Kamis, 13 Juli 2017

Uban

Uban

Ternyata ada keajaiban di sehelai rambut yang telah beruban.

Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban—walaupun sehelai—dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya,” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Muhammad bin Hibban At Tamimi rahimahullah, yang lebih dikenal dengan Ibnu Hibban, dalam kitab Shahihnya menyebutkan pembahasan “Hadits yang menceritakan bahwa Allah akan mencatat kebaikan dan menghapuskan kesalahan serta akan meninggikan derajat seorang muslim karena uban yang dia jaga di dunia.”

Lalu Ibnu Hibban membawakan hadits berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat,” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Pada tahun 2012, Ismael Galvan dari Museo Nacional de Ciencias Naturales, Spanyol melakukan studi, tentang uban. Dari hasil para peneliti itu, ternyata uban merupakan tanda Anda akan memiliki hidup panjang dan sehat. Namun, kabar buruknya bagi Anda yang memiliki rambut merah, karena ini terkait tingkat resiko yang lebih tinggi terhadap kanker.

“Pada manusia, melanin kulit, rambut dan bulu merupakan jenis yang sama. Hal ini membatasi pengetahuan pada konsekuensi fisiologi pigmentasi,” kata Galvan.

Uban menandakan absennya melanin. Artinya, uban merupakan tanda hidup yang sehat.

“Jauh dari tanda terkait penuaan, uban mengindikasikan kondisi yang baik,” pungkasnya.

Sumber:
http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2176368/How-grey-hair-sign-good-health--redhead-make-susceptible-illness.html

Senin, 10 Juli 2017

Sepasang Sepatu

1. Bentuknya tidak persis sama, namun serasi.
2. Saat berjalan mempunyai gaya yang berbeda, tetapi tujuannya sama.
3. Tidak pernah berganti posisi, namun saling melengkapi.
4. Tidak pernah berganti pasangan, walaupun pasangannya sudah terlihat usang.
5. Tidak ada yang merasa haknya lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang lain.
6. Bila yang satu hilang, yang lain menjadi tidak berarti.
7. Tidak pernah saling menginjak ataupun saling menendang.
8. Jika yang satu melangkah ke depan, yang lain menyesuaikan.
9. Saat istirahat, keduanya bersanding mesra.

Sepasang sepatu adalah contoh pasangan suami-istri yang bahagia, damai, tenang dan tenteram, dalam cinta dan kasih sayang. 

Minggu, 09 Juli 2017

B 321 MAN

Nomor kendaraan yang bagus karena setiap kali berkendara mengingatkan kita kepada Yang Maha Kuasa, dengan cara mengikuti aturan berlalu lintas di jalan raya, tidak semaunya sendiri,  memberi kesempatan kepada pejalan kaki yang akan menyeberang jalan; tidak membuang sampah ke jalan raya; tidak merokok sambil berkendara karena dapat membahayakan orang lain; tidak menggunakan suara knalpot yang bising karena membangunkan tetangga yang sedang beristirahat; tidak membunyikan klakson berulang-ulang karena perbuatan itu menunjukkan sifat mau menang sendiri (egois), menggunakan helm yang berlabel SNI; mengutamakan keselamatan di jalan raya, baik keselamatan dirinya, penumpang, dan pengguna jalan lainnya; tidak menggunakan telepon genggam sambil berkendara, tidak melintasi marka jalan yang tidak terputus-putus, menjaga jarak kendaraan dengan kendaraan di depannya agar tidak mengerem mendadak; tidak memarkir kendaraan di rambu dilarang parkir; tidak menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat, dan masih banyak lagi yang lainnya, silakan ditambahkan ...

Setiap kita melanggar aturan di jalan raya, kita telah mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang lebih bermanfaat untuk orang lain, termasuk keselamatan orang lain di jalan raya ...

#Salambagiyangberiman
#B321MAN

Jumat, 07 Juli 2017

Cara Menjual Sisir Kepada Orang Botak

Sebuah perusahaan membuat tes terhadap tiga calon staf penjual barunya.

Tesnya unik, yaitu: menjual sisir di kompleks Biara Shaolin.

Tentu saja, ini cukup unik karena para Biksu di sana semuanya gundul (botak) dan tidak membutuhkan sisir.

Kesulitan ini juga yang membuat calon pertama hanya mampu menjual satu sisir. Itupun karena belas kasihan seorang biksu yang iba melihatnya.

Tapi, tidak dengan calon kedua. Ia berhasil menjual 10 sisir, ia tidak menawarkan kepada para biksu, tetapi kepada para turis yang ada di kompleks itu, mengingat angin di sana memang besar sehingga sering membuat rambut para turis menjadi awut-awutan.

Lalu bagaimana dengan calon ketiga? Ternyata Ia berhasil menjual 500 sisir!!!

Caranya..? Ia menemui Kepala Biara.

Ia berupaya meyakinkan Kepala Biara, sisir ini dapat menjadi suvenir bagus untuk kompleks biara tersebut. Kepala Biara dapat membubuhkan tanda tangan di atas sisir-sisir tersebut dan menjadikannya suvenir bagi para turis. Sang Kepala Biara pun setuju.

Sahabatku yang baik...
Apa yang sering kita anggap sebagai penghambat terbesar dalam usaha atau karier?

Bukankah kita sering kali menyalahkan keadaan?

Dan inilah yang membuat calon pertama gagal. Sementara calon kedua, sudah berpikir lebih maju.

Namun, calon kedua masih terpaku pada fungsi sisir yang hanya sebagai alat merapikan rambut.

Tetapi, calon ketiga sudah berani berfikir di luar kotak (THINKING OUT OF THE BOX), berfikir di luar kelaziman...

Dia bukan hanya berani berfikir bahwa sisir bukan hanya alat merapikan rambut, melainkan dapat menjadi suvenir.

"Kita tidak dapat mengatur situasi seperti yang kita kehendaki. Tetapi, kita dapat mengerahkan segenap potensi yang kita miliki untuk mencari solusi."

“Segenap potensi itu” bukan hanya kerja otot atau kerja keras, tetapi juga kerja otak dengan menggunakan pikiran, ilmu, intuisi, dan kerja cerdas untuk mewujudkannya.

Singkat kata, menggunakan kreatifitas akal, kesabaran, dan ketekunan. Itulah potensi di dalam diri kita yang luar biasa.

Jika ada KEMAUAN, pasti ada JALAN... (When there is a will, there is a way)

Jadi, kalau ada yang mengatakan, tidak ada jalan, berarti dia belum yakin bahwa Tuhan selalu mengikuti keinginan hamba Nya yang bersungguh-sungguh mewujudkan impiannya.

Jika Anda dapat memimpikannya, Anda dapat mewujudkannya (Walt Disney)

Selamat berkreasi dan berinovasi
SALAM KREATIF

Atas kebaikan seorang sahabat yang kreatif dan inovatif

Kamis, 22 Juni 2017

Tiga Jenis Uang

Miliarder Hong Kong "Li Ka-Shing:" Di dunia Ini ada "3 Jenis" Uang Misterius, Semakin Anda Habiskan, Semakin Banyak Anda Dapatkan!

Sehebat apakah 3 jenis uang itu?

Jenis Pertama: Uang Untuk Investasi Diri

Uang untuk belajar dan mengembangkan diri harus dikeluarkan!

Kalau hari ini Anda membuang Bill Gates ke pedalaman Afrika, dan ditinggalkan tanpa uang sepeser-pun, percayalah, dengan cepat, Bill Gates akan menjadi kaya lagi. Ini karena semua modal dia, sudah ditaruh di otaknya.

Jika otak miskin, hidup-pun akan miskin, dengan kata lain, mengeluarkan uang untuk otak sendiri, adalah investasi yang paling aman, kemana saja tidak bakal kelaparan. Meskipun Anda akan bilang, "Buat makan sehari-hari saja tidak cukup, banyak utang, mana ada uang untuk belajar lagi? Lagi pula, sudah belajar pun tidak langsung kelihatan hasilnya!"

Orang semacam ini selamanya tidak bakal menginvestasikan uangnya di otak sendiri.
Sebenarnya, jika Anda benar-benar miskin, otak adalah aset terbesar Anda untuk kembali bangkit. Itulah mengapa Anda harus benar-benar berinvestasi di sini.

Kita melihat banyak orang yang berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan, seluruh hidup mereka dihabiskan untuk mengisi lubang hitam besar yang tidak akan pernah penuh. Hal ini karena mereka tidak mampu melangkah mundur dan melihat bahwa kesulitan hidup mereka sebenarnya karena ketidakmampuan mereka untuk belajar dan mencari terobosan untuk berkembang.

Orang yang pintar akan mengerti bagaimana belajar melalui pengalaman orang lain, dan menghindari kesalahan yang sama.

Jadi, untuk belajar dan mengembangkan diri, harus rela menghabiskan uang, bahkan sampai meminjam uang sekalipun! Karena dia pasti akan memiliki banyak jalan untuk mengembalikannya.

Jadi, jika Anda menghadapi kesulitan, ingatlah! Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kapan saja bisa dimulai! Mungkin banyak yang bilang tidak punya uang. Sebenarnya, orang semacam ini pasti sudah tidak sedikit membuang uang secara sia-sia. Kalau memang ingin berubah, tetapi untuk biaya pendidikan saja pelit, bagaimana Anda punya kemampuan yang cukup untuk menghadapi kesulitan?

Orang yang bijak, harus memahami hal ini.

Jenis Kedua: Uang Untuk Berbakti

Uang untuk berbakti kepada orang tua harus dikeluarkan. Mungkin banyak yang berpikir, buat diri sendiri saja sudah tidak cukup, bahkan masih banyak utang, bagaimana bisa secara rutin memberikan uang kepada orang tua? Ada juga yang bilang, di rumah tidak kekurangan uang, papa dan mama punya cukup uang, tidak perlu memberikan uang kepada orang tua! Tidak peduli bagaimana keadaan ekonomi orang tua Anda, uang untuk berbakti kepada orang tua harus diberikan secara rutin. Semiskin apapun, sebulan sekali harus menyisihkan uang untuk orang tua!

Semiskin apapun orang tua Anda, dia tetap membesarkan Anda. Coba pikir, apakah karena banyaknya utang, tidak cukup uang, lalu orang tua Anda akan meninggalkan Anda? Semiskin apapun, mereka pasti tetap akan membesarkan Anda, iya kan? Jadi, kalau sekarang Anda mengembalikannya, itu memang sebuah keharusan. Bagaimana bisa, hanya ketika punya uang baru memberi, dan saat tidak punya uang tidak memberi?

Sebenarnya, mungkin Anda tidak tahu, berbakti kepada orang tua itu ibarat sebuah "restu alami." Relasi yang baik dengan orang tua akan meningkatkan kekuatan restu. Seseorang kalau tidak memiliki restu, seumur hidup tidak akan lancar dalam mengerjakan apapun.

Berbakti kepada orang tua, juga sekaligus untuk diri sendiri. Jadi, jika dilihat dari sudut pandang lain, uang untuk berbakti kepada orang tua, bukan saja hanya untuk kebaikan orang tua, tetapi juga untuk diri sendiri!

Kalau tidak percaya, coba lihat orang di sekitarmu, lihat orang-orang yang sudah 24 kali berganti pekerjaan, apakah hidup mereka sudah berbakti kepads orang tua? Orang yang dari muda mengerjakan sesuatu sering gagal, hidup tidak lancar, relasi dengan orang tua pasti ada masalah.

Menurut data yang ada, 500 pengusaha tersukses di dunia adalah orang-orang yang berbakti kepada orang tua. Jadi, ingatlah! Semiskin apapun Anda, uang untuk berbakti kepada orang tua tidak boleh dihemat!

Jenis Ketiga: Uang Untuk Beramal

Asal ada uang lebih, donasikanlah uang itu. Di dunia ini, selamanya pasti ada orang yang lebih atau kurang beruntung dari kita. Karenanya, peliharalah kebiasaan beramal.

Jika Anda memiliki tanggungan, sisihkanlah 2% dari pendapatan Anda untuk didonasikan. Jika, tidak ada tanggungan, berilah 5% dari pendapatan Anda untuk didonasikan.

Uang itu harus berputar, jangan membuat uang hanya berhenti di dirimu sendiri, berikanlah kepada orang yang pernah membantu Anda.

Jika Anda adalah Bos, ingatlah bahwa keberhasilan hari ini merupakan buah dari kerja sama seluruh karyawan Anda. Memberikan bonus kepada mereka adalah hal yang seharusnya.

Dan amal terbesar adalah ketika Anda melakukan pekerjaan yang baik dengan rasa syukur. Amal besar lainnya adalah senyuman dan kesabaranmu terhadap orang yang menyaktimu.

Bagaimana menurut Anda?

Disadur dari http://www.cerpen.co.id/post_140292.html

Rabu, 21 Juni 2017

Menggapai surga

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Gapailah surga dengan kesungguhanmu, dan larilah dari siksa neraka dengan kesungguhanmu. Sesungguhnya surga itu tidak pernah tidur bagi siapapun yang bersungguh-sungguh mencarinya. Neraka juga tidak pernah tidur bagi setiap orang yang ingin lari dari siksa neraka.
Dan sesungguhnya surga itu dikelilingi oleh sesuatu yang kita benci, sedangkan neraka dikelilingi oleh segala kenikmatan dan syahwat."

Diceritakan Nabi Musa alaihi sallam bermunajat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, lalu beliau bertanya: ”Wahai Tuhanku, Kau ciptakan makhluk dan juga kenikmatannya. Kau beri mereka rezeki, Kau ciptakan kiamat, dan ada surga juga neraka.

Kenapa tidak semuanya Kau masukkan ke dalam surga saja?.

Kemudian Allah menjawab:

”Wahai Musa, bangkit dan tanamlah padi, kemudian sirami setelah itu panenlah.”

Lalu akhirnya Nabi Musa mulai menanam dan menyirami padi hingga masuk masa panen.

Setelah masuk masa panen, Allah Subhanahu wa ta'ala bertanya kepada Nabi Musa alaihi sallam:

”Wahai Musa bagaimana hasil panennya?”

Nabi Musa pun menjawab: ”Wahai Tuhanku semua padi telah saya panen.”

Lalu Allah Subhanahu wa ta'ala kembali bertanya: ”Adakah di antara padi-padi yang kau panen itu kau tinggalkan?

Kemudian Nabi Musa menjawab:

”Tidak ada satupun yang kami tinggalkan kecuali beberapa padi yang memang tidak ada isinya.”

Lalu Allah pun menjawab: ”Begitu pula Aku wahai Musa, Aku tidak akan pernah memasukkan ke dalam surga orang-orang yang tidak ada isinya.”

Ukuran sukses di dunia, terbalik dengan ukuran di akhirat.

Allah menilai hamba-Nya dari proses, bukan dari hasilnya karena tidak ada satu orang pun yang tahu apakah usaha seseorang itu akan berhasil atau tidak. Keberhasilan/ kesuksesan sesungguhnya, termasuk kegagalan/ musibah, semua itu dapat terjadi atas izin Allah. Bukan karena otaknya yang pintar, melainkan karena Allah ridha dengan usahanya.

Apakah seorang dokter dapat memastikan bahwa obatnya akan menyembuhkan penyakit yang diderita pasien?

Penyakit itu sembuh bukan karena obat, tetapi atas izin Allah. Kita hanya berikhtiar/ berusaha untuk memperoleh kesembuhan.

"Penyakit itu untuk membersihkan dosa-dosa, insyaa Allah."

Padi yang berisi itu akan merunduk (rendah hati), tetapi padi yang kosong akan terlihat berdiri tegak (sombong).

Seseorang yang berilmu (pengetahuan atau agama) semakin menyadari bahwa dia hanya mengetahui sebagian kecil dari ilmu Allah yang meliputi seluruh alam semesta beserta isinya. Oleh karena itu, orang yang berilmu akan berhati-hati dan bijaksana dalam lisan dan tindakannya. Tetapi, orang yang sombong akan semakin sombong dengan keberhasilan yang diraihnya, padahal itu hanyalah istidraj (pemberian nikmat kepada orang-orang yang melampaui batas sampai Allah kemudian menarik nikmat-nikmat itu dengan azab yang tidak terduga), apakah orang itu akan bertobat atau terkena azab akibat dari perbuatannya sendiri.

Mengapa konteks lebih penting daripada isinya?

"Dalam dunia media, asumsi tersebut diyakini kebenarannya. Konteks erat kaitannya dengan persepsi, sedangkan isi (content) dapat diubah menurut persepsi."

Bagaimana cara mengubah persepsi?

Satu di antara cara yang sering digunakan adalah melalui iklan. Kita dapat melihat kenyataan dengan persepsi yang berbeda-beda. Iklan bertujuan mengubah persepsi seseorang terhadap isi. Iklan akan membujuk kita dari berbagai media cetak, radio, televisi, media luar ruang, website dan media sosial sehingga pada mulanya tidak tahu/ tidak mau kemudian tahu/ mau memakai/ membeli sesuatu yang pada awalnya tidak kita butuhkan, tetapi karena iklan, akhirnya kita tahu/ mau memakai/ membeli produk (barang/ jasa) yang ditawarkan setelah kita melihat dan/ atau mendengar iklan secara terus menerus di media.

"Ingat bujukan setan ketika membisikkan Adam alaihi sallam agar dapat hidup abadi di surga, padahal Allah melarang mendekati pohon itu. Tetapi, karena setan terus menerus menggoda Adam alaihi sallam, akhirnya Adam tergoda dan terperangkap dalam bujukan setan dan melanggar perinah Allah Subhanahu wa ta'ala."

Kisah di atas yang menyebabkan ahli pemasaran dunia, Philip Kotler, menyebutkan bahwa ahli pemasaran yang pertama adalah setan.

Sebelum kita mengenal iklan atau media. Isi lebih penting daripada persepsi.

Mengapa demikian?

Karena isi adalah bahasa alamiah yang dimiliki oleh setiap orang. Isi adalah kebutuhan setiap orang. Misalnya, pada saat kita lapar, hal pertama yang kita butuhkan adalah makan atau minum. Tetapi, pada saat kita akan memenuhi kebutuhan makan atau minum, kita akan memilih makanan atau minuman apa yang kita butuhkan.

Di sinilah iklan memainkan peranan penting.

Apakah Anda akan memilih makanan atau minuman berdasarkan kebutuhan atau keinginan? Kalau kita memilih makanan dan/ atau minuman berdasarkan kebutuhan, kita termasuk orang yang lebih mengutamakan isi daripada persepsi. Demikian juga sebaliknya, kalau kita memilih makanan atau minuman berdasarkan keinginan, berarti kita termasuk orang yang lebih mengutamakan persepsi daripada isi.

Karakter manusia yang lebih mengutamakan isi atau persepsi berbeda. Manusia yang lebih mengutamakan isi akan memenuhi kebutuhannya sekedar cukup untuk hidup, tidak berlebih-lebihan, dan hidupnya sederhana. Sebaliknya, manusia yang lebih mengutamakan persepsi akan mengejar keinginan yang tidak terbatas. Semakin banyak iklan yang dilihat dan/ atau didengar, semakin banyak keinginannya, hidupnya tidak pernah puas mengejar kesenangan hidup di dunia, seperti orang yang kecanduan.

Mengapa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam hidupnya sangat sederhana?

Bagaimana dengan Abu Bakar radhiallahu anhu, dari orang terkaya sampai menjadi orang yang semua urusan hidupnya diserahkan kepada Allah dan rasul Nya. Demikian juga Khadijah radhiallahu anha, dari seorang perempuan yang kaya raya di Makkah, di akhir hayatnya, hidupnya sangat sederhana, bahkan tulangnya pun diikhlaskan untuk menegakkan agama Allah.



Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Kamis, 15 Juni 2017

Wong Pinter

Wong Pinter I Orang Pintar      

"Ora kabeh wong pinter kuwi bener…
Ora kabeh wong bener kuwi pinter…
Akeh wong pinter ning ora bener…
Lan akeh wong bener senajan ora pinter…
Nanging tinimbang dadi wong pinter ning ora bener…
Luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter…
Ana sing luwih prayoga yo kuwi dadi wong pinter sing tansah tumindak bener.

Tidak semua orang pintar itu benar ...
Tidak semua orang yang benar itu pintar ...
Banyak orang pintar, tetapi tidak benar ...
Dan banyak orang benar, tetapi tidak pintar ...
Namun daripada menjadi orang pintar, tetapi tidak benar ...
Lebih baik menjadi orang benar, tetapi tidak pintar ...
Ada yang lebih baik, itulah yang membuat dirinya pintar, yang selalu perilakunya benar.

Minterno wong bener kuwi luwih gampang tinimbang mbenerake wong pinter…
Mbenerake wong pinter kuwi mbutuhake beninge ati, lan jembare dodho...        

Memperbaiki akhlak orang yang benar lebih mudah daripada memperbaiki akhlak orang yang pintar ...
Memperbaiki orang yang pintar membutuhkan hati yang bersih dan dada yang lapang (sabar).

Selamat menunaikan rangkaian ibadah shaum 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Semoga Allah membebaskan kita dari siksa api neraka dan menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadan serta mendapatkan malam lailatul qadar, Aamiin ya Mujibassailin.

Meneruskan nasihat simbah ... (orang-orang tua dulu)

Rabu, 14 Juni 2017

Segelas Madu

Suatu ketika mobil pengangkut madu tiba di sebuah toko. Banyak orang datang berebut untuk membelinya. Terjadilah antrian panjang di toko si Pedagang Madu.

Tibalah giliran seorang perempuan tua miskin, dengan tangan gemetar, ia menyodorkan gelas yang dibawanya kepada si Pedagang Madu.

"Aku tidak mampu membeli madumu. Sudilah engkau bersedekah untukku dengan segelas madu saja," katanya dengan wajah tertunduk.

"Tidak," jawab si Pedagang Madu dengan tegas, "Aku tidak bisa memberimu segelas madu," tambahnya lagi. Tapi ia menyuruh pembantunya untuk membawa segentong madu dan mengantarkannya ke rumah wanita tua itu, yang menerima dengan mata terbelalak tidak percaya. Air mata bahagia mengalir deras di pipinya yang keriput. "Alhamdulillah," katanya.

Seorang laki-laki pembeli yang antri di belakang wanita tua bertanya kepada si Pedagang Madu: "Tuan, yang diminta wanita itu cuma segelas madu. Mengapa engkau malah memberinya segentong madu?

Si Pedagang Madu menjawab, "Ia meminta sesuai kebutuhannya, aku memberi sesuai kemampuanku. Aku mengerjakan itu karena begitulah keadaanku di hadapan Tuhanku selama ini. Setiap kali aku meminta kepadaNya apa yang kuinginkan,  Ia selalu memberiku berdasarkan keinginanNya. Dan pemberianNya bukan sekadar cukup, melainkan selalu lebih dari cukup."

Saudaraku, hanya Dialah yang lebih tahu apakah kita bersedekah karena Nya atau mengharapkan pujian dari manusia. Kalau kita bersedekah karena mengharapkan pujian dari manusia, kita akan mendapatkannya di dunia ini, tetapi kalau kita bersedekah karena Nya, Dia yang akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Wallahu a'lam bishshawwab.

Pesan ini dikirim dari seorang sahabat.

Senin, 12 Juni 2017

Kanker Stadium 4 Kalah

Ternyata Kanker Stadium 4 Bisa Kalah dengan Soda Kue, Begini Cara Bikinnya

Minggu, 11 Juni 2017 20:24 WIB

Soda Kue | Kompasiana

Grid.ID-Kanker menjadi penyakit yang begitu menakutkan.

Selain biaya pengobatan yang mahal, rasa sakit yang luar biasa akan dialami penderitanya.

Padahal itu belum tentu berhasil.

Kemarin dan hari ini, kabar kematian Jupe yang meninggal akibat kanker serviks begitu menyita perhatian sebagian besar masyarakat.

Minggu sebelumnya, artis yana Zein juga meninggal setelah berjuang mengatasi kankernya dengan berobat hingga ke negeri Tiongkok.

Biaya yang sangat mahal, penderitaan selama pengobatan, dan tekanan psikologis benar-benar membuat penderita dan keluarganya menderita.

Sementara di luar negeri, ada seorang pria yang berhasil mengalahkan kanker yang diderita hanya dengan soda kue.

Ya, soda kue yang biasa dipakai ibu-ibu untuk membuat kue di dapur itu.

Pria bernama Vernon di Amerika Serikat itu, menunjukkan bagaimana ia membuat ramuan soda kue yang dicampur dengan molasses atau sirup maple.

Vernon terserang kanker prostat stadium 4 yang sudah menjalar sampai ke tulang.

Jadi, dia menderita dua kanker sekaligus, kanker prostat dan kanker tulang.

Putranya yang bernama Jai, memberi ide agar ia mencoba konsumsi soda kue karena bahan ini membuat tubuh yang bersifat asam dapat berubah menjadi basa atau alkalis.

Soda kue obat kanker

Sel kanker tidak betah menetap pada organ tubuh yang bersifat basa.

Ternyata zat-zat berkhasiat pada soda kue mampu membasmi sel-sel kanker.

Banyak orang terpesona mendengar kisah sukses Vernon menyembuhkan sakit kanker stadium 4.

Karena di Indonesia molasses atau sirup maple sulit didapat, maka bisa diganti dengan madu.

Dari penjelasan Vernon di videonya, dan dengan mengganti molasse atau sirup maple dengan madu, maka pembuatan resep Vernon dapat diringkas sebagai berikut.

Alat dan bahan yang perlu disiapkan:

- Kompor
- Air 1 cangkir
- Soda kue : 2 Sendok teh
- Madu :  2 Sendok teh

Langkah membuat :

1. Siapkan panci di atas kompor.
2. Masukkan air 1 cangkir, lalu nyalakan kompor.
3. Masukkan soda kue 2 sendok teh, lalu aduklah.
4. Masukkan madu 2 sendok teh, lalu aduklah sampai rata.

Memasak ramuan ini singkat saja, tidak perlu lama.

Matikan api.

5. Tuang ramuan ini ke dalam gelas.

Biarkan sampai agak dingin, lalu minumlah.

Minumlah 1 kali sehari.

Lalu tingkatkan 2 kali sehari sampai hari ke-10.

Dan akhirnya 3 kali sehari pada hari selanjutnya.

Waktu mencoba ramuan ciptaannya ini, ia merasa sakit kepala dan keringat pada malam hari.

Gejala pada tiap orang itu berbeda-beda sesuai dengan daya tanggap tubuh dan kondisi kesehatan tiap orang.

Menurut Vernon, Anda bisa saja minum ramuan tanpa dimasak atau dimasak.

Dosis dan frekuensi minum per hari juga dapat anda sesuaikan dengan reaksi tubuh anda.

Tidak perlu bahwa tubuh anda itu harus selalu bersifat basa atau alkalis.

Tubuh yang bersifat asam pun diperlukan untuk memproses makanan di lambung.

Untuk itu, minumlah ramuan ini 2 jam sebelum atau sesudah makan.

Menurut Vernon, penderita kanker sudah saatnya memakai resep ini, karena sangat ampuh dalam membunuh semua jenis kanker di dalam tubuh kita.

Salah seorang penonton videonya sudah menerapkan pengobatan kanker dengan soda kue ini, dan berhasil.

Akun  DilDaar S mengatakan, "Bill Otinger, saya berterima kasih untuk video Anda.

"Saya meminum larutan soda kue selama sekitar 6 minggu"

"Hanya baking soda murni, 2 kali sehari, 4 gram dengan 250 ml air.

"Hal ini mengurangi kadar PSA saya dari 15,7 menjadi 10,9."

PSA atau antigen spesifik prostat adalah protein yang diproduksi oleh sel-sel di kelenjar prostat. Kadar PSA yang tinggi biasanya langsung dikaitkan dengan adanya kanker kelenjar prostat.

"Jadi sekarang tidak perlu perawatan seperti radiasi terapi."

"Saya akan terus menggunakannya karena saya mengerti hal itu bisa membunuh sel kanker meski bukan penyebabnya."

"Saya menderita kanker prostat berisiko sedang, skor Gleason 6.

"PSA saya meningkat dari 9,2 menjadi 15,7 dalam 4 bulan terakhir, sebelumnya 6.7 sampai 9.2 dalam 1 tahun. (Saya berumur 72).

"Sekali lagi terima kasih saya yang tulus, semoga kesehatan dan kebahagiaan  bersama Anda." (*)

Penjelasan yang lebih detail silakan kunjungi:
www.phkillscancer.com

Sumber: www.grid.id

Senin, 05 Juni 2017

Multikulturalisme dan Pluralisme

POSTED ON 5 OCTOBER, 2010

Multikulturalisme merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keberagaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut, sedangkan pluralisme merupakan satu di antara ciri khas masyarakat modern dan kelompok sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama kemajuan dalam ilmu pengetahuan, masyarakat, dan perkembangan ekonomi.

A. Pengertian Multikulturalisme dan Pluralisme

Multikulturalisme adalah sebuah filosofi yang juga terkadang ditafsirkan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern.

Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.

Multikulturalisme berasal dari dua kata, multi (banyak/ beragam) dan kultural (budaya atau kebudayaan), yang secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti dipahami, adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua bagian manusia terhadap kehidupannya yang kemudian akan melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya verbal, bahasa, dan lain-lain.

Istilah multikulturalisme dengan cepat berkembang sebagai objek perdebatan yang menarik untuk dikaji dan didiskusikan karena memperdebatkan keberagaman etnis dan budaya, serta penerimaan kaum imigran di suatu negara, yang pada awalnya hanya dikenal dengan istilah pluralisme yang mengacu pada keberagaman etnis dan budaya dalam suatu daerah atau negara.

Baru pada sekitar pertengahan abad ke-20, mulai berkembang istilah multikulturalisme. Istilah ini setidaknya memiliki tiga unsur, yaitu: budaya, keberagaman budaya, dan cara khusus untuk mengantisipasi keanekaragaman budaya tersebut.

Secara umum, masyarakat modern terdiri atas berbagai kelompok manusia yang memiliki status budaya dan politik yang sama.

Kesadaran akan adanya keberagaman budaya disebut sebagai kehidupan multikultural. Kesadaran akan adanya keberagaman mesti ditingkatkan lagi menjadi apresiasi dan ditanggapi secara positif. Pemahaman ini yang disebut sebagai multikulturalisme.

Multikulturalisme bertujuan untuk kerja sama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kian kompleks dan tidak monokultur lagi.

Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya. Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan landasan pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan dan mendukung keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan manusia. Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, suku bangsa, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM (Hak Asasi Manusia), hak budaya komunitas, dan konsep-konsep lainnya yang relevan.

Multikulturalisme ini akan menjadi acuan utama bagi terwujudnya masyarakat multikultural, karena multikulturalisme sebagai sebuah ideologi akan mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat (termasuk juga masyarakat Indonesia) mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mozaik. Di dalam mozaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan seperti sebuah mozaik. Dengan demikian, multikulturalisme diperlukan dalam bentuk tata kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis meskipun terdiri atas beraneka ragam latar belakang kebudayaan.

Konsep multikulturalisme tidak dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas.

Ulasan mengenai pluralisme adalah sebuah kerangka yang di dalamnya ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi. Sebenarnya berbicara tentang konsep pluralisme, sama halnya membicarakan tentang sebuah konsep ‘kemajemukan atau keberagaman,” dimana jika kita kembali pada arti pluralisme itu sendiri bahwa pluralisme itu merupakan suatu “kondisi masyarakat yang majemuk.” Kemajemukan di sini dapat berarti kemajemukan dalam beragama, sosial, dan budaya. namun yang sering menjadi isu terhangat berada pada kemajemukan beragama. Pada prinsipnya, konsep pluralisme ini timbul setelah adanya konsep toleransi. Jadi, ketika setiap individu mengaplikasikan konsep toleransi terhadap individu lainnya, lahirlah pluralisme itu. Dalam konsep pluralisme-lah bangsa Indonesia yang beraneka ragam ini mulai dari suku, agama, ras, dan golongan dapat menjadi bangsa yang satu dan utuh.

Pluralisme sering diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain. Kemunculan ide pluralisme didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan ‘klaim kebenaran’ (truth claim) yang dianggap menjadi pemicu munculnya sikap ekstrem, radikal, perang atas nama agama, konflik horisontal, serta penindasan atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna, jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar.

Lahirnya gagasan mengenai pluralisme (agama) sesungguhnya didasarkan pada sejumlah faktor. Dua di antaranya adalah: Pertama, adanya keyakinan masing-masing pemeluk agama bahwa konsep ketuhanannyalah yang paling benar dan agamanyalah yang menjadi jalan keselamatan. Masing-masing pemeluk agama juga meyakini bahwa merekalah umat pilihan. Menurut kaum pluralis, keyakinan-keyakinan inilah yang sering memicu terjadinya kerenggangan, perpecahan bahkan konflik antarpemeluk agama. Karena itu, menurut mereka, diperlukan gagasan pluralisme sehingga agama tidak lagi berwajah eksklusif dan berpotensi memicu konflik. Kedua, faktor kepentingan ideologis dari Kapitalisme untuk melanggengkan dominasinya di dunia. Selain isu-isu demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan serta perdamaian dunia, pluralisme agama adalah sebuah gagasan yang terus disuarakan Kapitalisme global untuk menghalangi kebangkitan Islam (red).

Dalam sebuah masyarakat otoriter atau oligarkis, ada konsentrasi kekuasaan politik dan keputusan yang dibuat oleh hanya sedikit anggota. Sebaliknya, dalam masyarakat pluralistis, kekuasaan dan penentuan keputusan (dan kemilikan kekuasaan) lebih tersebar. Dipercayai bahwa hal ini menghasilkan partisipasi yang lebih tersebar luas dan menghasilkan partisipasi yang lebih luas dan komitmen dari anggota masyarakat. Oleh karena itu, hasilnya akan lebih baik. Contoh kelompok-kelompok dan situasi-situasi yang menerapkan pluralisme, yaitu perusahaan, badan-badan politik dan ekonomi, dan perhimpunan ilmiah.

Pluralisme dalam proses ilmiah adalah faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, dapat meningkatkan kesejahteraan yang lebih manusiawi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan teknologi kedokteran yang lebih baik (red). Pluralisme juga menunjukkan hak-hak individu dalam memutuskan kebenaran
universalnya masing-masing.

B. Multikulturalisme dan Pluralisme dalam Undang-Undang di Indonesia

Model multikulturalisme sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi “Kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah.”

Banyak undang-undang dan konstitusi di Indonesia yang mengatur tentang multikulturalisme dan pluralisme di Indonesia, misalnya Pasal 18 B ayat 2 yang berbunyi “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.” Ada juga Pasal 32 ayat 1 yang berbunyi “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”.

Dalam keanekaragaman dan kejamakan (kemajemukan-red) bangsa Indonesia, negara melalui Undang-Undang telah menjamin hak-hak yang sama kepada seluruh rakyat Indonesia.

C. Multikulturalisme dan Pluralisme di Indonesia

Menurut sebagian tokoh di negara kita, multikulturalisme dan pluralisme yang ditangkap dan diterapkan di negara kita memiliki pemahaman dan aplikasi yang berbeda-beda pada setiap individunya. Menurut Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Adian Husaini, paham multikulturalisme dan pluralisme merupakan paham yang memberikan keadilan pada setiap orang yang berbudaya. Adian berpendapat bahwa multikulturalisme dan pluralisme yang difatwakan oleh MUI adalah salah. MUI menjabarkan definisinya dengan tidak boleh meyakini atau membenarkan bahkan melepaskan keyakinan agama. Adian tidak sependapat dengan fatwa yang dikeluarkan MUI ini karena menurutnya paham ini membenarkan seluruh agama, tidak mengklaim agamanya yang paling benar.

Mantan Menteri Pendidikan Nasional kita, Malik Fajar, juga memiliki pendapatnya sendiri tentang paham multikulturalisme dan pluralisme di Indonesia. Malik Fajar  pernah mengatakan pentingnya pendidikan multikulturalisme di Indonesia. Menurutnya, pendidikan multikulturalisme perlu ditumbuhkembangkan karena potensi yang dimiliki Indonesia secara kultural, tradisi, dan lingkungan geografi serta demografis sangat luar biasa. Karena itu, di Indonesia perlu dikembangkan multikulturalisme dan pluralisme yang lurus dan seimbang agar tidak terjadi perbedaan persepsi dalam masyarakatnya.

Lain lagi dengan pendapat Mantan Presiden Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal sebagai Gus Dur, saat ini menurutnya pluralisme sedang berada di tengah cobaan, banyaknya kejadian yang menjadi penghalang dalam kebersamaan, sehingga pluralisme perlu untuk dirawat. Gus Dur menyatakan menyatakan perlunya merawat kemajemukan dalam bernegara untuk memperkuat ikatan nasionalisme Indonesia yang sangat jamak. Beliau juga menilai, selama ini negara tidak mampu bertindak secara tegas terhadap para kelompok antimultikultural dan antipluralis yang melanggar hukum. Negara seolah membiarkan kesalahpahaman tentang makna multikulturalisme dan pluralisme di Indonesia terus berlanjut yang bahkan dapat menjurus ke perpecahan.

Multikulturalisme mempunyai peran yang besar dalam pembangunan bangsa. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di atas keanekaragaman kebudayaan merasakan pentingnya multikulturalisme dalam pembangunan bangsa. Dengan multikulturalisme ini maka prinsip “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang tercantum dalam dasar negara akan terwujud. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan menjadi inspirasi dan potensi bagi pembangunan bangsa sehingga cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dapat tercapai.

Kesadaran multikultur sebenarnya sudah muncul sejak Negara Republik Indonesia terbentuk. Pada masa Orde Baru, kesadaran tersebut dipendam atas nama kesatuan dan persatuan. Paham monokulturalisme kemudian ditekankan. Akibatnya sampai saat ini, wawasan multikulturalisme bangsa Indonesia masih sangat rendah. Ada juga pemahaman yang memandang multikultur sebagai eksklusivitas. Multikultur justru disalahartikan yang mempertegas batas identitas antarindividu. Bahkan ada yang juga mempersoalkan masalah asli atau tidak asli.

Multikultur baru muncul pada tahun 1980-an yang awalnya mengkritik penerapan demokrasi. Pada penerapannya, demokrasi ternyata hanya berlaku pada kelompok tertentu. Wacana demokrasi itu ternyata bertentangan dengan perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Cita-cita reformasi untuk membangun Indonesia Baru harus dilakukan dengan cara membangun dari hasil perombakan terhadap keseluruhan tatanan kehidupan yang dibangun oleh Orde Baru.

Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat dilihat sebagai mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mozaik. Di dalam mozaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan yang seperti sebuah mozaik tersebut.

Kemudian sebuah ideologi yang diharapkan mampu menjadi jalan tengah sekaligus jembatan yang menjembatani terjadinya perbedaan dalam negara Indonesia, yaitu Pancasila, yang seharusnya mampu mengakomodasi seluruh kepentingan kelompok sosial yang multikultural, multietnis, dan agama ini. Termasuk dalam hal ini Pancasila haruslah terbuka. Harus memberikan ruang terhadap berkembangnya ideologi sosial politik yang pluralistik.

Pancasila adalah ideologi terbuka dan tidak boleh mereduksi pluralitas ideologi sosial-politik, etnis dan budaya. Melalui Pancasila seharusnya bisa ditemukan sesuatu sintesis harmonis antara pluralitas agama, multikultural, kemajemukan etnis budaya, serta ideologi sosial politik, agar terhindar dari segala bentuk konflik yang hanya akan menjatuhkan martabat kemanusiaan itu.

Upaya-upaya untuk mewujudkan kehidupan Indonesia yang lebih baik dari sebelumnya dapat dilakukan dengan menerapkan sikap-sikap sebagai berikut.

a. Manusia tumbuh dan besar pada hubungan sosial di dalam sebuah tatanan tertentu, yang menerapkan sistem nilai dan makna dalam berbagai simbol-simbol budaya dan ungkapan-ungkapan bangsa.

b. Keanekaragaman budaya menunjukkan adanya visi dan sistem makna yang berbeda sehingga budaya yang satu memerlukan budaya yang lainnya. Dengan mempelajari kebudayaan lain akan memperluas cakrawala pemahaman tentang makna multikulturalisme.

c. Setiap kebudayaan secara Internal adalah majemuk sehingga dialog berkelanjutan sangat diperlukan demi terciptanya persatuan.

d. Paradigma hubungan dialogis atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan, untuk mengatasi ekses-ekses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. Paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat multikultural mensyaratkan tiga kompetensi normatif, yaitu kompetensi kebudayaan, kemasyarakatan, dan kepribadian.

e. Integrasi sosial yang menjamin bahwa koordinasi tindakan politis tetap terpelihara melalui sarana-sarana hubungan antarpribadi dan antarkomponen politik yang diatur secara resmi tanpa menghilangkan identitas masing-masing unsur kebudayaan.

f. Sosialisasi yang menjamin bahwa konsepsi politik yang disepakati harus mampu memberi ruang tindak bagi generasi mendatang dan penyelarasan konteks kehidupan individu dan kehidupan kolektif tetap terjaga.

Dapat dikatakan bahwa secara konstitusional negara Indonesia dibangun untuk mewujudkan dan mengembangkan bangsa yang religius, humanis, bersatu dalam kebhinnekaan. Demokratis dan berkeadilan sosial, belum sepenuhnya tercapai. Konsekuensinya adalah keharusan melanjutkan proses membentuk kehidupan sosial budaya yang maju dan kreatif; memiliki sikap budaya kosmopolitan dan pluralis, tatanan sosial politik yang demokratis dan struktur sosial ekonomi masyarakat yang adil dan bersifat kerakyatan.
Dengan demikian kita melihat bahwa semboyan ‘Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa dan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ masih jauh dari kenyataan sejarah. Semboyan tersebut masih merupakan mitos yang perlu didekatkan dengan realitas sejarah. Bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kukuh, beranekaragam budaya, etnik, suku, ras, dan agama, yang kesemuanya itu akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu mengakomodasi kemajemukan itu menjadi sesuatu yang tangguh sehingga ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa dapat dihindari.


  • Disadur dari blog.ugm.ac.id

Sebuah Pertanyaan Besar tentang Makna Persekusi

5 Jun 2017

(Panjimas.com) – Persekusi itu ternyata sewenang-wenang menyakiti si pelaku, ini sangat berbahaya karena masyarakat sendiri yang mengadili, makanya hukum harus ditegakkan dan adil.

Istilah Persekusi jadi rame karena ada ditemukan beberapa kejadian terhadap seseorang yang menghina Habib Rizieq Syihab (HRS) dipersekusi oleh masyarakat, mungkin karena cintanya dan rasa hormat mereka pada HRS apa lagi kalau itu sifatnya menghina dan mendzolimi HRS dan tidak sesuai fakta.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah: Apakah Persekusi itu hanya dapat dilakukan oleh masyarakat? Apakah Institusi penegak hukum bisa juga melakukan Persekusi terhadap masyarakat?

Apakah ditetapkannya HRS tersangka dalam balada cinta oleh penegak hukum masuk kategori persekusi institusi? Ketika ada penangkapan pesta Sex LGBT di Kelapa Gading, bukankah Kapolri memerintahkan jajaran kepolisian untuk mencari pelaku penyebar foto penggerebekan LGBT, dan mengapa dalam kasus HRS Kapolri tidak memerintahkan jajarannya untuk menangkap pelaku penyebar video chat HRS dengan FH. Apakah ini termasuk penegakan hukum atau persekusi?

Ketika ada seseorang menghina Kapolri di medsos langsung ditangkap, tapi ketika ada seseorang menghina HRS tidak ditangkap bukankah ini pemicu Persekusi?

Iwan Bopeng yang mengancam tentara di TPS, sampai saat ini tidak di proses hukum, bukankah ini persekutuan? Dan memicu terjadinya Persekusi?

Masyarakat membawa tombak, pedang, dan senjata tajamnya lainnya masuk ke dalam Air Port Manado mendekati pesawat, menghadang Fachri Hamzah, bukankah ini Persekusi juga? Lalu perbuatan tersebut tidak di tindak secara hukum, bukankah ini bisa dianggap persekutuan?

Kemudian, masyarakat masuk ke dalam bandara Pontianak membawa mandau dan senjata tajam lainnya menghadang Ustadz Sobri Lubis bukankah ini persekusi juga? Dan lalu mengapa tidak ada tindakan hukum? Bukankah ini juga bisa dikatakan persekutuan?

Seseorang memaki-maki dan menfitnah Wapres JK di depan demontrans, kok tidak ada tindakan hukum? Bukankah ini juga bisa memicu Persekusi? Bukankah ini bisa dibilang ada persekutuan?

Oleh sebab itu perlakuan ketidakadilan hukum dalam penegakan hukum bisa memicu masyarakat melakukan perbuatan out of court atau Persekusi, kalau pada hari ini tiba-tiba persoalan Persekusi menjadi tranding topics, perlu ada kesadaran hukum dari seeua pemangku hukum bahwa ada sebab akibat, Negara bisa kokoh dan kuat kalau warganya patuh pada Hukum, demikian juga Negara bisa hancur dan kacau kalau penegak hukum tidak taat hukum. 

Minggu, 04 Juni 2017

Pengertian Persekusi

Apa Itu Persekusi?

a. adalah perburuan sewenang- wenang terhadap seseorang atau sekelompok orang yang telah melakukan posting melalui media sosial (medsos) dengan maksud untuk dipersusah, diintimidasi , ditumpas oleh sekelompok orang yang memiliki pandangan berbeda dengan kelompok tersebut terhadap konten yang telah di-posting-nya.*

b. terhadap pelaku yang memposting dapat dikenakan :

- pasal 27 ayat 3 UU ITE, jika kontennya memiliki unsur fitnah dan pencemaran nama baik seseorang (delik aduan).

- pasal 28 ayat 2 UU ITE, jika kontennya dapat menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian yang mengandung unsur SARA.                  

c. terhadap pelaku/ kelompok yang melakukan persekusi maka dapat dikenakan pasal-pasal dalam KUHP seperti : pengancaman/ 368, penganiayaan/ 351 atau  pengeroyokan 170 dan per-UU lainnya.

Tindakan yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat, jika menemukan posting di medsos sebagai berikut:

1. melaporkan ke kantor polisi untuk dilakukan tindakan kepolisian, baik yang bersifat preventif maupun represif;

2. tidak main hakim sendiri, melakukan tindakan persekusi, karena perbuatan tersebut dapat dipidanakan.

Dalam upaya mencegah tindakan persekusi, tindakan yang harus dilakukan oleh POLRI adalah dengan melakukan patroli cyber dan jika menemukan akun yang memposting unsur fitnah dan pencemaran nama baik terhadap ulama/ pemuka agama agar segera dilakukan langkah preventif maupun penegakan hukum.

Penjelasan tambahan

PERSEKUSI (Perburuan Manusia untuk Dihakimi Semena-Mena) - Crime against Humanity (Kejahatan Kemanusiaan)

Jadi, kalau ada yang datang memaksa masuk ke rumah atau kantor yang merupakan wilayah privat (melanggar KUHP Pasal 167 ayat 1 tentang masuk pekarangan orang lain: pidana penjara 9 bulan), dan kemudian memaksa untuk menandatangani pernyataan maaf (melanggar KUHP Pasal 335 ayat 1 butir 1 tentang perbuatan tidak menyenangkan: pidana penjara 1 tahun) dan jika menolak maka akan membawa paksa target ke kantor polisi di luar kehendak yang bersangkutan (melanggar KUHP Pasal 333 ayat (1) tentang penculikan: pidana penjara 8 tahun) dengan alasan karena si target dianggap telah melakukan penghinaan agama. (Pasal 156a: pidana penjara 5 tahun).

Beruntung, Indonesia masih belum mengadopsi Statuta Konvensi Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Padahal, kalau sudah, maka individu (tidak hanya negara) pelaku persekusi atau perburuan manusia yang disertai latar belakang kejahatan kemanusiaan, genosida atau kejahatan perang dapat juga sekalian dihadapkan ke Pengadilan Kriminal Internasional di Den Hague untuk dikurung seumur hidup di Belanda.

Pasal 167 ayat (1) KUHP:
"Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah, barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum atau berada di situ dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera, diancam dengan pidana penjara paling lima sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Pasal 335 ayat (1) butir (1) KUHP:
“Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.”

Pasal 333 KUHP ayat (1):
”Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan seseorang atau meneruskan perampasan kemerdekaan yang demikian, diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun”.

Pasal 7 ayat (1) (h):
“Persecution against any identifiable group or collectivity on political, racial, national, ethnic, cultural, religious, gender . . . or other grounds that are universally recognized as impermissible under international law” as a crime against humanity
Terjemahan: "Persekusi terhadap sekelompok orang berdasarkan identitas politik, ras, kewarganegaraan, suku, agama, jender...atau alasan lainnya yang diakui secara luas tidak dapat dibenarkan berdasarkan hukum internasional" sebagai kejahatan kemanusiaan.

Dikumpulkan dari WA Group.

* posting = mengirimkan pesan, link, gambar, dll, yang dikirim ke lokasi online, seperti blog, situs media sosial, atau forum.

Kamis, 01 Juni 2017

Luka Indonesiaku

dr. Gamal Albinsaid

Dua tahun lalu ketika ada World Economic Forum, kami aktivis wirausaha sosial internasional bersama Oxfam launch World Equality Forum memperoleh data, kekayaan 85 orang terkaya di dunia sama dengan kekayaan separuh populasi dunia.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Agaknya tidak jauh berbeda. Pada tahun 2008, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kakayaan 30 juta penduduk Indonesia. Tahun 2009, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 42 juta penduduk Indonesia. Tahun 2010, naik lagi, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 60 juta penduduk Indonesia. Tahun 2011 kian menyakitkan, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 77 juta penduduk Indonesia.

Tidak cukup sampai disitu, Bulan Februari kemarin, hati kita semakin tersayat, bayangkan kekayaan 4 orang, bukan lagi 40 orang, saya ulangi kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk Indonesia. Ya kawan, kita terus berjalan ke arah kesenjangan yang memicu ledakan sosial. Menyakitkan mengetahui bahwa di negara kita so few have so much, so many have so little. Saya yakin dan berterima kasih penuh hormat pada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang membacakan puisi "Tapi Bukan Kami Punya" yang mengingatkan kita kembali akan janji kemerdekaan yang tertuang dalam sila ke 5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Luka itu semakin mengaga, tatkala kita tahu bahwa koefisien gini kita naik pesat dari 0,3 ditahun 2000 menjadi 0,42 saat ini. Yang lebih menyesakkan dada lagi, Credit Suisse mengatakan, Indonesia kita sudah menjadi negara peringkat ke-4 yang memiliki kesenjangan ekonomi yang timpang setelah Rusia, India, dan Thailand. Bayangkan, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3% aset di Indonesia. Bank Dunia juga angkat bicara, pertumbuhan ekonomi selama 1 dasawarsa terakhir hanya menguntungkan 20 persen orang terkaya, sementara 80% sisanya tertinggal di belekang. Apa akibatnya, 61%  masyarakat kita memilih menerima pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah asalkan ketimpangan juga berkurang. Lalu saya bertanya, dimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu?

Kesenjangan yang ada di negeri kita tidak boleh dilihat hanya soal angka, tapi itu soal luka. Luka yang harus kita ingat dan rasakan bersama. Pemerintah boleh berbangga mengatakan angka kemiskinan kita turun menjadi 10,9% masyarakat miskin atau sekitar 28 juta penduduk dan menargetkan menjadi 9-10% pada tahun ini. Tapi jika garis kemiskinan kita hanya Rp 354.386, maka saya yakin bahwa banyak orang-orang miskin yang tidak diakui miskin.

Wirausaha tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai masalah di negeri kita. Kita butuh Wirausaha sosial, orang – orang yang bukan hanya berfikir tentang uang di tangan, tapi juga berfikir tentang kebaikan, kebermanfaatan, dan kepedulian. Kita butuh orang-orang yang bukan hanya berpikir “How to make money”, tapi mereka juga berpikir “How to solve social problems”. Sudah 2 tahun terakhir saya berkeliling Indonesia memperkenalkan tentang konsep wirausaha sosial dan mengajak sebanyak mungkin pemuda menjadi wirausaha sosial.

Saya yakin tanpa wirausaha sosial pertumbuhan ekonomi kita tidak akan berkorelasi dengan perbaikan kesejahteraan bangsa kita. Kawan, keluarlah sejenak dari kantor atau tempat kerja kita, sejenak singgahlah di kampung-kampung yang sempit sesak dan penuh dengan kemiskinan. Rasakan cobaan dan penderitaan mereka, mencobalah sedikit berempati. 'The great gift of human beings is that we have the power of empathy'.

Tapi marilah kita tatap masa depan bangsa ini dengan penuh optimisme. Sudahlah, selesaikan dan kita tutup rapat-rapat soal perbedaan dan perselisihan. Hari ini saya yakin, Indonesia sedang memasuki era baru dimana nilai-nilai penghormatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang punya kesejahteraan finansial, tapi kepada mereka yang punya ide, gagasan, dan kepedulian. Jadilah wirausaha negarawan yang bekerja untuk menyelesaikan berbagai masalah bangsa dengan dompetnya sendiri.

Pekan ini, kita memperingati Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 2017. Jangan jadikan Pancasila pemanis lisan, tapi cobalah rasakan dan amalkan. Mari kita bangun Persatuan Indonesia untuk mencapai Keadilan Sosial. Jangan ada lagi seseorang ayah yang pulang ke rumahnya dengan penuh rasa bersalah karena tak mampu membawa makan untuk anak-anaknya… Jangan ada lagi seorang Ibu yang harus memohon belas kasih di rumah sakit agar sang anak bisa mendapatkan pengobatan… Jangan ada lagi seorang anak yang tak mampu mengangkat kepala dan dadanya di kelas karena tak mampu membayar biaya sekolah…

Sumber: BERITASATU

Rabu, 31 Mei 2017

Batere ponsel meledak

Meskipun masih perlu pembuktian tentang dampak radiasi yang ditimbulkannya. Penggunaan smartphone sebaiknya dibatasi agar tidak membahayakan kesehatan Anda.

Gadget seperti smartphone dan tablet merupakan perangkat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, marak sekali kasus baterai gadget yang meledak dan membahayakan penggunanya.

Pengguna sudah seharusnya tahu alasan baterai mudah meledak agar dapat mencegah kejadian yang tidak diharapkan.

Di bawah ini dijelaskan beberapa penyebab baterai smartphone mudah meledak dan dapat  dijadikan referensi.


1. Tidak menggunakan baterai resmi

Ada kalanya baterai asli dari gadget Anda harus diganti dengan baterai yang baru. Saat memilih baterai baru, usahakan membeli baterai dengan merk dan tipe yang sama alias baterai ori (original), walaupun harganya lebih mahal hingga 2-3 kali lipat daripada baterai biasa, setidaknya baterai ori akan bertahan lebih lama dan juga dapat menyesuaikan charger bawaan.

Baterai yang tidak ori juga lebih rawan rusak karena memang tidak dirancang khusus untuk gadget tertentu.


2. Digunakan saat pengisian batere (charging)

Kesalahan selanjutnya saat pengisian batere, Anda tidak berhenti memainkan gawai (gadget) kesayangan, meskipun hanya sekedar ber-SMS, chatting, membuka aplikasi, dan bermain game, jika hal tersebut dilakukan dalam waktu yang cukup lama, maka akan membuat baterai cepat panas dan tidak cepat penuh.

Hal yang paling buruk adalah menelepon saat sedang pengisian batere. Butuh daya baterai yang tinggi saat digunakan bertelepon, dan jika baterai terlalu panas tidak menutup kemungkinan  baterai mudah meledak dan melukai diri Anda.

Disadur dari: GadgetGan.com

Selasa, 30 Mei 2017

Bahaya di dapur

Tabung Semprotan Serangga vs Kompor Gas

Kecelakaan mengejutkan terjadi. Seorang ibu rumah tangga tewas akibat luka bakar berkelanjutan di dapur. Suaminya juga dirawat di rumah sakit, cedera karena terbakar saat mencoba menyelamatkan istrinya.

Kronologi kejadian :
Kompor gas menyala saat memasak. Istri melihat kecoa berada di cucian piring dekat kompor. Secara naluri sang isteri mengambil semprotan pembunuh serangga lalu disemprotkan ke arah kecoa. Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Dalam waktu singkat tubuh wanita malang tersebut diselimuti api, terbakar dengan kondisi luka bakar 65%. Sang suami mendengar ledakan bergegas menghampiri dan mencoba untuk memadamkan api, namun pakaiannya ikut terbakar. Pertolongan datang dari tetangga dan langsung membawa suami-istri tersebut ke RS. Sang Suami terbaring di RS karena luka bakar tidak mengetahui kalau istrinya telah meninggal saat tiba di RS.

Pelajaran pertama:
Bahwa semua tabung semprotan pembunuh serangga mengandung pelarut yang sangat mudah menguap dan terbakar. Nano partikel semprot yang disemprotkan dapat menyebar dengan sangat cepat dan satu percikan api sudah cukup untuk meledakkan tabung semprotan pembunuh serangga setelah disemprotkan ke udara yang mengandung oksigen.

Peringatan kedua:
Saat listrik padam jangan sekali-kali menyemprot nyamuk di dekat lilin yang menyala. Dalam hitungan detik akan terjadi ledakan yang dapat menyebabkan tabung semprotan serangga di tangan Anda meledak.

Hal yang sama juga tabung semprotan untuk pewangi ruangan. Pelarutnya mudah menguap dan mudah meledak. Silakan dibaca petunjuk keselamatan di kemasannya tertulis dapat meledak pada suhu 50 derajat celcius.

Jauhkan tabung semprot serangga, tabung semprot pewangi ruangan, dan parfum dari jangkauan anak-anak.

Silakan berbagi. Siapa tahu Anda dapat menyelamatkan orang lain.

Peringatkan orang-orang di rumah Anda agar berhati-hati.

Semoga Bermanfaat...

Sumber: www.wajibbaca.com

Minggu, 28 Mei 2017

Simbok

Simbok

"Mbok,  kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, mbook...ben ngiriit.." kataku dengan mulut penuh makanan masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar,  dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu2 bakar di tungku, simbok menjawab, "Hambok yo ben toooo..."

"Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja.." sahutku

"Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?" tanya simbok kalem. Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumen.

"Lhaa itu? Tiap hari kan yo cuma simbok bagi-bagiin ke tetangga2 to? Orang-orang yg liwat-liwat mau ke pasar itu barang??" aku ngeyel.

"Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh ro barang kebuang..."

"Sodakoh kok mben dino?! Koyo sing wes sugih2o wae, mbooook mbok!" nadaku mulai tinggi.

"Ukuran sugih ki opo to, Kir?" Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu!

"Hayo turah2 le duwe opo2..Ngono we ndadak tekon!"

"Lha aku lak yo duwe panganan turah2 to? Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh...".

 Tangannya yg legam dg kulit yg makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera utk berdebat.

"Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan banda brana.

Nek nunggu bandamu nglumpuk  lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi iklas.

 Simbokmu iki sugih, le,  mben dino duwe pangan turah-turah, dadi iso aweh, tur kudu aweh.

 Perkoro simbokmu iki ora duwe banda brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti, ing atase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?", simbok tersenyum adem.

"Iyo, iyoooooh.."

"Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh mben dino?"

"He eh."

"Ngene, Kir, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku. Jarene: "Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E....mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi2 ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam, kan paling ora ono sego karo duduh jangan..".. ngono kuwi, le.

Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng ngarep omah kanggo wong-wong sing liwat, nek mangsak mesti akeh nak ono tonggo teparo mbutuhke. Pancen niate wes ngunu kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang-buang... Paham?"

Aku diam. Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, trus berlalu masuk kamar.

Ah, simbok. Perempuan yang tidak pernah bersekolah, tetapi belajar dari kehidupan, dan sangat menghayati arti cinta kepada sesama dengan caranya sendiri.

Sementara aku, manusia modern sibuk dengan hitung-hitungan untung dan rugi, hidupnya selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bahwa Tuhan telah menjamin rezeki setiap hamba Nya.

Simbokku benar, sugih itu kemampuan hati untuk memberi kepada sesama.

Semoga penulisnya diberkahi. Aamiin.

Rabu, 24 Mei 2017

Lahirnya nama Pancasila dan Piagam Jakarta

Perubahan Urutan Pancasila dan Perdebatan 'Syariat Islam' di Piagam Jakarta

Wednesday, June, 01 2016

Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta

KOMPAS.com — Hari lahirnya Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni memang identik dengan gagasan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Rumusan awal Pancasila selama ini dianggap dikemukakan pertama kali oleh Soekarno sewaktu berpidato dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Namun, Pancasila yang dikenal sebagai dasar negara saat ini mengalami sejumlah proses perubahan dari rumusan awal oleh Soekarno.

Adapun urutan Pancasila dalam rumusan yang dibuat Soekarno pada 1 Juni 1945 adalah:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang Maha Esa

Menurut Soekarno, lima asas itu merupakan weltanschauung atau pandangan mendasar, filsafat, juga fundamen yang digali dari jati diri bangsa Indonesia.

Dalam pidatonya, Soekarno memang mempertanyakan dasar yang akan digunakan jika Indonesia merdeka. Pertanyaan itu yang menjadi pemicu untuk merumuskan dasar negara Indonesia.

"Lenin mendirikan Uni Soviet dalam 10 hari pada tahun 1917, tetapi weltanschauung-nya sudah dipersiapkan sejak 1895. Adolf Hitler berkuasa pada tahun 1935, tetapi weltanschauung-nya sudah dipersiapkan sejak 1922. Dr Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok pada tahun 1912, tapi weltanschauung-nya sudah dipersiapkan sejak 1985, yaitu San Min Chu I," ujar Soekarno dalam pidatonya.

Menurut Muhammad Hatta dalam tulisan "Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Soekarno Putra" yang ditulis pada 16 Juni 1978, BPUPKI kemudian membentuk tim yang terdiri dari sembilan orang untuk merumuskan kembali Pancasila yang dicetuskan Soekarno.

Adapun sembilan orang itu adalah Soekarno, Muhammad Hatta, AA Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, Agus Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasyim, dan Muhammad Yamin.

Sembilan orang itu kemudian mulai mengubah susunan Pancasila versi Soekarno.

"Ketuhanan Yang Maha Esa" ditempatkan menjadi sila pertama. Sila kedua yang disebut Soekarno sebagai "Internasionalisme atau perikemanusiaan" diganti menjadi "Perikemanusiaan yang adil dan beradab".

Adapun sila "Persatuan Indonesia" digunakan untuk menggantikan "Kebangsaan Indonesia. Pada sila keempat, digunakan kata "Kerakyatan". Sedangkan terakhir, digunakan sila "Kesejahteraan Sosial".

Menurut Hatta, pada 22 Juni 1945 rumusan hasil Panitia 9 itu diserahkan ke BPUPKI dan diberi nama "Piagam Jakarta". Namun, ada sejumlah perubahan pada sila pertama pada Piagam Jakarta.

Adapun sila pertama yang tercantum dalam Piagam Jakarta adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".

Hamka Haq dalam buku Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam (2011) menulis bahwa sila itu merupakan hasil kompromi antara ideologi Islam dan ideologi kebangsaan yang mencuat selama rapat BPUPKI berlangsung.

Sejumlah pembicara dalam sidang BPUPKI dari kalangan Islam, seperti Ki Bagoes Hadikoesoemo, menilai bahwa kemerdekaan Indonesia diraih juga berkat perjuangan umat Islam.

"Tak akan ada nation Indonesia tanpa umat Islam. Lebih dari itu, karena kalangan nasionalis Indonesia yang berjuang dalam lingkup nasional yang mula pertama memang berwatak Islam," demikian pernyataan Ki Bagoes, seperti dikutip dari buku yang ditulis Hamka Haq.

Argumen itu kemudian disanggah karena dinilai hanya melihat bangsa Indonesia berdasarkan demografis. Umat Islam di Indonesia memang mencapai 90 persen.

Jika melihat kondisi geografis, khususnya di Indonesia timur, maka komposisinya berbeda.

Pertimbangan bahwa Indonesia merupakan sebuah gugusan kepulauan dari Sabang sampai Merauke itu juga yang menyebabkan muncul usulan agar dasar negara tidak berdasarkan agama tertentu.

Oleh karena itu, dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta.

Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", kemudian dihapus.

"Sesungguhnya tujuh perkataan itu hanya mengenai penduduk yang beragama Islam saja, pemimpin-pemimpin umat Kristen di Indonesia timur keberatan kalau tujuh kata itu dibiarkan saja, sebab tertulis dalam pokok dari pokok dasar negara kita, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah dibedakan warga negara yang beragama Islam dan bukan Islam," demikian penjelasan Muhammad Hatta.

Hingga kemudian, rumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945 itu menjadi seperti yang dikenal saat ini, yaitu:

1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keputusan dihapuskannya kata "syariat Islam" memang belum memuaskan sebagian umat Islam. Sebagian kelompok masih berjuang untuk mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu.

Mengutip buku Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam, ada kelompok yang kemudian mengekspresikannya dengan bentuk pemberontakan bersenjata. Misalnya, pemberontakan yang dilakukan kelompok DI/TII/NII.

Hamka Haq juga menulis, upaya untuk mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta juga diperjuangkan melalui jalur politik.

Dalam sidang-sidang konstituante di Bandung pada periode 1956-1959, misalnya, sejumlah partai yang berasaskan Islam berupaya memperjuangkan berlakunya syariat Islam sebagai dasar negara RI.

Penulis: Bayu Galih
Editor: Bayu Galih

Sumber: Kompas.com

Fungsi lubang hidung

Kita memiliki lubang hidung kiri dan kanan, apakah fungsinya sama?

Sebenarnya, fungsinya tidak sama, dapat dirasakan saat bernafas dengan lubang hidung sebelah kanan mewakili matahari (mengeluarkan energi panas) dan lubang hidung sebelah kiri mewakili bulan (mengeluarkan energi dingin).

Jika SAKIT KEPALA, cobalah MENUTUP Lubang hidung sebelah KANAN, bernafaslah melalui hidung sebelah kiri dan lakukan kira-kira 5 menit, sakit kepala akan sembuh.

Jika merasa LELAH, lakukan sebaliknya. Tutup lubang hidung sebelah KIRI dan bernafaslah melalui hidung sebelah kanan. Tak lama kemudian, Anda akan merasakan segar kembali.

Perempuan bernafas lebih banyak menggunakan lubang hidung sebelah kiri, sehingga hatinya gampang sekali dingin. Laki-laki bernafas lebih dengan lubang hidung sebelah kanan, sehingga gampang sekali marah.

Apakah Anda memerhatikan pada saat bangun, lubang hidung mana yang bernafas lebih cepat? Sebelah lubang hidung kiri atau kanan?

Jika lubang hidung kiri bernafas lebih cepat, Anda akan merasa sangat lelah. Tutuplah lubang hidung sebelah kiri dan gunakan lubang hidung sebelah kanan untuk bernafas, Anda akan merasa segar kembali dengan cepat.

Cara tersebut boleh diajarkan kepada anak-anak, tetapi efeknya akan lebih baik diterapkan kepada orang dewasa.

Pada suatu malam, saya duduk menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafas dengan lubang hidung sebelah kiri. Dalam kurang dari satu minggu, sakit kepala saya sembuh. Saya teruskan melakukannya selama 1 bulan, sejak malam itu sampai sekarang, sakit kepala saya tidak pernah kambuh lagi.

Luar biasa, sungguh sempurnanya pengaturan ciptaan Allah.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Sumber : Thibbun Nabawi

Selasa, 23 Mei 2017

Murabahah (perjanjian jual-beli)

Murabahah adalah perjanjian jual-beli antara bank dengan nasabah. Bank syariah membeli barang yang diperlukan nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank syariah dengan nasabah.

Ibn Manzhur di dalam Lisân al-’Arab (II/442-443, Dar Shadir) menyatakan: ar-ribhu wa ar-rabhu wa ar-rabâh artinya pertumbuhan dalam perdagangan; arbahtuhu ‘alâ sil’atihi artinya aku memberi dia keuntungan; arbahahu bi mutâ’ihi (ia mendapat keuntungan dengan dagangannya). Aku memberi dia harta secara murabahah artinya berdasarkan keuntungan di antara keduanya. Dikatakan: Aku menjual barang itu secara murabahah setiap sepuluh dirham labanya satu dirham.

Dalam Islam, di antara jenis jual-beli ada bay’ al-musâwamah, yakni disertai tawar-menawar dan harga tidak dikaitkan dengan harga pokok; juga ada bay’ al-amânah, yakni harga dikaitkan dengan harga pokok dan harga pokoknya disebutkan. Bay’ al-amânah ada tiga macam: (1) Jika harganya sama dengan harga pokok, tidak untung dan tidak rugi, disebut at-tawliyah; (2) Jika disertai kerugian yang disepakati disebut al-wadhî’ah; (3) Jika disertai dengan keuntungan yang disepakati disebut al-murâbahah.

Imam asy-Syayrazi di dalam Al-Muhadzdzab (I/288, Dar al-Fikr) menjelaskan, murabahah adalah (penjual) menjelaskan modal dan kadar labanya dengan mengatakan, misalnya, “Harganya seratus dan aku menjual kepada kamu dengan modalnya, dengan laba satu dirham untuk setiap sepuluh dirham.”

Ibn Qudamah di dalam Asy-Syarh al-Kabîr (IV/102, Dar al-Kitab al-‘Arabi) menjelaskan
murabahah adalah menjual dengan laba yang
disepakati, lalu dikatakan, misalnya, “Modalku di dalamnya seratus. Aku menjual kepada kamu dengan laba sepuluh.” Ini adalah boleh, tidak ada perbedaan pendapat tentang keabsahannya.

Dengan demikian menurut para fukaha dulu, murabahah adalah menjual sesuatu dengan menyebutkan modal atau harga beli awalnya, ditambah keuntungan yang disepakati.

Murabahah merupakan salah satu model jual-beli. Pelaksanaannya harus memenuhi rukun dan syarat-syaratnya sehingga menjadi sah dan sempurna. Rukunnya adalah sebagaimana jual-beli, yaitu adanya: penjual dan pembeli; barang yang dijual; ijab dan qabul. Adapun terkait syaratmurabahah, Dr ‘Ayid Fadhal asy-Sya’rawi di dalam bukunya Al-Mashârif al-Islâmiyah (hal. 380-382, Dar al-Jami’ah. 2007) menjelaskan ada syarat umum dan syarat khusus.

Syarat umum murabahah adalah syarat jual-beli itu sendiri, yaitu:

1. Syarat in’iqad adalah syarat terkait dengan rukun akad, yaitu syarat ijab dan qabul berupa kesatuan majelis dan kesesuaian dan pertautan ijab dengan qabul. Syarat al-‘âqid yaitu berakal dan ada dua pihak (penjual dan pembeli). Syarat barang yang dijual yaitu harta itu ada, bisa ditentukan nilainya, dimiliki zatnya, bisa diserahkan pada saat akad, dimiliki oleh penjual pada saat jual beli dan barang itu memiliki nilai.

2. Syarat sah antara lain: adanya keridhaan kedua pihak, keberadaan barang yang bisa diserahterimakan, tidak menimpakan dharar kepada penjual, barang dan harganya diketahui dengan jelas sehingga menghalangi adanya perselisihan, dan akad itu kosong dari syarat yang fasid.

3. Syarat pelaksanaan (Syurûth nafâdz) antara lain: barang dimiliki oleh penjual dan ada dalam kekuasaannya serta tidak ada hak orang lain di dalam barang itu.

4. Syarat keharusan (Syurûth luzûm) jual-beli itu kosong dari khiyar (khiyar ru’yah, khiyar aib, khiyar syarat dan khiyar ta’yin).

5.  Syarat kesempurnaan (syurûth tamâm) adalah adanya serah-terima barang (al-qabdhu).

Selain itu, murabahah juga harus memenuhi syarat-syarat khususnya, antara lain:

1. Harga awal (modal) harus diketahui. Dalam hal ini penjual wajib menjelaskan kepada pembeli berapa modalnya.

2. Keuntungan harus jelas atau disepakati dengan jelas, sebab laba itu adalah bagian dari harga murabahah.

3. Jual-beli yang pertama harus sah. Fasad-nya jual-beli awal tidak memungkinkan untuk dijadikan dasar jual-beli kedua. Sebab, murabahahadalah jual-beli  dengan harga awal ditambah laba yang disepakati.

4. Pengetahuan tentang sifat spesifik barang atau sifat yang tidak disukai. Sebab hal itu akan berpengaruh baik mendorong atau mencegah terjadinya jual-beli, selain pengetahuan itu akan menghilangkan gharar dan ketidakjelasan tentang barang.

5.  Terjaga dari pengkhianatan dan tuduhan. Sebab asas kesepakatan dan jual-beli itu terfokus pada kejujuran penjual dalam menyebutkan modalnya. Jika dia berkhianat atau berbohong maka ia mengkhianati amanah sementara murabahah
itu terjadi berdasarkan amanah itu.

6. Harga awal (modal) harus sama jenisnya dengan harga murabahah, baik rupiah, dolar, emas, perak atau lainnya. Namun, harga tidak boleh sama jenisnya dengan barang, jika termasuk dari enam jenis komoditas ribawi (emas, perak, kurma, gandum, jewawut, garam) termasuk uang.

Murabahah yang dijelaskan para fukaha dulu itu hanya melibatkan dua pihak, yaitu penjual dan pembeli. Penjual telah secara sempurna memiliki barang yang dia jual. Murabahah ini bisa dalam bentuk murabahah kontan maupun murabahah secara kredit atau dengan tempo. Secara syar’i, murabahah memang boleh, namun para fukaha lebih menyukai jual-beli musâwamah.

Murabahah di Masa Kini

Murabahah yang saat ini marak terutama dalam bentuk pembiayaan murabahah di berbagai bank dan lembaga keuangan sebenarnya berbeda dari bentuk murabahah yang dibahas para fukaha dulu sebagaimana dipaparkan di atas. Dalam murabahah kontemporer ini yang terlibat ada tiga pihak, yaitu: pemilik barang (penjual awal), pembeli akhir (nasabah) dan pihak yang di tengah (bank) yang menjadi pembeli terhadap pemilik barang dan penjual terhadap pembeli akhir (nasabah). Tata cara muamalah ini merupakan tata cara-baru yang digagas oleh Dr. Sami Hamud dalam desertasi doktoralnya tahun 1976 dengan judul Tathwîr al-A’mâl al-Mashrifiyah bimâ Yattafiqu ma’a asy-Syarî’ah al-Islâmiyah, yang ia sebut murâbahah li al-âmir bi asy-syirâ’. Dalam praktiknya kemudian hanya disebut murabahah saja, meski faktanya sebenarnya berbeda dengan murabahah yang dijelaskan para fukaha.

Muamalah ini biasanya secara ringkas berlangsung dengan tahapan sebagai berikut:

1. Tahap pertama: saling berkomitmen antara nasabah dengan bank. Nasabah berkomitmen, jika bank mau membeli barang yang dia inginkan dari penjualnya lalu menjualnya kepada nasabah itu, maka nasabah berkomitmen untuk membelinya dari bank secara kredit. Jika bank melihat kelayakan nasabah tersebut, maka bank berkomitmen untuk membeli barang tersebut lalu menjualnya kepada nasabah tersebut secara kredit.

2. Tahap kedua: bank membeli barang yang diminta itu dari penjualnya.

3. Tahap ketiga: penjualan barang tersebut oleh bank kepada pembeli (nasabah) itu.

Dalam hal ini harus diperhatikan beberapa hal berikut:

Pertama, pembeli tidak boleh diikat dengan apapun sebelum terjadi akad murabahah dan sempurna akadnya. Hakim bin Hizam menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا

“Penjual dan pembeli memiliki khiyar selama belum berpisah.” (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, ad-Darimi)

Hadis ini dengan jelas menetapkan adanya hak khiyar (pilihan) bagi penjual dan pembeli sebelum berpisah, yaitu hak untuk membatalkan jual-beli sebelum berlakunya akad sampai majelis akadnya berakhir, yang di antaranya ditandai dengan berpisahnya penjual dan pembeli secara fisik.

Sebagai hak yang telah ditetapkan oleh syariah, hak itu tidak boleh dibatasi atau bahkan dihilangkan oleh apapun dan siapapun selain syariah, termasuk oleh calon pembeli (nasabah) dan calon penjual (bank) itu sendiri melalui syarat (kesepakatan saling komitmen) di antara mereka. Jadi, calon pembeli (nasabah) itu tidak boleh diharuskan membeli barang itu. Dia boleh saja membelinya dari pihak lain. Sebaliknya, penjual juga tidak boleh diharuskan menjual barang tersebut. Dia pun boleh saja menjualnya kepada selain nasabah itu. Karena itu, komitmen calon pembeli (nasabah) dan calon penjual (bank) tidak boleh bersifat mengikat, dalam arti nasabah harus membeli barang itu setelah bank membelinya dari penjual; dan bank harus menjual barang itu kepada nasabah tersebut setelah bank membelinya. Sebab itu artinya baik nasabah atau bank tidak lagi memiliki khiyar yang telah ditetapkan syariah itu. Ini tidak boleh karena kaidah syariah menyebutkan: setiap syarat yang bertentangan dengan syariah maka syarat tersebut batil (batal), dan tentu saja tidak mengikat.

Nasabah juga tidak boleh diikat dengan pembayaran uang muka (al-‘urbûn) dan jika nasabah tidak jadi membeli maka uang mukanya menjadi hak bank. Sebab jika demikian maka itu adalah jual-beli dalam bentuk bay’ al-‘urbûn. Artinya, akad uang muka itu merupakan akad jual-beli, sebab uang muka itu merupakan bagian dari harga yang dibayar di muka.

Jika komitmen nasabah dan bank bersifat mengikat bagi keduanya dan/atau nasabah membayar uang muka (DP) dan jika dia batal membeli, DP itu menjadi hak bank, maka hal itu merupakan jual-beli itu sendiri. Semua unsur jual-beli ada di dalamnya. Padahal jelas barang tersebut belum menjadi milik penjual. Hal demikian jelas dilarang. Rasul saw. bersabda:

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Jangan engkau jual sesuatu yang bukan milikmu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibn Majah).

Kedua, sebelum dilangsungkan akad murabahah, barang itu harus sudah sempurna dimiliki penjual (bank), yakni sudah diserahterimakan secara sempurna kepada penjual (bank) itu. Hakim bin Hizam pernah bertanya kepada Rasul Sgallalahu alaihi wasallam “Ya Rasulullah, aku seorang pedagang, lalu apa yang halal dan apa yang haram bagi diriku?” Rasul Shallallahu alaihi wasallam menjawab:

إِذَا اشْتَرَيْتَ بَيْعاً فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ

“Jika engkau membeli sesuatu maka jangan engkau jual hingga engkau menerimanya.” (HR Ahmad, an-Nasai dan Ibn Hibban)

Barang itu juga harus berada dalam kekuasaan dan tanggungan penjual (bank) di tempat dimana penjual itu memiliki fisik dan manfaat barang itu. Sebab, Rasul Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلاَ شَرْطَانِ فِى بَيْعٍ وَلاَ رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ وَلاَ بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Tidak halal utang dan jual-beli; tidak (halal) dua syarat dalam jual-beli; tidak (halal) keuntungan sesuatu yang belum dijamin; tidak (halal) pula menjual sesuatu yang bukan milikmu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, al-Hakim)

Kepemilikan, kekuasaan, dan tanggungan penjual (bank) atas barang itu harus benar-benar riil, bukan hanya formalitas di atas kertas. Jika hanya formalitas di atas kertas, maka itu hanya akal-akalan saja.

Ketiga, harus disebutkan berapa modal dan keuntungan yang disepakati. Modal yang dijadikan dasar murabahah adalah harga pembelian barang oleh bank kepada pemiliknya, bukan harga beli dikurangi harga yang dibayar nasabah (pembeli) di muka (uang muka). Dengan kata lain, bukan yang dikatakan sebagai jumlah pembiayaan.Sebab murabahah itu merupakan jual-beli
dengan modal ditambah keuntungan
yang disepakati, bukan merupakan pembiayaan. Jika didasarkan jumlah pembiayaan maka itu lebih dekat sebagai meminjamkan uang agar dikembalikan lebih banyak, dan itu jelas merupakan riba, sementara jual-beli itu hanya menjadi triknya saja.

Keempat, barang harus diserahterimakan kepada pembeli (nasabah) secara sempurna. Kepemilikan atas barang itu harus sempurna berpindah ke pembeli. Sebab itu merupakan konsekuensi akad jual-beli. Karena itu, tidak boleh ada syarat apapun yang membatasi kepemilikan pembeli atas barang tersebut. Dia berhak sepenuhnya mengelola barang itu baik menjual, menyewakan, mengkonsumsi, memindahkan kepemilikannya kepada orang lain, dsb. Jika ada syarat yang membatasi hak pengelolaan pembeli atas barang itu, maka syarat tersebut batil dan harus diabaikan, meski akad murabahah-nya tetap sah.

Kelima, tidak boleh ada denda karena keterlambatan membayar. Sebab itu adalah riba.

Selain kelima hal ini, masih ada hal-hal lain yang harus diperhatikan agar murabahah kontemporer saat ini sah dan sempurna menurut syariah.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Sumber: Ekonomi Syariah Islam

Senin, 22 Mei 2017

Kerja sama bisnis

PERTANYAAN:

Saya, si B dan si C diajak berkerja sama untuk membuat Rumah Bersalin. Modal dan tempat menggunakan milik si D. Kami akan menggunakan sistem bagi hasil. Tetapi saya belum mengerti bagi hasil yang baik itu seperti apa? Selain itu, si C dan si D merupakan non muslim, bagaimana hukumnya berkerja sama dengan mereka?

JAWABAN:

1. Dari fakta di atas, maka model syirkah yang mungkin dilakukan adalah mudharabah. Anda, A dan B adalah Mudharib (pengelola) dan C adalah Shahibul Maal (Pemodal)

2. Dalam rukun syirkah mudharabah tidak ada syarat harus muslim. Yang penting dia bisa melakukan tasharruf (pengelolaan) dan bersedia berakad memakai syirkah mudharabah.

3. Tentang bagi hasil, itu sesuai kesepakatan. Mau 60:40 silakan, mau 70:30 silakan.

4. Karena modalnya bukan berupa uang, maka di perjanjian harus dinilai dengan uang. Misalnya, alat kesehatan senilai 50 juta, bangunan senilai 200 juta.

5. Tentukan dasar kalkulasi pada modal yang berupa barang. Dalam kasus ini, nilai bangunan dapat dihitung berdasarkan sewa bangunan selama akad berlangsung atau pun berdasarkan nilai jual bangunan. Misal, akad kerja sama Rumah Bersalin berlangsung selama 20 tahun, maka hitunglah nilai sewa selama 20 tahun dan itu menjadi nilai modal pemilik bangunan serta bangunan tetap miliknya. Namun bila dasar kalkulasinya adalah harga jual bangunan beserta tanahnya, maka tanah dan bangunan itu menjadi harta syirkah dan saat syirkah berakhir, maka bangunan itu dinilai ulang dan menjadi bagian dari perhitungan harta yang dikembalikan sesuai dengan  modal masing-masing.

PENJELASAN:

Kerja sama bisnis (perseroan) yang dibolehkan dalam istilah syariah Islam disebut "SYIRKAH." Lalu, apa sih Syirkah itu?

Definisi Syirkah

Kata syirkah berasal dari kata syarika-yasyraku–syarik[an] wa syirkat[an] wa syarikat[an], artinya mukhâla-thah asy-syarîkayn atau dalam bahasa Indonesia adalah percampuran dua hal yang bersekutu. Syirkah secara bahasa artinya percampuran dua bagian atau lebih sehingga tidak bisa lagi dibedakan satu sama lain.

Secara istilah, Syirkah adalah ijtimâ’fî istihqâq aw tasharruf, yaitu pertemuan dalam hal hak atau pengelolaan. (Ibn Qudamah, Al-Mughni, V/109, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983). Yang dimaksud dengan Ijtimâ’ fî istihqâq adalah syirkah al-milk, sedangkan Ijtimâ’ fî tasharruf adalah syirkahal-’aqd-’aqd.
Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa syirkah itu ada dua macam, yaitu syirkah al-milk dan syirkah al-’aqd.

Semua fukaha berpandangan bahwa syirkah—baik syirkah al-milk maupun syirkah al-’aqd—termasuk al-‘uqûd al-jâ’izah, bukan al-‘uqûd al-lâzimah. Artinya, masing-masing pihak berhak memisahkan diri atau keluar dari syirkah kapan saja ia kehendaki.

Rukun Syirkah

Syirkah al-’aqd absah jika memenuhi ketentuan syariah berkaitan dengan rukun dan syarat keabsahan akadnya.

Rukun syirkah ada 3, yaitu:

1. Adanya ijâb-qabûl

Dalam ijâb-qabûl harus ada ungkapan baik lisan atau tertulis, bahwa salah satu pihak mengajak pihak lain untuk berserikat melakukan aktivitas bisnis, dan harus ada penerimaan/ persetujuan pihak lain terhadap ajakan itu. Oleh karena itu, sekadar kesepakatan untuk berserikat tidak bisa disebut akad syirkah. Begitu pula kesepakatan menyetor sejumlah harta untuk berserikat seperti dalam kasus PT dan koperasi juga belum bisa dinilai sebagai akad Syirkah. Akad Syirkah harus mengandung pengertian berserikat untuk melakukan suatu aktivitas finansial/ bisnis.

2. Adanya dua pihak yang berakad (Al-‘âqidâni)

Pertama, pihak yang menyatakan ijâb, yaitu pihak yang menyampaikan ajakan berserikat untuk melakukan suatu aktivitas bisnis. Kedua, pihak yang menyatakan qabûl atau menerima ajakan itu. Kedua pihak itu harus memiliki kelayakan (ahliyah) melakukan tasharruf.

3. Obyek akad (ma’qûd ‘alayhi)

(Al-Jazairi, al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah, hlm. 69; Al-Khayyath, Asy-Syarîkât fî Dhaw’ al-Islâm, hlm. 13, Dar as-Salam, 1989).

Syarat Sah Syirkah

1. Akad syirkah dipandang sah jika memenuhi dua hal berikut, yaitu:

· Obyek akad harus berupa tasharruf.

·  Tasharruf yang diakadkan itu harus bisa di-wakalah-kan sehingga apa yang diperoleh dari tasharruf itu menjadi hak kedua pihak secara berserikat.

(Lihat: an-Nabhani, Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm, hlm. 148, Dar al-Ummah, cet vi [muktamadah]. 2004).

2. Ada unsur al-badn (unsur badan)

Di dalam syirkah juga harus ada unsur al-badn (unsur badan), yaitu pribadi yang memiliki hak melakukan tasharruf atau menjalankan aktivitas syirkah. Disebut unsur badan karena andilnya berupa badan (tenaga dan pikiran) untuk mengelola syirkah, bukan modal.
Adanya unsur badan ini merupakan syarat mendasar yang menentukan terakadkan-tidaknya atau ada-tidaknya syirkah itu. Alasannya, yaitu:

· Pertama, karena di dalam syirkah itu harus ada kesepakatan antara al-‘âqidâni-‘âqidâni untuk melakukan aktivitas finansial/bisnis (‘amal[un] mâliy[un]). Itu artinya, aktivitas finansial itu harus berasal dari kedua pihak atau salah satunya. Jadi harus ada unsur badan yang melakukannya.

· Kedua, syirkah adalah akad atas tasharruf. Tasharruf itu harus keluar dari syarîk (pihak yang ber-syirkah). Jadi di dalam akad syirkah itu harus ada mutasharrif (yang melakukan tasharruf) syirkah. Jika tidak ada mutasharrif itu maka akad syirkah tersebut tidak terjadi. Jadi di dalam akad syirkah harus ada unsur badan yang menjadi mutasharrif syirkah tersebut.

- Ketiga, hukum syariah berkaitan dengan perbuatan hamba, artinya berkaitan dengan perbuatan pribadi tertentu dan satu pribadi tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan pribadi yang lain. Syirkah adalah hukum syariah. Jadi hukum Syirkah itu berkaitan dengan pribadi orang yang ber-syirkah. Jika di dalam Syirkah itu tidak ada badan yang menjadi sandaran hukum Syirkah maka artinya Syirkah itu tidak ada, dan berikutnya hukum Syirkah itu juga tidak terjadi karena obyek hukumnya tidak ada.

Atas dasar semua itu, di dalam akad Syirkah tersebut harus ada pihak yang di dalam akad syirkah dinyatakan sebagai mutasharrif syirkah, yaitu pribadi yang diakadkan untuk menjalankan aktivitas Syirkah. Mudahnya, di dalam akad Syirkah harus ada pihak yang menjadi pengelola Syirkah yang bukan sekadar sebutan, tetapi pengelola sebagaimana yang dimaksudkan dalam hukum Syirkah dengan segala konsekuensinya.

Pembagian Keuntungan dan Kerugian

Islam menegaskan bahwa bukan hanya keuntungan saja yang harus dibagikan, tapi juga kerugian. Yang dijadikan patokan adalah prinsip profit and lost sharing (bagi-hasil keuntungan dan kerugian), bukan revenue sharing (bagi-hasil pendapatan). Keuntungan dan kerugian itu mengikuti kontribusi syarîk (mitra). Kontribusi para mitra itu bisa berupa harta/ modal, bisa berupa kegiatan (tasharruf) (tenaga, pikiran dan waktu) menjalankan aktivitas bisnis Syirkah itu.

Prinsip dalam pembagian keuntungan dan kerugian itu adalah seperti ungkapan oleh Ali bin Abi Thalib ra. yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq di Mushannaf-nya:
“Kerugian itu berdasarkan harta (modal), sedangkan keuntungan berdasarkan kesepakatan mereka (para mitra).”

Dalam hal ini bukan berarti pengelola tidak merugi. Pengelola menanggung kerugian aktivitas tasharruf-nya, yaitu rugi tenaga, pikiran dan waktunya. Sebab ketika syirkah itu impas—apalagi rugi—maka pengelola itu tidak akan mendapat bagian laba sama sekali. Sebab, tidak ada laba yang bisa dibagi. Artinya, semua jerih payah, tenaga, pikiran, waktu, dsb yang ia curahkan dalam mengelola atau menjalankan syirkah itu tidak mendapat hasil apa-apa. Itulah bentuk kerugian yang dialami oleh pengelola.

Pembagian laba itu dilakukan di akhir tiap periode syirkah setelah dilakukan perhitungan rugi-laba. Sebab, saat itulah diketahui besaran labanya. Untuk itu, mengingat kemaslahatan pengelola, periode Syirkah itu hendaknya dibuat pendek.

Perlu diingat bahwa syirkah termasuk ’aqd[un] mustamirr[un] (akad kontinu). Artinya, setiap kali suatu periode berakhir, secara otomatis akadnya diperbarui. Jika ada mitra yang keluar, sementara para mitra lain tidak, maka akad syirkah itu dibatalkan untuk mitra yang keluar itu dan secara otomatis diperbarui untuk para mitra yang tidak keluar. Dengan begitu periode Syirkah bisa dibuat pendek, seperti bulanan, mingguan bahkan untuk bisnis tertentu bisa harian.

Macam-macam Syirkah

1. Syirkah al-milk

Syirkah al-milk adalah syirkahal-‘ayn,
yaitu persekutuan dua orang atau lebih dalam kepemilikan suatu harta. Syirkah ini bisa muncul tanpa ikhtiar keduanya atau bersifat jabr[an] (paksaan) seperti persekutuan atas harta waris, hibah atau wasiat. Syirkah ini bisa juga muncul karena ikhtiar keduanya seperti melalui pembelian satu harta secara patungan.

Dalam Syirkah al-milk, bagian masing-masing tidak bisa dipisahkan dari bagian yang lain karena kepemilikan mereka telah bercampur. Dalam Syirkah al-milk, pertumbuhan/ pertambahan harta dan kerugian/ konsekuensinya menjadi milik dan tanggungan bersama menurut porsi kepemilikan masing-masing. Misal, dua orang membeli mobil/gedung secara patungan dengan porsi 60:40. Hasil sewa mobil/gedung itu atau biaya perawatan atau kerusakannya dibagi menurut porsi 60:40 itu.

2. Syirkah al-’aqd

Syirkah al-’aqd adalah Syirkah g terbentuk di antara dua pihak atau lebih menurut akad syar’i berdasarkan keinginan, kehendak dan dengan inisiatif dari keduanya. Syirkah al-’aqd ini kemudian lebih menonjol dan akhirnya jika disebut Syirkah saja maka yang dimaksud adalah syirkah al-’aqd ini.

Menurut istilah syar’i, Syirkah adalah akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat melakukan suatu aktivitas finansial (bisnis) dengan tujuan memperoleh laba. (An-Nabhani, An-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, hlm. 148).

Syirkah hukumnya mubah berdasarkan taqrîr (pengakuan) Nabi saw. atas syirkah yang dilakukan para Sahabat kala itu. Selain itu, Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
“Allah telah berfirman: Aku adalah Pihak Ketiga dari dua pihak yang ber-syirkah selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya. Kalau salah satunya berkhianat, Aku keluar dari keduanya.” (HR Abu Dawud, al-Baihaqi, dan ad-Daruquthni).

Dari elaborasi atas syirkahal-’aqd-’aqd dan hukum syariah serta dalil-dalil terkait, syirkah al-’aqdituitu meliputi lima jenis:

a. Syirkah Al-inân

Syirkah inân adalah Syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi konstribusi kerja (‘amal) dan modal (mâl). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah dan Ijma Sahabat. (An-Nabhani, 1990: 148)

Contoh Syirkah inân: A dan B insinyur teknik sipil. A dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan menjualbelikan rumah. Masing-masing memberikan konstribusi modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut.

Dalam Syirkah ini, disyaratkan modalnya harus berupa uang (nuqûd); sedangkan barang (‘urûdh), misalnya rumah atau mobil, tidak boleh dijadikan modal Syirkah, kecuali jika barang itu dihitung nilainya (qîmah al-‘urûdh) pada saat akad.

Keuntungan didasarkan pada kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha (syarîk) berdasarkan porsi modal. Jika, misalnya, masing-masing modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%.

Diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam kitab Al-Jâmi’, bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “Kerugian didasarkan atas besarnya modal, sedangkan keuntungan didasarkan atas kesepakatan mereka (pihak-pihak yang bersyirkah).” (An-Nabhani, 1990: 151).

b. Syirkah Al-abdan

Syirkah ‘abdan adalah Syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (‘amal), tanpa konstribusi modal (mâl). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu, tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya). (An-Nabhani, 1990: 150).

Syirkah ini disebut juga syirkah ‘amal (Al-Jaziri, 1996: 67; Al-Khayyath, 1982: 35).

Contohnya: A dan B. keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan sebesar 60% dan B sebesar 40%.

Dalam syirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian, tetapi boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja syirkah ‘abdan terdiri dari beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun, disyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan halal. (An-Nabhani, 1990: 150); tidak boleh berupa pekerjaan haram, misalnya, beberapa pemburu sepakat berburu babi hutan (celeng).

Keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan kesepakatan; nisbahnya boleh sama dan boleh juga tidak sama di antara mitra-mitra usaha (syarîk).

Syirkah ‘abdan hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah (An-Nabhani, 1990: 151). Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata, “Aku pernah berserikat dengan Ammar bin Yasir dan Sa’ad bin Abi Waqash mengenai harta rampasan perang pada Perang Badar. Sa’ad membawa dua orang tawanan, sementara aku dan Ammar tidak membawa apa pun.” [HR. Abu Dawud dan al-Atsram]

Hal itu diketahui Rasulullah Saw dan beliau membenarkannya dengan taqrîr beliau (An-Nabhani, 1990: 151).

c. Syirkah Al-mudhârabah

Inilah yang paling banyak dipraktekkan. Untuk itu penjelasannya lebih panjang dari yang lain.

Al-Fairuz Abadi di dalam al-Qâmûs al-Muhîth mengatakan: Mudhârabah secara bahasa: al-mudhârabah dari dharaba; dharabat ath-thayru tadhribu: pergi mencari rezeki; dharaba fi al-ardhi dharb[an] wa dharbân[an]: keluar berdagang atau berperang, atau bergegas atau pergi.
Dharaba fi al-ardhi bermakna safar (bepergian) seperti dinyatakan dalam QS an-Nisa’ [4]: 101. Adakalanya bepergian itu untuk mencari rezeki (QS al-Muzammil [73]: 20).

Menurut Ibn Manzhur di dalam Lisan al-‘Arab, kata mudharib digunakan untuk menyebut al-âmil, sebab dialah yang bepergian, datang dan pergi mencari rezeki. Mudhârabah adalah istilah penduduk Irak dan lebih banyak digunakan oleh mazhab Hanafi dan Hanbali. Penduduk Hijaz menyebut mudharabah dengan qirâdhatau muqâradhah, yang lebih banyak digunakan oleh ulama mazhab Syafii dan Maliki.

Secara istilah, mudhârabah atau qirâdh, adalah persekutuan badan dengan harta. Maknanya, seseorang menyerahkan hartanya kepada orang lain agar orang lain itu membisniskan harta tersebut dengan ketentuan keuntungan yang diperoleh dibagi kepada mereka sesuai dengan kesepakatan. (Lihat, an-Nabhani, Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm, hlm. 156; Ibn Qudamah, Al-Mughni, hlm. 134-135)

Badan tersebut adalah kiasan dari tenaga yang menjadi andil salah satu pihak dalam mudharabah tersebut.

Mudharabah itu bisa dalam tiga bentuk, yaitu:

· Pertama: mudharib ikut andil modal ditambah modal dari syarik (mitra) lainnya.

· Kedua: mudharib hanya andil tenaga, sementara modal dari syarik lainnya, misal antara satu orang pengelola dengan dua orang pemodal.

·  Ketiga: dua orang sama-sama mengelola dengan modal berasal dari salah satu di antara mereka. Bentuk ketiga ini oleh Ibn Qudamah dalam Al-Mughni wa Syarh al-Kabîr dinilai sebagai bentuk mudharabah.

Mudharabah adalah Syirkah (kemitraan) yang halal secara syar’i. Al-Kasani dalam Badâi’ ash-Shanâi’ menyatakan bahwa orang-orang biasa melakukan akad mudharabah dan Nabi saw. tidak mengingkari mereka sehingga hal itu merupakan persetujuan (taqrîr) dari Nabi atas kebolehan mudharabah.

Ad-Daraquthni meriwayatkan bahwa Hakim bin Hizam juga menyerahkan harta sebagai mudharabah dan mensyaratkan seperti syarat al-‘Abbas. Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-‘Ala’ bin Abdurrahman bin Ya’qub dari bapaknya dari kakeknya bahwa Utsman memberikan harta secara mudharabah. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dari Abdullah bin Humaid dari bapaknya dari kakeknya bahwa Umar ra. pernah menyerahkan harta anak yatim secara mudharabah.

Imam asy-Syaukani dalam Nayl al-Awthar, setelah memaparkan sejumlah atsar itu, menyatakan, “Atsar-atsariniini menunjukkan bahwa mudharabah dilakukan oleh para Sahabat tanpa ada seorang pun yang mengingkari sehingga hal itu menjadi ijmak mereka bahwa mudharabah
adalah boleh.”

Ibn al-Mundzir di dalam Al-Ijmâ’ menyatakan, “Para ahli ilmu telah berijmak atas kebolehan mudharabah secara keseluruhan.”

Rukun akad mudharabah ada tiga, yaitu:

-  Pertama: dua pihak yang berakad

Akad mudharabah hanya sah dilakukan oleh mereka yang secara syar’i sah melakukan tasharruf, yaitu orang yang berakal, balig dan tidak sedang di-hijr (dilarang oleh hakim untuk melakukan tasharruf, termasuk melakukan transaksi finansial).

Dua pihak yang berakad (al-‘âqidân) yang dimaksud bukan jumlahnya harus dua orang, melainkan dua pihak itu adalah satu pihak yang menjadi mûjib (menyampaikan ijab/ajakan) dan pihak yang menyampaikan qabul.

-  Kedua: ash-shighat, yaitu ijab dan qabul

Ash-Shighat atau ijab dan qabul harus dilakukan terpaut antara ijab dan qabul-nya atau harus dalam satu majelis akad. Di dalam ijab-qabul ini harus jelas andil dari masing-masing syarik (mitra), artinya harus jelas siapa yang menjadi mudharib (pengelola) dan siapa yang menjadi pemodal.

-  Ketiga: obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh), yaitu amal (aktivitas), modal, dan keuntungan.

Obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh) mudharabah yaitual-’amal-’amal, ra’s al-mâl (modal) dan ar-ribhu (laba). Terkaital-’amal, sebagai syirkah maka dalam mudharabah harus jelas aktivitas bisnis yang diakadkan.

Harus dipahami dengan jelas batasan aktivitas yang termasuk dalam cakupan bisnis dalam syirkah itu, atau yang menjadi cakupan aktivitas mudharib (pengelola). Kejelasan ini penting sehingga semua pihak dapat menakar andilal-’amal-’amal itu dalam bisnis dan hasilnya. Hal itu bisa menjadi pertimbangan penting untuk membuat kesepakatan tentang pembagian laba.

Terkait ra’s al-mâl atau modal maka ada beberapa ketentuan:

- Modal haruslah ‘aynan(zat harta) dan ada pada waktu akad, tidak boleh berupa utang atau piutang yang ada di pihak lain.

- Modal hendaknya dalam bentuk dinar (emas), dirham (perak) atau uang sehingga nilai nominalnya jelas. Ketentuan ini merupakan jumhur ulama.

- Jika berupa barang, komoditi, jasa atau manfaat seperti manfaat ruko misalnya, maka para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya. Jika berupa barang, komoditi atau manfaat maka harus disepakati nilainya atau dinominalkan pada saat akad.

-  Jumlah modal harus jelas pada saat akad syirkah. Hal ini penting untuk mengetahui besarnya laba nantinya.

-  Mudharabah tidak sah kecuali modal seluruhnya diserahkan atau menjadi berada dalam kekuasaan mudharib pada saat akad syirkah. Tidak boleh ada sebagian modal yang diutang atau diserahkan kemudian. Akad mudharabah mengharuskan hal itu. Aktivitas finansial (bisnis) yang diakadkan itu dilakukan terhadap modal dan hal itu langsung berlaku sejak akad dilangsungkan sehingga modal yang diakadkan seluruhnya harus diserahkan kepada mudharib

Adapun terkait ar-ribh (laba) maka harus diperhatikan:

-  Besarnya nisbah keuntungan yang menjadi bagian masing-masing syarik, baik pengelola maupun pemodal, harus disepakati.

> Besarnya nisbah laba itu dapat disepakati, baik dengan memerhatikan porsi andil masing-masing berupa tenaga maupun modal, atau pun tanpa memerhatikan hal itu.

> Besarnya laba tidak boleh ditentukan nilai nominalnya, tetapi hanya berupa nisbah atau prosentase atas laba.

> Jika ditentukan nilai nominalnya, menurut Ibn Qudamah dalam Syarh al-Kabîr, membuat akad mudharabah itu batil.

- Kerugian finansial hanya menjadi tanggungan modal.

Ali bin Abi Thalib berkata:
“Kerugian itu berdasarkan harta (modal), sedangkan keuntungan berdasarkan kesepakatan mereka (para mitra).” (HR Abdurraqaq dan Ibn Abi Syaibah)

Syirkah itu mencakup wakalah dan wakil tidak menjamin dan kerugian hanya ditanggung pihak yang mewakilkan, kecuali kerugian itu karena kesengajaan wakil. Selain itu, bagian laba dan tanggungan kerugian itu mengikuti andil. Badan tidak menanggung kerugian harta, melainkan merugi tenaga, waktu dan pikiran yang dicurahkan saja.

-  Pembagian laba dilakukan setelah dihitung rugi-labanya dan modal disisihkan (dikembalikan ke pemodal).

> Untuk itu harus ditentukan periode Syirkah, bisa per transaksi, harian, mingguan, bulanan, tahunan; sesuai dengan fakta bisnis dan mempertimbangkan kemaslahatan pengelola sebab ia bisa jadi bergantung pada pembagian laba itu sebagai penghasilannya.

> Jika akad mudharabah sempurna, maka konsekuensinya hak mengelola Syirkah itu hanya dimiliki oleh mudharib. Ia berhak menjalankan Syirkah itu sesuai pandangan dan pendapatnya sendiri. Pemodal tidak memiliki hak atas pengelolaan syirkah itu. Sebab, akad mudharabah itu terjadi atas badan pengelola dan harta pemodal, bukan atas badan pengelola dan pemodal sehingga pemodal menjadi seperti orang asing dari syirkah itu dan ia tidak berhak atas pengelolaan syirkah tersebut.

> Namun pemodal boleh menetapkan syarat-syarat atas pengelolaan syirkah itu pada saat akad. Mudharib wajib terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan itu dan tidak boleh menyalahinya sebab ia mengelola syirkah itu sesuai dengan izin sehingga ia terikat dengan izin yang diberikan.

> Mudharib tidak boleh bekerja kepada Syirkah yang ia kelola. Sebab, akad mudharabah itu terjadi atas badannya dan aktivitas pengelolaan syirkahitu menjadi konsekuensi dari akad tersebut.

> Namun, jika pekerjaan itu di luar cakupan aktivitas, pengelolaan syirkah dan tidak mengganggu pengelolaan syirkah maka orang yang menjadi mudharib itu boleh mengerjakannya dan mendapat upah. Misal, mengecat toko, sementara bisnis syirkah-nya adalah perdagangan.

> Adapun pemodal, ia boleh bekerja kepada syirkah yang ia modali itu. Sebab, badan pemodal itu tidak menjadi obyek akad Syirkah dan ia seperti orang asing dari syirkah itu.

Syirkah termasuk ‘aqd[un] jâiz[un] sehingga masing-masing boleh membatalkan akad syirkah mudharabah kapan saja. Jika salah seorang syarik meninggal maka akad syirkah itu batal.

Namun, harus diingat, akadsyirkah termasuk ‘aqd[un] mustamirr[un], secara otomatis diperbaharui seiring waktu. Jika satu periode syirkah berakhir, atau ada yang menarik diri, maka secara otomatis akad syirkah itu diperbarui untuk semua syarik yang tidak menarik diri.

d. Syirkah Al-wujûh

Syirkah wujûh disebut jugasyirkah ‘ala adz-dzimam (Al-Khayyath, Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah, 2/49). Disebut Syirkah wujûh karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujûh) seseorang di tengah masyarakat.

Syirkah wujûh adalah syirkah antara dua pihak (misal A dan B) yang sama-sama memberikan konstribusi kerja (‘amal), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang memberikan konstribusi modal (mâl). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah semacam ini hakikatnya termasuk dalam syirkah mudhârabah sehingga berlaku ketentuan-ketentuan syirkahmudhârabah
padanya (An-Nabhani, 1990: 154).

Bentuk kedua Syirkah wujûh adalah Syirkah antara dua pihak atau lebih yang ber-syirkah dalam barang yang mereka beli secara kredit, atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, tanpa konstribusi modal dari masing-masing pihak (An-Nabhani, 1990: 154). Misal: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B ber-syirkah wujûh, dengan cara membeli barang dari seorang pedagang (misalnya C) secara kredit. A dan B bersepakat, masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli. Lalu keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga pokoknya dikembalikan kepada C (pedagang).

Dalam syirkah wujûh kedua ini, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, bukan berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki; sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki, bukan berdasarkan kesepakatan. Syirkah wujûh kedua ini hakikatnya termasuk dalam syirkah ‘abdan. (An-Nabhani, 1990: 154).

Hukum kedua bentuk syirkahdi atas adalah boleh, karena bentuk pertama sebenarnya termasuk syirkah mudhârabah, sedangkan bentuk kedua termasuk syirkah ‘abdan. Syirkah mudhârabah dan syirkah‘abdan sendiri telah jelas kebolehannya
dalam syariat Islam. (An-Nabhani, 1990:154).

Namun demikian, An-Nabhani mengingatkan bahwa ketokohan (wujûh) yang dimaksud dalam Syirkah wujûh adalah kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah), bukan semata-semata ketokohan di masyarakat. Maka dari itu, tidak sah syirkah yang dilakukan seorang tokoh (katakanlah seorang menteri atau pedagang besar), yang dikenal tidak jujur, atau suka menyalahi janji dalam urusan keuangan. Sebaliknya, sah syirkah wujûh yang dilakukan oleh seorang biasa-biasa saja, tetapi oleh para pedagang dia dianggap memiliki kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah) yang tinggi, misalnya dikenal jujur dan tepat janji dalam urusan keuangan. (An-Nabhani, 1990: 155-156)

e. Syirkah Al-mufâwadhah

Syirkah mufâwadhah adalahsyirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (syirkah inân, ‘abdan, mudhârabah, dan wujûh). (An-Nabhani, 1990: 156; Al-Khayyath, 1982: 25)

Syirkah mufâwadhah dalam pengertian ini, menurut An-Nabhani adalah boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri, maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya. (An-Nabhani, 1990: 156)

Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis syirkah-nya; yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal (jika berupa syirkah inân), atau ditanggung pemodal saja (jika berupa syirkah mudhârabah), atau ditanggung mitra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang dimiliki (jika berupa syirkahwujûh).

Contoh: A adalah pemodal, berkonstribusi modal kepada B dan C, dua insinyur teknik sipil, yang sebelumnya sepakat, bahwa masing-masing berkonstribusi kerja. Kemudian B dan C juga sepakat untuk berkonstribusi modal, untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada B dan C.

Dalam hal ini, pada awalnya yang ada adalah syirkah‘abdan, yaitu ketika B dan C sepakat masing-masing ber-syirkah dengan memberikan konstribusi kerja saja.

Lalu, ketika A memberikan modal kepada B dan C, berarti di antara mereka bertiga terwujud syirkah mudhârabah. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C sebagai pengelola.

Ketika B dan C sepakat bahwa masing-masing memberikan konstribusi modal, di samping konstribusi kerja, berarti terwujud syirkah inân di antara B dan C.

Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud syirkah wujûh di antara B dan C.

Dengan demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan semua jenissyirkah yang ada, yang disebut syirkah mufâwadhah.

Kelima jenis syirkah itu adalah syirkah yang dibenarkan syariah Islam sepanjang memenuhi syarat-syarat dan hukum-hukumnya.

Sumber: Ekonomi Syariah (Islam)

Entri yang Diunggulkan

Hati Nurani

Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman: قُلْ هُوَ الَّذِيْۤ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَ الْاَفْــئِدَةَ...