Kamis, 18 Oktober 2018

Talut dan Jalut

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا  ۗ  قَالُوْۤا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۗ  قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮهُ عَلَيْکُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ ۗ  وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْکَهٗ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

wa qoola lahum nabiyyuhum innalloha qod ba'asa lakum thooluuta malikaa, qooluuu annaa yakuunu lahul-mulku 'alainaa wa nahnu ahaqqu bil-mulki min-hu wa lam yu`ta sa'atam minal-maal, qoola innallohashthofaahu 'alaikum wa zaadahuu basthotan fil 'ilmi wal-jism, wallohu yu`tii mulkahuu may yasyaaa`, wallohu waasi'un 'aliim

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Talut menjadi rajamu. Mereka menjawab, Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak? (Nabi) menjawab, Alloh telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Alloh memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Alloh Maha Luas, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 247)

Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqoroh, ayat 247

{وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (247) }

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Talut menjadi raja kalian." Mereka menjawab, "Bagaimana Talut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata, "Sesungguhnya Alloh telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa" Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Ketika mereka meminta kepada nabi mereka agar diangkat seorang raja buat mereka, maka Alloh menentukan Talut untuk menjadi raja mereka. Talut adalah seorang laki-laki dari kalangan prajurit mereka, bukan berasal dari keluarga raja mereka; karena raja mereka berasal dari keturunan Yahuza, sedang Talut bukan dari keturunannya. Karena itulah disebut oleh firman-Nya, bahwa mereka mengatakan:

{أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا}

Bagaimana Talut memerintah kami. (Al-Baqoroh: 247)

Dengan kata lain, mana mungkin Talut menjadi raja kami.

{وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ}

padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak? (Al-Baqoroh: 247)

Yakni selain dari itu Talut adalah orang yang miskin lagi tidak berharta yang dapat membantunya untuk menjadi seorang raja. Sebagian ulama mengatakan bahwa Talut adalah seorang pengangkut air. Menurut pendapat yang lain, Talut adalah penyamak kulit.

Ungkapan ini merupakan sanggahan mereka terhadap nabi mereka dan sekaligus sebagai suatu protes, padahal yang lebih utama bagi mereka hendaknya mereka taat dan mengucapkan kata-kata yang baik. Selanjutnya nabi mereka memberikan jawabannya yang disitir oleh firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ}

Sesungguhnya Alloh telah memilihnya menjadi raja kalian.(Al-Baqoroh: 247)

Yaitu Alloh-lah yang memilihnya menjadi raja kalian melalui nabi kalian. Alloh lebih mengetahui tentang Talut daripada kalian. Dengan kata lain, bukan aku yang menentukan Talut menjadi raja atas kemauanku sendiri, melainkan Alloh-lah yang memerintahkan kepadaku agar memilihnya di saat kalian meminta hal tersebut kepadaku.

{وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ}

dan (Alloh) menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. (Al-Baqoroh: 247)

Selain dari itu Talut lebih berilmu daripada kalian, lebih cerdik, lebih banyak akalnya daripada kalian, dan lebih kuat, lebih teguh dalam peperangan serta lebih berpengalaman mengenainya. Singkatnya, Talut lebih sempurna ilmunya dan lebih kuat tubuhnya daripada kalian. Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang raja hendaknya memiliki ilmu, bentuk, cakap, kuat, serta perkasa tubuh dan jiwanya. Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ}

Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqoroh: 247)

Artinya, Dialah yang berkuasa yang melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya dan Dia tidak diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah diperbuat-Nya, sedangkan mereka diharuskan mempertanggung-jawabkannya. Hal ini berkat ilmu dan kebijaksanaan-Nya serta belas kasihan-Nya kepada makhluk-Nya. Untuk itu dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}

Dan Alloh Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqoroh: 247)

Yakni Dia Mahaluas karunia-Nya, Dia mengkhususkan rahmat-Nya buat siapa yang dikehendaki-Nya, lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak menjadi raja dan siapa yang tidak berhak.

*******

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اٰيَةَ مُلْکِهٖۤ اَنْ يَّأْتِيَکُمُ التَّابُوْتُ فِيْهِ  سَکِيْنَةٌ مِّنْ رَّبِّکُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ اٰلُ مُوْسٰى وَاٰلُ هٰرُوْنَ  تَحْمِلُهُ الْمَلٰٓئِكَةُ  ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

wa qoola lahum nabiyyuhum inna aayata mulkihiii ay ya`tiyakumut-taabuutu fiihi sakiinatum mir robbikum wa baqiyyatum mimmaa taroka aalu muusaa wa aalu haaruuna tahmiluhul-malaaa`ikah, inna fii zaalika la`aayatal lakum ing kuntum mu`miniin

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb-mu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Alloh) bagimu jika kamu orang beriman."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 248)

Tafsir Ibnu Katsir:
QS  Al-Baqoroh, ayat 248

{وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (248) }

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepada kalian, di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb kalian dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, tabut itu dibawa oleh malaikat.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kalian, jika kalian orang yang beriman.

Nabi mereka berkata kepada mereka bahwa sesungguhnya alamat keberkatan Raja Talut kepada kalian ialah dengan dikembalikannya tabut kepada kalian oleh Alloh, yang sebelumnya telah direbut dari tangan kalian.

{فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ}

di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb kalian. (QS. Al-Baqoroh: ayat 248)

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan sakinah ialah ketenangan dan keagungan.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan. Menurut Ar-Rabi', sakinah artinya rahmat.

Hal yang sama dikatakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.

Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa ia pernah bertanya kepada Ata tentang makna firman-Nya: di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb kalian. (Al-Baqoroh: 248) Menurutnya ialah semua ayat Alloh yang kalian kenal dan kalian merasa tenang dengannya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Hasan Al-Basri.

Menurut suatu pendapat, sakinah adalah sebuah piala (gelas besar) dari emas yang dipakai untuk mencuci hati para nabi. Piala itu diberikan oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa kepada Nabi Musa a.s., maka piala tersebut dipakai untuk tempat menaruh lembaran-lembaran (kitab Taurat). Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahil, dari Abul Ahwas, dari Ali yang mengatakan bahwa sakinah mempunyai wajah seperti wajah manusia, kemudian merupakan angin yang wangi baunya lagi cepat tiupannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Hammad ibnu Salamah serta Abul Ahwas; semuanya dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur'urah, dari Ali yang mengatakan bahwa sakinah adalah angin kencang yang mempunyai dua kepala. Menurut Mujahid, sakinah mempunyai sepasang sayap dan ekor.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Wahb ibnu Munabbih, bahwa sakinah adalah kepala kucing yang telah mati; apabila mengeluarkan suara di dalam tabut (peti)nya, mereka yakin bahwa kemenangan akan mereka peroleh.

Abdur Razzaq mengatakan, Bakkar ibnu Abdullah pernah bercerita kepadanya bahwa ia pernah mendengar Wahb ibnu Munabbih mengatakan, "Sakinah adalah roh dari Alloh (ciptaan-Nya). Apabila mereka (kaum Bani Israil) berselisih pendapat dalam sesuatu hal, maka roh tersebut berkata kepada mereka menjelaskan apa yang mereka kehendaki."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ}

dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. (Al-Baqoroh: 248)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Musanna, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini. Yang dimaksud dengan peninggalan tersebut adalah tongkat Nabi Musa dan lembaran-lembaran lauh (Taurat). Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah, As-Saddi, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan Ikrimah. Ikrimah menambahkan bahwa selain dari itu ada kitab Taurat.

Abu Saleh mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan sisa dari peninggalan keluarga Musa. (Al-Baqarah: 248) Yakni tongkat Nabi Musa dan tongkat Nabi Harun serta dua lembar lauh kitab Taurat serta manna.

Atiyyah ibnu Sa'id mengatakan bahwa isinya adalah tongkat Musa dan Harun, baju Musa dan Harun, serta lembaran-lembaran lauh.

Abdur Razzaq mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada As-Sauri tentang makna firman-Nya: dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. (Al-Baqoroh: ayat 248) Maka As-Sauri mengatakan bahwa di antara mereka ada yang mengatakan bahwa peninggalan tersebut berupa adonan manna, lembaran lauh. Ada pula yang mengatakan bahwa peninggalan tersebut adalah tongkat dan sepasang terompah.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ}

tabut itu dibawa oleh malaikat.(QS. Al-Baqoroh: ayat 248)

Ibnu Juraij mengatakan, Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa malaikat datang seraya memikul tabut di antara langit dan bumi, hingga tabut itu diturunkan di hadapan Talut, sedangkan orang-orang menyaksikan peristiwa tersebut.

As-Saddi mengatakan bahwa pada pagi harinya tabut telah berada di tempat Talut, maka mereka beriman kepada kenabian Syam'un dan taat kepada Talut.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari As-Sauri, dari salah seorang di antara guru-gurunya, bahwa para malaikat datang membawa tabut itu yang dinaikkan di atas sebuah kereta yang ditarik oleh seekor lembu betina. Menurut pendapat yang lain, ditarik oleh dua ekor lembu betina.

Sedangkan yang lainnya menyebutkan bahwa tabut tersebut berada di Ariha; dan orang-orang musyrik ketika mengambilnya, mereka meletakkannya di tempat peribadatan mereka, yaitu di bawah berhala mereka yang paling besar. Akan tetapi, pada keesokan harinya tabut itu telah berada di atas kepala berhala mereka. Maka mereka menurunkannya dan meletakkannya kembali di bawah berhala itu, tetapi ternyata pada keesokan harinya terjadi hal yang sama. Maka mereka memakunya di bawah berhala mereka, tetapi yang terjadi ialah tiang-tiang penyangga berhala mereka runtuh dan ambruk jauh dari tempatnya.

Akhirnya mereka mengetahui bahwa hal tersebut terjadi karena perintah Alloh yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Maka mereka mengeluarkan tabut itu dari negeri mereka dan meletakkannya di salah satu kampung, tetapi ternyata penduduk kampung itu terkena wabah penyakit pada leher mereka. Kemudian salah seorang wanita tawanan dari kalangan kaum Bani Israil menganjurkan kepada mereka agar mengembalikan tabut itu kepada kaum Bani Israil agar mereka terhindar dari penyakit itu.

Maka mereka memuatkan tabut itu di atas sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor lembu betina, lalu kedua lembu itu berjalan membawanya; tiada seorang pun yang mendekatinya melainkan pasti mati. Ketika kedua ekor lembu betina itu telah berada di dekat negeri kaum Bani Israil, kendali kedua ekor lembu itu patah dan keduanya kembali. Lalu datanglah kaum Bani Israil mengambilnya.

Menurut suatu pendapat, yang menerimanya adalah Nabi Daud a.s.; dan ketika Nabi Daud mendekati kedua lembu itu, ia merasa malu karena gembiranya dengan kedatangan tabut itu. Menurut pendapat yang lain, yang menerimanya adalah dua orang pemuda dari kalangan mereka.

Menurut pendapat yang lainnya, tabut itu berada di sebuah kampung di negeri Palestina yang dikenal dengan nama Azduh.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ}

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kalian. (Al-Baqoroh: 248)

Yakni tanda yang membenarkan diriku terhadap apa yang aku sampaikan kepada kalian, yakni kenabianku; juga membenarkan apa yang aku perintahkan kepada kalian agar taat kepada Talut.

{إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

jika kalian orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqoroh: ayat 248)

Maksudnya, beriman kepada Alloh dan hari kemudian.

*******

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُـنُوْدِ ۙ  قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْکُمْ بِنَهَرٍ ۚ  فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْ ۚ  وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْۤ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً  ۢ بِيَدِهٖ ۚ  فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ  فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ  ۙ  قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ  قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ  کَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً کَثِيْرَةً ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ  وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

fa lammaa fashola thooluutu bil-junuudi qoola innalloha mubtaliikum binahar, fa man syariba min-hu fa laisa minnii, wa mal lam yath'am-hu fa innahuu minniii illaa manightarofa ghurfatam biyadih, fa syaribuu min-hu illaa qoliilam min-hum, fa lammaa jaawazahuu huwa wallaziina aamanuu ma'ahuu qooluu laa thooqota lanal-yauma bijaaluuta wa junuudih, qoolallaziina yazhunnuuna annahum mulaaqullohi kam min fi`ating qoliilatin gholabat fi`atang kasiirotam bi`iznillaah, wallohu ma'ash-shoobiriin

"Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, Alloh akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barang siapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Alloh berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 249)

Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqoroh, ayat 249

{فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (249) }

Maka tatkala Talut keluar membawa tentaranya, ia berkata, "Sesungguhnya Alloh akan menguji kalian dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, kecuali mencedok secedok tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Talut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, "Tidak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Alloh berkata, "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar."

Melalui ayat ini Alloh menceritakan perihal Talut —Raja kaum Bani Israil— ketika keluar bersama bala tentaranya dan orang-orang yang taat kepadanya dari kalangan kaum Bani Israil. Menurut apa yang dikatakan oleh As-Saddi, jumlah mereka ada delapan puluh ribu orang tentara. Talut berkata kepada mereka yang disitir oleh firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم [بِنَهَر] }

Sesungguhnya Alloh akan menguji kalian dengan suatu sungai, (Al-Baqoroh: 249)

Yakni Alloh akan menguji kesetiaan kalian dengan sebuah sungai. Menurut Ibnu Abbas, sungai tersebut terletak di antara negeri Yordania dan negeri Palestina, yaitu sebuah sungai yang dikenal dengan nama Syari'ah.

{فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي}

Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. (Al-Baqarah: 249)

Artinya, janganlah ia menemaniku sejak hari ini menuju ke arah ini.

{وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ}

Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali mencedok secedok tangan, maka ia adalah pengikutku. (Al-Baqoroh: 249)

Yakni tidak mengapa baginya.

Selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ}

Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. (Al-Baqoroh: 249)

Ibnu Juraij mengatakan, "Menurut Ibnu Abbas, barang siapa yang mencedok air dari sungai itu dengan secedok tangannya, maka ia akan kenyang; dan barang siapa yang meminumnya, maka ia tidak kenyang dan tetap dahaga."

Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi, dari Abu Malik,dari Ibnu Abbas; dikatakan pula oleh Qatadah dan Ibnu Syauzab.

As-Saddi mengatakan bahwa jumlah pasukan Talut terdiri atas delapan puluh ribu orang tentara. Yang meminum air sungai itu adalah tujuh puluh enam ribu orang, sehingga yang tersisa hanyalah empat ribu orang.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Israil dan Sufyan As-Sauri serta Mis'ar ibnu Kidam, dari Abu Ishaq As-Subai'i, dari Al-Barra ibnu Azib yang menceritakan bahwa kami menceritakan sahabat-sahabat Nabi Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam yang ikut dalam Perang Badar adalah tiga ratus lebih belasan orang, sesuai dengan jumlah sahabat Talut yang ikut bersamanya menyeberangi sungai. Tiada yang menyeberangi sungai itu bersama Talut melainkan hanya orang yang mukmin.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hal yang semisal dari Abdullah ibnu Raja, dari Israil ibnu Yunus, dari Abu Ishaq, dari kakeknya, dari Al-Barra.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ}

Maka tatkala Talut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, "Tidak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." (Al-Baqoroh: 249)

Yakni mereka mengundurkan dirinya, tidak mau menghadapi musuh karena jumlah musuh itu jauh lebih banyak. Maka para ulama dan orang-orang yang ahli perang membangkitkan semangat mereka, bahwa janji Alloh itu benar, dan sesungguhnya kemenangan itu dari sisi Alloh, bukan karena banyaknya bilangan, bukan pula karena perlengkapan senjata. Karena itulah disebutkan di dalam firman selanjutnya:

{كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ}

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqoroh: ayat 249)

*******

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَـالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَاۤ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْکٰفِرِيْنَ

wa lammaa barozuu lijaaluuta wa junuudihii qooluu robbanaaa afrigh 'alainaa shobrow wa sabbit aqdaamanaa wanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin

"Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, Ya Robb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 250)

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ  ۗ  وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰٮهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِکْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَآءُ  ۗ  وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰـکِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

fa hazamuuhum bi`iznillaah, wa qotala daawuudu jaaluuta wa aataahullohul-mulka wal-hikmata wa 'allamahuu mimmaa yasyaaa`, walau laa daf'ullohin-naasa ba'dhohum biba'dhil lafasadatil-ardhu wa laakinnalloha zuu fadhlin 'alal-'aalamiin

"Maka mereka mengalahkannya dengan izin Alloh, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian, Alloh memberinya (Dawud) kerajaan, dan Hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Alloh tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 251)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqoroh, ayat 250-252

{وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (250) فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ (251) تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (252) }

Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, "Ya Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Alloh dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Alloh memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Talut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Alloh. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.

Ketika tentara yang beriman yang berjumlah sedikit di bawah pimpinan Talut berhadap-hadapan dengan bala tentara Jalut yang berjumlah sangat besar itu, maka bala tentara Talut berdoa:

{قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا}

Ya Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami. (Al-Baqoroh: 250)

Yakni curahkanlah kepada kami kesabaran dari sisi-Mu.

{وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا}

dan kukuhkanlah pendirian kami.(Al-Baqoroh: ayat 250)

Yaitu dalam menghadapi musuh-musuh kami itu, dan jauhkanlah kami dari sifat pengecut dan lemah.

{وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ}

dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (Al-Baqoroh:250)

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ}

Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Alloh. (Al-Baqoroh: 251)

Maksudnya, mereka dapat mengalahkan dan menaklukkan musuhnya berkat pertolongan Alloh yang diturunkan kepada mereka.

{وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ}

dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut. (Al-Baqoroh: 251)

Disebutkan di dalam kisah israiliyat bahwa Daud membunuh Jalut dengan katapel yang ada di tangannya; ia membidiknya dengan katapel itu dan mengenainya hingga Jalut terbunuh. Sebelum itu Talut menjanjikan kepada Daud, bahwa jika Daud dapat membunuh Jalut, maka ia akan menikahkan Daud dengan anak perempuannya dan membagi-bagi kesenangan bersamanya serta berserikat dengannya dalam semua urusan. Maka Talut menunaikan janjinya itu kepada Daud. Setelah itu pemerintahan pindah ke tangan Daud a.s. di samping kenabian yang dianugerahkan Alloh kepadanya. Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

{وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ}

kemudian Alloh memberikan kepadanya pemerintahan. (Al-Baqoroh: 251)

Yakni yang tadi dipegang oleh Talut, kini beralih ke tangan Daud a.s.

{وَالْحِكْمَةَ}

dan hikmah. (Al-Baqoroh: 251)

Yang dimaksud dengan hikmah ialah kenabian, sesudah Syamuel.

{وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ}

dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqoroh: 251)

Yaitu segala sesuatu yang dikehendaki Alloh berupa ilmu yang khusus diberikan kepadanya. Kemudian dalam firman selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ}

Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Al-Baqoroh: 251)

Yakni seandainya Alloh tidak membela suatu kaum dari keganasan kaum yang lain seperti pembelaan-Nya kepada kaum Bani Israil melalui perang mereka bersama Talut dan didukung oleh Daud a.s., niscaya kaum Bani Israil akan binasa. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَواتٌ وَمَساجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيراً

Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja; dan rumah-rumah ibadat orang Yahudi serta masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Alloh. (Al-Hajj: 40), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan:

حَدَّثَنِي أَبُو حُمَيْدٍ الْحِمْصِيُّ أَحْمَدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ وَبَرَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ لَيَدْفَعُ بِالْمُسْلِمِ الصَالِحٍ عَنْ مِائَةِ أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِهِ الْبَلَاءَ". ثُمَّ قَرَأَ ابْنُ عُمَرَ: {وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ}

telah menceritakan kepadaku Abu Humaid Al-Himsi salah seorang dari kalangan Banil Mugirah), telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Riff ibnu Sulaiman, dari Muhammad ibnu Suqah, dari Wabrah ibnu Abdur Rahman. dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya Alloh benar-benar menolak wabah (penyakit) melalui seorang muslim yang sholih terhadap seratus keluarga dari kalangan para tetangganya. Kemudian Ibnu Umar membacakan firman-Nya: Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Al-Baqoroh: 251)

Sanad hadits ini dhoif, mengingat Yahya ibnu Sa'id yang dikenal dengan sebutan 'Ibnul Attar Al-Himsi' ini orangnya dhoif sekali.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبُو حُمَيْدٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ لَيُصْلِحُ بِصَلَاحِ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ وَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ وَأَهْلَ دُوَيْرَتِهِ وَدُوَيْرَاتٍ حَوْلَهُ، وَلَا يَزَالُونَ فِي حِفْظِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا دَامَ فِيهِمْ"

telah menceritakan kepada kami Abu Humaid Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abdur Rahman, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah bersabda: Sesungguhnya Alloh benar-benar akan memberikan kebaikan berkat kebaikan seorang laki-laki muslim kepada anaknya, cucunya, keluarganya, dan para ahli bait yang tinggal di sekitarnya. Dan mereka masih tetap berada dalam pemeliharaan Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa selagi laki-laki yang muslim itu berada di antara mereka.

Hadits ini pun dhoif lagi ghorib karena alasan yang telah disebutkan di atas.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، حَدَّثَنِي حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أسماء عن ثوبان –رفع الْحَدِيثَ-قَالَ: "لَا يَزَالُ فِيكُمْ سَبْعَةٌ بِهِمْ تُنْصَرُونَ وَبِهِمْ تُمْطَرُونَ وَبِهِمْ تُرْزَقُونَ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ"

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ismail ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abus Siman, dari Sauban tentang sebuah hadis marfu, yaitu: Masih tetap berada di antara kalian tujuh orang, berkat keberadaan mereka kalian mendapat pertolongan, berkat keberadaan mereka kalian mendapat hujan, dan berkat keberadaan mereka kalian diberi rezeki hingga datang perintah Alloh (yakni hari kiamat).

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula:

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرِ بْنِ يَزِيدَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاذٍ نَهَارُ بْنُ عُثْمَانَ اللَّيْثِيُّ أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ أَخْبَرَنِي عُمَرُ الْبَزَّارُ، عَنْ عَنْبَسَةَ الْخَوَاصِّ، عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي قِلابة عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْأَبْدَالُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ بِهِمْ تَقُومُ الْأَرْضُ، وَبِهِمْ تُمْطَرُونَ وَبِهِمْ تُنْصَرُونَ" قَالَ قَتَادَةُ: إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ الْحَسَنُ مِنْهُمْ

telah menceritakan pula kepada kami Muhammad ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Jarir ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'az, yaitu Nahar ibnu Mu'az ibnu Usman Al-Laisi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbah, telah menceritakan kepadaku Umar Al-Bazzar, dari Anbasah Al-Khawwas, dari Qatadah, dari Abu Qilabah, dari Abul Asy'as As-San'ani, dari Ubadah ibnus Samit yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam telah bersabda: Wali Abdal di kalangan umatku ada tiga puluh orang, berkat mereka kalian diberi rezeki, berkat mereka kalian diberi hujan, dan berkat mereka kalian mendapat pertolongan. Qatadah mengatakan, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga Al-Hasan (Al-Basri) adalah salah seorang dari mereka."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ}

Tetapi Alloh mempunyai karunia atas semesta alam. (Al-Baqoroh: 251)

Yakni Dialah yang memberikan karunia dan rahmat kepada mereka; dengan sebagian di antara mereka, maka tertolaklah keganasan sebagian yang lain. Bagi-Nyalah keputusan, hikmah, dan hujah atas makhluk-Nya dalam semua perbuatan dan ucapan-Nya. Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ}

Itu adalah ayat-ayat Alloh, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus. (Al-Baqoroh: 252)

Yaitu ayat-ayat Alloh yang Kami ceritakan kepadamu ini —yang menceritakan perihal orang-orang yang telah Kami sebutkan di dalamnya— merupakan perkara yang hak, yakni kejadian yang sesungguhnya dan sesuai dengan apa yang ada di dalam isi kitab kaum Bani Israil dan telah diketahui oleh semua ulama mereka.

{وَإِنَّكَ}

dan sesungguhnya kamu. (Al-Baqoroh: 252)

Khitab atau pembicaraan ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam

{لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ}

benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus. (QS. Al-Baqoroh: ayat 252)

Ungkapan ayat ini mengandung makna taukid (pengukuhan) dan mengandung qasam (sumpah).

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Rabu, 17 Oktober 2018

Jangan teperdaya

Keadaan mereka serba mewah, bergelimangan di dalam kenikmatan dan kekayaan serta kegembiraan.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِ

laa yaghurronnaka taqollubullaziina kafaruu fil-bilaad

"Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri."
(QS. Ali 'Imron 3: Ayat 196)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Ali Imron, ayat 196-198

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ (196) مَتاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْواهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهادُ (197) لكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها نُزُلاً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرارِ (198)

Janganlah sekali-kali kamu tepedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Robb-nya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedangkan mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Alloh. Dan apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman bahwa janganlah kamu memandang kepada keadaan orang-orang kafir yang serba mewah, bergelimangan di dalam kenikmatan dan kekayaan serta kegembiraan. Karena tidak lama kemudian hal itu pasti lenyap semuanya dari mereka, kemudian mereka disandera oleh amal perbuatan mereka yang buruk. Sesungguhnya Kami sengaja melakukan hal tersebut kepada mereka untuk memperdayakan mereka. Dan semua yang ada pada mereka:

{مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ}

Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (Ali Imran: 197)

Ayat ini sama maknanya dengan ayat yang lain, yaitu firman-Nya.

مَا يُجادِلُ فِي آياتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلادِ

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Alloh, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu, janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu. (QS. Al-Mu’min: ayat 4)

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتاعٌ فِي الدُّنْيا ثُمَّ إِلَيْنا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذابَ الشَّدِيدَ بِما كانُوا يَكْفُرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tidak beruntung. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. (Yunus: 69-70)

نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلى عَذابٍ غَلِيظٍ

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (Luqman: 24)

فَمَهِّلِ الْكافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْداً

Karena itu, beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. (At-Tariq: 17)

Yakni dalam waktu yang sebentar.

Dan firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa yang mengatakan:

أَفَمَنْ وَعَدْناهُ وَعْداً حَسَناً فَهُوَ لاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْناهُ مَتاعَ الْحَياةِ الدُّنْيا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga), lalu ia memperolehnya sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka). (Al-Qoshosh: 61)

*******

Demikianlah, setelah Alloh menuturkan keadaan orang-orang kafir dalam kehidupan dunia ini, Dia menuturkan bahwa tempat kembali mereka adalah neraka.  Maka dalam firman selanjutnya disebutkan:

{لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلأبْرَارِ}

Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Robb-nya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedangkan mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Alloh. Dan apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (QS. Ali Imron: ayat 198)

قَالَ ابْنُ مَرْدُويه: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَنْبَأَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّار، أَنْبَأَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَنَا عُبَيد الله بن الوليد الوصافي عَنْ مُحَارب بْنِ دِثَار، عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّمَا سُمّوا الْأَبْرَارَ لِأَنَّهُمْ بَرّوا الْآبَاءَ وَالْأَبْنَاءَ، كَمَا أَنَّ لِوَالِدَيْكَ عَلَيْكَ حَقًّا، كَذَلِكَ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ".

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Abu Tahir Sahl ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sa'id, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnul Walid Ar-Rassafi, dari Muharib ibnu Disar, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As, dari Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam yang telah bersabda: Sesungguhnya mereka dinamakan orang-orang yang berbakti, karena mereka berbakti kepada orang-orang tua dan anak-anaknya. Sebagaimana kedua orang  tuamu  mempunyai hak atas dirimu; maka demikian pula bagi anakmu, ada hak atas dirimu.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As secara marfu'.

Ibnu Abu Halim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Janab, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus, dari Abdullah ibnul Walid Ar-Rassafi, dari Muharib ibnu Disar, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh menamakan mereka orang-orang yang berbakti, karena mereka berbakti kepada ayah-ayah mereka, juga berbuat baik kepada anak-anak mereka. Sebagaimana kedua orang tuamu mempunyai hak atas dirimu, begitu pula anakmu mempunyai hak atas dirimu. Pendapat ini lebih mendekati kebenaran.

Selanjutnya Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam Ad-Dustuwa-i, dari seorang lelaki, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa orang-orang yang berbakti itu ialah mereka yang tidak pernah menyakiti keturunannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. dan Al-A'masy, dari Khaisamah, dari Al-Aswad yang menceritakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud pernah berkata, "Tidak sekali-kali diri orang yang berbakti dan tidak pula diri orang yang durhaka melainkan maut lebih baik baginya. Jika dia benar-benar orang yang berbakti, maka sesungguhnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa telah berfirman: "Dan apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti' (Ali Imron: 198)."

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Al-A’masy dengan lafaz yang sama, lalu ia membacakan firman-Nya:

{وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ}

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. Ali Imron: ayat 178)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna. telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Ja'far, dari Nuh ibnu Fudalah. dari Luqman dari Abu Darda, bahwa ia pernah mengatakan.”Tiada seorang mukmin pun melainkan mati lebih baik baginya. dan tiada seorang kafir pun melainkan mati lebih baik baginya. Barang siapa yang tidak percaya kepadaku, maka sesungguhnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa telah berfirman: "Dan apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (Ali Imran: 198). 'Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka dan bagi mereka azab yang menghinakan' (Ali Imron: 178)."

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Perihal doa qunut setelah rukuk roka'aat kedua pada sholat subuh.

Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim. (QS. Ali Imron: ayat 128) Pada akhirnya Alloh menerima tobat mereka semua.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

لَيْسَ لَكَ  مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ

laisa laka minal-amri syai`un au yatuuba 'alaihim au yu'azzibahum fa innahum zhoolimuun

"Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Alloh menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zhoolim."
(QS. Ali 'Imron 3: Ayat 128)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Imam Bukhori mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Salim, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan doa berikut ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk pada roka'aat yang kedua dari sholat Subuh: Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan. Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan doa tersebut sesudah membaca: Semoga Alloh mendengar (memperkenankan) bagi orang yang memuji-Nya. Ya Robb kami, bagi-Mu-lah segala puji. Maka Alloh menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: 128), hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui hadits Abdullah ibnul Mubarak dan Abdur Rozzaq, keduanya menerima hadits ini dari Ma'mar dengan lafaz yang sama.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْر، حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ -قَالَ أَحْمَدُ: وَهُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَقِيلٍ، صَالِحُ الْحَدِيثِ ثِقَةٌ-قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَر بْنُ حَمْزَةَ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ الْعَنْ فَلَانَا، اللَّهُمَّ الْعَنِ الْحَارِثَ بْنَ هِشامِ، اللَّهُمَّ الْعَنْ سُهَيلَ بنَ عَمْرو، اللَّهُمَّ الْعَنْ صَفْوانَ بْنَ أُمَيَّةَ". فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} فَتِيبَ عَلَيْهِمْ كُلِّهِمْ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil (Abdullah ibnu Aqil yang haditsnya baik lagi siqoh), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hamzah, dari Salim, dari ayahnya, bahwa ia telah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam bersabda: Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan. Ya Alloh, laknatilah Al-Haris ibnu Hisyam. Ya Alloh, laknatilah Suhail ibnu Amr. Ya Alloh, laknatilah Safwan ibnu Umayyah. Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim. (QS. Ali Imron: ayat 128) Pada akhirnya Alloh menerima tobat mereka semua.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah Al-Ala-i, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ajlan, dari Nafi', dari Abdullah, bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam sering mengucapkan doa untuk kebinasaan empat orang. Maka setelah itu Alloh menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128), hingga akhir ayat. Dan pada akhirnya Alloh memberi mereka petunjuk pada agama Islam, maka masuk Islamlah mereka.

Imam Bukhori   mengatakan bahwa   Muhammad ibnu Ajlan meriwayatkan dari Nafi', dari ibnu Amr r.a. yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam melaknat (mendoakan untuk kebinasaan) beberapa orang dari kaum musyrik yang beliau sebut nama-nama mereka satu per satu, hingga Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menurunkan ayat berikut ini: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128)

قَالَ الْبُخَارِيُّ أَيْضًا: حَدّثنا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْد، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المسيَّب، وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعو عَلَى أَحَدٍ -أَوْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ-قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ، وَرُبَّمَا قَالَ -إِذَا قَالَ: "سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ-: "اللَّهُمَّ انْجِ الْوَلِيد بْنَ الوليدِ، وسَلَمَة بْنَ هشَامٍ، وعَيَّاشَ بْنَ أبِي رَبِيعَةَ، وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَر، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسَنِيِّ يُوسُفَ". يَجْهَرُ بِذَلِكَ، وَكَانَ يَقُولُ -فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ-: "اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا" لِأَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ} الْآيَةَ

Imam Bukhori mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ibrohim ibnu Sa'd, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id ibnul Musayyah dan Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam bila hendak mendoakan untuk kebinasaan seseorang atau mendoakan untuk kebaikan seseorang, beliau melakukan qunut sesudah rukuk. Adakalanya Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa apabila beliau Shollalloohu'alaihi wasallam usai mengucapkan doa berikut: Semoga Alloh memperkenankan bagi orang yang memuji kepada-Nya. Wahai Robb kami, hanya bagi-Mulah segala puji. Maka beliau mengiringinya dengan bacaan berikut: Ya Alloh, selamatkanlah Al-Walid ibnul Walid, Salamah ibnu Hisyam, dan Iyasy ibnu Abu Rabi 'ah serta orang-orang yang lemah dari kaum mukmin. Ya Alloh, keraskanlah tekanan-Mu terhadap Mudar; dan jadikanlah tekanan-Mu terhadap mereka berupa paceklik seperti pacekliknya Nabi Yusuf. Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam membaca doa tersebut dengan mengeraskan bacaannya. Tersebutlah bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam dalam sebagian sholat Subuh sering mengucapkan doa berikut, yaitu: "Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan," ditujukan kepada beberapa kabilah dari kalangan orang-orang Arab, hingga Alloh menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128), hingga akhir ayat.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: قَالَ حُمَيْد وَثَابِتٌ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: شُجّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أحُد، فَقَالَ: "كَيْفَ يُفْلِحُ قُوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ؟ ". فَنَزَلَتْ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ}

Imam Bukhori mengatakan bahwa Humaid ibnu Sabit meriwayatkan dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam terluka pada wajahnya dalam Perang Uhud, lalu beliau bersabda: Bagaimana memperoleh keberuntungan suatu kaum yang berani melukai wajah nabi mereka? Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128)

Hadits ini sanadnya mu’alaq dalam shohih Al Bukhori.

Al Bukhori mengatakan dalam Bab Perang Uhud:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْد اللَّهِ السُّلَمِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ -أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدّثَني سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ -إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنَ الْفَجْرِ-: "اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلانًا" بَعْدَ مَا يَقُولُ: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ} [إِلَى قَوْلِهِ: {فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} ].

telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah As-Sulami, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Salim ibnu Abdullah, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan doa berikut sesudah mengangkat kepalanya dari rukuk pada roka'aat terakhir dari sholat Subuhnya, yaitu:  Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan serta si Fulan. Hal ini diucapkannya sesudah mengucapkan: Semoga Alloh memperkenankan bagi orang yang memuji kepada-Nya, wahai Robb kami, dan hanya bagi-Mulah segala puji. Maka Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: 128), hingga akhir ayat.

وَعَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ: سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى صفوانَ بْنِ أمَيّة، وسُهَيل بْنِ عَمْرٍو، وَالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ، فَنَزَلَتْ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ [أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ] فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ}

Diriwayatkan dari Hanzalah ibnu Abu Sufyan yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Salim ibnu Abdullah mengatakan, "Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah mendoakan kebinasaan yang ditujukan kepada Safwan ibnu Umayyah, Suhail ibnu Amr, dan Al-Haris ibnu Hisyam. Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: 'Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim (QS. Ali Imran: ayat 128)."

Demikianlah tambahan yang disebut oleh Imam Bukhori secara mu'allaqah dan mursalah. Hadits ini disebut secara musannadah lagi muttasilah dalam Musnad Imam Ahmad tadi.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيم، حَدَّثَنَا حُمَيد، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسرَتْ رَبَاعيتُهُ يومَ أُحدُ، وشُجَّ فِي جَبْهَتِهِ حَتَّى سَالَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِهِ، فَقَالَ: "كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ فَعَلُوا هَذَا بِنَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ، عَزَّ وَجَلَّ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ}

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas r.a., bahwa gigi seri Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam pernah rontok dalam Perang Uhud dan wajahnya terluka, hingga darah membasahi wajah beliau. Maka beliau bersabda: Bagaimana mendapai keberuntungan suatu kaum yang berani melakukan perbuatan ini kepada nabi mereka, padahal nabi mereka menyeru mereka untuk menyembah Robb mereka. Maka Alloh menurunkan firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim. (QS. Ali Imron: ayat 128)

Riwayat ini hanya diketengahkan oleh Imam Muslim sendiri. Dia meriwayatkannya dari Al-Qa'nabi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, lalu ia menuturkan hadits ini.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ وَاضِحٍ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ مَطَرٍ، عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: أُصِيبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ وكُسرت رَبَاعيته، وَفُرِقَ حَاجِبُهُ، فَوَقَعَ وَعَلَيْهِ دِرْعَانِ وَالدَّمُ يَسِيلُ، فَمَرَّ بِهِ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، فَأَجْلَسَهُ وَمَسَحَ عَنْ وَجْهِهِ، فَأَفَاقَ وَهُوَ يَقُولُ: "كَيْفَ بِقَوْمٍ فَعَلُوا هَذَا بِنَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللهِ؟ " فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ}

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Waqid, dari Matar, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam pernah mengalami luka dalam Perang Uhud hingga gigi serinya rontok dan alisnya terluka, lalu beliau terjatuh yang saat itu beliau memakai baju besi dua lapis, sedangkan darah mengalir dari lukanya. Maka Salim maula Abu Huzaifah menghampirinya dan mendudukkannya serta mengusap wajahnya. Lalu Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam sadar dan bangkit seraya mengucapkan:
Bagaimana akan memperoleh keberuntungan suaiu kaum yang berani melakukan ini terhadap nabi mereka? Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan demikian seraya mendoakan untuk kebinasaan mereka kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa. Maka Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128), hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Qatadah dengan lafaz yang semisal. Akan tetapi, di dalam riwayatnya tidak disebutkan fa'afaqa (lalu beliau sadar).

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

Selasa, 16 Oktober 2018

Semua urusan di dunia dan akhirat kembali kepada Alloh

Bahkan, urusan ampunan dan azab itu adalah urusan Alloh, tidak ada campur tangan manusia.

Hidup seseorang akan dinilai pada akhir hidupnya, apakah yang bersangkutan mendapat rahmat dan ampunan dari Alloh atau azab dari Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa?

Tugas Rosul hanya menyampaikan, sedangkan hidayah itu urusan Alloh.

Alloh berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Al-Qoshosh: 56)

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa mengalihkan khitab-Nya yang isinya menunjukkan bahwa kekuasaan di dunia dan akhirat hanya milik Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya. Untuk itu Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka. (QS. Ali Imron: 128)

Bahkan semua urusan itu hanyalah kembali kepada-Ku, seperti yang diungkapkan dalam ayat lain, Alloh berfirman:

فَإِنَّما عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسابُ

karena sesungguhnya   tugasmu hanya   menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab mereka. (Ar-Ra'd: 40)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُداهُمْ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Alloh-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqoroh: ayat 272)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka. (Ali Imron: 128)

Yakni tidak ada sedikit pun keputusanmu tentang hamba-hamba-Ku kecuali apa yang Aku perintahkan kepadamu terhadap mereka. Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menyebutkan bagian yang lainnya.

Untuk itu Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ

atau Alloh menerima tobat mereka. (QS. Ali Imron: ayat 128)

Yakni mengampuni kekufuran mereka dengan cara memberi mereka petunjuk sesudah mereka sesat.

أَوْ يُعَذِّبَهُمْ

atau mengazab mereka. (QS. Ali Imron: ayat 128)

Yakni di dunia dan akhirat karena kekufuran dan dosa-dosa mereka.

Karena itulah dalam penutup ayat tersebut Alloh berfirman:

فَإِنَّهُمْ ظالِمُونَ

karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim. (Ali Imran: 128)

Yakni mereka berhak untuk mendapatkannya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا حِبّان بْنُ مُوسى، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدَّثَنِي سَالِمٌ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ، إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الفجر اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلانًا وفُلانًا" بَعْدَ مَا يَقُولُ: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ" فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ} .

Imam Bukhori mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Salim, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan doa berikut ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk pada roka'aat yang kedua dari sholat Subuh: Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan. Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan doa tersebut sesudah membaca: Semoga Alloh mendengar (memperkenankan) bagi orang yang memuji-Nya. Ya Robb kami, bagi-Mu-lah segala puji. Maka Alloh menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: 128), hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui hadits Abdullah ibnul Mubarak dan Abdur Rozzaq, keduanya menerima hadits ini dari Ma'mar dengan lafaz yang sama.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْر، حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ -قَالَ أَحْمَدُ: وَهُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَقِيلٍ، صَالِحُ الْحَدِيثِ ثِقَةٌ-قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَر بْنُ حَمْزَةَ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ الْعَنْ فَلَانَا، اللَّهُمَّ الْعَنِ الْحَارِثَ بْنَ هِشامِ، اللَّهُمَّ الْعَنْ سُهَيلَ بنَ عَمْرو، اللَّهُمَّ الْعَنْ صَفْوانَ بْنَ أُمَيَّةَ". فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} فَتِيبَ عَلَيْهِمْ كُلِّهِمْ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil (Abdullah ibnu Aqil yang haditsnya baik lagi siqoh), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hamzah, dari Salim, dari ayahnya, bahwa ia telah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam bersabda: Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan. Ya Alloh, laknatilah Al-Haris ibnu Hisyam. Ya Alloh, laknatilah Suhail ibnu Amr. Ya Alloh, laknatilah Safwan ibnu Umayyah. Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim. (QS. Ali Imron: ayat 128) Pada akhimya Alloh menerima tobat mereka semua.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah Al-Ala-i, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ajlan, dari Nafi', dari Abdullah, bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam sering mengucapkan doa untuk kebinasaan empat orang. Maka setelah itu Alloh menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128), hingga akhir ayat. Dan pada akhirnya Alloh memberi mereka petunjuk pada agama Islam, maka masuk Islamlah mereka.

Imam Bukhori   mengatakan bahwa   Muhammad ibnu Ajlan meriwayatkan dari Nafi', dari ibnu Amr r.a. yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam melaknat (mendoakan untuk kebinasaan) beberapa orang dari kaum musyrik yang beliau sebut nama-nama mereka satu per satu, hingga Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menurunkan ayat berikut ini: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128)

قَالَ الْبُخَارِيُّ أَيْضًا: حَدّثنا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْد، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المسيَّب، وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعو عَلَى أَحَدٍ -أَوْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ-قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ، وَرُبَّمَا قَالَ -إِذَا قَالَ: "سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ-: "اللَّهُمَّ انْجِ الْوَلِيد بْنَ الوليدِ، وسَلَمَة بْنَ هشَامٍ، وعَيَّاشَ بْنَ أبِي رَبِيعَةَ، وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَر، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسَنِيِّ يُوسُفَ". يَجْهَرُ بِذَلِكَ، وَكَانَ يَقُولُ -فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ-: "اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا" لِأَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ} الْآيَةَ

Imam Bukhori mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ibrohim ibnu Sa'd, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id ibnul Musayyah dan Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam bila hendak mendoakan untuk kebinasaan seseorang atau mendoakan untuk kebaikan seseorang, beliau melakukan qunut sesudah rukuk. Adakalanya Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa apabila beliau Shollalloohu'alaihi wasallam usai mengucapkan doa berikut: Semoga Alloh memperkenankan bagi orang yang memuji kepada-Nya. Wahai Robb kami, hanya bagi-Mulah segala puji. Maka beliau mengiringinya dengan bacaan berikut: Ya Alloh, selamatkanlah Al-Walid ibnul Walid, Salamah ibnu Hisyam, dan Iyasy ibnu Abu Rabi 'ah serta orang-orang yang lemah dari kaum mukmin. Ya Alloh, keraskanlah tekanan-Mu terhadap Mudar; dan jadikanlah tekanan-Mu terhadap mereka berupa paceklik seperti pacekliknya Nabi Yusuf. Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam membaca doa tersebut dengan mengeraskan bacaannya. Tersebutlah bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam dalam sebagian sholat Subuh sering mengucapkan doa berikut, yaitu: "Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan," ditujukan kepada beberapa kabilah dari kalangan orang-orang Arab, hingga Alloh menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128), hingga akhir ayat.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: قَالَ حُمَيْد وَثَابِتٌ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: شُجّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أحُد، فَقَالَ: "كَيْفَ يُفْلِحُ قُوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ؟ ". فَنَزَلَتْ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ}

Imam Bukhori mengatakan bahwa Humaid ibnu Sabit meriwayatkan dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam terluka pada wajahnya dalam Perang Uhud, lalu beliau bersabda: Bagaimana memperoleh keberuntungan suatu kaum yang berani melukai wajah nabi mereka? Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128)

Hadits ini sanadnya mu’alaq dalam shohih Al Bukhori.

Al Bukhori mengatakan dalam Bab Perang Uhud:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْد اللَّهِ السُّلَمِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ -أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدّثَني سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ -إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنَ الْفَجْرِ-: "اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلانًا" بَعْدَ مَا يَقُولُ: "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ} [إِلَى قَوْلِهِ: {فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} ].

telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah As-Sulami, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Salim ibnu Abdullah, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan doa berikut sesudah mengangkat kepalanya dari rukuk pada roka'aat terakhir dari sholat Subuhnya, yaitu:  Ya Alloh, laknatilah si Fulan dan si Fulan serta si Fulan. Hal ini diucapkannya sesudah mengucapkan: Semoga Alloh memperkenankan bagi orang yang memuji kepada-Nya, wahai Robb kami, dan hanya bagi-Mulah segala puji. Maka Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: 128), hingga akhir ayat.

وَعَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ: سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى صفوانَ بْنِ أمَيّة، وسُهَيل بْنِ عَمْرٍو، وَالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ، فَنَزَلَتْ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ [أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ] فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ}

Diriwayatkan dari Hanzalah ibnu Abu Sufyan yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Salim ibnu Abdullah mengatakan, "Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah mendoakan kebinasaan yang ditujukan kepada Safwan ibnu Umayyah, Suhail ibnu Amr, dan Al-Haris ibnu Hisyam. Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: 'Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim (QS. Ali Imran: ayat 128)."

Demikianlah tambahan yang disebut oleh Imam Bukhori secara mu'allaqah dan mursalah. Hadits ini disebut secara musannadah lagi muttasilah dalam Musnad Imam Ahmad tadi.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيم، حَدَّثَنَا حُمَيد، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسرَتْ رَبَاعيتُهُ يومَ أُحدُ، وشُجَّ فِي جَبْهَتِهِ حَتَّى سَالَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِهِ، فَقَالَ: "كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ فَعَلُوا هَذَا بِنَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ، عَزَّ وَجَلَّ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ}

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas r.a., bahwa gigi seri Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam pernah rontok dalam Perang Uhud dan wajahnya terluka, hingga darah membasahi wajah beliau. Maka beliau bersabda: Bagaimana mendapai keberuntungan suatu kaum yang berani melakukan perbuatan ini kepada nabi mereka, padahal nabi mereka menyeru mereka untuk menyembah Robb mereka. Maka Alloh menurunkan firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Alloh menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhoolim. (QS. Ali Imron: ayat 128)

Riwayat ini hanya diketengahkan oleh Imam Muslim sendiri. Dia meriwayatkannya dari Al-Qa'nabi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, lalu ia menuturkan hadits ini.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ وَاضِحٍ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ مَطَرٍ، عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: أُصِيبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ وكُسرت رَبَاعيته، وَفُرِقَ حَاجِبُهُ، فَوَقَعَ وَعَلَيْهِ دِرْعَانِ وَالدَّمُ يَسِيلُ، فَمَرَّ بِهِ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، فَأَجْلَسَهُ وَمَسَحَ عَنْ وَجْهِهِ، فَأَفَاقَ وَهُوَ يَقُولُ: "كَيْفَ بِقَوْمٍ فَعَلُوا هَذَا بِنَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللهِ؟ " فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ}

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Waqid, dari Matar, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam pernah mengalami luka dalam Perang Uhud hingga gigi serinya rontok dan alisnya terluka, lalu beliau terjatuh yang saat itu beliau memakai baju besi dua lapis, sedangkan darah mengalir dari lukanya. Maka Salim maula Abu Huzaifah menghampirinya dan mendudukkannya serta mengusap wajahnya. Lalu Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam sadar dan bangkit seraya mengucapkan:
Bagaimana akan memperoleh keberuntungan suaiu kaum yang berani melakukan ini terhadap nabi mereka? Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan demikian seraya mendoakan untuk kebinasaan mereka kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa. Maka Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (QS. Ali Imron: ayat 128), hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Qatadah dengan lafaz yang semisal. Akan tetapi, di dalam riwayatnya tidak disebutkan fa'afaqa (lalu beliau sadar).

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

Masa kejayaan dan kehancuran

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, pada¬hal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang sabar.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ  ۗ  وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ۚ  وَلِيَـعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَآءَ ۗ  وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

iy yamsaskum qor-hun fa qod massal-qouma qor-hum misluh, wa tilkal-ayyaamu nudaawiluhaa bainan-naas, wa liya'lamallohullaziina aamanuu wa yattakhiza mingkum syuhadaaa`, wallohu laa yuhibbuzh-zhoolimiin

"Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Alloh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Alloh tidak menyukai orang-orang zhoolim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 140)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Ali imron, ayat 137-143

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (137) هَذَا بَيانٌ لِلنَّاسِ وَهُدىً وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138) وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (139) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُداوِلُها بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَداءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (140) وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكافِرِينَ (141) أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ (142) وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (143)

Sesungguhnya telah
berlalu sebelum kalian 
sunnah-sunnah Alloh Karena itu. berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rosul-rosul). (Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kalian bersikap lemah, dan jangan (pula) kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman. Jika kalian (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Alloh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kalian dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang zhoolim, dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, pada¬hal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kalian mengharapkan mati (syahid) sebelum kalian menghadapinya; (sekarang) sungguh kalian telah melihatnya dan kalian menyaksikannya.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman, ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin ketika mereka mengalami musibah dalam Perang Uhud hingga tujuh puluh orang di antara mereka gugur.

{قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ}

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah Alloh. (QS. Ali Imron: ayat 137)

Yakni telah berlalu hal yang seperti ini di kalangan umat-umat sebelum kalian, yaitu mereka yang mengikuti nabi-nabi. Tetapi pada akhirnya akibat yang terpuji adalah bagi mereka, sedangkan kekalahan dialami oleh orang-orang kafir. Karena itulah maka dalam firman selanjutnya disebutkan:

{فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ}

Karena itu, berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).(QS. Ali Imran: ayat 137)

*******

Selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ}

(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia. (QS. Ali Imron: 138)

Yaitu di dalam Al-Qur'an ini terkandung penjelasan semua perkara secara gamblang perihal apa yang dialami oleh umat-umat terdahulu bersama musuh-musuh mereka.

{وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ}

dan petunjuk serta pelajaran. (Ali Imran: 138)

Artinya, di dalam Al-Qur'an terkandung berita umat-umat sebelum kalian, petunjuk bagi hati kalian, serta peringatan bagi kalian agar kalian menghindari hal-hal yang diharamkan dan semua perbuatan dosa.

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman menghibur hati kaum mukmin:

{وَلا تَهِنُوا}

Janganlah kalian bersikap lemah. (QS. Ali Imron: ayat 139)

Yakni janganlah kalian menjadi lemah dan patah semangat karena apa yang baru kalian alami.

{وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

dan jangan (pula) kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imron: ayat 139)

Maksudnya, akibat yang terpuji dan kemenangan pada akhirnya akan kalian peroleh, wahai orang-orang mukmin.

*******

{إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ}

Jika kalian mendapat luka, maka sesungguhnya kaum itu pun mendapat luka yang serupa. (QS. Ali Imran: ayat 140)

Yakni apabila kalian mengalami luka dan sejumlah orang dari kalian ada yang gugur, maka sesungguhnya musuh-musuh kalian pun pernah mengalami nasib yang serupa, yaitu ada yang terbunuh dan ada yang terluka dalam perang sebelumnya.

{وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ}

Dan masa-masa itu, Kami pergilirkan di antara manusia. (QS. Ali Imran: ayat 140)

Yaitu Kami pergilirkan kemenangan itu bagi musuh kalian atas diri kalian dalam sesekali waktu, sekalipun pada akhirnya akibat yang terpuji kalian peroleh, juga kemenangan. Kami lakukan demikian itu karena kebijaksanaan Kami yang mengandung hikmah (buat kalian). Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا}

dan supaya Alloh membedakan orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: ayat 140)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa dalam kondisi seperti itu kita dapat melihat siapa yang bersabar dan teguh dalam menghadapi musuh-musuh.

{وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ}

dan supaya sebagian kalian dijadikan-Nya sebagai syuhada. (QS. Ali Imran: ayat 140)

Yakni agar sebagian dari kalian gugur di jalan-Nya dan mengorbankan jiwanya untuk memperoleh keridhoan-Nya.

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ. وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا}

Dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang zhoolim, dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imron: ayat 140-141)

Yaitu menghapuskan dosa-dosa mereka jika mereka mempunyai dosa. Jika mereka tidak mempunyai dosa, maka derajat mereka ditinggikan sesuai dengan musibah yang telah menimpanya.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ}

dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. Ali Imron: ayat 141)

Karena sesungguhnya apabila mereka memperoleh kemenangan, niscaya mereka akan bertindak sewenang-wenang dan congkak. Hal tersebut menjadi penyebab bagi kehancuran dan kebinasaan mereka, hingga lenyaplah mereka.

*******

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ}

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Alloh  orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imron: ayat 142)

Yakni apakah kalian mengira bahwa kalian masuk surga, sedangkan kalian belum mendapat ujian melalui peperangan dan keadaan-keadaan yang susah, seperti halnya yang disebutkan di dalam surat Al-Baqoroh, melalui firman-Nya:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْساءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan). (Al-Baqoroh: 214), hingga akhir ayat.

Juga seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Alif Lam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji lagi? (Al-'Ankabut: 1-2)

Karena itu, maka dalam surat Ali Imron ini disebutkan melalui firman-Nya:

{أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ}

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 142)

Yakni kalian tidak dapat masuk surga sebelum diuji dan Alloh melihat di antara kalian ada orang-orang yang berjihad di jalan-Nya, dan bersabar dalam melawan musuh-musuh Alloh.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ}

Sesungguhnya kalian mengharapkan mati (syahid) sebelum kalian menghadapinya; (sekarang) sungguh kalian telah melihatnya dan kalian menyaksikannya. (Ali Imran: 143)

Yaitu sesungguhnya dahulu kalian, hai orang-orang mukmin, sebelum perang ini selalu mengharapkan agar bersua dengan musuh-musuh; dan kalian bersemangat menyala-nyala untuk menghadapinya, serta kalian bertekad bulat untuk melangsungkan peperangan dan bersabar dalam menghadapi mereka. Sekarang telah terjadi apa yang selama ini kalian dambakan dan harapkan. Karena itu, berperanglah kalian dan bersabarlah.

Telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah bersabda:

"لَا تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ، فَإذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا، وَاعْلَمُوا أنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلالِ السُّيُوفِ"

Janganlah kalian mengharapkan bersua dengan musuh, tetapi mintalah keselamatan kepada Alloh; dan apabila kalian bersua dengan mereka, maka bersabarlah (teguhkanlah hati kalian). Dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah naungan pedang.

Karena itu, dalam ayat ini disebutkan:

{فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ}

Sungguh kalian telah melihatnya. (QS. Ali Imran: ayat 143)

yakni kalian telah menyaksikan maut merenggut nyawa di saat tombak-tombak yang tajam beradu dan pedang berkilatan serta barisan pasukan terlibat dalam pertempuran sengit. Hal tersebut keadaannya tidaklah seperti yang digambarkan oleh orang-orang yang ahli bicara karena mereka menggambarkan hal ini hanya berdasarkan imajinasi belaka, bukan berdasarkan kesaksian mata. Gambaran mereka diserupakan dengan kejadian yang dapat disaksikan dengan mata kepala, perihalnya sama dengan imajinasi watak kambing yang pengertianya menunjukkan sikap berteman, sedangkan kalau gambaran serigala menggambarkan tentang permusuhan.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Senin, 15 Oktober 2018

Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja di dunia?

“Apakah manusia mengira, ia akan dibiarkan begitu saja?“
(Al Qiyamah: 36)

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?"
"Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Alloh pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 2-3)

Manusia tidak dibiarkan begitu saja di dunia,  tidak diperintah dan tidak dilarang. Begitu pula mereka tidak dibiarkan begitu saja di alam kubur. Mereka diberi perintah dan larangan di dunia, dan mereka dikumpulkan (dan dibangkitkan) di hadapan Alloh di hari akhirat. Yang dimaksud dalam ayat ini penetapan adanya janji Alloh sekaligus bantahan bagi orang-orang yang menyimpang, serta para penentang yang mengingkari hal-hal tersebut. (Ibnu Katsir)

Tujuan penciptaan jin dan manusia

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(Adz Dzariyat: 56)

Apakah pantas menjadikan iblis dan keturunannya sebagai pemimpin?

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Robb-nya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Alloh) bagi orang yang zhoolim."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 50)

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
"(Iblis) menjawab, Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 16)

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
"Sungguh, syaithoon itu musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 168)

Sebagian besar ahli kitab ingin mengembalikanmu pada kekafiran karena dengki

Alloh Ta’aalaa berfirman:
Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu pada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. (QS. Al-Baqoroh, 2: ayat 109).

Alloh berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (QS. Ali ‘Imran 3: ayat 100).

Orang-orang yang melampaui batas

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
"Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 190)

Mendamaikan sesama mukmin yang berselisih

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Alloh agar kamu mendapat rahmat."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam diutus sebagai  rahmat bagi seluruh alam

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Sumber:
Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Tafsir Ibnu Katsir

Sabtu, 13 Oktober 2018

Sebagian siksa di dunia dan azab yang lebih besar di akhirat

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

wa lanuziiqonnahum minal-'azaabil-adnaa duunal-'azaabil-akbari la'allahum yarji'uun

"Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 21)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Tafsir Ibnu Katsir
As-Sajdah, ayat 18-22

{أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ (18) أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (19) وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (20) وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (21) وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ (22) }

Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)?
Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholih, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robb-nya, kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menceritakan tentang keadilan dan kemuliaan-Nya, bahwa di hari kiamat kelak Dia tidak akan menyamakan keputusan hukum-Nya antara orang yang beriman kepada ayat-ayat-Nya lagi mengikuti rosul-rosul-Nya dan orang yang fasik. Yang dimaksud dengan orang fasik ialah orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada Robb-nya lagi mendustakan rosul-rosul Alloh yang diutus kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ}

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jasiyah: 21)

{أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الأرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ}

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (Sad: 28)

Dan firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ}

Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. (Al-Hasyr: 20), hingga akhir ayat.

Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ}

Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)?
Mereka tidak sama. (As-Sajdah: 18)

Artinya, mereka tidak sama kelak di sisi Alloh pada hari kiamat.

Ata ibnu Yasar dan As-Saddi serta selain keduanya telah menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ali ibnu Abu Talib dan Uqbah ibnu Abu Mu'it. Karena itulah maka diputuskan perkara mereka melalui firman-Nya:

{أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholih. (As-Sajdah: 19)

Hatinya membenarkan ayat-ayat Alloh dan mengamalkan sesuai dengan petunjuknya, yaitu amal-amal yang sholih.

{فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى}

maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman. (As-Sajdah: 19)

Yakni surga-surga yang di dalamnya terdapat tempat-tempat tinggal, gedung-gedung, dan rumah-rumah yang tinggi-tinggi.

{نُزُلًا}

sebagai pahala. (As-Sajdah: 19)

Maksudnya, sebagai sajian dan kehormatan.

{بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا}

terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik. (As-Sajdah: 19-20)

Yaitu orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan.

{فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا}

tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya. (As-Sajdah: 20)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا} الْآيَةَ

Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Al-Hajj: 22), hingga akhir ayat.

Al-Fudail ibnu Iyad mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya tangan-tangan mereka benar-benar terikat dan kaki-kaki mereka benar-benar terbelenggu, dan sesungguhnya luapan api neraka mengangkat mereka dan para malaikat memukuli mereka dengan pemukul."

{وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ}

dan dikatakan kepada mereka, "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.”
(As-Sajdah: 20)

Dikatakan hal itu kepada mereka dengan nada kecaman dan celaan.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ }

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). (As-Sajdah: 21)

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan azab yang dekat ialah musibah-musibah di dunia, segala macam penyakit dan malapetakanya, serta semua cobaan yang menimpa keluarganya, berupa cobaan yang biasa Alloh ujikan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka bertobat kepada-Nya.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka'b, Abul Aliyah, Al-Hasan, Ibrahim An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Alqamah, Atiyyah, Mujahid, Qatadah, Abdul Karim Al-Jazari, dan Khasif. Ibnu Abbas mengatakan menurut suatu riwayat yang bersumber darinya, bahwa yang dimaksud dengan azab yang dekat ialah ditegakkannya hukuman-hukuman had atas mereka.

Al-Barra ibnu Azib, Mujahid, dan Abu Ubaidah mengatakan, yang dimaksud ialah azab kubur.

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas dan Abu Ubaidah, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). (As-Sajdah: 21)  Yang dimaksud dengan azab ialah paceklik yang melanda mereka.

Abdullah putra Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Umar Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Syu'bah, dari Qatadah, dari Urwah, dari Al-Hasan Al-'Aufi, dari Yahya ibnul Jazzar dari Ibnu Abu Laila, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di. dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat). (As-Sajdah: 21) Rembulan dan asap telah berlalu? dan pukulan serta azab yang pasti.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang mauquf dan lafaz yang semisal. Pada Imam Bukhori disebutkan melalui Ibnu Mas'ud hal yang semisal.

Abdullah ibnu Mas'ud telah mengatakan pula menurut suatu riwayat yang bersumber darinya, bahwa azab yang dekat ialah musibah yang menimpa mereka dalam Perang Badar, yaitu ada yang terbunuh dan ada yang ditawan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Malik, dari Zaid ibnu Aslam.

As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa tiada suatu rumah pun di Mekah melainkan tertimpa kesedihan karena kematian atau tertawannya orang-orang mereka. Maka mereka tertimpa musibah kematian atau musibah menebus tawanan mereka, dan sebagian dari mereka ada yang tertimpa kedua musibah tersebut.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا}

Dan siapakah yang lebih zhoolim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robb-nya, kemudian ia berpaling darinya? (As-Sajdah: 22)

Yakni tidak ada orang yang lebih aniaya daripada orang yang diperingati oleh ayat-ayat Alloh, dan dijelaskan dengan terang ayat-ayat itu kepadanya, kemudian ia berpaling darinya dan meninggalkannya serta mengingkarinya dan berpura-pura melupakannya seakan-akan ia tidak mengenalnya. Qatadah mengatakan bahwa jangan sekali-kali kamu berpaling dari dzikrulloh, karena sesungguhnya barang siapa yang berpaling dari berzikir kepada-Nya, sesungguhnya dia telah terpedaya sangat parah, sangat memerlukan pertolongan, dan melakukan dosa yang besar. Karena itulah maka Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa mengancam orang yang berbuat demikian melalui firman-Nya:

{إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ}

Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (As-Sajdah: 22)

Maksudnya, Aku akan membalas orang yang berbuat demikian dengan pembalasan yang keras.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ بَكَّارٍ الكِلاعي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيّ، عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ أَجْرَمَ، مَنْ عَقَدَ لِوَاءً فِي غَيْرِ حَقٍّ، أَوْ عقَّ وَالِدَيْهِ، أَوْ مَشَى مَعَ ظَالِمٍ يَنْصُرُهُ، فَقَدْ أَجْرَمَ، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ}

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar Al-Kala'i, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ibnu Iyasy, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdullah, dari Ubadah ibnu Nasiya, dari Junadah ibnu Umayyah, dari Mu'az ibnu Jabal yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam bersabda: Ada tiga macam perbuatan, barang siapa yang melakukannya berarti dia telah melakukan dosa, yaitu barang siapa yang membentuk suatu panji tanpa hak, atau menyakiti kedua orang tuanya atau berjalan bersama orang zhoolim membantuinya, maka sesungguhnya dia telah berdosa. Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa telah berfirman, "Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Ismail ibnu Iyasy dengan sanad yang ghorib sekali.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Talut dan Jalut

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman: وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا  ۗ  قَالُوْۤا...