Minggu, 26 Februari 2017

UNESCO Global Geopark (UGG)

Perencanaan dari Bawah ke Atas

Dedikasi Komunitas Lokal untuk Geopark, dalam rangka pengusulan Geopark sebagai UNESCO Global Geopark

UNESCO Global Geopark (UGG) adalah harta yang tidak ternilai di dunia, tidak hanya karena mengandung nilai geologis, tetapi juga keinginan kuat dan dedikasi dari komunitas lokal yang telah bekerja keras menjaga/memelihara nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan menawarkan peluang yang paling bermanfaat untuk pendidikan dan ekonomi. Itu semua adalah ilustrasi dari komunitas lokal yang bekerja efektif di daerah terpencil dan indah di planet kita (Dr. Beth Taylor, Director Natural Sciences, UK National Commission for UNESCO).

UGG memberdayakan komunitas-komunitas lokal dan memberi mereka peluang untuk mengembangkan kemitraan yang erat dengan kesamaan tujuan mempromosikan area geologis yang signifikan dengan proses-proses, fitur-fitur, periode waktu, dan tema-tema kesejarahan, yang terhubung dengan geologi, atau keindahan geologis yang luar biasa. 

UGG ditetapkan melalui proses dari bawah ke atas (bottom-up) melibatkan seluruh pemangku kepentingan lokal dan regional yang relevan serta otoritas yang berkuasa di daerah itu (misalnya para pemilik tanah, kelompok-kelompok komunitas, para penyedia jasa pariwisata, penduduk setempat, dan organisasi lokal). Proses ini memerlukan komitmen yang kuat dari komunitas lokal, sebuah kemitraan dari berbagai komunitas lokal dan dukungan politis dan publik (pemerintah daerah-red) dalam jangka panjang (misalnya, memiliki master plan tidak kurang dari 10 tahun-red) serta pembangunan sebuah strategi komprehensif yang akan menyatukan semua tujuan komunitas sambil memperlihatkan dan melindungi area yang mengandung warisan geologis.


Keuntungan sebagai UNESCO Global Geopark
  1. Membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia tetap menjalankan program pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism development)
  2. Terlindunginya keanekaragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity) dan keanekaragaman budaya (cultural diversity)
  3. Sebagai laboratorium alam untuk riset dan pendidikan
  4. Dipromosikan secara internasional oleh UNESCO
  5. Menjadi ikonis baru pariwisata Indonesia yang berbasis masyarakat dan konservasi sehingga dapat lebih menarik minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke UNESCO Global Geopark (UGG)
  6. Berkembangnya ekonomi lokal melalui pariwisata (Geotourism).

Jumat, 17 Februari 2017

Ada Masanya

Ada masanya kepentingan Kebudayaan mengalahkan kepentingan Politik,
Ada masanya kepentingan Politik mengalahkan kepentingan Kebudayaan,
Ada masanya kepentingan Kebudayaan mengalahkan kepentingan Ekonomi,
Ada masanya kepentingan Ekonomi mengalahkan kepentingan Kebudayaan,
Ada masanya kepentingan Kebudayaan mengalahkan kepentingan Hukum,
Ada masanya kepentingan Hukum mengalahkan kepentingan Kebudayaan,
Ada masanya kepentingan Agama mengalahkan kepentingan Kebudayaan,
Ada masanya kepentingan Kebudayaan mengalahkan kepentingan Agama.

Ada masanya kepentingan Politik mengalahkan kepentingan Hukum,
Ada masanya kepentingan Hukum mengalahkan kepentingan Politik,
Ada masanya kepentingan Politik mengalahkan kepentingan Ekonomi,
Ada masanya kepentingan Ekonomi mengalahkan kepentingan Politik,
Ada masanya kepentingan Politik mengalahkan kepentingan Agama,
Ada masanya kepentingan Agama mengalahkan kepentingan Politik.

Ada masanya kepentingan Ekonomi mengalahkan kepentingan Agama,
Ada masanya kepentingan Agama mengalahkan kepentingan Ekonomi,
Ada masanya kepentingan Agama mengalahkan kepentingan Hukum,
Ada masanya kepentingan Hukum mengalahkan kepentingan Agama.

Ada masanya kepentingan Negara mengalahkan kepentingan Politik,
Ada masanya kepentingan Politik mengalahkan kepentingan Negara,
Ada masanya kepentingan Negara mengalahkan kepentingan Hukum,
Ada masanya kepentingan Hukum mengalahkan kepentingan Negara,
Ada masanya kepentingan Negara mengalahkan kepentingan Ekonomi,
Ada masanya kepentingan Ekonomi mengalahkan kepentingan Negara.

Ada masanya kita menjadi Pemimpin dan Ada masanya kita menjadi rakyat.

Apakah ada yang tidak pernah berubah?

Apakah perubahan itu keniscayaan?

Kalau perubahan itu keniscayaan, maka pilihannya:
1. kita belajar beradaptasi dengan perubahan, karena bukan yang kuat fisiknya yang akan menjadi pemenang, melainkan yang mau dan mampu beradaptasi dengan perubahan yang akan menjadi pemenang;
2. kalau kita tidak mau dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan, cepat atau lambat, kita akan ditinggalkan oleh perubahan?

Apakah perubahan dapat diarahkan?

Tentu saja dapat.

Perubahan ke arah manakah yang kita inginkan?

Perubahan untuk masa depan yang lebih baik dimulai pada hari ini, tetapi hari ini, dalam waktu singkat, akan menjadi masa lalu (sejarah).

Kita dapat mengubah masa depan yang lebih baik dengan cara mengubah cara kita berfikir dan bertindak yang lebih baik pada hari ini.

Karena kita tidak akan hidup selamanya, seperti yang dikatakan Chairil Anwar, "Sekali berarti, sesuah itu mati," setiap orang akan meninggalkan warisannya (legacy) untuk generasi yang akan datang.

Semoga kita meninggalkan warisan yang baik untuk anak-anak masa depan.

***

Kamis, 16 Februari 2017

Pedoman Pengusulan Geopark Indonesia

Geopark Global UNESCO: Celebrating Earth heritage and sustaining local communities

1. Situs geologis yang memiliki  outstanding universal values, yang tidak ada duanya di dunia, jika akan diusulkan sebagai kandidat UNESCO Global Geopark (UGG) (Ahli Geopark, Ahli Geologi)

2. Jumlah situs dan panel informasi (bahasa umum). (Ahli Geopark, Ahli Geologi, Ahli Biologi, Ahli Arkeologi, dan Ahli Antropologi memberi masukan kepada Ahli Komunikasi Publik (PR)

3. Database Situs Geologis di Badan Geologi

4. Peta situs geologis Skala 1:50000 di Badan Geologi

5. Peraturan perundangan-undangan dan Peraturan Daerah tentang larangan penggalian dan pengumpulan material yang diinformasikan melalui website, panel informasi, atau selebaran dll. (Undang-Undang Cagar Budaya dan Peraturan Daerah)

6. Penawaran untuk pengumpulan spesimen geologis di bawah pengawasan Badan Geologi pada situs-situs geologis tertentu.

7. Pemeliharaan dan pembersihan situs-situs geologis secara rutin oleh PemKab./Manajemen Geopark/Badan Geologi

8. Langkah-langkah konservasi situs geologis (inventarisasi, identifikasi, riset, dokumentasi, perawatan, preservasi, dll) oleh PemKab. dan Badan Geologi

9. Langkah-langkah pelindungan situs geologis (pencegahan dan pengamanan dari kerusakan/kehilangan, yang disebabkan oleh faktor alam maupun manusia) oleh PemKab. dan Badan Geologi

10. Promosi cetak (selebaran, booklet dll), elektronik (radio televisi), media luar ruang, dan online (website, media sosial), yang berisi informasi tentang hubungan situs-situs geologis dengan keanekaragaman hayati,  dan warisan budaya di dalam kawasan Geopark oleh PemProv. dan PemKab.

11. Panel-panel informasi yang berisi informasi tentang situs-situs geologis, keanekaragaman hayati (biodiversity), dan warisan budaya, dalam bahasa yang mudah dipahami oleh umum dilakukan oleh PemKab. dibantu ahli Geopark, ahli Geologi, ahli Biologi, ahli Arkeologi, ahli Antropologi, dan ahli Komunikasi Publik.

12. Bahan-bahan promosi cetak, elektronik, media luar ruang, media online (website, media sosial), yang berisi informasi tentang hubungan situs-situs geologis dengan keanekaragaman hayati dan warisan budaya oleh PemProv/Manajemen Geopark/PemKab.

13. Bahan ajar yang berisi informasi tentang hubungan situs-situs geologis dengan keanekaragaman hayati dan warisan budaya di pendidikan formal (SD-Pendidikan Tinggi) dan nonformal (pelatihan untuk pramuwisata, pelatihan untuk kelompok sadar wisata, pelatihan untuk UKM) oleh PemProv., PemKab., Kemenpar, Kementerian UKM dan Koperasi.

14. Penganggaran (K/L, PemProv, PemKab)

15. Master plan Geopark (PemProv. & PemKab.)

16. Area pengembangan untuk pariwisata berbasis komunitas (geowisata/ekowisata/desa wisata) dengan prinsip  pariwisata berkelanjutan (lingkungan alam, sosial-budaya, dan ekonomi) oleh PemProv., PemKab., dan Kemenpar.

17. Akses dari dan ke situs-situs geologis, situs alam dan budaya, tempat parkir, transportasi lokal, sistem pengendalian lalu lintas, petunjuk arah dll) oleh PemKab.

18. Jalur pendakian yang ramah lingkungan (tidak menggunakan bahan-bahan yang merusak lingkungan) oleh PemKab.

19. Jalur sepeda atau jalur lainnya, seperti jalur sungai atau jalur jembatan oleh PemKab.

20. Tersedianya kantor yang menjalankan fungsi kehumasan oleh PemKab.

21. Kios informasi di dalam wilayah Geopark yang berisi informasi tentang Geopark (situs-situs geologis, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya), tujuan, dan kegiatan oleh Pemda dibantu ahli Geopark, ahli Geologi, Ahli Biologi, Ahli Arkeologi, Ahli Antropologi, Ahli Pariwisata Alam dan Budaya, Ahli Teknologi Informasi dan Komunikasi

22. Panel-panel informasi di kawasan Geopark yang berisi informasi yang menghubungkan situs-situs geologis dengan keanekaragaman hayati dan situs cagar budaya, termasuk warisan budaya takbenda atau budaya hidup, yang sampai sekarang masih diwariskan dari generasi ke generasi, yang mencakup ekspresi lisan; seni pertunjukan; praktik sosial, ritual, dan perayaan/festival; pengetahuan dan praktik-praktik tentang alam dan semesta; dan kemahiran kerajinan tradisional, oleh Pemda dibantu Ahli Geopark, Ahli Geologi, Ahli Biologi, Ahli Arkeologi, Ahli Antropologi, dan Ahli Komunikasi Publik (PR).

23. Jalur-jalur geologis di dalam area/kawasan Geopark yang sudah dikembangkan dan melibatkan Geopark (peta jalur-jalur geologis) oleh PemKab./Manajemen Geopark

24. Program/kegiatan untuk individu, anak-anak yang akan mengunjungi area Geopark oleh PemKab./Manajemen Geopark

25. Program/kegiatan khusus untuk TK/SD oleh PemKab./Manajemen Geopark

26. Program khusus untuk SMP/SMA oleh PemKab.

27. Pusat pendidikan universitas di kawasan Geopark oleh Universitas

28. Materi pendidikan yang interaktif (permainan, video games, papan permainan) oleh PemKab.

29. Peralatan khusus untuk media pendidikan (puzzle, papan permainan, permainan yang  konstruktif, dll) oleh PemKab.

30. Bahan ajar untuk anak-anak usia di bawah 8 tahun oleh PemKab.

31. Pelindungan situs-situs geologis yang diinformasikan melalui papan informasi yang berisi larangan Vandalisme (menggali, mengumpulkan, mencorat-coret, merusak, menghancurkan, dan menghilangkan situs geologis) dengan ancaman hukuman (sanksi) oleh PemKab.

32. Publikasi (cetak, elektronik, media luar ruang, dan online yang berisi informasi yang menghubungkan situs geologis dengan keanekaragaman hayati  dan warisan budaya) oleh PemProv./PemKab

33. Informasi mengenai perilaku yang ramah lingkungan (environmental friendly) tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh (Do's & Don'ts) dengan ilustrasi gambar yang menarik oleh PemProv./PemKab.

34. Informasi dan pendidikan lingkungan mengenai elemen sejarah berupa bahan ajar untuk pendidikan formal, panel informasi, website, media sosial) oleh PemProv./PemKab./Manajemen Geopark

35. Wisata Geopark Individual yang dipandu oleh Pemandu Geopark (jalur geopark, akses/transportasi, titik keberangkatan dan kembali, pemandu, manajemen pengunjung, bahasa komunikasi) oleh Pemandu/Usaha Perjalanan Wisata/Komunitas lokal/Manajemen Geopark

36. Paket wisata yang dipandu oleh Anggota Manajemen Geopark sesuai paket yang ditawarkan (paket wisata yang berisi informasi tentang jalur, akses/transportasi, titik keberangkatan dan kembali, manajemen pengunjung, pemandu, bahasa komunikasi) oleh Pemandu/Usaha Perjalanan Wisata/Komunitas lokal/Manajemen Geopark.

37. Program-program reguler yang ditawarkan kepada pengunjung (wisata edukasi/ darmawisata untuk pelajar, wisata Geopark untuk umum, apakah menyediakan program khusus untuk difabel, misalnya tunarungu, tunanetra, pengguna kursi roda) oleh Pemandu dan Usaha Perjalanan Wisata/Komunitas lokal.

38. Manajemen pengunjung (1-5 orang, 6-10 orang, 11-20 orang,  21-30 orang), pengaturan lama waktu berkunjung, pemandu, titik keberangkatan dan kembali, keamanan dan keselamatan pengunjung, dsb oleh Manajemen Geopark

39. Program untuk kelompok umur yang berbeda-beda (segmen umur 4-5 tahun, 6-12 tahun, 13-15 tahun, 16-18 tahun, 19-23 tahun, 24-55 tahun, 56 tahun ke atas), menjelaskan jalur, akses/transportasi, titik keberangkatan dan berkumpul, pemandu, bahasa komunikasi, penjelasan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, keamanan dan keselamatan, perlengkapan penunjang oleh Manajemen Geopark/Pemandu/Usaha Pariwisata.

40. Pemandu yang memiliki keahlian khusus, misalnya ahli situs geologi, ahli biologi, dan ahli warisan budaya oleh Pemandu khusus Geopark.

41. Pemandu dari staf Geopark untuk melayani pengunjung individual (personal guide) oleh Staf Geopark yang berfungsi sebagai Pemandu khusus Geopark.

42. Pemandu dari mitra Geopark (HPI, Komunitas Lokal)

43. Pemandu lepas (freelance) yang melakukan pelatihan dan/ atau menyusun program dukungan untuk Manajemen Geopark.

44. Pelatihan pemandu Geopark oleh Kemenpar bekerja sama dengan Badan Geologi (Ahli Geopark, Ahli Geologi), LIPI (Ahli Biologi), Balai Arkeologi (Ahli Arkeologi), dan Ahli Antropologi dari Universitas/Lembaga penelitian.

45. Informasi berupa surat untuk sekolah-sekolah dan universitas agar mau berkunjung ke Geopark oleh PemProv./Manajemen Geopark

46. Informasi melalui surat kabar, surat elektronik, newsletter (surat elektronik berlangganan) untuk sekolah-sekolah dan universitas agar mau berkunjung ke Geopark oleh PemProv./Manajemen Geopark

47. PIC yang bertanggung jawab untuk program pendidikan yang dapat dihubungi melalui email oleh Manajemen Geopark

48. Majalah elektronik (newsletter) yang dirilis secara rutin untuk pelanggan sekolah-sekolah dan universitas oleh Manajemen Geopark

49. Calendar of Event terkini oleh PemProv./Manajemen Geopark

50. Bahan promosi cetak tentang Geowisata (leaflet, majalah, surat kabar) oleh PemProv./Manajemen Geopark

51. Bahan promosi geowisata yang berupa literatur populer/umum, seperti buku panduan oleh PemProv./Manajemen Geopark

52. CD atau material VIDEO geowisata oleh PemProv./Manajemen Geopark

53. Bahan promosi geowisata yang berupa media cetak (selebaran, booklet), elektronik (radio, televisi), media luar ruang (panel informasi), online (website, media sosial) dalam bahasa (Inggris, Mandarin, dsb) oleh PemProv./Manajemen Geopark.

54. Satu atau lebih pusat informasi yang dikelola oleh Manajemen Geopark atau organisasi mitra Manajemen Geopark.

55. Titik-titik informasi atau fasilitas yang serupa yang dikelola oleh Manajemen Geopark atau satu dari organisasi mitra Manajemen Geopark.

56. Pusat informasi di lokasi/ tempat berkumpul pada saat akan memulai kunjungan ke lapangan oleh Manajemen/Mitra Geopark

57. Apakah pusat informasi dapat diakses bagi pengguna kursi roda atau difabel oleh Manajemen Geopark

58. Materi layar interaktif (touch screen) di pusat informasi oleh Manajemen Geopark

59. Pameran Geopark secara rutin di museum oleh Badan Geologi, LIPI, Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Nilai Budaya, dan Universitas.

60. Apakah tersedia transportasi khusus wisata? Oleh PemKab./Manajemen Geopark

61. Apakah transportasi umum terintegrasi dengan jalur pejalan kaki dan pesepeda? Oleh PemKab.

62. Apakah ada fasilitas parkir yang terhubung dengan jalur wisata yang dikembangkan? Oleh PemKab.

63. Apakah tersedia toilet bersih di area-area parkir (parking area atau rest area) oleh PemKab.

64. Bahan promosi cetak, elektronik, dan online yang berisi informasi tentang transportasi umum dari dan ke kawasan Geopark oleh PemProv./Manajemen Geopark

65. Website khusus Geopark yang berisi informasi tentang jadwal dan transportasi yang dikelola oleh Geopark dan/atau organisasi pariwisata lain oleh PemProv./Manajemen Geopark/Mitra.

66. Penawaran khusus untuk wisatawan yang menggunakan transportasi umum, sepeda, atau transportasi lainnya yang ramah lingkungan (tidak menggunakan bahan bakar minyak, misalnya transportasi dengan menggunakan tenaga kuda) oleh PemKab./Manajemen Geopark

67. Penawaran wisata khusus Geologi dan Geomorfologi (perlu Pemandu khusus) oleh Manajemen Geopark dan Badan Geologi

68. Penawaran wisata yang dilaksanakan secara reguler setiap tahun (masuk dalam calendar of event) oleh PemProv./Manajemen Geopark, Kemenpar (Promosi)

69. Penawaran wisata untuk masyarakat umum (wisatawan nusantara) oleh PemKab. dan Kemenpar (Promosi)

70. Penawaran wisata khusus difabel oleh PemKab.

71. Penawaran wisata alternatif, jika cuaca buruk (indoor activities) oleh PemKab./Manajemen Geopark

72. Sistem pendaftaran pengunjung yang fleksibel melalui pendaftaran harian untuk wisatawan atau yang tidak memerlukan pendaftaran terlebih dulu, dapat dikelola secara online (website Geopark) oleh PemProv./Manajemen Geopark

73. Panel-panel informasi di kawasan Geopark atau di lokasi wisata, yang mudah dibaca oleh pengunjung umum, tidak menggunakan bahasa yang terlalu ilmiah. Oleh Ahli komunikasi publik yang bahannya diperoleh dari Badan Geologi, LIPI, Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Nilai Budaya, dan Universitas/Lembaga penelitian.

74. Website Geopark yang dikelola sendiri, yang berisi informasi umum tentang Geopark oleh PemProv./Manajemen Geopark

75. Link dari website Geopark yang dikelola Pemda Prov. ke website yang dikelola Kemenpar, dan Komunitas lokal, yang berisi informasi umum tentang kawasan Geopark (Pemda Prov./Manajemen Geopark, Kemenpar/Promosi, Usaha Perjalanan Wisata, HPI, Komunitas lokal)

76. Berita elektronik (newsletter) secara reguler kepada pelanggan Geopark oleh Manajemen Geopark.

77. Tersedia fasilitas layanan untuk memesan publikasi secara online bagi pengunjung website yang tertarik ingin memiliki bahan informasi yang dipublikasikan di website Geopark atau link ke website yang menyediakan bahan informasi tentang Geopark oleh PemKab./Manajemen Geopark.

78. Calendar of Event terbaru oleh Pemda/Manajemen Geopark, Kemenpar (Promosi).

79. Panduan untuk pengunjung yang akan berkunjung ke daya tarik wisata potensial di kawasan Geopark, misalnya wisata ke desa wisata, agrowisata, wisata memancing, wisata kuliner,  wisata danau, wisata kerajinan, wisata seni pertunjukan, pasar seni dsb. Oleh PemKab./Manajemen Geopark.

80. Jejaring jalan-jalan setapak yang menghubungkan daya tarik wisata ke situs-situs geologis, wisata ke lokasi flora dan fauna, dan wisata ke warisan budaya oleh PemKab.

81. Tersedianya rambu-rambu jalan sesuai standar yang memudahkan pengunjung dalam berwisata di kawasan Geopark oleh PemKab.

82. Pengecekan infrastruktur (sarana dan prasarana) secara berkala dan adanya kepastian untuk perbaikan oleh pihak yang berwenang oleh PemKab.

83. Penghitungan jumlah pengunjung yang dilakukan secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan) melalui survei pengunjung berdasarkan tiket masuk oleh PemProv./PemKab./Manajemen Geopark.

84. Evaluasi negara asal pengunjung (pandaftaran pengunjung secara online di website Geopark akan mudah diketahui asal pengunjung dan penghitungan jumlah pengunjung) oleh PemProv./PemKab./Manajemen Geopark.

85. Apakah menggunakan data pengunjung untuk perencanaan ke depan (pertanyaan ini menunjukkan bahwa Geopark sudah berfungsi minimal setahun sehingga dapat dievaluasi hasilnya untuk perencanaan ke depan) oleh PemProv./PemKab./Manajemen Geopark.

86. Pasar yang menjual produk utama pertanian daerah yang dikelola Geopark, misalnya buah-buahan, sayuran dsb oleh PemKab.

87. Label Geopark untuk produk makanan daerah atau gastronomi lokal, yang terdaftar sebagai makanan dalam negeri di Badan POM, berlabel halal (kalau dibuat dari bahan yang halal dan diolah dengan cara yang halal), kandungan makanan, dengan merk/label Geopark atau mitra lainnya, dengan penjelasan singkat tentang nama dan sejarah makanan daerah (gastronomi) oleh PemKab./Manajemen Geopark.

88. Berinisiatif untuk mempromosikan produk yang berupa replika geologis yang tidak dibuat dari bahan yang bersumber dari situs geologis dan/ atau warisan budaya yang dilindungi sebagai cagar budaya oleh PemKab./Manajemen Geopark.

89. Pemberian label Geopark untuk produk-produk atau jasa-jasa yang telah dikembangkan oleh Geopark atau mitra lainnya, dengan kriteria produk berupa barang tidak boleh menggunakan bahan dari situs geologis dan situs cagar budaya. Produk harus memiliki karakter yang khas. Produk tidak berbahaya untuk kesehatan. Produk tidak merusak lingkungan. Untuk jasa yang diberi label Geopark, misalnya Jasa Pramuwisata Geopark, Jasa Transportasi Wisata Geopark, Jasa Fotografer Geopark, Jasa Keamanan dan Keselamatan bagi Wisatawan Geopark, Jasa Perajin Geopark, Jasa Seni Pertunjukan Geopark, Jasa Pelukis Geopark, dsb. oleh PemKab./Manajemen Geopark.

90. Kolaborasi pemasaran dan manajemen destinasi pariwisata dengan bisnis lokal, melalui website Geopark yang link dengan pelaku usaha pariwisata dan komunitas lokal oleh  PemKab./Manajemen Geopark dan web. Indonesia.travel yang dikelola Kemenpar.

91. Kontrak formal antara Manajemen Geopark dengan mitra kerjanya.

92. Adanya proyek-proyek yang dibiayai bersama oleh Geopark, Pelaku Usaha, PemProv., PemKab., dan Pemerintah.

 Sumber:
1. Alastair M. Morrison. 2013. Marketing and Managing Tourism Destination.
2. Konvensi 1972 (Warisan Alam dan Budaya), 2003 (Warisan Budaya Hidup), 2005 (Produk dan Jasa Budaya) UNESCO
3. Suwardi, Sofyan et.al. 2016. Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Geopark Indonesia. Bandung: Sekretariat Badan Geologi
4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
5. Dll.


***

Senin, 13 Februari 2017

Pemanfaatan Kebudayaan untuk Kesejahteraan Masyarakat

Jakarta, 8 Februari 2017

Sebagai bahan masukan untuk Rancangan Undang-Undang Kebudayaan

Note #1 Tugas yang diberikan kepada saya berdasarkan Kerangka Acuan Kerja adalah  pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan untuk meningkatakan kesejahteraan masyarakat melalui perindustrian, perdagangan pariwisata serta inkubasi (pengolahan menuju komodifikasi) menuju ekonomi kreatif.


Note #2  Pada tahun 2010, UNESCO menerbitkan buku berjudul the Power of Culture, yang isinya dapat disarikan sebagai berikut.

Kebudayaan adalah

Note #3 Kebudayaan, dalam semua dimensinya, adalah komponen fundamental pembangunan berkelanjutan
Kebudayaan erat kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan atau yang lebih dkenal dengan istilah sustainable develoment goals sebagai pengganti Millennium Development Goals.


Note #4 Sebagai sebuah sektor aktivitas, melalui warisan budaya benda dan takbenda, industri-industri kreatif dan berbagai bentuk ekspresi seni, kebudayaan adalah kontributor utama pembangunan ekonomi, stabilitas sosial, dan pelindungan lingkungan.

Keyword: warisan budaya, industri kreatif, ekspresi seni, kontributor utama: (a) pembangunan ekonomi, (b) stabilitas sosial, dan (c) pelindungan lingkungan

Warisan budaya benda diatur dalam Konvensi 1972 UNESCO, warisan budaya benda seperti Borobudur, Prambanan, Ratu Boko; warisan alam, misalnya Taman nasional Komodo; warisan budaya takbenda (budaya hidup), misalnya angklung, tari tradisi Bali, dsb.

Industri Kreatif merupakan bagian dari ekspresi budaya.

Kontributor Utama pembangunan ekonomi, kreatif pada tahun 2014, telah berkontribusi terhadap PDB sebesar Rp 700T, tenaga kerja sebanyak 12,4 juta orang, dan ekspor sebesar 5,8%.

Kontributor utama stabilitas sosial, sebagai perekat persatuan bangsa (kekuatan sentripetal), tetapi bila tidak dikelola dengan baik, dapat mengakibatkan disintegrasi bangsa (kekuatan sentrifugal).


Note #5 Sebagai repositori pengetahuan, makna dan nilai yang menembus seluruh aspek kehidupan kita, kebudayaan juga diartikan sebagai cara manusia hidup dan berinteraksi, baik pada skala lokal maupun global
Keyword: repositori pengetahuan, makna dan nilai, cara manusia hidup dan berinteraksi, skala lokal maupun global

Repositori pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang dipelajari dari lingkungan, yang digunakan secara selektif untuk menghadapi lingkungan. dari sinilah lahir kreativitas dan inovasi. 

Makna dan nilai merupakan esensi kebudayaan, yang diekspresikan dalam wujud perilaku dan benda budaya.

Cara manusia hidup dan berinteraksi menjelaskan bahwa manusia hidup bersama dengan orang lain.

Skala lokal maupun global, O2I (Offline/Online Interaction)


Note #6 Sebuah sumber identitas, inovasi, dan kreativitas

Keyword: 
Identitas karena kebudayaan bersifat unik  yang membedakan suatu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya.

Inovasi karena kebudayaan digunakan secara selektif untuk menghadapi lingkungan yang selalu berubah sehingga kebudayaan mengalami pembaruan dalam wujud gagasan, metoda, dan/ atau alat, karena kalau tidak ada pembaruan lama-kelamaan kebudayaan akan mati (tidak berfungsi sebagai pranata sosial).

Pranata (sosial)  adalah sistem tingkah laku sosial yang bersifat resmi serta sistem nilai dan hukum yang mengatur tingkah laku itu, dan seluruh perlengkapannya guna memenuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia dalam masyarakat.

Kreativitas berhubungan erat dengan daya cipta yang merupakan inti dari kebudayaan. Tanpa kreativitas kebudayaan akan mati. 


Note #7 Seperangkat fitur spiritual dan material, intelektual dan emosional yang membedakan suatu masyarakat atau kelompok sosial tertentu.

Keyword: spiritual, material, intelektual, emosional

Spiritual, berhubungan ruhani/batin;  material, berhubungan dengan benda (tangible); intelektual, berhubungan dengan kecerdasan; emosional,  berhubungan dengan perasaan.


Note #8 Sebuah jejaring makna yang kompleks, hubungan-hubungan, kepercayaan-kepercayaan, dan nilai-nilai yang menghubungkan orang-orang ke seluruh dunia.

Keyword: jejaring makna yang kompleks, hubungan-hubungan, kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai

Kebudayaan menghubungkan orang-orang di seluruh dunia karena memiliki kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, dan makna yang disepakati bersama.


Note #9 Diperoleh melalui proses penanaman dan peningkatan kapasitas individu, terutama melalui pendidikan

Keyword: penanaman, peningkatan kapasitas individu, pendidikan

Penanaman kebudayaan secara tradisional melalui metoda transmisi budaya secara langsung dan/ atau tidak langsung melalui media.

Peningkatan kapasitas individu, tujuannya adalah pemberdayaan, menggali (bakat),  mengembangkan (potensi), membina individu, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Caranya, melalui pendidikan, baik pendidikan informal (kelarga), formal (pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi),  dan nonformal (kursus-kursus).


Note #9 Sebuah kekuatan dinamis yang relevan untuk seluruh masyarakat, lokal atau global.

Keyword: kekuatan dinamis yang hidup di masyarakat, baik lokal maupun global.


Note #10 Dipengaruhi oleh dan juga memengaruhi pandangan-pandangan dunia dan bentuk-bentuk ekspresif.

Keyword: Kebudayaan dipengaruhi dan memengaruhi pandangan dunia, bentuk-bentuk ekspresif

Manusia saling berhubungan, terjadi proses pinjam-meminjam, tukar-menukar, tawar-menawar berbagai unsur kebudayaan, yang terlihat pada berbagai wujud ekspresi budaya. 


Note #11 Berada pada suatu waktu dan tempat tertentu. Bila kebudayaan secara abstrak adalah seperangkat konstruksi mental, yang berasal dari tempat tertentu pada momen sejarah tertentu dan biasanya lokal.

Keyword: Waktu, tempat, konstruksi mental, momen sejarah, lokal

Karena kebudayaan terikat dengan tempat dan waktu (momen sejarah), sehingga kebudayaan secara kontekstual bersifat relatif (Cultural Relativism). Konstruksi mental karena kebudayaan yang dipelajari kali pertama dalam hidup seseorang akan menjadi mentalitas yang akan terbawa sebagai kepribadian dasar orang yang bersangkutan (basic personality structure), biasanya sulit sekali berubah. 


Note #12 Sebuah sumber daya yang dapat diperbarui, jika dengan sungguh-sungguh diasuh dapat tumbuh dan berkembang

Keyword: diperbarui, diasuh, tumbuh, berkembang 

Kebudayaan adalah sumber daya yang dapat diperbarui dengan cara diasuh (nurtured) sehingga tumbuh dan berkembang.


Note #13 Bila diabaikan, kebudayaan akan mudah hilang atau rusak.

Keyword: Diabaikan, rusak, hilang

Rumusan ini sudah sangat jelas sehingga perlu sekali keberpihakan politik anggaran dalam pemajuan kebudayaan, kalau kita ingin kebudayaan tidak rusak atau hilang


Note #14 Pengertian Kebudayaan Nasional Indonesia

Kebudayaan nasional Indonesia adalah keseluruhan hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat Indonesia seluruhnya, yang meliputi tidak hanya seni dan sastra, tetapi juga gaya hidup, cara hidup bersama, sistem nilai, tradisi, dan kepercayaan (diadaptasi dari UNESCO, 2001)


Note #15 Pasal 32 UUD 1945

  1. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
  2. Negara menghormati bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional


Note #16 Pilar-pilar Utama Kebudayaan

Pilar utama pengembangan kebudayaan nasional Indonesia berpegang pada prinsip penghormatan pada hak asasi manusia, keberagaman budaya, dan pembangunan yang berkelanjutan.    


Note #17 Hak Asasi Manusia

Setiap masyarakat mempunyai hak untuk mengembangkan nilai-nilai budayanya. Nilai-nilai budaya bangsa lain yang positif dapat diadopsi dan diadaptasi untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.


Note #18 Pembentukan Karakter dan Identitas Budaya Bangsa

Nilai-nilai yang digali dari khasanah budaya bangsa yang diperkaya oleh nilai-nilai budaya yang berasal dari negara lain, dikembangkan menjadi nilai-nilai bersama, dan ditanamkan sejak usia dini melalui pendidikan informal, formal, dan nonformal.                   


Note #19 Keberagaman Kebudayaan

Masyarakat Indonesia bersifat majemuk sehingga perlu diatur ruang-ruang sosial (social spaces) yang memungkinkan setiap warga masyarakat saling belajar tentang keberagaman budaya Indonesia melalui pendidikan informal, formal dan nonformal.


Note #20 Media

Media cetak, elektronik, dan media online termasuk media sosial dilarang mendiseminasikan informasi  yang merusak sendi-sendi kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Note #21 Pemanfaatan Kebudayaan

Kebudayaan nasional Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan warisan budaya benda dan alam (Konvensi 1972, UNESCO), warisan budaya takbenda atau budaya hidup (Konvensi 2003, UNESCO), dan produk dan jasa budaya (Konvensi 2005, UNESCO). 

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 2)

Pemanfaatan warisan budaya benda dan/ atau alam dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata alam dan/atau budaya (Konvensi 1972, UNESCO).

Pemanfaatan kebudayaan yang berupa budaya takbenda yang diproduksi sendiri, yang hasilnya langsung bermanfaat bagi pembuatnya, misalnya pembatik, perajin wayang, perajin senjata tradisional, perajin angklung, perajin alat-alat permainan tradisional, perajin senjata tradisional, perajin tenun tradisional dan sebagainya (Konvensi 2003, UNESCO).

Pemanfaatan kebudayaan yang berupa produk budaya, yang direproduksi secara massal (cultural industry) maupun yang diproduksi secara individual, misalnya Batik Tradisional dan Batik Iwan Tirta, Angklung Tradisional dan Angklung Udjo, Wayang Tradisional dan Wayang Ajen, Keris Tradisional dan Keris Kamardikan (buatan baru), Tari Bali Tradisional dan Tari Bali Kontemporer, Musik Tradisional dan Musik karya Dwiki Darmawan, Lukisan Klasik dan Lukisan karya Affandi, Patung Dwarapala dan Patung Garuda Wishnu karya I Nyoman Nuarta, Film Dokumenter dan Film Komersial karya Riri Reza, dan juga jasa budaya seperti: Pelatih Tari Tradisional dan Tari Kontemporer, Produser Film Dokumenter dan Komersial, Koreografer Tari Nusantara dan Kontemporer, Komposer Musik Tradisional dan Musik Pop, Pelukis Klasik dan Kontemporer, Pematung Klasik dan Kontemporer, Manajer Seni Pertunjukan Tradisional dan Kontemporer, dan sebagainya (Konvensi 2005, UNESCO

Note #22 Industri Budaya - Industri Kreatif - Ekonomi Kreatif

Ekonomi Kreatif mencakup kreativitas budaya, kreativitas ekonomi, kreativitas ilmu pengetahuan, dan kreativitas teknologi.

Note #23 UNESCO 2009 Framework for Cultural Statistics Domains

Cultural Domain, domain budaya (purely cultural), dalam FCS merupakan seperangkat ekonomi (produk barang dan jasa) dan perangkat sosial (partisipasi dalam berbagai aktivitas sosial)

Related Domain, partially cultural, sebagian terkait dengan budaya, yang terdiri atas aktivitas sosial dan ekonomi yang terkait dengan rekreasi dan bersenang-senang

Transversal Domain, lintas domain, yang mencakup pendidikan dan pelatihan, pengarsipan dan pelestarian, dan warisan budaya takbenda (budaya hidup)


Note #24 Rantai Nilai Kreatif 

Rantai nilai kreatif menghubungkan rantai pemasok dengan pembeli.

Proses (Creation to Commerce/ C2C)
Kreasi (konten, asal, ide-ide) - Produksi (produksi eksklusif, produksi massal) - Diseminasi (distribusi, partai besar, eceran) - Resepsi (tempat pertukaran hak yang akan dikonsumsi) - Dagang (pembeli barang atau pengguna jasa).

Pengarsipan dilakukan sejak dari proses kreasi sampai dagang yang bermanfaat untuk mereview kebutuhan/keinginan pasar.

Pengasuhan (nurturing/ incubation) agar tumbuh dan berkembang sebagai orang kreatif (wirausaha kreatif/ creativepreneur)

Pendukungan pendanaan (modal/ investasi) sejak dari proses kreasi sampai dagang, sejak ide-ide diwujudkan dalam konsep/ desain (pelindungan hak cipta) sebelum diproduksi, pada saat pengembangan produk menggunakan invensi teknologi dilindungi hak paten dan hak merk, bagi penanam modal atau investor yang tertarik dapat mendanai proses riset dan pengembangan produk, sehingga ketika produk/jasa tersebut dijual sudah ada yang akan membeli produk atau yang menggunakan jasanya di pasaran (customer engagement)

Note #25 Dimensi Pembangunan Ekonomi Kreatif

Dimensi Multikultur (Kebudayaan, Tenaga Kerja, Perdagangan, Teknologi, Pendidikan, dan Pariwisata)
Dimensi Kebijakan (Ekonomi, Teknologi, Kebudayaan, Kebudayaan, dan Kebijakan Sosial)
Dimensi Kebudayaan/ Nilai Kesejarahan (Antropologis/ Estetika, Etnik, Keberagaman Budaya)
Dimensi Antarwaktu (Tradisi Masa Lalu, Teknologi Masa Kini, Visi Masa Depan)
Dimensi Masyarakat yang Inklusif (Sektor Privat dan Publik, Kelas-kelas Sosial, Organisasi Nonpemerintah yang mengejar keuntungan (profit) dan Nonprofit))
Dimensi yang ada dimana-mana (Pendidikan, Kerja, Bersenang-senang, dan Hiburan)

Note #26 Industri Kreatif menurut UNCTAD

Industri Kreatif menurut UNCTAD dikelompokkan menjadi 4, yaitu 

I. Kelompok Warisan (Budaya)
  1. Kelompok Warisan (Budaya): Situs-situs Budaya (situs-situs arkeologis, museum-museum, perpustakaan-perpustakaan, pameran-pameran, dll)
  2. Ekspresi Budaya Tradisional (Seni Kerajinan, Festival, Perayaan)

II. Seni
  1. Seni Visual (lukisan, patung, fotografi, dan barang antik)
  2. Seni Pertunjukan (pertunjukan musik, teater, tari, opera, sirkus, wayang, dll)

III. Media
  1. Penerbitan dan Percetakan (buku, media massa, publikasi lainnya)
  2. Audiovisual (film, televisi, radio, dan penyiaran lainnya)
  3. Media Baru (perangkat lunak, video games, konten kreatif digital)

IV. Kreasi-kreasi Fungsional
  1. Desain (nterior, grafis, mode, perhiasan, mainan)
  2. Jasa Kreatif (arsitektur, periklanan, riset dan pengembangan kreatif, rekreasi budaya/ wisata budaya)

Note #27 Definisi (Batasan)

Industri Budaya
Activities involve mass reproduction of expressive values based on copyrights (Work Foundation, 2007)

Industri Kreatif
An industry that comes from the creativity, expertise, and talents of individuals, with the potential to create jobs and prosperity through the exploitation of IP and content (UK, Creative Industries Taskforce, 1998)

Ekonomi Kreatif
Adequately nurtured, creativity fuels culture, infuses a human-centred development and constitutes the key ingredient for job creation, innovation and trade while contributing to social inclusion, cultural diversity and environmental sustainability (source: UNCTAD, 2010)

Note #28 Penutup


Bila diabaikan, kebudayaan akan mudah hilang atau rusak. (The Power of Culture, 2010)

Jumat, 03 Februari 2017

Tri Hita Karana

Seri: Etika Pariwisata

Ajaran tentang tiga penyebab kesejahteraan (kebahagiaan).

Desa-desa di Bali menerapkan Tri Hita Karana, ada wilayahnya, ada manusianya, dan ada tempat pemujaan, 

Parhyangan, hubungan manusia dengan Tuhan. Berbuatlah selalu hanya untuk memuji-Ku dan lakukanlah tugas pengabdian itu dengan tiada putus-putusnya. engkau yang memujaku dengan tiada henti-hentinya itu serta dengan kebaktian yang kekal adalah dekat denganku (Bhagawadgita).

Pawongan, hubungan antara manusia dengan manusia. Hubungan yang harmonis dan damai dengan menyelaraskan hubungan atman dengan paramatman atau hubungan manusia dengan Tuhannya.

Palemahan, hubungan antara manusia dengan alam (bhuwana). Manusia hidup di bhuwana alit (air, tanah, api, udara, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia lainnya) dan bhuwana ageng  (alam semesta, planet-planet sebagai bagian dari galaksi bima sakti).


Kamis, 02 Februari 2017

Nilai-nilai yang membuat hidup lebih bermakna

Apakah nilai-nilai ini yang membuat hidup lebih bermakna?

Nilai Budaya adalah konsep abstrak mengenal masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia.

Nilai Hidup (NH) : Meningkatkan kualitas hidup
Nilai Alam (NA): Menjaga pelestarian lingkungan alam (tanpa alam manusia akan mati)
Nilai Manusia (NM): Menghormati keberagaman budaya (tanpa bekerja sama dengan orang lain manusia tidak berdaya menghadapi tantangan hidup)
Nilai Waktu (NW): Menggunakan waktu efektif (berhasil guna)
Nilai Kerja (NK): Melakukan pekerjaan yang bermanfaat untuk orang banyak (manusia perlu belajar hidup dengan cara belajar ilmu pengetahuan dan bekerja sesuai keahliannya)

Y= NH (NW+NK) + NA + NM

Y = Hidup yang bermakna

Nilai Hidup esensinya menghayati arti hidup itu sendiri. Hidup dapat dimaknai dengan penderitaan, perilaku hidupnya dijalani dengan penderitaan, sebaliknya hidup yang dimaknai dengan kesenangan, perilaku hidupnya ditujukan hanya untuk mencari kesenangan duniawi. Hidup yang dimaknai hanya di dunia ini saja, tidak percaya dengan hidup setelah mati, perilaku hidupnya akan mengejar kebahagian hidup di dunia. Demikian juga yang meyakini hidup setelah mati, perilaku hidupnya akan mencari kebahagiaan hidup yang abadi setelah mati. Ada juga yang meyakini bahwa ruh orang yang mati masih berada di sekitar mereka sampai jangka waktu tertentu, perilaku hidupnya mengadakan ritual upacara sampai yang bersangkutan kembali ke alam keabadian. Selain itu, ada yang meyakini bahwa setelah mati, yang bersangkutan akan lahir kembali dalam wujud makhluk hidup yang lain sampai yang bersangkutan mencapai kesempurnaan, perilaku hidupnya selalu mengadakan ritual upacara sampai yang bersangkutan mencapai kesempurnaan. Jadi, hidup dimaknai menurut keyakinannya masing-masing dan dengan keyakinannya itu, orang memaknai hidupnya.

Hidup sekali berarti setelah itu mati (Chairil Anwar).

Ada yang mengartikan hidup itu sangat berharga. Bagi yang memaknai Nilai Waktu adalah Uang, sepanjang hidupnya, orang itu akan memanfaatkan waktunya untuk mencari uang. Bagi yang memaknai Nilai Waktu adalah ibadah, sepanjang hidupnya digunakan untuk beribadah. Bagi yang memaknai Nilai Waktu bersifat linier akan menggunakan waktu seefektif mungkin. Tetapi, bagi yang memaknai Nilai Waktu adalah siklus akan menjalani hidup tanpa pernah berputus asa karena meyakini bahwa waktu akan berulang kembali.

Demikian juga Nilai Kerja. Ada yang meyakini bahwa kerja itu yang penting adalah hasilnya sehingga yang diutamakan hasil kerjanya, sebaliknya bagi yang meyakini kerja itu adalah proses, maka yang dipentingkan prosesnya, bukan hasilnya. Orang yang meyakini kerja itu adalah hasilnya, sejak awal telah menetapkan target yang ingin dicapai dan orang itu bekerja untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan. Jika tidak berhasil akan berusaha dengan segala cara agar tergetnya tercapai. Sebaliknya, orang yang meyakini kerja itu adalah proses, berusaha seoptimal mungkin, tanpa mengetahui apakah akan berhasil atau tidak karena orang itu meyakini bahwa hasil dari usaha yang dilakukannya tidak dapat dipastikan hasilnya. Jika tidak berhasil, orang itu terus berusaha dengan cara yang lebih baik sampai usahanya berhasil.

Entri yang Diunggulkan

Big data warisan budaya takbenda

Pertemuan informal dengan Adam Cao dari Yong Xin Hua Yun Cultural Industry Investment Group Co., Ltd. pada Sesi ke-13 the Intergovernmenta...