Rabu, 31 Mei 2017

Batere ponsel meledak

Meskipun masih perlu pembuktian tentang dampak radiasi yang ditimbulkannya. Penggunaan smartphone sebaiknya dibatasi agar tidak membahayakan kesehatan Anda.

Gadget seperti smartphone dan tablet merupakan perangkat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, marak sekali kasus baterai gadget yang meledak dan membahayakan penggunanya.

Pengguna sudah seharusnya tahu alasan baterai mudah meledak agar dapat mencegah kejadian yang tidak diharapkan.

Di bawah ini dijelaskan beberapa penyebab baterai smartphone mudah meledak dan dapat  dijadikan referensi.


1. Tidak menggunakan baterai resmi

Ada kalanya baterai asli dari gadget Anda harus diganti dengan baterai yang baru. Saat memilih baterai baru, usahakan membeli baterai dengan merk dan tipe yang sama alias baterai ori (original), walaupun harganya lebih mahal hingga 2-3 kali lipat daripada baterai biasa, setidaknya baterai ori akan bertahan lebih lama dan juga dapat menyesuaikan charger bawaan.

Baterai yang tidak ori juga lebih rawan rusak karena memang tidak dirancang khusus untuk gadget tertentu.


2. Digunakan saat pengisian batere (charging)

Kesalahan selanjutnya saat pengisian batere, Anda tidak berhenti memainkan gawai (gadget) kesayangan, meskipun hanya sekedar ber-SMS, chatting, membuka aplikasi, dan bermain game, jika hal tersebut dilakukan dalam waktu yang cukup lama, maka akan membuat baterai cepat panas dan tidak cepat penuh.

Hal yang paling buruk adalah menelepon saat sedang pengisian batere. Butuh daya baterai yang tinggi saat digunakan bertelepon, dan jika baterai terlalu panas tidak menutup kemungkinan  baterai mudah meledak dan melukai diri Anda.

Disadur dari: GadgetGan.com

Selasa, 30 Mei 2017

Bahaya di dapur

Tabung Semprotan Serangga vs Kompor Gas

Kecelakaan mengejutkan terjadi. Seorang ibu rumah tangga tewas akibat luka bakar berkelanjutan di dapur. Suaminya juga dirawat di rumah sakit, cedera karena terbakar saat mencoba menyelamatkan istrinya.

Kronologi kejadian :
Kompor gas menyala saat memasak. Istri melihat kecoa berada di cucian piring dekat kompor. Secara naluri sang isteri mengambil semprotan pembunuh serangga lalu disemprotkan ke arah kecoa. Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Dalam waktu singkat tubuh wanita malang tersebut diselimuti api, terbakar dengan kondisi luka bakar 65%. Sang suami mendengar ledakan bergegas menghampiri dan mencoba untuk memadamkan api, namun pakaiannya ikut terbakar. Pertolongan datang dari tetangga dan langsung membawa suami-istri tersebut ke RS. Sang Suami terbaring di RS karena luka bakar tidak mengetahui kalau istrinya telah meninggal saat tiba di RS.

Pelajaran pertama:
Bahwa semua tabung semprotan pembunuh serangga mengandung pelarut yang sangat mudah menguap dan terbakar. Nano partikel semprot yang disemprotkan dapat menyebar dengan sangat cepat dan satu percikan api sudah cukup untuk meledakkan tabung semprotan pembunuh serangga setelah disemprotkan ke udara yang mengandung oksigen.

Peringatan kedua:
Saat listrik padam jangan sekali-kali menyemprot nyamuk di dekat lilin yang menyala. Dalam hitungan detik akan terjadi ledakan yang dapat menyebabkan tabung semprotan serangga di tangan Anda meledak.

Hal yang sama juga tabung semprotan untuk pewangi ruangan. Pelarutnya mudah menguap dan mudah meledak. Silakan dibaca petunjuk keselamatan di kemasannya tertulis dapat meledak pada suhu 50 derajat celcius.

Jauhkan tabung semprot serangga, tabung semprot pewangi ruangan, dan parfum dari jangkauan anak-anak.

Silakan berbagi. Siapa tahu Anda dapat menyelamatkan orang lain.

Peringatkan orang-orang di rumah Anda agar berhati-hati.

Semoga Bermanfaat...

Sumber: www.wajibbaca.com

Minggu, 28 Mei 2017

Simbok

Simbok

"Mbok,  kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, mbook...ben ngiriit.." kataku dengan mulut penuh makanan masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar,  dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu2 bakar di tungku, simbok menjawab, "Hambok yo ben toooo..."

"Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja.." sahutku

"Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?" tanya simbok kalem. Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumen.

"Lhaa itu? Tiap hari kan yo cuma simbok bagi-bagiin ke tetangga2 to? Orang-orang yg liwat-liwat mau ke pasar itu barang??" aku ngeyel.

"Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh ro barang kebuang..."

"Sodakoh kok mben dino?! Koyo sing wes sugih2o wae, mbooook mbok!" nadaku mulai tinggi.

"Ukuran sugih ki opo to, Kir?" Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu!

"Hayo turah2 le duwe opo2..Ngono we ndadak tekon!"

"Lha aku lak yo duwe panganan turah2 to? Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh...".

 Tangannya yg legam dg kulit yg makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera utk berdebat.

"Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan banda brana.

Nek nunggu bandamu nglumpuk  lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi iklas.

 Simbokmu iki sugih, le,  mben dino duwe pangan turah-turah, dadi iso aweh, tur kudu aweh.

 Perkoro simbokmu iki ora duwe banda brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti, ing atase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?", simbok tersenyum adem.

"Iyo, iyoooooh.."

"Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh mben dino?"

"He eh."

"Ngene, Kir, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku. Jarene: "Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E....mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi2 ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam, kan paling ora ono sego karo duduh jangan..".. ngono kuwi, le.

Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng ngarep omah kanggo wong-wong sing liwat, nek mangsak mesti akeh nak ono tonggo teparo mbutuhke. Pancen niate wes ngunu kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang-buang... Paham?"

Aku diam. Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, trus berlalu masuk kamar.

Ah, simbok. Perempuan yang tidak pernah bersekolah, tetapi belajar dari kehidupan, dan sangat menghayati arti cinta kepada sesama dengan caranya sendiri.

Sementara aku, manusia modern sibuk dengan hitung-hitungan untung dan rugi, hidupnya selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bahwa Tuhan telah menjamin rezeki setiap hamba Nya.

Simbokku benar, sugih itu kemampuan hati untuk memberi kepada sesama.

Semoga penulisnya diberkahi. Aamiin.

Rabu, 24 Mei 2017

Lahirnya nama Pancasila dan Piagam Jakarta

Perubahan Urutan Pancasila dan Perdebatan 'Syariat Islam' di Piagam Jakarta

Wednesday, June, 01 2016

Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta

KOMPAS.com — Hari lahirnya Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni memang identik dengan gagasan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Rumusan awal Pancasila selama ini dianggap dikemukakan pertama kali oleh Soekarno sewaktu berpidato dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Namun, Pancasila yang dikenal sebagai dasar negara saat ini mengalami sejumlah proses perubahan dari rumusan awal oleh Soekarno.

Adapun urutan Pancasila dalam rumusan yang dibuat Soekarno pada 1 Juni 1945 adalah:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang Maha Esa

Menurut Soekarno, lima asas itu merupakan weltanschauung atau pandangan mendasar, filsafat, juga fundamen yang digali dari jati diri bangsa Indonesia.

Dalam pidatonya, Soekarno memang mempertanyakan dasar yang akan digunakan jika Indonesia merdeka. Pertanyaan itu yang menjadi pemicu untuk merumuskan dasar negara Indonesia.

"Lenin mendirikan Uni Soviet dalam 10 hari pada tahun 1917, tetapi weltanschauung-nya sudah dipersiapkan sejak 1895. Adolf Hitler berkuasa pada tahun 1935, tetapi weltanschauung-nya sudah dipersiapkan sejak 1922. Dr Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok pada tahun 1912, tapi weltanschauung-nya sudah dipersiapkan sejak 1985, yaitu San Min Chu I," ujar Soekarno dalam pidatonya.

Menurut Muhammad Hatta dalam tulisan "Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Soekarno Putra" yang ditulis pada 16 Juni 1978, BPUPKI kemudian membentuk tim yang terdiri dari sembilan orang untuk merumuskan kembali Pancasila yang dicetuskan Soekarno.

Adapun sembilan orang itu adalah Soekarno, Muhammad Hatta, AA Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, Agus Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasyim, dan Muhammad Yamin.

Sembilan orang itu kemudian mulai mengubah susunan Pancasila versi Soekarno.

"Ketuhanan Yang Maha Esa" ditempatkan menjadi sila pertama. Sila kedua yang disebut Soekarno sebagai "Internasionalisme atau perikemanusiaan" diganti menjadi "Perikemanusiaan yang adil dan beradab".

Adapun sila "Persatuan Indonesia" digunakan untuk menggantikan "Kebangsaan Indonesia. Pada sila keempat, digunakan kata "Kerakyatan". Sedangkan terakhir, digunakan sila "Kesejahteraan Sosial".

Menurut Hatta, pada 22 Juni 1945 rumusan hasil Panitia 9 itu diserahkan ke BPUPKI dan diberi nama "Piagam Jakarta". Namun, ada sejumlah perubahan pada sila pertama pada Piagam Jakarta.

Adapun sila pertama yang tercantum dalam Piagam Jakarta adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".

Hamka Haq dalam buku Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam (2011) menulis bahwa sila itu merupakan hasil kompromi antara ideologi Islam dan ideologi kebangsaan yang mencuat selama rapat BPUPKI berlangsung.

Sejumlah pembicara dalam sidang BPUPKI dari kalangan Islam, seperti Ki Bagoes Hadikoesoemo, menilai bahwa kemerdekaan Indonesia diraih juga berkat perjuangan umat Islam.

"Tak akan ada nation Indonesia tanpa umat Islam. Lebih dari itu, karena kalangan nasionalis Indonesia yang berjuang dalam lingkup nasional yang mula pertama memang berwatak Islam," demikian pernyataan Ki Bagoes, seperti dikutip dari buku yang ditulis Hamka Haq.

Argumen itu kemudian disanggah karena dinilai hanya melihat bangsa Indonesia berdasarkan demografis. Umat Islam di Indonesia memang mencapai 90 persen.

Jika melihat kondisi geografis, khususnya di Indonesia timur, maka komposisinya berbeda.

Pertimbangan bahwa Indonesia merupakan sebuah gugusan kepulauan dari Sabang sampai Merauke itu juga yang menyebabkan muncul usulan agar dasar negara tidak berdasarkan agama tertentu.

Oleh karena itu, dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta.

Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", kemudian dihapus.

"Sesungguhnya tujuh perkataan itu hanya mengenai penduduk yang beragama Islam saja, pemimpin-pemimpin umat Kristen di Indonesia timur keberatan kalau tujuh kata itu dibiarkan saja, sebab tertulis dalam pokok dari pokok dasar negara kita, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah dibedakan warga negara yang beragama Islam dan bukan Islam," demikian penjelasan Muhammad Hatta.

Hingga kemudian, rumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945 itu menjadi seperti yang dikenal saat ini, yaitu:

1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keputusan dihapuskannya kata "syariat Islam" memang belum memuaskan sebagian umat Islam. Sebagian kelompok masih berjuang untuk mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu.

Mengutip buku Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam, ada kelompok yang kemudian mengekspresikannya dengan bentuk pemberontakan bersenjata. Misalnya, pemberontakan yang dilakukan kelompok DI/TII/NII.

Hamka Haq juga menulis, upaya untuk mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta juga diperjuangkan melalui jalur politik.

Dalam sidang-sidang konstituante di Bandung pada periode 1956-1959, misalnya, sejumlah partai yang berasaskan Islam berupaya memperjuangkan berlakunya syariat Islam sebagai dasar negara RI.

Penulis: Bayu Galih
Editor: Bayu Galih

Sumber: Kompas.com

Fungsi lubang hidung

Kita memiliki lubang hidung kiri dan kanan, apakah fungsinya sama?

Sebenarnya, fungsinya tidak sama, dapat dirasakan saat bernafas dengan lubang hidung sebelah kanan mewakili matahari (mengeluarkan energi panas) dan lubang hidung sebelah kiri mewakili bulan (mengeluarkan energi dingin).

Jika SAKIT KEPALA, cobalah MENUTUP Lubang hidung sebelah KANAN, bernafaslah melalui hidung sebelah kiri dan lakukan kira-kira 5 menit, sakit kepala akan sembuh.

Jika merasa LELAH, lakukan sebaliknya. Tutup lubang hidung sebelah KIRI dan bernafaslah melalui hidung sebelah kanan. Tak lama kemudian, Anda akan merasakan segar kembali.

Perempuan bernafas lebih banyak menggunakan lubang hidung sebelah kiri, sehingga hatinya gampang sekali dingin. Laki-laki bernafas lebih dengan lubang hidung sebelah kanan, sehingga gampang sekali marah.

Apakah Anda memerhatikan pada saat bangun, lubang hidung mana yang bernafas lebih cepat? Sebelah lubang hidung kiri atau kanan?

Jika lubang hidung kiri bernafas lebih cepat, Anda akan merasa sangat lelah. Tutuplah lubang hidung sebelah kiri dan gunakan lubang hidung sebelah kanan untuk bernafas, Anda akan merasa segar kembali dengan cepat.

Cara tersebut boleh diajarkan kepada anak-anak, tetapi efeknya akan lebih baik diterapkan kepada orang dewasa.

Pada suatu malam, saya duduk menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafas dengan lubang hidung sebelah kiri. Dalam kurang dari satu minggu, sakit kepala saya sembuh. Saya teruskan melakukannya selama 1 bulan, sejak malam itu sampai sekarang, sakit kepala saya tidak pernah kambuh lagi.

Luar biasa, sungguh sempurnanya pengaturan ciptaan Allah.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Sumber : Thibbun Nabawi

Selasa, 23 Mei 2017

Murabahah (perjanjian jual-beli)

Murabahah adalah perjanjian jual-beli antara bank dengan nasabah. Bank syariah membeli barang yang diperlukan nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank syariah dengan nasabah.

Ibn Manzhur di dalam Lisân al-’Arab (II/442-443, Dar Shadir) menyatakan: ar-ribhu wa ar-rabhu wa ar-rabâh artinya pertumbuhan dalam perdagangan; arbahtuhu ‘alâ sil’atihi artinya aku memberi dia keuntungan; arbahahu bi mutâ’ihi (ia mendapat keuntungan dengan dagangannya). Aku memberi dia harta secara murabahah artinya berdasarkan keuntungan di antara keduanya. Dikatakan: Aku menjual barang itu secara murabahah setiap sepuluh dirham labanya satu dirham.

Dalam Islam, di antara jenis jual-beli ada bay’ al-musâwamah, yakni disertai tawar-menawar dan harga tidak dikaitkan dengan harga pokok; juga ada bay’ al-amânah, yakni harga dikaitkan dengan harga pokok dan harga pokoknya disebutkan. Bay’ al-amânah ada tiga macam: (1) Jika harganya sama dengan harga pokok, tidak untung dan tidak rugi, disebut at-tawliyah; (2) Jika disertai kerugian yang disepakati disebut al-wadhî’ah; (3) Jika disertai dengan keuntungan yang disepakati disebut al-murâbahah.

Imam asy-Syayrazi di dalam Al-Muhadzdzab (I/288, Dar al-Fikr) menjelaskan, murabahah adalah (penjual) menjelaskan modal dan kadar labanya dengan mengatakan, misalnya, “Harganya seratus dan aku menjual kepada kamu dengan modalnya, dengan laba satu dirham untuk setiap sepuluh dirham.”

Ibn Qudamah di dalam Asy-Syarh al-Kabîr (IV/102, Dar al-Kitab al-‘Arabi) menjelaskan
murabahah adalah menjual dengan laba yang
disepakati, lalu dikatakan, misalnya, “Modalku di dalamnya seratus. Aku menjual kepada kamu dengan laba sepuluh.” Ini adalah boleh, tidak ada perbedaan pendapat tentang keabsahannya.

Dengan demikian menurut para fukaha dulu, murabahah adalah menjual sesuatu dengan menyebutkan modal atau harga beli awalnya, ditambah keuntungan yang disepakati.

Murabahah merupakan salah satu model jual-beli. Pelaksanaannya harus memenuhi rukun dan syarat-syaratnya sehingga menjadi sah dan sempurna. Rukunnya adalah sebagaimana jual-beli, yaitu adanya: penjual dan pembeli; barang yang dijual; ijab dan qabul. Adapun terkait syaratmurabahah, Dr ‘Ayid Fadhal asy-Sya’rawi di dalam bukunya Al-Mashârif al-Islâmiyah (hal. 380-382, Dar al-Jami’ah. 2007) menjelaskan ada syarat umum dan syarat khusus.

Syarat umum murabahah adalah syarat jual-beli itu sendiri, yaitu:

1. Syarat in’iqad adalah syarat terkait dengan rukun akad, yaitu syarat ijab dan qabul berupa kesatuan majelis dan kesesuaian dan pertautan ijab dengan qabul. Syarat al-‘âqid yaitu berakal dan ada dua pihak (penjual dan pembeli). Syarat barang yang dijual yaitu harta itu ada, bisa ditentukan nilainya, dimiliki zatnya, bisa diserahkan pada saat akad, dimiliki oleh penjual pada saat jual beli dan barang itu memiliki nilai.

2. Syarat sah antara lain: adanya keridhaan kedua pihak, keberadaan barang yang bisa diserahterimakan, tidak menimpakan dharar kepada penjual, barang dan harganya diketahui dengan jelas sehingga menghalangi adanya perselisihan, dan akad itu kosong dari syarat yang fasid.

3. Syarat pelaksanaan (Syurûth nafâdz) antara lain: barang dimiliki oleh penjual dan ada dalam kekuasaannya serta tidak ada hak orang lain di dalam barang itu.

4. Syarat keharusan (Syurûth luzûm) jual-beli itu kosong dari khiyar (khiyar ru’yah, khiyar aib, khiyar syarat dan khiyar ta’yin).

5.  Syarat kesempurnaan (syurûth tamâm) adalah adanya serah-terima barang (al-qabdhu).

Selain itu, murabahah juga harus memenuhi syarat-syarat khususnya, antara lain:

1. Harga awal (modal) harus diketahui. Dalam hal ini penjual wajib menjelaskan kepada pembeli berapa modalnya.

2. Keuntungan harus jelas atau disepakati dengan jelas, sebab laba itu adalah bagian dari harga murabahah.

3. Jual-beli yang pertama harus sah. Fasad-nya jual-beli awal tidak memungkinkan untuk dijadikan dasar jual-beli kedua. Sebab, murabahahadalah jual-beli  dengan harga awal ditambah laba yang disepakati.

4. Pengetahuan tentang sifat spesifik barang atau sifat yang tidak disukai. Sebab hal itu akan berpengaruh baik mendorong atau mencegah terjadinya jual-beli, selain pengetahuan itu akan menghilangkan gharar dan ketidakjelasan tentang barang.

5.  Terjaga dari pengkhianatan dan tuduhan. Sebab asas kesepakatan dan jual-beli itu terfokus pada kejujuran penjual dalam menyebutkan modalnya. Jika dia berkhianat atau berbohong maka ia mengkhianati amanah sementara murabahah
itu terjadi berdasarkan amanah itu.

6. Harga awal (modal) harus sama jenisnya dengan harga murabahah, baik rupiah, dolar, emas, perak atau lainnya. Namun, harga tidak boleh sama jenisnya dengan barang, jika termasuk dari enam jenis komoditas ribawi (emas, perak, kurma, gandum, jewawut, garam) termasuk uang.

Murabahah yang dijelaskan para fukaha dulu itu hanya melibatkan dua pihak, yaitu penjual dan pembeli. Penjual telah secara sempurna memiliki barang yang dia jual. Murabahah ini bisa dalam bentuk murabahah kontan maupun murabahah secara kredit atau dengan tempo. Secara syar’i, murabahah memang boleh, namun para fukaha lebih menyukai jual-beli musâwamah.

Murabahah di Masa Kini

Murabahah yang saat ini marak terutama dalam bentuk pembiayaan murabahah di berbagai bank dan lembaga keuangan sebenarnya berbeda dari bentuk murabahah yang dibahas para fukaha dulu sebagaimana dipaparkan di atas. Dalam murabahah kontemporer ini yang terlibat ada tiga pihak, yaitu: pemilik barang (penjual awal), pembeli akhir (nasabah) dan pihak yang di tengah (bank) yang menjadi pembeli terhadap pemilik barang dan penjual terhadap pembeli akhir (nasabah). Tata cara muamalah ini merupakan tata cara-baru yang digagas oleh Dr. Sami Hamud dalam desertasi doktoralnya tahun 1976 dengan judul Tathwîr al-A’mâl al-Mashrifiyah bimâ Yattafiqu ma’a asy-Syarî’ah al-Islâmiyah, yang ia sebut murâbahah li al-âmir bi asy-syirâ’. Dalam praktiknya kemudian hanya disebut murabahah saja, meski faktanya sebenarnya berbeda dengan murabahah yang dijelaskan para fukaha.

Muamalah ini biasanya secara ringkas berlangsung dengan tahapan sebagai berikut:

1. Tahap pertama: saling berkomitmen antara nasabah dengan bank. Nasabah berkomitmen, jika bank mau membeli barang yang dia inginkan dari penjualnya lalu menjualnya kepada nasabah itu, maka nasabah berkomitmen untuk membelinya dari bank secara kredit. Jika bank melihat kelayakan nasabah tersebut, maka bank berkomitmen untuk membeli barang tersebut lalu menjualnya kepada nasabah tersebut secara kredit.

2. Tahap kedua: bank membeli barang yang diminta itu dari penjualnya.

3. Tahap ketiga: penjualan barang tersebut oleh bank kepada pembeli (nasabah) itu.

Dalam hal ini harus diperhatikan beberapa hal berikut:

Pertama, pembeli tidak boleh diikat dengan apapun sebelum terjadi akad murabahah dan sempurna akadnya. Hakim bin Hizam menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا

“Penjual dan pembeli memiliki khiyar selama belum berpisah.” (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, ad-Darimi)

Hadis ini dengan jelas menetapkan adanya hak khiyar (pilihan) bagi penjual dan pembeli sebelum berpisah, yaitu hak untuk membatalkan jual-beli sebelum berlakunya akad sampai majelis akadnya berakhir, yang di antaranya ditandai dengan berpisahnya penjual dan pembeli secara fisik.

Sebagai hak yang telah ditetapkan oleh syariah, hak itu tidak boleh dibatasi atau bahkan dihilangkan oleh apapun dan siapapun selain syariah, termasuk oleh calon pembeli (nasabah) dan calon penjual (bank) itu sendiri melalui syarat (kesepakatan saling komitmen) di antara mereka. Jadi, calon pembeli (nasabah) itu tidak boleh diharuskan membeli barang itu. Dia boleh saja membelinya dari pihak lain. Sebaliknya, penjual juga tidak boleh diharuskan menjual barang tersebut. Dia pun boleh saja menjualnya kepada selain nasabah itu. Karena itu, komitmen calon pembeli (nasabah) dan calon penjual (bank) tidak boleh bersifat mengikat, dalam arti nasabah harus membeli barang itu setelah bank membelinya dari penjual; dan bank harus menjual barang itu kepada nasabah tersebut setelah bank membelinya. Sebab itu artinya baik nasabah atau bank tidak lagi memiliki khiyar yang telah ditetapkan syariah itu. Ini tidak boleh karena kaidah syariah menyebutkan: setiap syarat yang bertentangan dengan syariah maka syarat tersebut batil (batal), dan tentu saja tidak mengikat.

Nasabah juga tidak boleh diikat dengan pembayaran uang muka (al-‘urbûn) dan jika nasabah tidak jadi membeli maka uang mukanya menjadi hak bank. Sebab jika demikian maka itu adalah jual-beli dalam bentuk bay’ al-‘urbûn. Artinya, akad uang muka itu merupakan akad jual-beli, sebab uang muka itu merupakan bagian dari harga yang dibayar di muka.

Jika komitmen nasabah dan bank bersifat mengikat bagi keduanya dan/atau nasabah membayar uang muka (DP) dan jika dia batal membeli, DP itu menjadi hak bank, maka hal itu merupakan jual-beli itu sendiri. Semua unsur jual-beli ada di dalamnya. Padahal jelas barang tersebut belum menjadi milik penjual. Hal demikian jelas dilarang. Rasul saw. bersabda:

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Jangan engkau jual sesuatu yang bukan milikmu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibn Majah).

Kedua, sebelum dilangsungkan akad murabahah, barang itu harus sudah sempurna dimiliki penjual (bank), yakni sudah diserahterimakan secara sempurna kepada penjual (bank) itu. Hakim bin Hizam pernah bertanya kepada Rasul Sgallalahu alaihi wasallam “Ya Rasulullah, aku seorang pedagang, lalu apa yang halal dan apa yang haram bagi diriku?” Rasul Shallallahu alaihi wasallam menjawab:

إِذَا اشْتَرَيْتَ بَيْعاً فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ

“Jika engkau membeli sesuatu maka jangan engkau jual hingga engkau menerimanya.” (HR Ahmad, an-Nasai dan Ibn Hibban)

Barang itu juga harus berada dalam kekuasaan dan tanggungan penjual (bank) di tempat dimana penjual itu memiliki fisik dan manfaat barang itu. Sebab, Rasul Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلاَ شَرْطَانِ فِى بَيْعٍ وَلاَ رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ وَلاَ بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Tidak halal utang dan jual-beli; tidak (halal) dua syarat dalam jual-beli; tidak (halal) keuntungan sesuatu yang belum dijamin; tidak (halal) pula menjual sesuatu yang bukan milikmu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, al-Hakim)

Kepemilikan, kekuasaan, dan tanggungan penjual (bank) atas barang itu harus benar-benar riil, bukan hanya formalitas di atas kertas. Jika hanya formalitas di atas kertas, maka itu hanya akal-akalan saja.

Ketiga, harus disebutkan berapa modal dan keuntungan yang disepakati. Modal yang dijadikan dasar murabahah adalah harga pembelian barang oleh bank kepada pemiliknya, bukan harga beli dikurangi harga yang dibayar nasabah (pembeli) di muka (uang muka). Dengan kata lain, bukan yang dikatakan sebagai jumlah pembiayaan.Sebab murabahah itu merupakan jual-beli
dengan modal ditambah keuntungan
yang disepakati, bukan merupakan pembiayaan. Jika didasarkan jumlah pembiayaan maka itu lebih dekat sebagai meminjamkan uang agar dikembalikan lebih banyak, dan itu jelas merupakan riba, sementara jual-beli itu hanya menjadi triknya saja.

Keempat, barang harus diserahterimakan kepada pembeli (nasabah) secara sempurna. Kepemilikan atas barang itu harus sempurna berpindah ke pembeli. Sebab itu merupakan konsekuensi akad jual-beli. Karena itu, tidak boleh ada syarat apapun yang membatasi kepemilikan pembeli atas barang tersebut. Dia berhak sepenuhnya mengelola barang itu baik menjual, menyewakan, mengkonsumsi, memindahkan kepemilikannya kepada orang lain, dsb. Jika ada syarat yang membatasi hak pengelolaan pembeli atas barang itu, maka syarat tersebut batil dan harus diabaikan, meski akad murabahah-nya tetap sah.

Kelima, tidak boleh ada denda karena keterlambatan membayar. Sebab itu adalah riba.

Selain kelima hal ini, masih ada hal-hal lain yang harus diperhatikan agar murabahah kontemporer saat ini sah dan sempurna menurut syariah.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Sumber: Ekonomi Syariah Islam

Senin, 22 Mei 2017

Kerja sama bisnis

PERTANYAAN:

Saya, si B dan si C diajak berkerja sama untuk membuat Rumah Bersalin. Modal dan tempat menggunakan milik si D. Kami akan menggunakan sistem bagi hasil. Tetapi saya belum mengerti bagi hasil yang baik itu seperti apa? Selain itu, si C dan si D merupakan non muslim, bagaimana hukumnya berkerja sama dengan mereka?

JAWABAN:

1. Dari fakta di atas, maka model syirkah yang mungkin dilakukan adalah mudharabah. Anda, A dan B adalah Mudharib (pengelola) dan C adalah Shahibul Maal (Pemodal)

2. Dalam rukun syirkah mudharabah tidak ada syarat harus muslim. Yang penting dia bisa melakukan tasharruf (pengelolaan) dan bersedia berakad memakai syirkah mudharabah.

3. Tentang bagi hasil, itu sesuai kesepakatan. Mau 60:40 silakan, mau 70:30 silakan.

4. Karena modalnya bukan berupa uang, maka di perjanjian harus dinilai dengan uang. Misalnya, alat kesehatan senilai 50 juta, bangunan senilai 200 juta.

5. Tentukan dasar kalkulasi pada modal yang berupa barang. Dalam kasus ini, nilai bangunan dapat dihitung berdasarkan sewa bangunan selama akad berlangsung atau pun berdasarkan nilai jual bangunan. Misal, akad kerja sama Rumah Bersalin berlangsung selama 20 tahun, maka hitunglah nilai sewa selama 20 tahun dan itu menjadi nilai modal pemilik bangunan serta bangunan tetap miliknya. Namun bila dasar kalkulasinya adalah harga jual bangunan beserta tanahnya, maka tanah dan bangunan itu menjadi harta syirkah dan saat syirkah berakhir, maka bangunan itu dinilai ulang dan menjadi bagian dari perhitungan harta yang dikembalikan sesuai dengan  modal masing-masing.

PENJELASAN:

Kerja sama bisnis (perseroan) yang dibolehkan dalam istilah syariah Islam disebut "SYIRKAH." Lalu, apa sih Syirkah itu?

Definisi Syirkah

Kata syirkah berasal dari kata syarika-yasyraku–syarik[an] wa syirkat[an] wa syarikat[an], artinya mukhâla-thah asy-syarîkayn atau dalam bahasa Indonesia adalah percampuran dua hal yang bersekutu. Syirkah secara bahasa artinya percampuran dua bagian atau lebih sehingga tidak bisa lagi dibedakan satu sama lain.

Secara istilah, Syirkah adalah ijtimâ’fî istihqâq aw tasharruf, yaitu pertemuan dalam hal hak atau pengelolaan. (Ibn Qudamah, Al-Mughni, V/109, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983). Yang dimaksud dengan Ijtimâ’ fî istihqâq adalah syirkah al-milk, sedangkan Ijtimâ’ fî tasharruf adalah syirkahal-’aqd-’aqd.
Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa syirkah itu ada dua macam, yaitu syirkah al-milk dan syirkah al-’aqd.

Semua fukaha berpandangan bahwa syirkah—baik syirkah al-milk maupun syirkah al-’aqd—termasuk al-‘uqûd al-jâ’izah, bukan al-‘uqûd al-lâzimah. Artinya, masing-masing pihak berhak memisahkan diri atau keluar dari syirkah kapan saja ia kehendaki.

Rukun Syirkah

Syirkah al-’aqd absah jika memenuhi ketentuan syariah berkaitan dengan rukun dan syarat keabsahan akadnya.

Rukun syirkah ada 3, yaitu:

1. Adanya ijâb-qabûl

Dalam ijâb-qabûl harus ada ungkapan baik lisan atau tertulis, bahwa salah satu pihak mengajak pihak lain untuk berserikat melakukan aktivitas bisnis, dan harus ada penerimaan/ persetujuan pihak lain terhadap ajakan itu. Oleh karena itu, sekadar kesepakatan untuk berserikat tidak bisa disebut akad syirkah. Begitu pula kesepakatan menyetor sejumlah harta untuk berserikat seperti dalam kasus PT dan koperasi juga belum bisa dinilai sebagai akad Syirkah. Akad Syirkah harus mengandung pengertian berserikat untuk melakukan suatu aktivitas finansial/ bisnis.

2. Adanya dua pihak yang berakad (Al-‘âqidâni)

Pertama, pihak yang menyatakan ijâb, yaitu pihak yang menyampaikan ajakan berserikat untuk melakukan suatu aktivitas bisnis. Kedua, pihak yang menyatakan qabûl atau menerima ajakan itu. Kedua pihak itu harus memiliki kelayakan (ahliyah) melakukan tasharruf.

3. Obyek akad (ma’qûd ‘alayhi)

(Al-Jazairi, al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah, hlm. 69; Al-Khayyath, Asy-Syarîkât fî Dhaw’ al-Islâm, hlm. 13, Dar as-Salam, 1989).

Syarat Sah Syirkah

1. Akad syirkah dipandang sah jika memenuhi dua hal berikut, yaitu:

· Obyek akad harus berupa tasharruf.

·  Tasharruf yang diakadkan itu harus bisa di-wakalah-kan sehingga apa yang diperoleh dari tasharruf itu menjadi hak kedua pihak secara berserikat.

(Lihat: an-Nabhani, Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm, hlm. 148, Dar al-Ummah, cet vi [muktamadah]. 2004).

2. Ada unsur al-badn (unsur badan)

Di dalam syirkah juga harus ada unsur al-badn (unsur badan), yaitu pribadi yang memiliki hak melakukan tasharruf atau menjalankan aktivitas syirkah. Disebut unsur badan karena andilnya berupa badan (tenaga dan pikiran) untuk mengelola syirkah, bukan modal.
Adanya unsur badan ini merupakan syarat mendasar yang menentukan terakadkan-tidaknya atau ada-tidaknya syirkah itu. Alasannya, yaitu:

· Pertama, karena di dalam syirkah itu harus ada kesepakatan antara al-‘âqidâni-‘âqidâni untuk melakukan aktivitas finansial/bisnis (‘amal[un] mâliy[un]). Itu artinya, aktivitas finansial itu harus berasal dari kedua pihak atau salah satunya. Jadi harus ada unsur badan yang melakukannya.

· Kedua, syirkah adalah akad atas tasharruf. Tasharruf itu harus keluar dari syarîk (pihak yang ber-syirkah). Jadi di dalam akad syirkah itu harus ada mutasharrif (yang melakukan tasharruf) syirkah. Jika tidak ada mutasharrif itu maka akad syirkah tersebut tidak terjadi. Jadi di dalam akad syirkah harus ada unsur badan yang menjadi mutasharrif syirkah tersebut.

- Ketiga, hukum syariah berkaitan dengan perbuatan hamba, artinya berkaitan dengan perbuatan pribadi tertentu dan satu pribadi tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan pribadi yang lain. Syirkah adalah hukum syariah. Jadi hukum Syirkah itu berkaitan dengan pribadi orang yang ber-syirkah. Jika di dalam Syirkah itu tidak ada badan yang menjadi sandaran hukum Syirkah maka artinya Syirkah itu tidak ada, dan berikutnya hukum Syirkah itu juga tidak terjadi karena obyek hukumnya tidak ada.

Atas dasar semua itu, di dalam akad Syirkah tersebut harus ada pihak yang di dalam akad syirkah dinyatakan sebagai mutasharrif syirkah, yaitu pribadi yang diakadkan untuk menjalankan aktivitas Syirkah. Mudahnya, di dalam akad Syirkah harus ada pihak yang menjadi pengelola Syirkah yang bukan sekadar sebutan, tetapi pengelola sebagaimana yang dimaksudkan dalam hukum Syirkah dengan segala konsekuensinya.

Pembagian Keuntungan dan Kerugian

Islam menegaskan bahwa bukan hanya keuntungan saja yang harus dibagikan, tapi juga kerugian. Yang dijadikan patokan adalah prinsip profit and lost sharing (bagi-hasil keuntungan dan kerugian), bukan revenue sharing (bagi-hasil pendapatan). Keuntungan dan kerugian itu mengikuti kontribusi syarîk (mitra). Kontribusi para mitra itu bisa berupa harta/ modal, bisa berupa kegiatan (tasharruf) (tenaga, pikiran dan waktu) menjalankan aktivitas bisnis Syirkah itu.

Prinsip dalam pembagian keuntungan dan kerugian itu adalah seperti ungkapan oleh Ali bin Abi Thalib ra. yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq di Mushannaf-nya:
“Kerugian itu berdasarkan harta (modal), sedangkan keuntungan berdasarkan kesepakatan mereka (para mitra).”

Dalam hal ini bukan berarti pengelola tidak merugi. Pengelola menanggung kerugian aktivitas tasharruf-nya, yaitu rugi tenaga, pikiran dan waktunya. Sebab ketika syirkah itu impas—apalagi rugi—maka pengelola itu tidak akan mendapat bagian laba sama sekali. Sebab, tidak ada laba yang bisa dibagi. Artinya, semua jerih payah, tenaga, pikiran, waktu, dsb yang ia curahkan dalam mengelola atau menjalankan syirkah itu tidak mendapat hasil apa-apa. Itulah bentuk kerugian yang dialami oleh pengelola.

Pembagian laba itu dilakukan di akhir tiap periode syirkah setelah dilakukan perhitungan rugi-laba. Sebab, saat itulah diketahui besaran labanya. Untuk itu, mengingat kemaslahatan pengelola, periode Syirkah itu hendaknya dibuat pendek.

Perlu diingat bahwa syirkah termasuk ’aqd[un] mustamirr[un] (akad kontinu). Artinya, setiap kali suatu periode berakhir, secara otomatis akadnya diperbarui. Jika ada mitra yang keluar, sementara para mitra lain tidak, maka akad syirkah itu dibatalkan untuk mitra yang keluar itu dan secara otomatis diperbarui untuk para mitra yang tidak keluar. Dengan begitu periode Syirkah bisa dibuat pendek, seperti bulanan, mingguan bahkan untuk bisnis tertentu bisa harian.

Macam-macam Syirkah

1. Syirkah al-milk

Syirkah al-milk adalah syirkahal-‘ayn,
yaitu persekutuan dua orang atau lebih dalam kepemilikan suatu harta. Syirkah ini bisa muncul tanpa ikhtiar keduanya atau bersifat jabr[an] (paksaan) seperti persekutuan atas harta waris, hibah atau wasiat. Syirkah ini bisa juga muncul karena ikhtiar keduanya seperti melalui pembelian satu harta secara patungan.

Dalam Syirkah al-milk, bagian masing-masing tidak bisa dipisahkan dari bagian yang lain karena kepemilikan mereka telah bercampur. Dalam Syirkah al-milk, pertumbuhan/ pertambahan harta dan kerugian/ konsekuensinya menjadi milik dan tanggungan bersama menurut porsi kepemilikan masing-masing. Misal, dua orang membeli mobil/gedung secara patungan dengan porsi 60:40. Hasil sewa mobil/gedung itu atau biaya perawatan atau kerusakannya dibagi menurut porsi 60:40 itu.

2. Syirkah al-’aqd

Syirkah al-’aqd adalah Syirkah g terbentuk di antara dua pihak atau lebih menurut akad syar’i berdasarkan keinginan, kehendak dan dengan inisiatif dari keduanya. Syirkah al-’aqd ini kemudian lebih menonjol dan akhirnya jika disebut Syirkah saja maka yang dimaksud adalah syirkah al-’aqd ini.

Menurut istilah syar’i, Syirkah adalah akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat melakukan suatu aktivitas finansial (bisnis) dengan tujuan memperoleh laba. (An-Nabhani, An-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, hlm. 148).

Syirkah hukumnya mubah berdasarkan taqrîr (pengakuan) Nabi saw. atas syirkah yang dilakukan para Sahabat kala itu. Selain itu, Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
“Allah telah berfirman: Aku adalah Pihak Ketiga dari dua pihak yang ber-syirkah selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya. Kalau salah satunya berkhianat, Aku keluar dari keduanya.” (HR Abu Dawud, al-Baihaqi, dan ad-Daruquthni).

Dari elaborasi atas syirkahal-’aqd-’aqd dan hukum syariah serta dalil-dalil terkait, syirkah al-’aqdituitu meliputi lima jenis:

a. Syirkah Al-inân

Syirkah inân adalah Syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi konstribusi kerja (‘amal) dan modal (mâl). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah dan Ijma Sahabat. (An-Nabhani, 1990: 148)

Contoh Syirkah inân: A dan B insinyur teknik sipil. A dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan menjualbelikan rumah. Masing-masing memberikan konstribusi modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut.

Dalam Syirkah ini, disyaratkan modalnya harus berupa uang (nuqûd); sedangkan barang (‘urûdh), misalnya rumah atau mobil, tidak boleh dijadikan modal Syirkah, kecuali jika barang itu dihitung nilainya (qîmah al-‘urûdh) pada saat akad.

Keuntungan didasarkan pada kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha (syarîk) berdasarkan porsi modal. Jika, misalnya, masing-masing modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%.

Diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam kitab Al-Jâmi’, bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “Kerugian didasarkan atas besarnya modal, sedangkan keuntungan didasarkan atas kesepakatan mereka (pihak-pihak yang bersyirkah).” (An-Nabhani, 1990: 151).

b. Syirkah Al-abdan

Syirkah ‘abdan adalah Syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (‘amal), tanpa konstribusi modal (mâl). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu, tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya). (An-Nabhani, 1990: 150).

Syirkah ini disebut juga syirkah ‘amal (Al-Jaziri, 1996: 67; Al-Khayyath, 1982: 35).

Contohnya: A dan B. keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan sebesar 60% dan B sebesar 40%.

Dalam syirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian, tetapi boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja syirkah ‘abdan terdiri dari beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun, disyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan halal. (An-Nabhani, 1990: 150); tidak boleh berupa pekerjaan haram, misalnya, beberapa pemburu sepakat berburu babi hutan (celeng).

Keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan kesepakatan; nisbahnya boleh sama dan boleh juga tidak sama di antara mitra-mitra usaha (syarîk).

Syirkah ‘abdan hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah (An-Nabhani, 1990: 151). Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata, “Aku pernah berserikat dengan Ammar bin Yasir dan Sa’ad bin Abi Waqash mengenai harta rampasan perang pada Perang Badar. Sa’ad membawa dua orang tawanan, sementara aku dan Ammar tidak membawa apa pun.” [HR. Abu Dawud dan al-Atsram]

Hal itu diketahui Rasulullah Saw dan beliau membenarkannya dengan taqrîr beliau (An-Nabhani, 1990: 151).

c. Syirkah Al-mudhârabah

Inilah yang paling banyak dipraktekkan. Untuk itu penjelasannya lebih panjang dari yang lain.

Al-Fairuz Abadi di dalam al-Qâmûs al-Muhîth mengatakan: Mudhârabah secara bahasa: al-mudhârabah dari dharaba; dharabat ath-thayru tadhribu: pergi mencari rezeki; dharaba fi al-ardhi dharb[an] wa dharbân[an]: keluar berdagang atau berperang, atau bergegas atau pergi.
Dharaba fi al-ardhi bermakna safar (bepergian) seperti dinyatakan dalam QS an-Nisa’ [4]: 101. Adakalanya bepergian itu untuk mencari rezeki (QS al-Muzammil [73]: 20).

Menurut Ibn Manzhur di dalam Lisan al-‘Arab, kata mudharib digunakan untuk menyebut al-âmil, sebab dialah yang bepergian, datang dan pergi mencari rezeki. Mudhârabah adalah istilah penduduk Irak dan lebih banyak digunakan oleh mazhab Hanafi dan Hanbali. Penduduk Hijaz menyebut mudharabah dengan qirâdhatau muqâradhah, yang lebih banyak digunakan oleh ulama mazhab Syafii dan Maliki.

Secara istilah, mudhârabah atau qirâdh, adalah persekutuan badan dengan harta. Maknanya, seseorang menyerahkan hartanya kepada orang lain agar orang lain itu membisniskan harta tersebut dengan ketentuan keuntungan yang diperoleh dibagi kepada mereka sesuai dengan kesepakatan. (Lihat, an-Nabhani, Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm, hlm. 156; Ibn Qudamah, Al-Mughni, hlm. 134-135)

Badan tersebut adalah kiasan dari tenaga yang menjadi andil salah satu pihak dalam mudharabah tersebut.

Mudharabah itu bisa dalam tiga bentuk, yaitu:

· Pertama: mudharib ikut andil modal ditambah modal dari syarik (mitra) lainnya.

· Kedua: mudharib hanya andil tenaga, sementara modal dari syarik lainnya, misal antara satu orang pengelola dengan dua orang pemodal.

·  Ketiga: dua orang sama-sama mengelola dengan modal berasal dari salah satu di antara mereka. Bentuk ketiga ini oleh Ibn Qudamah dalam Al-Mughni wa Syarh al-Kabîr dinilai sebagai bentuk mudharabah.

Mudharabah adalah Syirkah (kemitraan) yang halal secara syar’i. Al-Kasani dalam Badâi’ ash-Shanâi’ menyatakan bahwa orang-orang biasa melakukan akad mudharabah dan Nabi saw. tidak mengingkari mereka sehingga hal itu merupakan persetujuan (taqrîr) dari Nabi atas kebolehan mudharabah.

Ad-Daraquthni meriwayatkan bahwa Hakim bin Hizam juga menyerahkan harta sebagai mudharabah dan mensyaratkan seperti syarat al-‘Abbas. Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-‘Ala’ bin Abdurrahman bin Ya’qub dari bapaknya dari kakeknya bahwa Utsman memberikan harta secara mudharabah. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dari Abdullah bin Humaid dari bapaknya dari kakeknya bahwa Umar ra. pernah menyerahkan harta anak yatim secara mudharabah.

Imam asy-Syaukani dalam Nayl al-Awthar, setelah memaparkan sejumlah atsar itu, menyatakan, “Atsar-atsariniini menunjukkan bahwa mudharabah dilakukan oleh para Sahabat tanpa ada seorang pun yang mengingkari sehingga hal itu menjadi ijmak mereka bahwa mudharabah
adalah boleh.”

Ibn al-Mundzir di dalam Al-Ijmâ’ menyatakan, “Para ahli ilmu telah berijmak atas kebolehan mudharabah secara keseluruhan.”

Rukun akad mudharabah ada tiga, yaitu:

-  Pertama: dua pihak yang berakad

Akad mudharabah hanya sah dilakukan oleh mereka yang secara syar’i sah melakukan tasharruf, yaitu orang yang berakal, balig dan tidak sedang di-hijr (dilarang oleh hakim untuk melakukan tasharruf, termasuk melakukan transaksi finansial).

Dua pihak yang berakad (al-‘âqidân) yang dimaksud bukan jumlahnya harus dua orang, melainkan dua pihak itu adalah satu pihak yang menjadi mûjib (menyampaikan ijab/ajakan) dan pihak yang menyampaikan qabul.

-  Kedua: ash-shighat, yaitu ijab dan qabul

Ash-Shighat atau ijab dan qabul harus dilakukan terpaut antara ijab dan qabul-nya atau harus dalam satu majelis akad. Di dalam ijab-qabul ini harus jelas andil dari masing-masing syarik (mitra), artinya harus jelas siapa yang menjadi mudharib (pengelola) dan siapa yang menjadi pemodal.

-  Ketiga: obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh), yaitu amal (aktivitas), modal, dan keuntungan.

Obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh) mudharabah yaitual-’amal-’amal, ra’s al-mâl (modal) dan ar-ribhu (laba). Terkaital-’amal, sebagai syirkah maka dalam mudharabah harus jelas aktivitas bisnis yang diakadkan.

Harus dipahami dengan jelas batasan aktivitas yang termasuk dalam cakupan bisnis dalam syirkah itu, atau yang menjadi cakupan aktivitas mudharib (pengelola). Kejelasan ini penting sehingga semua pihak dapat menakar andilal-’amal-’amal itu dalam bisnis dan hasilnya. Hal itu bisa menjadi pertimbangan penting untuk membuat kesepakatan tentang pembagian laba.

Terkait ra’s al-mâl atau modal maka ada beberapa ketentuan:

- Modal haruslah ‘aynan(zat harta) dan ada pada waktu akad, tidak boleh berupa utang atau piutang yang ada di pihak lain.

- Modal hendaknya dalam bentuk dinar (emas), dirham (perak) atau uang sehingga nilai nominalnya jelas. Ketentuan ini merupakan jumhur ulama.

- Jika berupa barang, komoditi, jasa atau manfaat seperti manfaat ruko misalnya, maka para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya. Jika berupa barang, komoditi atau manfaat maka harus disepakati nilainya atau dinominalkan pada saat akad.

-  Jumlah modal harus jelas pada saat akad syirkah. Hal ini penting untuk mengetahui besarnya laba nantinya.

-  Mudharabah tidak sah kecuali modal seluruhnya diserahkan atau menjadi berada dalam kekuasaan mudharib pada saat akad syirkah. Tidak boleh ada sebagian modal yang diutang atau diserahkan kemudian. Akad mudharabah mengharuskan hal itu. Aktivitas finansial (bisnis) yang diakadkan itu dilakukan terhadap modal dan hal itu langsung berlaku sejak akad dilangsungkan sehingga modal yang diakadkan seluruhnya harus diserahkan kepada mudharib

Adapun terkait ar-ribh (laba) maka harus diperhatikan:

-  Besarnya nisbah keuntungan yang menjadi bagian masing-masing syarik, baik pengelola maupun pemodal, harus disepakati.

> Besarnya nisbah laba itu dapat disepakati, baik dengan memerhatikan porsi andil masing-masing berupa tenaga maupun modal, atau pun tanpa memerhatikan hal itu.

> Besarnya laba tidak boleh ditentukan nilai nominalnya, tetapi hanya berupa nisbah atau prosentase atas laba.

> Jika ditentukan nilai nominalnya, menurut Ibn Qudamah dalam Syarh al-Kabîr, membuat akad mudharabah itu batil.

- Kerugian finansial hanya menjadi tanggungan modal.

Ali bin Abi Thalib berkata:
“Kerugian itu berdasarkan harta (modal), sedangkan keuntungan berdasarkan kesepakatan mereka (para mitra).” (HR Abdurraqaq dan Ibn Abi Syaibah)

Syirkah itu mencakup wakalah dan wakil tidak menjamin dan kerugian hanya ditanggung pihak yang mewakilkan, kecuali kerugian itu karena kesengajaan wakil. Selain itu, bagian laba dan tanggungan kerugian itu mengikuti andil. Badan tidak menanggung kerugian harta, melainkan merugi tenaga, waktu dan pikiran yang dicurahkan saja.

-  Pembagian laba dilakukan setelah dihitung rugi-labanya dan modal disisihkan (dikembalikan ke pemodal).

> Untuk itu harus ditentukan periode Syirkah, bisa per transaksi, harian, mingguan, bulanan, tahunan; sesuai dengan fakta bisnis dan mempertimbangkan kemaslahatan pengelola sebab ia bisa jadi bergantung pada pembagian laba itu sebagai penghasilannya.

> Jika akad mudharabah sempurna, maka konsekuensinya hak mengelola Syirkah itu hanya dimiliki oleh mudharib. Ia berhak menjalankan Syirkah itu sesuai pandangan dan pendapatnya sendiri. Pemodal tidak memiliki hak atas pengelolaan syirkah itu. Sebab, akad mudharabah itu terjadi atas badan pengelola dan harta pemodal, bukan atas badan pengelola dan pemodal sehingga pemodal menjadi seperti orang asing dari syirkah itu dan ia tidak berhak atas pengelolaan syirkah tersebut.

> Namun pemodal boleh menetapkan syarat-syarat atas pengelolaan syirkah itu pada saat akad. Mudharib wajib terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan itu dan tidak boleh menyalahinya sebab ia mengelola syirkah itu sesuai dengan izin sehingga ia terikat dengan izin yang diberikan.

> Mudharib tidak boleh bekerja kepada Syirkah yang ia kelola. Sebab, akad mudharabah itu terjadi atas badannya dan aktivitas pengelolaan syirkahitu menjadi konsekuensi dari akad tersebut.

> Namun, jika pekerjaan itu di luar cakupan aktivitas, pengelolaan syirkah dan tidak mengganggu pengelolaan syirkah maka orang yang menjadi mudharib itu boleh mengerjakannya dan mendapat upah. Misal, mengecat toko, sementara bisnis syirkah-nya adalah perdagangan.

> Adapun pemodal, ia boleh bekerja kepada syirkah yang ia modali itu. Sebab, badan pemodal itu tidak menjadi obyek akad Syirkah dan ia seperti orang asing dari syirkah itu.

Syirkah termasuk ‘aqd[un] jâiz[un] sehingga masing-masing boleh membatalkan akad syirkah mudharabah kapan saja. Jika salah seorang syarik meninggal maka akad syirkah itu batal.

Namun, harus diingat, akadsyirkah termasuk ‘aqd[un] mustamirr[un], secara otomatis diperbaharui seiring waktu. Jika satu periode syirkah berakhir, atau ada yang menarik diri, maka secara otomatis akad syirkah itu diperbarui untuk semua syarik yang tidak menarik diri.

d. Syirkah Al-wujûh

Syirkah wujûh disebut jugasyirkah ‘ala adz-dzimam (Al-Khayyath, Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah, 2/49). Disebut Syirkah wujûh karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujûh) seseorang di tengah masyarakat.

Syirkah wujûh adalah syirkah antara dua pihak (misal A dan B) yang sama-sama memberikan konstribusi kerja (‘amal), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang memberikan konstribusi modal (mâl). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah semacam ini hakikatnya termasuk dalam syirkah mudhârabah sehingga berlaku ketentuan-ketentuan syirkahmudhârabah
padanya (An-Nabhani, 1990: 154).

Bentuk kedua Syirkah wujûh adalah Syirkah antara dua pihak atau lebih yang ber-syirkah dalam barang yang mereka beli secara kredit, atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, tanpa konstribusi modal dari masing-masing pihak (An-Nabhani, 1990: 154). Misal: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B ber-syirkah wujûh, dengan cara membeli barang dari seorang pedagang (misalnya C) secara kredit. A dan B bersepakat, masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli. Lalu keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga pokoknya dikembalikan kepada C (pedagang).

Dalam syirkah wujûh kedua ini, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, bukan berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki; sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki, bukan berdasarkan kesepakatan. Syirkah wujûh kedua ini hakikatnya termasuk dalam syirkah ‘abdan. (An-Nabhani, 1990: 154).

Hukum kedua bentuk syirkahdi atas adalah boleh, karena bentuk pertama sebenarnya termasuk syirkah mudhârabah, sedangkan bentuk kedua termasuk syirkah ‘abdan. Syirkah mudhârabah dan syirkah‘abdan sendiri telah jelas kebolehannya
dalam syariat Islam. (An-Nabhani, 1990:154).

Namun demikian, An-Nabhani mengingatkan bahwa ketokohan (wujûh) yang dimaksud dalam Syirkah wujûh adalah kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah), bukan semata-semata ketokohan di masyarakat. Maka dari itu, tidak sah syirkah yang dilakukan seorang tokoh (katakanlah seorang menteri atau pedagang besar), yang dikenal tidak jujur, atau suka menyalahi janji dalam urusan keuangan. Sebaliknya, sah syirkah wujûh yang dilakukan oleh seorang biasa-biasa saja, tetapi oleh para pedagang dia dianggap memiliki kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah) yang tinggi, misalnya dikenal jujur dan tepat janji dalam urusan keuangan. (An-Nabhani, 1990: 155-156)

e. Syirkah Al-mufâwadhah

Syirkah mufâwadhah adalahsyirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (syirkah inân, ‘abdan, mudhârabah, dan wujûh). (An-Nabhani, 1990: 156; Al-Khayyath, 1982: 25)

Syirkah mufâwadhah dalam pengertian ini, menurut An-Nabhani adalah boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri, maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya. (An-Nabhani, 1990: 156)

Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis syirkah-nya; yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal (jika berupa syirkah inân), atau ditanggung pemodal saja (jika berupa syirkah mudhârabah), atau ditanggung mitra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang dimiliki (jika berupa syirkahwujûh).

Contoh: A adalah pemodal, berkonstribusi modal kepada B dan C, dua insinyur teknik sipil, yang sebelumnya sepakat, bahwa masing-masing berkonstribusi kerja. Kemudian B dan C juga sepakat untuk berkonstribusi modal, untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada B dan C.

Dalam hal ini, pada awalnya yang ada adalah syirkah‘abdan, yaitu ketika B dan C sepakat masing-masing ber-syirkah dengan memberikan konstribusi kerja saja.

Lalu, ketika A memberikan modal kepada B dan C, berarti di antara mereka bertiga terwujud syirkah mudhârabah. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C sebagai pengelola.

Ketika B dan C sepakat bahwa masing-masing memberikan konstribusi modal, di samping konstribusi kerja, berarti terwujud syirkah inân di antara B dan C.

Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud syirkah wujûh di antara B dan C.

Dengan demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan semua jenissyirkah yang ada, yang disebut syirkah mufâwadhah.

Kelima jenis syirkah itu adalah syirkah yang dibenarkan syariah Islam sepanjang memenuhi syarat-syarat dan hukum-hukumnya.

Sumber: Ekonomi Syariah (Islam)

Sabtu, 20 Mei 2017

Bahaya merokok di jalan raya

Keselamatan di jalan raya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nasib apes dialami seorang pengendara sepeda motor bernama Rendhy Maulana.

Melalui akun sosial media Facebook miliknya, dia bercerita kalau matanya nyaris buta akibat terkena bara abu rokok pengendara motor lain yang sedang merokok di kawasan Jakarta Timur.

Rendhy menceritakan bahwa awal mulanya ia tengah berkendara.

Tiba-tiba matanya terasa panas dan kesulitan melihat setelah terkena bara rokok pengendara lain.

Dalam akun di Facebook, Rendhy memperlihatkan matanya yang tengah diperban.

Menurut pemeriksaan dokter, matanya terkena iritasi hebat akibat abu rokok.

Dirinya tidak memperhatikan pengendara motor yang sedang merokok karena kejadian berlangsung cepat.

Beruntung, matanya masih dapat pulih dari luka tersebut.

Dalam postingannya Rendhy juga mengungkapkan untuk pengguna motor berhati-hati terutama untuk tidak merokok selama berkendara.

Dirinya mengatakan sudah mengenakan helm half face dengan kaca ditutup masih dapat kemasukan abu rokok.

Ini sindiran yang ditulisnya dan ditujukan kepada pengendara motor yang hobi merokok sambil berkendara.

"Terima kasih buat pengendara motor yang hobi merokok sambil berkendara. Bara api rokok Anda membahayakan orang lain. Self reminder, mendingan pakai helm full face + masker sekalian. For others, keep safety di jalan, sebisa mungkin hindari orang yang suka merokok sambil berkendara. Cheers. FYI: Saya sudah memakai helm half face + kaca ditutup, tetapi masih bisa kemasukan bara rokok," tulis Rendhy di akun Facebooknya.

Kejadian ini tentu menjadi pengingat bagi pengguna jalan raya yang lain bahwa faktor keselamatan orang lain sangat perlu diperhatikan selain keselamatan diri sendiri.

Penulis: Ahmad Sabran

Senin, 15 Mei 2017

Orang baik

1. Orang Baik cenderung lebih banyak tersenyum. Percaya atau tidak, kebaikan seseorang dapat ditunjukkan dari cara dia tersenyum. Mengapa? Karena semakin banyak orang tersenyum, maka aura positif akan bertebaran di sekitarnya. Selain itu, dengan tersenyum, orang akan terkesan lebih ramah & dapat dipercaya.

2. Pikiran-pikiran negatif seperti iri hati & dengki jarang menghinggapi orang baik. Orang baik akan selalu menanamkan pikiran positif dalam hidupnya. Bahkan saat dia mengalami masa-masa sulit sekalipun sehingga akan menyebarkan suasana nyaman.

3. Orang Baik biasanya lebih sering menyapa duluan. Orang baik tidak akan keberatan untuk menyapa semua orang, bahkan terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya sekalipun. Orang baik selalu terhindar dari rasa menjadi orang penting, ingin dicari dan dibutuhkan. Dia biasanya tidak membutuhkan pengakuan orang atas kinerjanya selama ini.

4. Orang baik tidak ingin menunjukkan bahwa dia baik. Tapi orang jahat akan selalu membangun citra baik untuk (kekurangan) dirinya.

5. Orang baik selalu pintar mengendalikan emosi. Mereka terlihat sangat sabar & toleran. Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri.

6. Orang baik akan bercerita atau membagikan hal-hal yang bermanfaat dengan tujuan memberi tahu. Bukan untuk menggiring opini publik bahwa hanya dirinyalah yang benar.

7. Orang baik selalu menghafal 3 kata sakti, yaitu maaf, tolong, dan terima kasih.

8. Orang baik tidak akan keberatan untuk mengakui kelebihan orang lain. Apalagi jika dia merasa bersalah. Mereka tidak akan segan-segan untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan. Berbeda dengan orang jahat yang memiliki gengsi tinggi & menganggap dirinya selalu benar. Jangankan mengaku salah, menganggap orang lain berprestasi saja gengsi, Ada saja alasan untuk mencari kesalahan serta untuk menjatuhkan orang lain. Semoga kita bisa melatih diri menjadi orang sabar dalam menghadapi setiap kejahatan dan perilaku orang jahat. "Memang baik menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik."

Semoga Bermanfaat

Disadur dari tulisan Gus Pur.

Minggu, 14 Mei 2017

Orang lain

Lahir ditolong oleh orang lain.
Nama diberikan oleh orang lain.
Pendidikan dipelajari dari orang lain.
Gaji diterima dari orang lain.
Kehormatan diberikan oleh orang lain.
Mandi pertama dilakukan oleh orang lain.
Mandi terakhir dilakukan oleh orang lain.
Pemakaman dilakukan oleh orang lain.
Harta setelah meninggal dunia menjadi hak orang lain.
Kekuasaan tidak selamanya karena akan digantikan oleh orang lain.

Ternyata sejak lahir hingga meninggal dunia kita selalu membutuhkan orang Lain.

Kita mulai sadar bahwa hidup ini membutuhkan bantuan orang lain, lalu dimana KEHEBATAN dan KESOMBONGAN kita?

Ternyata, kita bukanlah siapa-siapa tanpa bantuan ORANG LAIN.

Bersahabatlah dengan orang lain, tanpa melihat warna kulit, kelompok, kelas, atau golongan,  karena kita tidak tahu, kapan dan dimana, kita membutuhkan bantuan ORANG LAIN.

Dari orang lain yang membutuhkan bantuan orang lain.

Kedamaian dan Pembangunan Berkelanjutan

Tujuan ke-16 Pembangunan Berkelanjutan. Mempromosikan masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, memberikan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi yang efektif, bertanggung jawab dan inklusif di semua tingkatan.
Kami bertekad untuk menumbuhkan masyarakat yang damai, adil, dan inklusif yang bebas dari rasa takut dan kekerasan. Tidak akan ada pembangunan berkelanjutan tanpa perdamaian dan tidak ada perdamaian tanpa pembangunan berkelanjutan.
Agenda baru tersebut mengakui kebutuhan untuk membangun masyarakat yang damai, adil, dan inklusif yang memberikan akses keadilan yang setara dan didasarkan pada penghormatan terhadap hak asasi manusia (termasuk hak atas pembangunan), peraturan perundang-undangan yang efektif dan tata pemerintahan yang baik di semua tingkatan, transparan, efektif, dan akuntabel. Faktor-faktor yang menimbulkan kekerasan, ketidakamanan dan ketidakadilan, seperti ketidaksetaraan, korupsi, tata kelola yang buruk dan arus keuangan dan arus kas, dibahas dalam Agenda ini.
Kami berjanji untuk mendorong pemahaman antarbudaya, toleransi, rasa saling menghormati dan etika kewarganegaraan global dan tanggung jawab bersama. Kami mengakui keberagaman alam dan budaya dunia dan menyadari bahwa semua budaya dan peradaban dapat berkontribusi, dan merupakan pengungkit penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Sumber: Agenda 2030 Sustainable Development

Sabtu, 13 Mei 2017

Siapa melakukan apa dalam manajemen warisan budaya takbenda

THE WHO CAN DO WHAT IN MANAGING INTANGIBLE CULTURAL HERITAGE BASED ON THE CONVENTION 2003 

# Note 01 Konten
  • Siapa pemangku kepentingan?
  • Peran Negara Pihak
  • Peran Komunitas
  • Peran LSM dan pemangku kepentingan lain
  • Ikhtisar aktivitas

# Note 02 Siapa pemangku kepentingan?

  • Pemangku kepentingan meliputi Negara Pihak, yang dalam hal ini Pemerintah Republik Indonesia.
  • Komunitas adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; kelompok (sosial) adalah bagian dari komunitas yang tinggal di daerah tertentu; individu adalah seseorang yang merupakan bagian dari kelompok (sosial) yang tinggal di daerah tertentu.
  • LSM adalah kelompok sosial kemasyarakatan, peneliti, pusat kepakaran, dan lembaga penelitian. 

# Note 03 Peran Negara Pihak

  • Membuat dasar hukum dan kebijakan pelindungan warisan budaya takbenda secara nasional
  • Mengidentifikasi, mendefinisikan, dan menginventarisasi unsur-unsur warisan budaya takbenda Indonesia.
  • Memastikan pelindungan warisan budaya takbenda saat ini di wilayahnya.
  • Meningkatkan kesadaran tentang warisan budaya takbenda.

# Note 04 Kewajiban dalam Konvensi 2003

  • Memastikan langkah-langkah pelindungan warisan budaya takbenda di wilayahnya (Artikel 11a).
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan warisan budaya takbenda dengan partisipasi dari komunitas, kelompok dan LSM yang relevan dengan unsur warisan budaya takbenda (Artikel 11b).
  • Menyusun dan memperbarui pencatatan warisan budaya takbenda (Artikel 12.1).

# Note 05 Rekomendasi dalam Konvensi

  • Mengadopsi kebijakan umum (Artikel  13a) yang bertujuan untuk mempromosikan fungsi warisan budaya takbenda di masyarakat dan mengintegrasikan pelindungan warisan budaya takbenda ke dalam perencanaan program.
  • Mendirikan atau menunjuk lembaga yang akan bertugas melaksanakan pelindungan warisan budaya takbenda (Artikel 13b).
  • Mengembangkan penelitian (Artikel 13c)
  • Memastikan akses yang tepat terhadap warisan budaya takbenda (Artikel 14a)
  • Memastikan partisipasi komunitas (Artikel 15)

# Note 06 Rekomendasi dalam Petunjuk Pelaksanaan

  • Mendirikan badan koordinasi dan jejaring kerja sama (Petunjuk Pelaksanaan/ PL 79-80 dan 86).
  • Melakukan pembangunan kapasitas dan meningkatkan kesadaran di komunitas  (PL 81-82)
  • Membuat sebuah direktori kepakaran (PL 83)
  • Memfasilitasi akses komunitas pada penelitian (PL 85).

# Note 07 Rekomendasi lebih lanjut tentang Petunjuk Pelaksanaan

  • Mengadopsi kode etik yang sesuai dengan ketentuan Konvensi 2003 (PL 103).
  • Mengimplementasikan proteksi hukum secara tepat bagi komunitas (PL 104).
  • Menyebarluaskan informasi kepada publik tentang pentingnya dan ancaman terhadap warisana budaya takbenda, dan langkah-langkah yang dilakukan (PL 105).
  • Mempromosikan praktik-praktik pelindungan yang terbaik (PL 106).
  • Mendukung pendidikan formal dan non-formal tentang warisan budaya takbenda (PL 107).

# Note 08 Peran Negara Pihak di Tingkat Internasional

Kewajiban:
  • Membuat laporan kepada Komite (RL setiap 6 tahun, sedangkan USL setiap 4 tahun).
  • Membayar kontribusi untuk Dana Warisan Budaya Takbenda setiap 2 tahun yang besarnya ditetapkan dalam Sidang Umum (Artikel 26.1).

Hak lainnya:
  • Berpartisipasi di Badan-badan Konvensi, seperti Sidang Umum (General Assembly & Intergovernmental Committee) (Artikel 4-5).
  • Pertukaran internasional dan kerja sama, misalnya pertukaran pengalaman dan informasi, inisiatif bersama, kerja sama bilateral, subregional, regional, dan internasional (Artikel 19).
  • Mengajukan bantuan internasional (Artikel 23).
  • Mengusulkan berkas nominasi warisan budaya takbenda (Artikel 16-18).

# Note 09 Rekomendasi lanjutan dalam Petunjukan Pelaksanaan

Negara Pihak dapat bekerja sama dengan Negara Pihak lainnya:

  • dengan mengembangkan jejaring komunitas regional dan kepakaran untuk pelindungan warisan budaya yang dimiliki bersama (PL 86);
  • berbagi dokumentasi dengan pihak lainnya (PL 87).
  • Terlibat dalam kerja sama regional, misalnya melalui category 2 centres, misalnya di Jepang, China, dan Korea (PL 88) dan tentang warisan budaya takbenda yang dimiliki bersama.

# Note 10 Peran Komunitas (1)

Negara Pihak harus melibatkan kommunitas, kelompok, dan individu yang bersangkutan dalam: 

  • mengidentifikasi dan mendefinisikan warisan budaya takbenda (artikel 11b);
  • menginventori warisan budaya takbenda mereka (PL 80b);
  • Penyiapkan nominasi ke dalam daftar dan register (PL 1, 2, dan 7)
  • membangun dan mengimplementasikan rencana-rencana pelindungan untuk waisan budaya takbenda (artikel 15);
  • berbagai aktivitas untuk meningkatkan kesadaran terhadap warisan budaya takbenda (PL 101b).

# Note 11 Peran Komunitas (2)

Berbagai Komunitas, kelompok, dan individu terlibat dalam pelindungan warisan budaya takbenda mereka melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  • identifikasi
  • inventori
  • dokumentasi
  • penelitian
  • revitalisasi
  • memastikan akses di tempat-tempat dan bahan-bahan yang terkat dengan warisan budaya takbenda
  • transmisi melalui pendidikan
  • meningkatkan kesadaran

dengan bantuan badan-badan lain, bila diperlukan.

# Note 12 Saran-saran dalam Petunjuk Pelaksanaan

Berbagai komunitas, kelompok, individu yang bersangkutan harus berani:

  • membangun jejaring dengan berbagai komunitas lain (PL 79-86);
  • jejaring dengan ahli, pusat penelitian, LSM dll (PL 79-86);
  • kapasitas mereka diperkuat, bila diperlukan (PL 82)
  • pusat-pusat komunitas dan asosiasi-asosiasi (PL 108);

yang akan membantu mereka dalam pelindungan warisan budaya takbenda mereka.

# Note 13 Peran LSM dan Organisasi-organisasi lainnya: peran-peran yang dimungkinkan di tingkat nasional (1)

  • Meningkatkan kesadaran tentang waisan budaya takbenda (PL 109);
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan (PL 90).
  • Menginventori (PL 80)
  • Pelindungan (PL 90)
  • Penelitian (artikel 13c & PL 83).
  • Menyiapkan berkas nominasi (PL 96a).
  • Kolaborasi dan jejaring (PL 79 dan 86).
  • Pelatihan dalam pengelolaan warisan budaya takbenda dan pelindugan (PL 107).

# Note 14 Peran LSM dan Organisasi-organisasi lainnya: peran-peran yang dimungkinkan di tingkat nasional (2)

  • Beberapa peran khusus yang dilaksanakan oleh LSM yang terakreditasi dan para ahli individual (PL 26).
  • Seluruh LSM, ahli dan pusat-pusat kepakaran, lembaga-lembaga penelitian, dll dapat terlibat dalam jejaring internasional, kerja sama dan pertukaran dan boleh diundang pada rapat Komite untuk konsultasi (Artikel 8.4).

# Note 15 Akreditasi LSM

  • Sidang Umum telah mengakreditasi lebih dari 156 LSM sesuai Artikel 9 Konvensi.
  • Akrditasi LSM boleh diminta untuk membantu mengevaluasi nominasi dan permintaan bantuan dalam kerangka Badan Konsultatif (Consultative Body) (PL 26).

Website LSM dapat dilihat di 

http://www.ichngoforum.org

Minggu, 07 Mei 2017

Kesehatan

Dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991. Dokter Tan Shot Yen dikenal sebagai seorang dokter yang kritis dan sering diundang sebagai pembicara dan narasumber di berbagai seminar. Selain sebagai dokter, dia juga praktisi Braingym dan Quantum, serta Hypnoterapist.

Menurut Dr. Tan Shot Yen, "Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu 'bagaimana'. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda Cuma tanya 'bagaimana', Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?" urainya.

Wanita 45 tahun ini memang tak mau punya pasien yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya."Saya mau pasien yang taking ownership of their own body. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu? Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda." "Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar-benar sembuh? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya 'sakit apa' lalu berkata 'ini obatnya'? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskan asal usul penyakit. Pasien dalam hal ini mengamini saja, padahal pasien harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya, " jelas dr. Tan.

Sakit adalah Introspeksi

"Sakit adalah introspeksi." Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh ke belakang. Apa yang 'jalan' dan 'nggak jalan' selama ini? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Dalam fase inilah sesungguhnya peran dokter sangat diperlukan untuk membimbing pasien menemukan kesembuhannya dan tidak  hanya meninabobokan pasien dengan obat.

Menurut dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang sebagian besar akhirnya berakhir di atas kertas resep (habis untuk menebus obat – obatan). Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati-matian demi keperluan berobat salah satu anggota keluarga.

"Akibat perkembangan ilmu kedokteran – terutama setelah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah-pecah. Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi, dan kecerdasan spiritual. Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin. Kalau ada yang salah, kita pergi ke bengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama-sama sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan. Masalahnya, dokter punya arogansi profesi. Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar," tuturnya lugas.

Inilah beberapa tips sehat ala Dokter Tan.
Semua karbohidrat buruk seperti gula dan turunannya, terigu, beras dan pati, akan cepat diubah menjadi gula dan masuk dalam peredaran darah. Kalau ini terjadi terus-menerus, efek lanjutannya adalah menurunnya daya tahan tubuh, kegemukan, kolesterol, diabetes, dan penyempitan pembuluh darah.

Sebagai ganti karbohidrat buruk, sayur mentah dan beberapa jenis buah bisa menjadi menu yang mengenyangkan dan menyehatkan. Dengan makan sayur mentah dan buah, dijamin enzim berguna masih hidup dan semua vitamin serta antioksidannya tidak hilang. Porsinya tentu harus memadai, misalnya untuk makan siang (dengan takaran satu dinner plate): 1 ikat selada segar, 1 bh timun, 1 bh tomat, 1 bh alpukat, dan 1 bh apel. Sayuran yang kita konsumsi sebaiknya tidak dimasak, karena manfaatnya sudah tidak ada lagi (nilai gizi sudah hilang).

BUAH YANG BAIK untuk dimakan antara lain: apel, alpukat, dan pir. Buah lain seperti durian, mangga, pepaya, dan pisang sebaiknya dihindari karena kandungan gulanya tinggi. Satu lagi, sebaiknya buah dimakan langsung dan tidak diolah terlebih dulu seperti misalnya dijus. Karena dengan dijus, terjadi pengrusakan serat, sehingga yang Anda asup hanya gulanya saja.

BAHAN MAKANAN sebaiknya tidak digoreng, karena bisa menjadi racun dan merusak organ tubuh. Usahakan makanan dikukus atau dibakar. Jika dibakar, jangan lupa dialasi daun.

PRODUK KEDELAI yang baik adalah tempe, oncom dan tauco,  sedangkan susu kedelai, kecap dan tahu kurang bagus, karena bisa menjadi pencetus kanker.

BUAH JERUK BAIK UNTUK TUBUH, karena mengandung anti-oksidan, tapi jangan dicampur dengan air hangat atau panas, karena bisa berubah menjadi racun.

HINDARI MENGONSUMSI MAKANAN YANG TELAH MELEWATI PENGAWETAN atau dalam kaleng, karena bisa sebagai pencetus penyakit.

JANGAN PERNAH MERASA TUA, karena bisa membuat seluruh tubuh kita terasa semakin tua. Usia boleh tua, tapi pikiran dan semangat kita harus tetap muda, supaya seluruh energi positif mengaliri seluruh tubuh kita.

JIKA ANDA MERASA SAKIT seperti flu, hipertensi, kolesterol dan lain-lain, coba instropeksi makanan atau minuman apa saja yang telah Anda konsumsi sebelumnya, lalu hindari. Jangan hanya minum obat, tapi makanan buruk yang Anda asup tidak berubah.

JANGAN TERPAKU PADA PEMIKIRAN BAHWA SEHAT HANYA DARI MAKANAN DAN OLAHRAGA SAJA. Sehat yang sebenarnya adalah sehat secara makanan, sehat secara fisik (olahraga yang benar), dan sehat secara pikiran dan hati (iman). 

Entri yang Diunggulkan

Hidayah itu Haknya Allah

Masih saja ada yang mengatakan, bahwa ada bid'ah hasanah dalam Syariat Islam, padahal Imam Malik -rohimahulloh- yang dijuluki sebagai &...