triple C's (creativity - collaboration - commerce). Keberhasilan berawal dari kreativitas dan kegagalan berakhir tanpa kreativitas. 

Slide 21. Museum as a happy place (suasana hati, bukan karena faktor eksternal) 

Slide 16. Museum di hatiku (melayani sepenuh hati)

Slide 20. How to bring them to a happy place (orang kreatif akan bekerja optimal dalam kondisi yang menyenangkan)

Slide 21. Science centre (kreativitas ilmu pengetahuan dan teknologi dipadukan dengan kreativitas ekonomi dan budaya) akan menghasilkan produk barang dan jasa bagi orang kreatif (cultural service). 

Slide 22. Museum sebagai sumber pengetahuan bagi orang kreatif dengan menciptakan berbagai  aktivitas yang menyenangkan (children's museum)


Slide 21. Penutup

Analisis Pasar

Analisis Pasar 

Sebuah aspek penting dari analisis pasar adalah menemukan tingkat pertumbuhan pasar (market growth share), yang mengacu pada kenaikan penjualan berbasis pelanggan (customer-based) dalam jangka waktu tertentu. 

Perusahaan yang sehat mencatat pertumbuhan penjualan yang lebih besar dari atau sama dengan pertumbuhan pasar, sebaliknya perusahaan yang tidak sehat apabila pertumbuhan penjualan berada di bawah pertumbuhan pasar. 

Dengan memahami tingkat pertumbuhan pasar dan keterkaitannya dengan tingkat pertumbuhan penjualan, dapat menilai keberhasilan suatu produk dan layanan yang disediakan untuk konsumen. 

Implementasi:
Pemasaran pariwisata dikatakan berhasil kalau penjualan produk dan layanan atau paket wisata kepada wisatawan lebih dari atau sama dengan pertumbuhan pasar. 


Cara meningkatkan penjualan produk dan layanan wisata melalui pemasaran branding kepada calon wisatawan agar tertanam "brand awareness" yang di dalamnya terkandung "seperangkat nilai yang unik" (a set of unique values). Di samping itu juga dipromosikan melalui iklan di media berbayar (paid media), media resmi yang dikelola sendiri (website perusahaan), media sosial, dan diperkuat dengan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) dan media sosial, seperti facebook, twitter, instagram, yang dimiliki orang-orang terkenal dan menjadi idola di masyarakat (endorser), akan mendorong minat wisatawan untuk membeli atau menggunakan produk dan layanan yang ditawarkan, serta meningkatkan penjualan (selling) melalui online travel agent (ota), tour operator (wholesaler), agoda, tripadvisor, partisipasi pada pasar wisata, event pariwisata, dan pameran dagang. 

Senin, 05 Desember 2016

Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang

RANAHBERITA– Masakan tradisional masyarakat Minangkabau selama ini dinilai tidak sehat karena memakai santan dan bumbu yang banyak. Misalnya pada makanan seperti gulai, rendang dan masakan yang mengandung santan lainnya. Diduga menyebabkan sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.

Hal itu dibantah oleh penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, SpGK, yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (20/11/2013).

Dia mengatakan, kalau orang Minang berhenti memakan santan dan malah beralih memakan makanan yang digoreng bisa berakibat fatal. Alasannya, melihat kecenderungan masyarakat saat memasak, semakin banyak santan, maka akan semakin banyak bumbu.

“Bumbu dalam masakan Minang yang memakai santan adalah rahasia sehat dari makanan orang Minang,” kata Indrawaty dalam wawancara dengan ranahberita.com, Senin (26/11/2013).

Bumbu yang dimaksud adalah kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, cabe, bawang merah dan putih serta daun-daun lainnya. Bumbu ini dikatakan sehat karena mengandung antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai zat yang menetralisir lemak jenuh pada santan dan hewan.

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.

“Samba lado hijau itu sebenarnya juga baik. Tapi, tak mungkin orang makan cabe itu dalam jumlah banyak, paling sedikit saja. Tapi kalau digulai, kecenderungan orang kalau makan gulai akan menyantap kuahnya lebih banyak. Sehingga bisa menyerap zat antioksidan cabe lebih besar juga,” ujarnya.

Makanan yang berbahaya bagi kesehatan itu, tambah Indrawaty adalah gorengan. Jika masyarakat Minang mengganti santan dengan minyak goreng, tentu orang akan semakin minim memakan bumbu-bumbu di atas. Sehingga, lemak yang terdapat pada minyak goreng itu diserap tanpa ada yang menetralisir.

Sebenarnya, kata Indrawaty, lemak yang terkandung dalam santan jauh lebih sedikit dari minyak goreng. Dibandingkan santan dan minyak goreng dalam jumlah yang sama, misalnya masing-masing dalam satu gelas, maka lemak pada santan hanya 30 persen. Sedangkan lemak minyak goreng itu 100 persen kandungannya.

“Jadi selama ini kita melihat, kebanyakan orang Minang tidak percaya diri ketika bicara soal makanan. Karena menganggap makanan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal tidak masalah. Itulah hebatnya nenek moyang kita yang telah memikirkannya di zaman yang serba terbatas. Kalau memang tidak sehat, buktinya sampai sekarang kita baik-baik saja,” ujar dosen yang juga pernah menuntut ilmu di Sheffield University, Inggris ini.

Menurutnya, kecemasan masyarakat akan masakan Minangkabau muncul sejak tahun 1950an. Peneliti dari Amerika mendapatkan hasil bahwa penderita sakit jantung karena lemak jenuh. Lemak jenuh yang dimaksud adalah lemak jenuh hewani. “Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. Orang Amerika tidak ada makan kelapa. Sementara, kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda,”

Indrawaty meminta, agar masyarakat tetap mengonsumsi masakan tradisional yang mengandung dengan bumbu-bumbu khas. Alasannya, selain aman untuk kesehatan juga merupakan kekayaan budaya.

“Asalkan makannya jangan berlebihan. Apapun makanannya, kalau berlebihan tidak baik bagi kesehatan,” tambah Indrawaty. 


Ayo kito makan masakan Minang!

Makhluk yang Paling Dahsyat Imannya

Siapa Makhluk yang paling DAHSYAT imannya? ternyata bukan malaikat, bukan juga para sahabat Rasulullah, jadi, siapa mereka ?

Simak Dr. Adiwarman Azwar Karim, MBA, MAEP, 
http://www.salingsapa.com/video/read/kajian/9016/makhluk-yang-paling-dahsyat-imannya.html

Shalawat untuk Nabi Muhammad saw:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad.

Dalilnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ ولَيْلَةِ الْجُمْعَةِ فَمَنْ فَعَلَ ذَالِكَ كُنْتُ لَهُ شَهِيْداً وَ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِالبيهقي

Artinya: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,”Banyaklah bershalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat. Barangsiapa melakukan hal itu, maka aku menjadi saksi dan pemberi syafa’at baginya di hari kiamat. (HR. Al Baihaqi, dihasankan oleh As Suyuthi).


Nabi Shallallahu'alaihi wa salam bersabda, "Hari Jum'at itu 12 jam. Tidak ada seorang Muslim pun yg memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat2 (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah "ASHAR." (HR. Abu Dawun).

Komunikasi Pemasaran Terpadu

Tata Kelola Destinasi (TKD) menggunakan Komunikasi Pemasaran Terpadu (KPT) untuk mengatasi tantangan komunikasi karena pesan-pesan diulang dengan format dan saluran-saluran media yang berbeda.

KPT adalah sarana koordinasi dan integrasi seluruh komunikasi dan promosi eksternal TKD untuk meningkatkan konsistensi dan  efektivitas. Pengiklanan, penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, promosi penjualan dan perdagangan, serta pemasaran digital adalah elemen-elemen KPT.

Periklanan bagi TKD sangat mahal, khususnya bila ditempatkan di televisi atau di majalah wisata yang terkenal. Karena biaya tinggi, pengiklanan destinasi telah mengundang kritik di berbagai tempat di dunia, tetapi media periklanan masih menjadi komponen penting PKT bagi banyak TKD.

Periklanan memainkan tiga peran utama bagi TKD: (a) menyampaikan informasi, (b) membujuk, dan (c) mengingatkan.

Media tradisional untuk pengiklanan destinasi adalah televisi, radio, majalah, surat kabar, media luar ruang, dan ruang transit. Belakangan ini, TKD lebih banyak menggunakan pengiklanan online.

Penjualan atau penjualan personal adalah sangat penting bagi banyak TKD dan khususnya tempat yang sangat memberi perhatian untuk menarik peristiwa (event) bisnis. Di antara yang paling penting dalam penjualan adalah menarik dan memenangkan kelompok bisnis dari asosiasi-asosiasi, korporasi-korporasi, dan perjalanan dagang.

Hubungan masyarakat (public relations) dan publisitas melibatkan pengembangan dan pemeliharaan hubungan positif dengan seluruh publik yang berhubungan dengan TKD.

Seluruh TKD mempunyai publik di dalam dan luar destinasi.
Publisitas kadang-kadang disebut "iklan gratis" tetapi biasanya dikenakan biaya karena TKD harus menjaga informasi di media tentang berbagai peristiwa kunci dan cerita-cerita yang mengambil tempat di dalam destinasi.
Promosi penjualan dan perdagangan saling terkait dengan komponen-komponen TKD. Hal ini merupakan teknik-teknik yang digunakan secara taktis untuk periode waktu yang singkat. Ada dua kategori, yaitu metode penawaran spesial dan komunikasi spesial. Sebagai contoh, familiarization tour dan investigasi langsung in situ (di lokasi) serta pameran di travel shows dan pameran-pameran adalah dua teknik yang sangat penting bagi TKD.
Saat ini, pemasaran digital menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah digunakan oleh TKD.

Teknik-teknik yang paling penting menggunakan website, email, situs media sosial, situs review wisatawan, blogging, dan mobile phones.

Sumber kerumunan (crowdsourcing) adalah sebuah teknik promosi yang relatif baru yang sering melibatkan komunikasi digital, dan di mana TKD menggunakan sumber daya dari luar destinasi yang bertanggung jawab terhadap promosi kepada sekelompok orang (segmen pasar).

Film-film populer dan bioskop telah digunakan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di destinasi, yang digunakan untuk shooting film.

Pada beberapa tempat, tanggung jawab terhadap pengembangan pariwisata dan pemasaran,  pengembangan film dan  pemasaran telah dikombinasikan ke dalam satu badan; dengan kata lain TKD dan komisi film telah diintegrasikan.

Sebuah kampanye KPT perlu hati-hati merencanakan dan harus mengikuti sebuah rangkaian yang benar-benar berbeda. Rencana KPT harus dimulai dari penetapan tujuan dan sasaran dengan hasil yang terukur.

Untuk menyatukan sub-peran promosi destinasi, sebuah TKD harus mengambil inisiatif sebagai berikut.
1. Mengadopsi dan mengintegrasikan pendekatan komunikasi pemasaran dengan kampanye promosi.
2. Dengan cermat merencanakan kampanye KPT secara bertahap.
3. Menetapkan sasaran spesifik untuk setiap kampanye KPT.
4. Mengukur efektivitas pengiklanan, penjualan secara personal, hubungan masyarakat dan publisitas, promosi penjualan dan perdagangan, serta pemasaran digital.
5. Memperhitungkan sumber kerumunan (crowdsourcing) sebagai sebuah cara untuk mengimplementasikan kampanye KPT.
6. Mengevaluasi potensi untuk untuk menarik crew film untuk membuat film dan bioskop di dalam destinasi.
7. Merenungkan ide menggunakan tema dan peristiwa tahunan sebagai strategi pemasaran dan platform KPT.

Sumber: 
Alastair M. Morrison (2013). Marketing and Managing Tourism Destinations.

Pasar Wisatawan Domestik

Wisatawan domestik adalah andalan sektor pariwisata di berbagai tempat di dunia khususnya di negara-negara maju. Wisatawan domestik kurang begitu penting di negara berkembang, tetapi wisatawan domestik pada beberapa negara  seperti China dan India berkembang dengan pesat. Sayangnya wisatawan domestik seringkali diberikan status kelas dua dibandingkan dengan wisatawan internasional.

Manfaat wisatawan domestik sangat signifikan meskipun diakui kurang menguntungkan daripada wisatawan internasional. Wisatawan domestik lebih menyebar di dalam sebuah negara daripada wisatawan internasional, dan juga cenderung kurang mengikuti pola musiman. Penduduk (komunitas) setempat mempunyai peluang untuk memperoleh pengalaman pertama di sumber daya alam dan budaya di negara mereka. Wisatawan domestik membangun kebanggaan nasional dan mempunyai manfaat sosial dan budaya. Penduduk setempat juga menjadi duta-duta yang efektif di sektor pariwisata.

Ada beberapa isu yang signifikan dan tantangan di dalam pengembangan dan pemasaran wisatawan domestik. Isu pertama kepada siapa wisatawan domestik bertanggung jawab. Isu lainnya adalah kompetisi antara wisatawan domestik dengan wisatawan internasional, misalnya kompetisi anggaran pemerintah yang semakin langka, wisatawan domestik versus kompetisi perjalanan wisata ke luar negeri bagi penduduk setempat, serta konflik perilaku antara wisatawan domestik dengan wisatawan internasional.
Isu lain yang relevan dengan wisatawan domestik - dan juga terjadi pada wisatawan internasional - apakah pengunjung yang melakukan perjalanan selama kurang dari 24 jam (same day visitors atau day-trippers) sudah termasuk di dalamnya. Ada banyak bagian dari sektor pariwisata yang percaya bahwa hanya wisatawan atau pengunjung yang bermalam (overnight) yang diklasifikasikan sebagai wisatawan (tourist). Bagaimanapun, pengunjung same day-visitors mempunyai dampak ekonomi yang besar di beberapa destinasi termasuk wisatawan domestik.

Potensi pertumbuhan wisatawan domestik di masa depan bervariasi di berbagai negara, tetapi umumnya prospeknya positif, dan khusus negara yang populasinya tinggi. Faktor-faktor seperti pertumbuhan pendapatan dan kepemilikan kendaraan akan mendorong wisatawan domestik di negara-negara berkembang. Tingkat pertumbuhan wisatawan domestik akan lebih tenang di negara-negara maju karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan dan kadang-kadang berkompetisi dengan perjalanan wisata ke luar negeri (outbound).

Kecenderungan-kecenderungan dan pengaruh wisatawan domestik mengalami perubahan di bidang (a) demografi, (b) tujuan perjalanan, (c) rencana dan pengaturan perjalanan, (d) psikografi dan gaya hidup, (e) minat khusus, (f) penggunaan teknologi, (g) yang menandakan resesi atau kondisi ekonomi yang lebih miskin di beberapa negara maju, (h) tingkat harga yang relatif antara wisatawan domestik dengan wisatawan yang melakukan perjalanan ke luar negeri (outbound) serta (i) pengembangan penerbangan murah (LCC).

Ada beberapa segmen pasar di wisatawan domestik yang signifikan dan menikmati pertumbuhan, seperti perjalanan keluarga, perjalanan wisatawan yang berbeda-beda usia, perjalanan wisata yang mahal, perjalanan wisata minat khusus, wisata pertanian, wisata golf, dan wisata buatan ke tempat-tempat rekreasi dan hiburan (theme parks-red).

Sistem pemasaran destinasi harus mengikuti strategi pengembangan dan implementasi serta rencana untuk wisatawan domestik. Sebagai prioritas Tata Kelola Destinasi (TKD) harus melakukan riset data secara mendalam tentang karakteristik wisatawan domestik dan menggunakan data tersebut dalam melakukan pendekatan dengan segmentasi pasar. TKD perlu menyeleksi target pasar wisatawan domestik dan pendekatan posisi-citra-branding untuk berkomunikasi dengan dan menarik wisatawan domestik. Beberapa TKD merancang dan mengimplementasikan kampanye  komunikasi pemasaran terpadu untuk wisatawan domestik mereka.

Pengunjung teman dan kerabat (Visits Friend and Relatives/ VFR) adalah signifikan di wisatawan domestik, tetapi seringkali diabaikan dan kurang dilakukan riset secara mendalam sebagaimana segmen pasar lainnya. TKD seringkali tidak terlibat dalam pemasaran dan promosi VFR karena asumsi yang keliru tentang VFR. Asumsi yang salah tentang VFR tidak menggunakan akomodasi komersial; bahwa VFR tidak mengeluarkan uang (belanja) sebanyak wisatawan internasional; TKD tidak memengaruhi VFR untuk berwisata di destinasi-destinasi mereka.

Peran TKD dalam pemasaran dan promosi wisatawan domestik sangat penting. TKD harus menyelesaikan tugasnya, sebagai berikut.
1. Menganalisis tren peningkatan jumlah wisatawan domestik dan segmen pasar spesifik wisatawan domestik.
2. Melakukan riset tentang karakteristik pasar wisatawan domestik.
3. Melengkapi analisis segmentasi pasar dan kemudian menyeleksi target pasar wisatawan domestik.
4. Menyiapkan pendekatan posisi - citra - branding untuk wisatawan domestik.
5. Mengembangkan dan mengimplementasikan kampanye komunikasi pemasaran terpadu untuk wisatawan domestik, mengintegrasikan 8Ps pemasaran (product, price, place, promotion, packaging, programming, partnership, dan people).
6. Memonitor secara terus menerus implementasi pemasaran dan promosi wisatawan domestik.
7. Mendemonstrasikan akuntabilitas dengan mengevaluasi hasil dan capaian dari pemasaran wisatawan domestik dan program promosi.
8. Melakukan riset tentang ukuran seberapa besar (size) dan dampak perjalanan VFR di destinasi.
9. Terlibat dalam pemasaran dan promosi yang diarahkan untuk mendorong lebih banyak perjalanan VFR ke destinasi.

Sumber: 

Alastair M. Morrison (2013). Marketing and Managing Tourism Destinations.

Segmentasi Pasar

Pemasaran yang sukses dilakukan dengan cara mengejar target pasar (target markets) daripada mencoba menarik pasar yang bersifat umum (mass market). Kalau hal ini dilakukan akan terjadi pemborosan bagi Tata Kelola Destinasi (TKD), yang  menugaskan setiap orang ke semua pasar. TKD perlu memutuskan bagaimana membagi wisatawan yang tujuannya bersenang-senang (pleasure) dan wisatawan bisnis ke dalam analisis segmentasi pasar (market segmentation analysis).  
  

Bauran Pemasaran  (Marketing mix)

Para pemasar (marketers) semua destinasi mempunyai berbagai peralatan yang canggih untuk menarik pelanggan (baca: wisatawan-red). Alat-alat tersebut dikenal dengan "Ps of marketing," yang kali pertama dirancang oleh McCarthy (1960) mencakup produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promosi). Beberapa penulis berargumentasi bahwa "traditional 4 ps" sudah tidak cocok demikian juga untuk pariwisata sebagaimana yang  dilakukan untuk produk yang bersifat fisik. Morrison (2010) menambahkan Ps, yaitu paket (packaging), programming (program), kemitraan (partnership), dan orang (people), yang ditujukan pada aspek-aspek pemasaran pariwisata dan layanan keramahan (hospitality services).


Source: Alastair M. Morrison (2013). Marketing and Managing Tourism Destinations.

Proses Pemasaran

Proses Pemasaran
Seri: Pemasaran dan Manajemen Destinasi Pariwisata

Pemasaran adalah proses di mana Tata Kelola Destinasi (TKD) menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan dengan pelanggan yang kuat untuk menangkap kembali nilai dari pelanggan.

Proses Pemasaran mencakup lima langkah.

Empat langkah yang pertama adalah menciptakan nilai bagi pelanggan.

Langkah-1. Memahami pasar dan kebutuhan serta keinginan pelanggan (wisatawan).

Langkah-2. Merancang strategi pemasaran yang digerakkan oleh pelanggan.

Langkah-3. Membangun program pemasaran terintegrasi yang memberikan nilai yang unggul (disukai, dihormati, dan/ atau dimuliakan yang diterima oleh wisatawan).

Langkah-4. Membangun hubungan yang menguntungkan dan menciptakan kepuasan pelanggan.

Langkah-5. Menangkap kembali nilai dari pelanggan untuk menciptakan keuntungan dan ekuitas pelanggan (wisatawan).

Catatan:
Ekuitas pelanggan (customer equity) adalah istilah baku dalam CRM (customer relationship management). Intinya, pelanggan (wisatawan) yang telah kita dapatkan (diakuisisi) merupakan aset (ekuitas) bagi destinasi dan TKD, karena ia menghasilkan value (dalam penjualan) bagi destinasi dan TKD, baik sekarang maupun di masa depan. Nilai yang kita peroleh dari pelanggan (wisatawan) selama dia menjadi pelanggan destinasi dan TKD disebut customer lifetime value (CLV).

Sumber:

Diadaptasi dari Prinsip-prinsip Pemasaran (2008). Philip Kotler dan Gary Armstrong.

Peristiwa Pariwisata

Sebuah peristiwa terjadi pada kurun waktu dan ruang tertentu. Pandangan manusia tentang waktu ada yang beranggapan bahwa waktu berjalan linier seperti garis lurus, yang tidak pernah berulang, sehingga setiap waktu sangat berarti, penting, atau istimewa. Bagi mereka yang berpandangan bahwa waktu akan berulang (siklus), seperti siklus kehidupan (life-cycle), maka setiap tahap kehidupan menjadi istimewa dan dirayakan.

Dalam siklus kehidupan, sebuah  peristiwa kehamilan, kelahiran, masa remaja menuju dewasa,  perkawinan, dan kematian adalah tahapan istimewa dalam kehidupan yang dirayakan sebagai peristiwa istimewa.

Peristiwa yang dinilai istimewa ada yang berhubungan dengan alam, seperti peristiwa bersih desa, peristiwa menolak bala, peristiwa syukuran setelah panen berhasil, dan sebagainya.

Peristiwa pemberian gelar atau pencapaian status yang dinilai terhormat di masyarakat, seperti pelantikan kepala suku, raja, sultan, kepala negara, seringkali juga dirayakan sebagai peristiwa yang istimewa.

Selain peristiwa tersebut di atas, peristiwa merayakan hari jadi atau prestasi sebuah kabupaten, kota, provinsi, dan negara kerapkali dirayakan oleh warganya sebagai peristiwa penting.

Demikian juga perayaan hari-hari besar keagamaan, juga dirayakan oleh pemeluk agamanya karena dinilai sebagai peristiwa yang istimewa.

Apa makna peristiwa tersebut bagi kehidupan?

Karena setiap peristiwa bersifat istimewa, mulai dari tempat, waktu, peserta, pemimpin, proses, tata cara, perlengkapan, dan tujuan menjadi penting untuk diketahui bagi siapa saja yang akan menyaksikan suatu peristiwa.

Apakah setiap peristiwa adalah peristiwa pariwisata?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut tentunya kita perlu menyamakan persepsi terlebih dulu.

Setiap peristiwa yang disaksikan langsung oleh wisatawan (dalam konteks ini, wisatawan potensial dapat menyaksikan suatu peristiwa melalui media, tetapi yang diharapkan tentunya wisatawan potensial mau menyaksikan langsung peristiwa tersebut di destinasi pariwisata), baik wisatawan mancanegara atau nusantara disebut peristiwa pariwisata (tourism events). Tetapi, tidak semua peristiwa (historical/ cultural events) dikunjungi dan disaksikan langsung oleh wisatawan, misalnya pesta kesenian rakyat atau festival rakyat, yang hanya dirayakan oleh komunitas lokal di destinasi pariwisata. Meskipun diliput dan disebarluaskan oleh media, selama peristiwa tersebut tidak dikunjungi atau disaksikan langsung oleh wisatawan, maka peristiwa tersebut baru disebut berpotensi sebagai peristiwa pariwisata (potential tourism event). Jika peristiwa tersebut dimasukkan ke dalam calender of events (COEs) dan dipromosikan dengan gencar kepada target pasar sesuai segmen yang telah ditetapkan setahun sebelumnya, peristiwa pariwisata diharapkan dapat menarik wisatawan individual (individual traveller) atau dijual sebagai paket wisata (package tour) oleh online travel agent, atau tour operator, atau manajemen destinasi. 


Ikhtisar: Perencanaan Pemasaran Destinasi

Pemasaran dan promosi adalah satu dari peran manajemen destinasi (DMO) yang sangat penting yang memerlukan perencanaan secara bertahap.

Proses perencanaan pemasaran destinasi adalah sebuah pendekatan yang terbukti efektif dalam praktek. Proses ini meliputi pengembangan jenjang tujuan dan sasaran, yang mencakup visi destinasi, visi manajemen destinasi (DMO), tujuan-tujuan pemasaran dan sasaran-sasaran pemasaran. Misi DMO perlu ditulis.

Langkah-langkah bahwa DMO harus melengkapi perencanaan pemasaran destinasi sebagai berikut.

1. Mengembangkan visi sebuah destinasi (visi yang diarahkan pada hasil yang akan dicapai pada tujuan utama jangka panjang) dan visi DMO (lebih konkret dari visi destinasi, yang akuntabel sebagai tujuan utama jangka panjang yang mengarahkan tujuan dan sasaran pemasaran).
2. Menyiapkan seperangkat tujuan-tujuan pemasaran destinasi untuk 3-5 tahun (bagian dari perencanaan stratejik).
3. Menuliskan pernyataan sebuah DMO.
4. Menyiapkan pemindaian sebuah lingkungan (analisis SWOT).
5. Mengembangkan sebuah analisis situasi.
6. Melaksanakan riset pasar dan pemasaran untuk mendukung keputusan-keputusan.
7. Mengidentifikasi Unique Selling Points (USPs), dalam konteks membedakan (differentiating) keunikan produk dibandingkan destinasi pesaing.
8. Melaksanakan analisis segmentasi pasar.
9. Memilih target-target pasar.
10. Menuliskan pernyataan positioning destinasi (posisi destinasi dari persepsi wisatawan dibandingkan dengan destinasi pesaing).
11. Menciptakan sebuah pendekatan branding destinasi (sangat dekat dengan destinasi-DMO dan pengembangan produk, yang tertanam dari pengalaman unik wisatawan ketika berwisata di destinasi pariwisata, yang mengonsolidasikan dan  memperkuat kenangan wisatawan selama beraktivitas di destinasi pariwisata).
12. Menyiapkan seperangkat tujuan pemasaran.
13. Menuliskan perencanaan pemasaran.
14. Memonitor pelaksanaan perencanan pemasaran dan melaporkan perkembangan (pengawasan/ control)
15. Mengevaluasi efektivitas perencanaan pemasaran dan mengukur kinerja manajemen destinasi (DMO).


Sumber: Alastair M. Morrison (2013).  Marketing And Managing Tourism Destinations.

Konsep dan Definisi Statistik Kunjungan Wisatawan Mancanegara

Definisi wisatawan mancanegara sesuai dengan rekomendasi United Nation World Tourism Organization (UNWTO) adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara di luar tempat tinggalnya, didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan (bekerja) di tempat yang dikunjungi dan lamanya kunjungan tersebut tidak lebih dari 12 (dua belas) bulan.

Definisi ini mencakup dua kategori tamu mancanegara, yaitu

Wisatawan (tourist) adalah setiap pengunjung seperti definisi di atas yang tinggal paling sedikit dua puluh empat jam, akan tetapi tidak lebih dari dua belas (12) bulan di tempat yang dikunjungi dengan maksud kunjungan, antara lain: berlibur, rekreasi, dan olahraga; bisnis; mengunjungi teman dan keluarga; misi; menghadiri pertemuan, konferensi; kunjungan dengan alasan kesehatan, belajar, dan keagamaan

Pelancong (Excursionist)
adalah setiap pengunjung seperti definisi di atas yang tinggal kurang dari dua puluh empat jam di tempat yang dikunjungi (termasuk cruise passenger yaitu setiap pengunjung yang tiba di suatu negara dengan kapal atau kereta api, dimana mereka tidak menginap di akomodasi yang tersedia di negara tersebut).


Sumber: BPS

Konsep Dasar Tata Kelola Destinasi dan Pemasaran Destinasi Pariwisata

Definisi Destinasi Pariwisata

Secara mendasar sebuah destinasi pariwisata adalah sebuah wilayah geografis yang dapat menarik wisatawan. Di bawah ini akan dijelaskan karakteristik kunci sebuah destinasi pariwisata sebagai berikut.

#1. Sebuah wilayah geografis yang mempunyai batas administrasi atau batas-batas administrasi: konsep ini terbentang dari negara yang paling luas seperti Russia sampai negara yang paling kecil seperti  Monaco, Kota Vatican, negara-negara, provinsi-provinsi, wilayah-wilayah, daerah-daerah, kota-kota kecil dan kota-kota di dalam suatu negara dapat juga disebut sebagai destinasi-destinasi.

#2. Sebuah tempat yang dicari  oleh wisatawan untuk bermalam di akomodasi-akomodasi: misalnya di hotel-hotel, tetapi mungkin juga di tempat-tempat akomodasi lainnya. Beberapa dari wisatawan mungkin saja melakukan perjalanan selama sehari (day-trippers), jadi tidak semua wisatawan bermalam di tempat yang dikunjungi.

#3. Sebuah pembauran destinasi yang dapat digunakan oleh wisatawan-wisatawan: ada banyak fasilitas yang dapat digunakan wisatawan sebagai akomodasi untuk bermalam, termasuk restoran-restoran. Hal yang paling penting dalam menarik wisatawan adalah atraksi-atraksi dan peristiwa-peristiwa pariwisata (events). Transportasi, infrastruktur, dan sumber daya keramahan (hospitality resources) adalah elemen-elemen lain dari pembauran destinasi.

#4. Adanya upaya sebuah pemasaran pariwisata: langkah-langkah yang telah dilakukan untuk pemasaran dan promosi tempat-tempat tertentu bagi wisatawan-wisatawan.

#5. Sebuah struktur organisasi yang akan mengoordinasikan telah dibentuk: sebuah TKD yang akan memimpin dan mengoordinasikan upaya-upaya pariwisata di tempat-tempat tertentu.

#6. Sebuah citra (image) suatu tempat yang terbentuk di benak para wisatawan: orang mempunyai persepsi tentang suatu tempat yang ditawarkan untuk pariwisata. Citra ini mungkin tepat atau tidak tepat.

#7. Badan-badan pemerintah membuat peraturan perundang-undangan: khusus peraturan perundang-undangan yang mengawasi aspek-aspek pariwisata yang berbeda-beda.

#8. Adanya pembauran para pemangku kepentingan: perusahaan-perusahaan swasta, badan-badan pemerintah, organisasi-organisasi nirlaba, individu-individu dan entitas lainnya yang mempunyai perhatian di bidang pariwisata.


Source: Alastair M. Morrison (2013). Marketing and Managing Tourism Destinations.

Pemasaran Kepariwisataan

"... The management process through which the National Tourist Organization (NTO) and or tourist enterprises identify their selected tourists, actual and potential, communicate with them to ascertain and influence their wishes, needs, motivations, likes and dislikes, on local, regional, national and international levels, and to formulate and adapt their tourist products accordingly in view of achieving optimal tourist satisfaction thereby fulfulling their objectives."

Terjemahan bebasnya, pemasaran kepariwisataan (tourism marketing) adalah suatu proses manajemen yang mana organisasi kepariwisataan nasional (kementerian/lembaga/dinas yang menangani kepariwisataan) atau industri (kumpulan usaha-usaha-red) pariwisata mengidentifikasi turis secara selektif, aktual (eksisting)  dan potensial, berkomunikasi dengan mereka untuk memastikan dan memengaruhi harapan wisatawan, kebutuhan-kebutuhan, motivasi-motivasi, kesukaan dan ketidaksukaan, di skala lokal, regional, nasional, dan internasional, dan untuk memformulasikan dan mengadaptasi produk-produk  wisata (yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan wisatawan-red) dalam upaya mencapai kepuasan hasil yang optimal, sehingga tercapailah tujuan yang diinginkan wisatawan.

Sumber: Prof. Dr. Salah Wahab, L.J. Crampton, MA dan L.M Rothfield, MA dalam bukunya Tourism Marketing, 1976).

sent by harrywaluyo

Memalsukan Kebenaran

Memalsukan kebenaran tidak mungkin lagi dilakukan
Seri: Pemasaran danManajemen destinasi pariwisata


Melalui komunikasi modern memungkinkan fasilitas-fasilitas, pelanggan-pelanggan diberdayakan untuk berdiskusi tentang pengalaman mereka berwisata dan berbagi pendapat mereka tentang destinasi-destinasi lain di seluruh dunia. Dalam situasi lingkungan yang dinamis, penawaran produk-produk suatu destinasi dianalisis dan penawaran yang terbaik menjadi populer. Oleh karena itu, destinasi-destinasi tidak dapat lagi menyembunyikan kelemahan mereka dari pelanggan mereka dan tidak dapat mempromosikan produk-produk dan layanan yang menyembunyikan kebenaran. Kebenaran adalah karakteristik yang paling populer dari pelanggan yang dapat menghasilkan komunikasi-komunikasi dan ini akan tersebar luas tanpa menghiraukan upaya-upaya destinasi yang mungkin berusaha untuk menghentikannya (Machlouzarides, 2010)

Konsumen menjadi sangat berkuasa

Konsumen menjadi sangat berkuasa
Seri: Pemasaran dan Manajemen Destinasi Pariwisata

Konsumen (wisatawan) menjadi sangat kuat dan semakin mampu menentukan unsur-unsur produk pariwisata mereka. 
Mereka juga jauh lebih canggih dan berpengalaman dan karena itu jauh lebih sulit untuk menyenangkan mereka. 


Perusahaan pariwisata yang inovatif akan memiliki kemampuan untuk mengalihkan sumber daya dan keahlian untuk melayani wisatawan serta memberikan nilai tambah yang lebih tinggi pada setiap transaksi (Buhalis dan Law, 2008)

Promosi 3Cs

Promosi 3Cs atau 3K
Seri: Pemasaran Produk Pariwisata

Content (konten): Produk dan jasa apa yang akan dipromosikan? 
Produk bersifat kebendaan atau barang (tangible), sedangkan jasa bersifat non-kebendaan (intangible).

Context (konteks): Dalam suasana apa, produk dan jasa itu digunakan?
Produk pariwisata yang bersifat kebendaan, misalnya infrastruktur fisik bandara, transportasi, hotel, restoran, museum, tempat hiburan, toko cenderamata dsb. Tetapi, layanan (services) di bandara, di angkutan umum, di hotel, di restoran, di museum, di tempat hiburan, di toko cenderamata adalah jasa yang bersifat non-kebendaan.

Culture (kultur): Nilai apa menjadi dasar sebuah produk atau jasa yang ditawarkan, layak atau pantas dibeli atau digunakan oleh konsumen atau pelanggan.

Bagi konsumen (consumer) atau pelanggan (customer), sebuah produk atau jasa yang mengandung nilai-nilai yang disukai, dihormati, dan/ atau  dimuliakan akan dibeli atau digunakan, misalnya ada berbagai produk dan jasa yang ditawarkan, tetapi konsumen atau pelanggan adalah raja yang paling berkuasa dalam menentukan pilihan sesuai dengan kebutuhan (needs),  keinginan (wants), dan kemampuan.


Bukankah konsumen atau pelanggan akan membeli produk atau jasa yang dipromosikan dengan gencar? Benar sekali, tetapi itu bersifat jangka pendek, karena dipromosikan terus menerus sehingga pembeli yang tidak butuh (needs), akhirnya ingin (wants) membeli atau memakai sesuai kemampuan, sedangkan untuk jangka panjang, pelanggan akan beralih ke produk atau jasa yang inovatif, yang menghargai keragaman budaya (cultural diversity), melibatkan seluruh komponen masyarakat (social inclusion), dan menjaga kelestarian lingkungan (environmental sustainability)

Destinasi yang Sukses

Destinasi pariwisata yang dikatakan berhasil (10A's) menurut Alastair M. Morrison (2013), sebagai berikut.

1. Awareness (Kesadaran): Atribut (sifat yang menjadi ciri khas) yang terkait dengan tingkat pengetahuan wisatawan tentang destinasi yang dipengaruhi oleh sejumlah informasi yang diterima wisatawan.
Pertanyaan dari DMO (Destination Management Organization) atau Tata Kelola Destinasi (TKD): Apakah ada tingkat kesadaran yang tinggi tentang destinasi di antara wisatawan potensial?
2. Attractiveness (Ketertarikan): Jumlah dan ruang lingkup geografis dari daya tarik suatu  destinasi yang mengandung sifat yang menjadi ciri khas.
Pertanyaan dari TKD: Apakah di destinasi itu menawarkan keberagaman daya tarik yang membuat wisatawan tertarik?
3. Availability (Ketersediaan): Atribut ini menentukan kemudahan dalam melakukan pemesanan (booking) dan reservasi yang dapat dibuat untuk ke destinasi, dan sejumlah saluran pemesanan dan reservasi yang tersedia.
Pertanyaan TKD: Apakah dapat melakukan pemesanan dan reservasi melalui berbagai saluran yang tersedia?
4. Access (Akses): Kenyamanan menuju dan dari destinasi, perjalanan yang nyaman di destinasi, merupakan atribut ini.
Pertanyaan TKD: Apakah ada akses yang nyaman menuju dan dari destinasi dengan berbagai moda transportasi? Apakah ada transportasi yang nyaman di destinasi itu?
5. Appearance (Penampilan): Atribut ini mengukur kesan-kesan yang dialami wisatawan sejak  kedatangan dan selama wisatawan tinggal di destinasi.
Pertanyaan TKD: Apakah destinasi dapat membuat kesan pertama yang baik? Apakah destinasi dapat membuat kesan positif dan tidak terlupakan?
6. Activities (Aktivitas-aktivitas): Memperpanjang waktu beraktivitas yang tersedia bagi  wisatawan di destinasi adalah penentu dari atribut ini. 
Pertanyaan TKD: Apakah destinasi menawarkan berbagai aktivitas yang membuat wisatawan ingin ikut serta di dalamnya?
7. Assurance (Jaminan): Atribut ini terkait dengan keamanan dan keselamatan di destinasi untuk wisatawan.
Pertanyaan TKD: Apakah destinasi itu bersih, nyaman, dan aman?
8. Appreciation (Apresiasi): Perasaan tentang tingkat penerimaan dan keramahan terkait dengan atribut ini.
Pertanyaan TKD: Apakah wisatawan merasa diterima dan menerima layanan yang baik di destinasi?
9. Action (Aksi): Ketersediaan perencanaan pariwisata jangka panjang dan perencanaan pemasaran pariwisata adalah persyaratan yang harus dipenuhi.
Pertanyaan TKD: Apakah pembangunan kepariwisataan dan pemasaran di destinasi terencana dengan baik?
10. Accountability (Akuntabilitas): Atribut ini tentang evaluasi kinerja yang dilakukannoleh TKD.

Pertanyaan TKD: Apakah TKD mengukur efektivitas setiap kinerja?

Kesepuluh atribut tersebut di atas sangat berguna untuk semua destinasi, tetapi masih perlu didetailkan lagi. Tambahan yang lain, misalnya kontribusi ekonomi di bidang pariwisata terhadap destinasi, demikian juga di tingkat mana destinasi yang telah  mengikuti agenda pariwisata berkelanjutan.

Entri yang Diunggulkan

Syaithoon atau Setan

Setan adalah bangsa jin yang dapat masuk ke dalam aliran darah manusia, membisikkan atau mengajak manusia agar hidup abadi, mempersekutukan...