Kamis, 19 April 2018

Hidayah itu Haknya Allah

Masih saja ada yang mengatakan, bahwa ada bid'ah hasanah dalam Syariat Islam, padahal Imam Malik -rohimahulloh- yang dijuluki sebagai 'Imamnya Kota Nabi' sudah sangat tegas dan lugas mengatakan: "Barang siapa melakukan bid'ah APAPUN dalam Islam dan dia melihat bid'ah itu baik, maka dia telah menganggap bahwa (Nabi) Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- telah MENGKHIANATI risalah (yang diembannya), karena Allah berfirman: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian", sehingga apapun yang bukan agama pada hari itu, maka dia juga bukan agama pada hari ini". [Kitab: Ali'tishom 1/64].

Bahkan Ibnu Umar -rodhiallohu anhuma- yang merupakan sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga telah menegaskan: "SEMUA bid'ah adalah sesat, meskipun orang-orang melihatnya BAIK." [Sanadnya shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Battoh: 205].

Bahkan Nabi tercinta -shollallohu alaihi wasallam- juga telah menyabdakan: "SEMUA bid'ah itu sesat." [Shohih Muslim: 867].

Kalaupun ada perkataan ulama yang menyelisihi sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ini, bukankah seharusnya perkataan mereka yang ditakwil atau diselaraskan maknanya dengan sabda Nabi di atas?!

Bukan malah sebaliknya, sabda Nabi yang dita'wil dan dipelintir maknanya sehingga seakan selaras dengan perkataan ulama tersebut.

Jika memang Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan sabdanya lebih agung kedudukannya di hati seseorang, harusnya langkah pertama yang dia ambil, yaitu mentakwil atau menyelaraskan perkataan ulama tersebut agar tidak bertentangan dengan hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam.

Atau jika terpaksa harus memilih salah satu, maka harusnya dia memilih perkataan orang yang WAJIB dicintainya melebihi orang tuanya, anaknya, bahkan manusia semuanya, dialah Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam.

Semoga Allah memberikan kaum muslimin hidayah untuk menghidupkan sunnahnya dan mematikan bid'ah yang disusupkan dalam agamanya, amin.

Disadur dari pesan Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny, MA
Dewan Pembina Yayasan Risalah Islam

Oleh: Mutiara Risalah Islam

Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari dari Ustadz Dr. Musyaffa’ad Dariny, MA.

Anda akan mendapatkan Nasihat, Artikel,Tanya Jawab Terbaik Setiap Hari di Grup WA Mutiara Risalah Islam [MRI]

Daftar melalui WA: 089628222285 atau
klik http://gabung.kliksini.me/wa/groupMRI

Senin, 16 April 2018

PANDUAN DZIKIR DAN DOA SETELAH SHOLAT

Dzikir Setelah Sholat Sesuai Tuntunan Nabi Shallallahu 'Alahi Wasallam

1. ASTAGHFIRULLAH (dibaca 3 kali) (Yaa Allah, aku memohon ampunan Mu)

2. ALLAHUMA ANTA SALAM WA MINKA SALAM TABAROKTA YA DZAL JALALI WAL IKRAM.
(“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia.“ (HR. Muslim: 1/414)

3. ALLAHUMMA LAA MANI'A LIMA A'TAYTA,
WA LA MU'TIYA LIMA MANA'TA,
WA LA YANFA'U DZAL-DZAL-JADDI, MINKAL-JAD.
("Ya Allah Tidak ada yang dapat menyangkal apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan; dan keberuntungan dan kemakmuran tidak akan berguna di hadapan Allah"). [Al-Bukhari dan Muslim].

4. ALLAHUMMA A'INNI 'ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI 'IBADATIK.
("Ya Allah, tolong aku mengingat Engkau, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk menyembah Engkau dengan cara yang sangat baik") [Abu Dawud]

5. Ayat Kursi 
Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
ALLOHU LAAA ILAAHA ILLAA HUW, AL-HAYYUL-QOYYUUM, LA TA`KHUZUHUU SINATUW WA LAA NA`UUM, LAHUU MAA FIS-SAMAAWAATI WA MAA FIL-ARDH, MAN ZALLAZII YASYFA'U 'INDAHUUU ILLAA BI`IZNIH, YA'LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHOLFAHUM, WA LAA YUHIITHUUNA BISYAI`IM MIN 'ILMIHIII ILLAA BIMAA SYAAA`, WASI'A KURSIYYUHUS-SAMAAWAATI WAL-ARDH, WA LAA YA`UUDUHUU HIFZHUHUMAA, WA HUWAL-'ALIYYUL
-'AZHIIM
("Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.")
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)

6. AL-IKHLAS, AL-FALAQ, AN-NAS (Dzuhur, Ashar, dan Isya' masing-masing dibaca satu kali, sedangkan Shubuh dan Maghrib masing-masing dibaca 3 kali).

7. SUBHANALLAH,  ALHAMDULILLAH, ALLAHU AKBAR (masing-masing dibaca 33 kali).
(“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, dan Allah Maha Besar (masing-masing dibaca 33 kali).

8. Digenapkan 100 dengan membaca:
"LA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LA SYARIKALLAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA 'ALA KULLI SYA'IN QODIR."
(Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya adalah semua kerajaan dan puji-pujian dan Allah adalah Mahakuasa atas segala sesuatu).

Catatan:
Dzikir setelah sholat dibaca sendiri-sendiri, tidak dipimpin oleh Nabi Shallallahu'alaihi wasallam. Urutan membacanya dapat berubah.
Setelah berdzikir, Rasulullah Shallallahu'alahi wasallam biasanya berdiri di depan pintu masjid, melayani umat yang ada keperluan dengan Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Dzikir setelah shalat, disarikan dari materi ceramah yang disampaikan oleh Dr. Khalid Basalamah, MA

DOA SETELAH SHOLAT

Berkata Fadh-dhalah selanjutnya: "Kemudian sholat pula seorang laki-laki lagi sesudah itu. Lalu dipujinya Allah dan diucapkannya sholawat kepada Nabi Shollallohu'alaihi wa sallam. Maka berkatalah Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam kepadanya: "Berdoalah niscaya doamu akan terkabul!"
(Hadits dirawikan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nassaaiy, at-Turmudzi; dan dia berkata bahwa hadits ini Hasan (bagus), dan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).
Berkatalah Imam Nawawi: "Samalah pendapat sekalian ulama bahwa sangat disukailah (mustahab) memulai suatu doa dengan  memuji Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa dan mengucapkan Shalawat kepada Nabi Shollallohu'alaihi wa sallam. Demikan juga ketika menutupnya.

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata:
"Tiap-tiap doa itu masih tertutup, sehingga mengucapkan shalawat kepada Muhammad Shollallohu'alaihi wa sallam dan keluarga Muhammad Shollallohu'alaihi wa sallam (Dirawikan oleh Ath-Thabrani di dalam kitab jadits-nya Al-Ausath).

ADAB BERDOA

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang laki-laki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556, di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070)

Adab mengangkat tangan

Mengangkat kedua telapak tangan di depan dada, didekatkan ke wajahnya, dan tidak dirapatkan. Jika ada keperluan, seperti sholat meminta hujan (istisqo), kedua tangan diangkat sampai terlihat ketiaknya (pakaian nabi sangat longgar di bagian lengannya sehingga kalau kedua tangannya diangkat tinggi akan terlihat ketiaknya).

Bagi khatib sholat Jumat, ketika berdoa, tidak mengangkat kedua tangannya, tetapi disimbolkan dengan mengangkat telunjuknya.

1. Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Qoolaa ROBBANAA ZHOLAMNAAA ANFUSANA WA IL LAM TAGHFIR LANAA WA TAR-HAMNAA  LANAKUUNANNA MINAL-KHOOSIRIIN
"Keduanya berkata, ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf, 7:23)

2. Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلـِوَالِدَيَّ  وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ
ROBBANAGHFIR LII WA LIWAALIDAYYA WA LIL -MU`MINIINA YAUMA YAQUUMUL-HISAAB
"Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat)." (QS. Ibrahim, 14:41)

3. Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:
ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAAJINAA
WA ZURRIYYAATINAA QURROTA A'YUNIW WAJ'ALNAA LIL-MUTTAQIINA IMAAMAA
"... Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada pasangan (istri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)

4. Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ   ۖ    رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
ROBBIJ'ALNII MUQIIMASH-SHOLAATI  WA MIN ZURRIYYATII ROBBANAA
WA TAQOBBAL DU'AAA`
"Ya Rabb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku."
(QS. Ibrahim, 14:40)

5. Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْـكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَـنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
iz awal-fityatu ilal-kahfi fa qooluu "ROBBANAAA AATINAA MIL LADUNGKA ROHMATAW WA HAYYI` LANAA MIN AMRINAA ROSYADAA"
"(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.'"
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 10)

6. Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً  ۚ  اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
"ROBBANAA LAA TUZIGH QULUUBANAA BA'DA IZ HADAITANAA WA HAB LANAA MIL LADUNGKA ROHMAH, INNAKA ANTAL-WAHHAB."
"(Mereka berdoa), Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali 'Imran, 3:8)

7. Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
wa min-hum may yaquulu ROBBANAAA AATINAA FID-DUN-YAA HASANATAW WA FIL-  AAKHIROTI HASANATAW WA QINAA 'AZAABAN-NAAR
"Dan di antara mereka ada yang berdoa, Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah, 2:201)

6. Penutup doa
SUBHAANA ROBBIKA ROBBIL 'IZZATI 'AMMA YASHIFUUN, WASALAAMUN ALAL MURSALIIN, WALHAMDULILLAAHIR-ROBBIL AALAMIIN (Shafaat 37: ayat 180-182)
Artinya:
Maha Sucilah Rabb-mu, Rabb dari seluruh kekuasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan Selamat-sejahtera atas sekalian Rasul-rasul yang telah diutus Rabb. Dan sekalian Puji-pujian adalah untuk Allah, Rabb sekalian 'Alam."

Catatan:
Setelah selesai berdoa, tidak mengusapkan kedua tangan di wajahnya.

Kamis, 12 April 2018

Bagaimana mengomunikasikan sebuah branding destinasi pariwisata?

Seri: Pemasaran dan Manajemen Destinasi Pariwisata

Kata Kunci:
Positioning (P)
Image (I)
Branding (B)

Tujuan:
Menawarkan produk dan layanan yang unik di sebuah destinasi pariwisata.

TKD (Tata Kelola Destinasi) adalah kolaborasi dari unsur pemerintah, pemerintah daerah, industri pariwisata (kumpulan usaha pariwisata yang saling melengkapi), perguruan tinggi, media, dan masyarakat di destinasi pariwisata.

TKD melakukan riset tentang positioning sebuah destinasi pariwisata untuk mengetahui Ancaman (T), Peluang (O), Kelemahan (W), dan Kekuatan (S).

Berdasarkan riset tersebut, TKD menetapkan pernyataan positif tentang sebuah destinasi pariwisata.

Dengan pernyataan tersebut, TKD membangun branding destinasi, yang diikuti dengan pengembangan produk dan layanan yang unik (unique selling points), yang akan dipasarkan kepada wisatawan atau pengunjung potensial.

Wisatawan potensial atau pengunjung potensial menerima image tentang destinasi pariwisata dan berdasarkan hal itu, wisatawan mempunyai persepsi tentang produk dan layanan yang ditawarkan oleh TKD.

Kunci keberhasilan sebuah destinasi pariwisata terletak pada kecerdasan dalam  menawarkan produk dan layanan yang dapat menjawab harapan wisatawan sehingga wisatawan mau berkunjung ke sebuah destinasi pariwisata.

Penjelasan

Positioning

Positioning adalah cara yang dilakukan oleh TKD untuk memengaruhi pikiran pengunjung (wisatawan) potensial. (Diadaptasi dari Ries dan Trout, 2001)

Positioning destinasi pariwisata harus dilakukan dalam beberapa tahap, Morrison (2010) menggunakan 5D's sebagai berikut.

1. Mendokumentasi (Documenting): Langkah pertama, riset terhadap pengalaman berkunjung di masa lalu dan pengunjung potensial, untuk mengetahui manfaatnya bagi pengunjung.

2. Memutuskan (Deciding): Langkah kedua dicapai dengan dua langkah: (1) mengetahui image pengunjung terhadap destinasi pariwisata yang pernah dikunjungi dan (2) memutuskan image apa yang diinginkan TKD, yang mendekati keinginan wisatawan.

3. Membedakan (Differentiating): Langkah ketiga, mengomunikasikan perbedaan sebuah destinasi pariwisata dengan pesaing. Posisi ditampilkan dalam dua tahap: (1) menentukan destinasi mana yang kompetitif; dan (2) menunjukkan faktor-faktor dan USPs (unique selling points) yang tepat, khususnya yang bermanfaat, yang sesuai dengan harapan wisatawan, yang dapat membedakan sebuah destinasi pariwisata tampak berbeda dengan destinasi pesaing.

4. Merancang (Designing): Langkah keempat, TKD harus memutuskan bagaimana  mengomunikasikan image yang akan dipersepsikan oleh pengunjung potensial berdasarkan target pasar.

5. Menyampaikan (Delivering): Terakhir, TKD harus mengimplementasikan dan memonitor agar branding dan image tentang destinasi pariwisata membumi (delivering to the ground).

Tata Kelola Destinasi (TKD) harus membuat sebuah pernyataan yang positif tentang destinasi pariwisata, yang mengekspresikan perbedaan dan keunikan sebuah destinasi pariwisata.

Contoh:
Pernyataan tentang keramahan dan keterbukaan orang-orang di sebuah destinasi pariwisata kepada tamu atau wisatawan atau pengunjung adalah faktor yang positif bagi wisatawan yang akan berkunjung ke sebuah destinasi pariwisata (sebuah negara, provinsi, kabupaten, atau kota, yang dalam kenyataannya, sebuah destinasi pariwisata, dapat melampaui batas wilayah administrasi).

Image

Image tentang destinasi pariwisata adalah persepsi wisatawan terhadap sebuah destinasi pariwisata.

Mengubah image sebuah destinasi pariwisata memerlukan waktu 1-3 tahun dengan melakukan upaya yang sungguh-sungguh melalui penanaman kesadaran tentang branding destinasi pariwisata sehingga image tentang destinasi pariwisata mendekati atau memenuhi harapan wisatawan atau pengunjung.

Harapan wisatawan sangat dipengaruhi oleh pengalaman wisatawan sejak dari keberangkatan, kedatangan di destinasi pariwisata, selama beraktivitas di destinasi pariwisata, sampai wisatawan kembali ke negara atau daerah asalnya.

Apakah wisatawan merasa aman dan nyaman selama berkunjung di destinasi pariwisata?

Untuk meyakinkan wisatawan agar mau berkunjung ke destinasi pariwisata, testimoni dari wisatawan sejak dari keberangkatan, kedatangan, selama beraktivitas di destinasi pariwisata, sampai wisatawan kembali ke negara atau daerah asalnya, merupakan cerita yang menarik bagi wisatawan yang akan berkunjung ke sebuah destinasi.

Branding

Branding destinasi pariwisata digunakan untuk mendukung pendekatan positioning yang terpilih, yang dikomunikasikan dengan membangun image tentang destinasi pariwisata yang diinginkan oleh TKD.

Branding destinasi pariwisata adalah sebuah nama, simbol, logo, kata-kata, atau grafik lainnya, yang  mengidentifikasi dan membedakan sebuah destinasi pariwisata; lebih jelasnya, branding destinasi pariwisata menyampaikan janji tentang pengalaman berwisata yang sangat berkesan, yang secara unik diasosiasikan dengan sebuah destinasi pariwisata; branding destinasi pariwisata juga melayani untuk mengonsolidasi, mengumpulkan,
dan memperkuat kembali kenangan-kenangan yang menyenangkan ketika beraktivitas di destinasi (Ritchie et. al., 1998).

Diolah dari berbagai sumber.

Senin, 09 April 2018

Apa itu "Pariwisata Kreatif?"

"Pariwisata yang menawarkan pengunjung kesempatan untuk mengembangkan potensi kreatif mereka melalui partisipasi aktif dalam kursus-kursus dan pengalaman belajar yang merupakan karakteristik dari tujuan liburan yang mereka lakukan." (Greg Richards dan Julie Wilson)

Pariwisata kreatif adalah bagian dari pariwisata budaya yang bertujuan untuk mengenal keberagaman budaya di destinasi pariwisata.
Aktivitas pariwisata kreatif banyak sekali yang dapat disebutkan antara lain belajar membatik di Museum Batik, Pekalongan; belajar membuat wayang  di Sanggar Wayang Gogon, belajar membuat keris di Besalen Djeno Harumbrodjo, belajar menari di Sanggar Tari Ayodiapala, belajar bermain angklung di Saung Udjo, belajar memasak di Paon Bali Cooking Class di Ubud dsb.

Bisnis Pariwisata

Seri: Pemasaran Destinasi Pariwisata

Banyak bisnis pariwisata dan berbagai usaha pariwisata (industri pariwisata) menawarkan produk dan layanan, yang saling mengisi daripada saling bersaing satu dengan yang lainnya.

Mereka mengombinasikan produk dan layanan, yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya, yang ditawarkan kepada pengunjung (wisatawan) yang mengejar kepuasan atau yang sedang melakukan perjalanan bisnis.


Dari Wisatawan Potensial ke Produk Pariwisata

1. Wisatawan mempunyai kebutuhan, motivasi, dan persepsi untuk memilih perjalanan.

2. Dalam memilih perjalanan, wisatawan mempunyai daya beli berdasarkan karakteristik wisatawan meliputi segmen perjalanan utama, arus perjalanan, dan moda transportasi.

3. Berdasarkan hal tersebut di atas, sebuah destinasi pariwisata, membuat rencana pengembangan destinasi pariwisata dan tata kelola destinasi pariwisata, dengan menetapkan kebijakan, menyusun perencanaan, pengawasan, pengembangan, dan pelayanan berbagai kegiatan kepariwisataan, dengan menekankan prinsip pariwisata berkelanjutan, yang mencakup aspek lingkungan alam, sosial-budaya, dan ekonomi, yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di destinasi pariwisata.

4. Berdasarkan hal tersebut di atas, sebuah produk pariwisata dipasarkan dengan menggunakan strategi, perencanaan, promosi, dan distribusi.

Berbagai destinasi pariwisata, bisnis pariwisata, dan fasilitas ditawarkan kepada wisatawan potensial dengan menggunakan saluran promosi dan distribusi yang efektif, yang akan mendorong wisatawan untuk melakukan perjalanan.

Sumber:
Diolah dari Model Sistem Pariwisata

Jumat, 30 Maret 2018

DOA PAGI DAN PETANG


Allah akan perintahkan 70 ribu malaikat  memohon ampunan baginya, jika ia mati di hari itu, maka ia mati sebagai syahid.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Khalid (yakni Ibnu Tahman alias Abul Ala Al-Khaffaf), telah menceritakan kepada kami Nafi' ibnu Abu Nafi', dari Ma'qal ibnu Yasar, dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam yang telah bersabda:
Barang siapa mengucapkan doa ini di waktu pagi hari sebanyak tiga kali, yaitu:
"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syaitan yang terkutuk," kemudian membaca pula tiga ayat terakhir surat Al-Hasyr, maka Allah memerintahkan kepada tujuh puluh ribu malaikat untuk memohonkan ampunan baginya hingga petang hari. Dan jika ia mati di hari itu, maka ia mati sebagai syahid. Dan barang siapa yang mengucapkannya di kala petang hari, maka ia beroleh kedudukan yang seperti itu.
Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Mahmud ibnu Gailan, dari Abu Ahmad Az-Zubairi dengan sanad yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya kecuali hanya melalui jalur ini.
Doa:

A'uuzubillahissamii'il aliimi minasy-syaithoonirrojiim (dibaca  3 kali)

Huwallohullazii laaa ilaaha illaa huw, 'aalimul-ghoibi wasy-syahaadah, huwar-rohmaanur-rohiim
huwallohullazii laaa ilaaha illaa huw, al-malikul-qudduusus-salaamul-mu`minul-muhaiminul-'aziizul-jabbaarul-mutakabbir, sub-haanallohi 'ammaa yusyrikuun
huwallohul-khooliqul-baari`ul-mushowwiru lahul-asmaaa`ul-husnaa, yusabbihu lahuu maa fis-samaawaati wal-ardh, wa huwal-'aziizul-hakiim (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 22- 24)

Artinya:
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syaitan yang terkutuk.
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 22- 24)

Aamiin Yaa Mujibas Saai'liin (Kabulkanlah doa kami, wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa orang-orang yang berdoa)

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir dan
Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Kamis, 29 Maret 2018

Tolong Bawa Aku ke Surga-Nya

Disadur dari tulisan Ustadz Abdullah zaen, Lc, MA. حفظه الله تعالى


Ketika mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tanganku, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu...


Dengan airmata berlinang dan ucapan yang terbata-bata dia berkata, "Bila kamu tidak melihat aku di surga, tolong tanya kepada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu..."


Dia langsung terisak menangis, lalu aku memeluknya dan meletakkan mukaku di bahunya. Akupun berbisik "In Syaa Allah, In Syaa Allah, aku juga mohon kepadamu, jika kamu juga tidak melihatku di surga..."
Kamipun menangis bersama, entah berapa lama...


Ketika saya meninggalkan rumah sakit, saya terkenang akan pesan beliau...


Sebenarnya pesan itu pernah di sampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yang berkata kepada sahabatnya sambil menangis:


"Jika kamu tidak menemui aku di surga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku:
"Wahai Rabb kami, si fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di surga."


Ibnu Jauzi berkata begitu bersandar pada sebuah hadits:


"Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan saudaranya yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah:
"Yaa Rabb! Kami tidak melihat saudara-saudara kami, yang sewaktu di dunia sholat bersama kami, puasa bersama,  dan berjuang bersama kami. "Maka Allah berfirman, " Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah." (Ibnu Mubarak dalam kitab AZ zuhd)


Wahai sahabat-sahabatku...


Di dalam berteman, pilihlah mereka yang bisa membantu kita, bukan hanya urusan di dunia, tetapi juga urusan di akhirat.


Carilah mukmin yang senantiasa berbuat amal sholeh, yang selalu sholat berjamaah di masjid, berpuasa, mengeluarkan zakat serta senantiasa berpesan agar meningkatkan keimanan dan amal saleh.


Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:


وَالْعَصْرِ

wal-'ashr


"Demi masa."
(QS. Al-'Asr 103: Ayat 1)


Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:


اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ
innal-insaana lafii khusr


"Sungguh, manusia berada dalam kerugian,"
(QS. Al-'Asr 103: Ayat 2)


Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:


اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ    ۙ  وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ


illallaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati wa tawaashou bil-haqqi wa tawaashou bish-shobr


"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Asr 103: Ayat 3)


Carilah mukmin yang mengajak kita ke majelis ilmu, berbuat kebajikan, dan selalu mengajak pada kebajikan dan saling menasihati untuk  kebenaran dan kesabaran.


Teman-teman karena urusan niaga, pekerjaan, atau teman nonton bola, teman memancing, teman belanja, teman di medsos, yang hanya membicarakan tentang urusan keduniawian, akan berpisah pada garis kematian, dan masing-masing akan membawa urusannya masing-masing.


Tetapi teman yang bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke surga...


Renungkanlah diri, apakah ada teman yang seperti ini dalam kehidupan kita, atau mungkin yang ada lebih buruk dari kita...


Ayo berubah sekarang, kurangi waktu dengan teman yang hanya condong pada keduniawian, carilah teman yang membawa kita bersama ke surga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk surganya Allah Jalla wa 'Alaa.


Perbanyaklah ikhtiar, semoga satu di antarannya akan membawa kita ke surga...


Imam Al-Hasan Al Basri berkata: "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa'at di hari kiamat."


Pejamkan mata, berfikirlah. Siapa kiranya di antara mukmin, yang akan mencari dan mengajak kita ke surga?


Jika tidak, mulailah hari ini mencari teman-teman yang akan mengajak kita ke surga, yang selalu mengingatkan kita agar tidak hanyut dengan kehidupan dunia yang fana, yang membuat kita lupa, dan takut pada kematian.


In Syaa Allah, kita bagikan pesan ini kepada teman-teman yang akan mengajak kita ke surga-Nya.


--------------------------------------


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah تعالى tolong tanyakan kepada Allah تعالى, jika aku tidak bersamamu nanti di surga-NYA kelak...


Mudah-mudahan bermanfaat ...
Barakallahu fiikum


Atas kebaikan sahabatku,
Jazaakallahu khairan

Selasa, 27 Maret 2018

Tobat yang sebenarnya

Semoga Allah menerima tobat hamba Nya yang bodoh, yang telah berbuat zalim (zalimin) kepada siapa saja yang terzalimi, terimalah permintaan maaf saya dari lubuk hati yang paling dalam.
Al-Furqan, ayat 68-71

{وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (77 }
Dan orang-orang yang tidak
 menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ شَقيق، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ -قَالَ: سُئل رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ: الذَّنْبِ أَكْبَرُ؟ قَالَ: "أَنْ تَجعل لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ". قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: "أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعم مَعَكَ". قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: "أَنْ تزاني حَلِيلَةَ جَارِكَ". قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَصْدِيقَ ذَلِكَ: {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا}
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Syaqiq, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah ditanya, "Dosa apakah yang paling besar?" Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab
"Bila kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal Dia telah menciptakanmu." Lalu si penanya bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?" Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda
"Bila kamu membunuh anakmu karena takut dia ikut makan bersamamu." Ia bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?" Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab,
"Bila kamu berzina dengan istri tetanggamu." Abdullah ibnu Mas'ud berkata, bahwa lalu Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa menurunkan firman-Nya yang membenarkan hal tersebut, yaitu:
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah. (Al-Furqan: 68), hingga akhir ayat.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai, dari Hannad ibnus Sirri, dari Abu Mu'awiyah dengan sanad yang sama.
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya melalui hadis Al-A'masy dan Mansur - Al-Bukhari menambahkan: serta Wasil -. Mereka bertiga menerima hadis ini dari Abu Wa-il alias Syaqiq ibnu Salamah, dari Abu Maisarah Amr ibnu Syurahbil, dari Ibnu Mas'ud.
Menurut lafaz Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui Ibnu Mas'ud adalah seperti berikut: Ibnu Mas'ud mengatakan, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?, dan seterusnya.''
Jalur hadis yang garib:
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ الْأَهْوَازِيُّ، حَدَّثَنَا عَامِرُ بْنُ مُدْرِك، حَدَّثَنَا السَّرِيُّ -يَعْنِي ابْنَ إِسْمَاعِيلَ -حَدَّثَنَا الشَّعْبِيُّ، عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَاتَّبَعْتُهُ، فَجَلَسَ عَلَى نَشَز مِنَ الْأَرْضِ، وَقَعَدْتُ أَسْفَلَ مِنْهُ، وَوَجْهِي حِيَالَ رُكْبَتَيْهِ، وَاغْتَنَمْتُ خَلْوَتَهُ وَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الذُّنُوبِ أَكْبَرُ؟ قَالَ: "أَنْ تَدْعُوَ لِلَّهِ نِدًا وَهُوَ خَلَقَكَ".قُلْتُ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: "أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ". قُلْتُ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: "أَنْ تُزَانِي حَلِيلَةَ جَارِكَ". ثُمَّ قَرَأَ: {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ} . [إِلَى آخِرِ] الْآيَةِ
Ibnu Jarir mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq Al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Amir ibnu Mudrik, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Asy-Sya'bi, dari Masruq yang mengatakan bahwa Abdullah pernah mengatakan
"Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pergi, lalu aku mengikutinya. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam duduk di atas sebuah gundukan tanah, maka aku duduk di bagian yang lebih rendah darinya, sedangkan mukaku sejajar dengan kedua lututnya. Aku sengaja ingin menemaninya dalam kesendiriannya itu. Aku bertanya, 'Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?' Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab
'Bila kamu mendakwakan bahwa Allah mempunyai tandingan, padahal Dialah yang menciptakanmu
Aku bertanya, 'Kemudian dosa apakah lagi
Beliau menjawab, 'Bila kamu membunuh anakmu karena tidak suka dia makan bersamamu
Aku bertanya lagi, 'Kemudian dosa apa lagi? Beliau Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab, 'Bila kamu berzina dengan istri tetanggamu
Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah. (Al-Furqan: 68), hingga akhir ayat
قَالَ النَّسَائِيُّ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَاف، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم في حِجَّةِ الْوَدَاعِ: "أَلَا إِنَّمَا هِيَ أَرْبَعٌ -فَمَا أَنَا بِأَشَحَّ عَلَيْهِنَّ مِنِّي مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَلَا تَزْنُوا، وَلَا تَسْرِقُوا"
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Mansur, dari Hilal ibnu Yusaf, dari Salamah ibnu Qais yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda dalam haji wada'-nya, "Ingatlah, sesungguhnya dosa yang terbesar itu ada empat macam." Salamah ibnu Qais mengatakan bahwa sejak ia mendengar hal tersebut dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, ia sangat membenci keempat perbuatan itu, yaitu: Janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (membunuhnya)
kecuali dengan (alasan) yang hak, dan janganlah kalian berzina, serta janganlah kalian mencuri
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، رَحِمَهُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوان، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ الْأَنْصَارِيُّ، سَمِعْتُ أَبَا طيبة الكَلاعي، سَمِعْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: "مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَى"؟ قَالُوا: حَرّمه اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَهُوَ حَرَام إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: "لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ". قَالَ: "مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ"؟ قَالُوا: حَرَّمَهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَهِيَ حَرَامٌ. قَالَ: "لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Madini rahimahullah
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail ibnu Gazwan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa'id Al-Ansari; ia pernah mendengar AbuTayyibah Al-Kala'i mengatakan, ia pernah mendengar Al-Miqdad ibnul Aswad r.a. berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabatnya:
"Bagaimanakah pendapat kalian tentang zina?” Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, dan ia tetap haram , sampai hari kiamat
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya
"Sungguh dosa seseorang laki-laki yang berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan daripada ia berzina dengan istri tetangganya
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda
"Bagaimanakah pendapat kalian tentang mencuri
Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, dan ia merupakan perbuatan yang haram.” Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda
"Sungguh dosa seseorang yang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan daripada mencuri dari rumah tetangganya
قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنِ أَبِي الدُّنْيَا: حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنَا بَقيَّة، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ الْهَيْثَمِ بْنِ مَالِكٍ الطَّائِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ: "مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ نُطفة وَضَعَهَا رَجُلٌ فِي رَحِم لا يحل له"
Abu Bakar ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnuNasr, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Abu Bakar ibnu Abu Maryam, dari Al-Haisam ibnu Malik At-Ta-i, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Tiada suatu dosa pun sesudah syirik yang lebih besar daripada dosa seorang laki-laki yang meletakkan nutfah (air mani)nya ke dalam rahim yang tidak halal baginya (yakni berzina
Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'la dari Sa'id ibnu Jubair; ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa pernah ada sejumlah orang dari kalangan orang-orang musyrik yang banyak membunuh dan banyak berzina. Lalu mereka datang menghadap kepada Nabi Muhammad Saw. dan berkata, "Sesungguhnya agama yang engkau katakan dan engkau seru itu benar-benar baik. Sekiranya saja engkau beritakan kepada kami bahwa apa yang telah kami perbuat ada kifaratnya." Maka turunlah firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah. (Al-Furqan: 68), hingga akhir ayat.
Turun pula firman-Nya: Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas ter­hadap diri mereka sendiri.” (Az-Zumar: 53), hingga akhir ayat.
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي فَاخِتة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ: "إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكَ أَنْ تَعْبُدَ الْمَخْلُوقَ وَتَدَعَ الْخَالِقَ، وَيَنْهَاكَ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ وَتَغْذُوَ كَلْبَكَ، وَيَنْهَاكَ أَنْ تَزْنِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ". قَالَ سُفْيَانُ: وَهُوَ قَوْلُهُ: {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ}
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Abu Fakhitah yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki
Sesungguhnya Allah melarangmu menyembah makhluk, sedangkan Dia kamu tinggalkan (tidak disembah). Dan Allah melarangmu membunuh anakmu, sedangkan anjingmu kamu beri makan. Dan Allah melarangmu berzina dengan istri tetanggamu. Sufyan mengatakan bahwa hal inilah yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah. (Al-Furqan: 68), hingga akhir ayat
*****
Adapun firman Alah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا}
barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (Al-Furqan: 68)
Telah diriwayatkan dari Abdullah ibnu Amr, ia pernah mengatakan bahwa Asam adalah nama sebuah lembah di neraka Jahanam. Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Al-Furqan: 68) Bahwa Asam adalah nama lembah-lembah yang terdapat di dalam neraka Jahanam tempat untuk menyiksa para penzina. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair dan Mujahid.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (Al-Furqan: 68) Yang dimaksud dengan asaman ialah pembalasan dosa, dahulu kami mengatakannya sebagai nama sebuah lembah di dalam neraka Jahanam.
Telah diriwayatkan kepada kami bahwa Luqman pernah mengatakan kepada anaknya, "Hai anakku, hindarilah perbuatan zina, karena sesungguhnya perbuatan zina itu permulaannya adalah takut, sedangkan akhirnya adalah penyesalan."
Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lainnya melalui Abu Umamah Al-Bahili secara mauquf dan marfu' disebutkan bahwa gayyan dan asaman adalah nama dua buah sumur di dasar neraka Jahanam semoga Allah melindungi kita dari kedua sumur itu berkat karunia dan kemurahan-Nya.
As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Al-Furqan: 68) Bahwa asaman ialah pembalasan.
Takwil ini lebih serasi dengan makna lahiriah ayat, dan dengan pengertian yang sama disebutkan dalam konteks selanjutnya yang berfungsi sebagai mubdal minhu-nya, yaitu firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}
(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat.(Al-Furqan:69)
Yakni siksaan itu diulang-ulang terhadapnya dan diperkeras.
{وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا}
dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. (Al-Furqan: 69)
Maksudnya, dalam keadaan terhina lagi rendah.
*****
Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا}
kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh. (Al-Furqan: 70)
Artinya, pembalasan dari perbuatannya yang buruk-buruk adalah seperti yang telah disebutkan di atas.
{إِلا مَنْ تَابَ}
kecuali orang-orang yang bertobat. (Al-Furqan: 70)
Yaitu bertobat kepada Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa sewaktu masih di dunianya dari semua perbuatan dosanya, maka Allah akan menerima tobatnya.
Di dalam kandungan ayat ini terdapat makna yang menunjukkan bahwa tobat orang yang pernah membunuh dapat diterima. Ayat ini tidaklah bertentangan dengan ayat lain yang ada di dalam surat An-Nisa, yaitu firman-Nya:
{وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا}
Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. (An-Nisa: 93), hingga akhir ayat.
Karena sesungguhnya ayat ini sekalipun tergolong ke dalam ayat Madaniyah, tetapi ia bersifat mutlak sehingga pengertiannya dapat ditujukan kepada orang yang tidak bertobat, sedangkan ayat dalam surat Al-Furqan ini diikat dengan pengertian tobat. Kemudian dapat pula dikatakan bahwa Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa telah berfirman dalam ayat yang lain:
{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ}
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan 
(sesuatu) dengan Dia. (An-Nisa: 48 dan 116), hingga akhir ayat
Sunnah yang sahih yang telah terbukti bersumber dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa tobat seorang pembunuh dapat diterima. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam kisah seseorang yang pernah membunuh seratus orang laki-laki, lalu ia bertobat dan Allah menerima tobatnya. Hadis-hadis lain yang senada cukup banyak.
*****
Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}
maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Furqan: 70)
Sehubungan dengan makna firman-Nya:
{يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ}
kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. (Al-Furqan: 70)
Ada dua pendapat mengenainya. Salah satunya mengatakan bahwa amal buruk mereka diganti dengan amal kebaikan.
Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang mukmin yang sebelum beriman selalu mengerjakan amal-amal keburukan. Kemudian Allah menjadikan mereka benci terhadap amal keburukan, dan Allah mengalihkan mereka kepada amal kebaikan. Hal ini berarti bahwa Allah mengganti keburukan mereka dengan kebaikan.
Telah diriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas, bahwa ia mengucapkan syair berikut saat menafsirkan makna ayat ini:
بُدّلْنَ بَعْدَ حَرِّهِ خَريفا.....وَبَعْدَ طُول النَّفَس الوَجيفَا
Seusai musim panas datanglah musim gugur sebagai penggantinya, dan seusai hidup senang dalam waktu yang lama datanglah kesusahan.
Yakni keadaan tersebut berubah menjadi keadaan yang lain. Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa hal ini terjadi di dunia; seseorang yang tadinya gemar melakukan perbuatan yang buruk, kemudian Allah menggantinya dengan perbuatan yang baik.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa Allah mengubah kebiasaan mereka yang tadinya menyembah berhala, menjadi menyembah Tuhan Yang Maha Pemurah; dan tadinya mereka memerangi kaum muslim, lalu menjadi memerangi kaum musyrik; dan Allah membuat mereka yang tadinya suka mengawini wanita-wanita kaum musyrik, kini mereka suka mengawini wanita-wanita beriman.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Allah mengganti amal buruk mereka dengan amal yang saleh, dan kemusyrikan diganti dengan keikhlasan, suka melacur diganti dengan memelihara kehormatan, dan kekufuran diganti dengan Islam. Demikianlah menurut pendapat Abul Aliyah, Qatadah, dan jamaah lainnya.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa keburukan-keburukan yang telah silam berubah dengan sendirinya menjadi amal-amal kebaikan berkat tobat yang bersih. Hal tersebut tiada lain karena manakala ia teringat akan dosa-dosa yang telah silam, hatinya merasa menyesal dan mengucapkan istirja' 
serta istighfarJadi, dipandang dari pertimbangan ini maka dosanya berganti dengan sendirinya menjadi amal ketaatan. Dan kelak di hari kiamat sekalipun dosa-dosanya itu dijumpai tertulis di dalam buku catatan amalnya, sesungguhnya hal itu tidak membahayakannya karena telah diganti menjadi amal-amal kebaikan. Seperti yang telah disebutkan di dalam sunnah dan asar-asar yang diriwayatkan dari sejumlah ulama Salaf.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنِّي لَأَعْرِفُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنَ النَّارِ، وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا إِلَى الْجَنَّةِ: يُؤْتَى بِرَجُلٍ فَيَقُولُ: نَحّوا كِبَارَ ذُنُوبِهِ وَسَلُوهُ عَنْ صِغَارِهَا، قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ: عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا، وَعَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ -لَا يستطيع أن ينكر من ذلك شيئا - فَيُقَالُ: فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لَا أَرَاهَا هَاهُنَا". قَالَ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ.
Diriwayatkan oleh AbuZar r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui seorang ahli neraka yang paling akhir keluarnya dari neraka, dan seorang ahli surga yang paling akhir masuknya ke surga. Didatangkan seorang laki-laki, lalu ditanyai tentang sejumlah dosa besarnya, juga tentang dosa-dosa kecilnya. Maka dikatakan kepadanya, 'Pada hari anu engkau telah mengerjakan dosa anu dan anu, dan kamu telah melakukan dosa anu dan anu pada hari anu.' Maka laki-laki itu menjawab, 'Ya,' dia tidak mampu mengingkari sesuatu pun dari hal tersebut. Maka dikatakan kepadanya, 'Sesungguhnya kini bagimu untuk setiap keburukan diganti dengan satu kebaikan.' Laki-laki itu bertanya, 'Wahai Tuhanku, saya telah melakukan banyak dosa, tetapi saya tidak melihatnya di sini'." Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam mengucapkan sabdanya ini seraya tertawa sehingga gigi serinya kelihatan.
Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim secara munfarid.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي ضَمْضَم بْنُ زُرْعَةَ، عَنْ شُرَيْح بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: "إِذَا نَامَ ابْنُ آدَمَ قَالَ الْمَلِكُ لِلشَّيْطَانِ: أَعْطِنِي صَحِيفَتَكَ. فَيُعْطِيهِ إِيَّاهَا، فَمَا وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ مِنْ حَسَنَةٍ مَحَا بِهَا عَشْرَ سَيِّئَاتٍ مِنْ صَحِيفَةِ الشَّيْطَانِ، وَكَتَبَهُنَّ حَسَنَاتٍ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ أَحَدُكُمْ فَلْيُكَبِّرْ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ تَكْبِيرَةً، وَيَحْمَدْ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ تَحْمِيدَةً، وَيُسَبِّحْ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ تَسْبِيحَةً، فَتِلْكَ مِائَةٌ"
Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail, telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur'ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Malik Al-Asy'ari yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda:
Apabila anak Adam tidur, maka malaikat berkata kepada setan, "Berikanlah kepadaku lembaran catatanmu.” Maka setan memberikan catatannya kepada malaikat, lalu kebaikan apa saja yang ia jumpai di dalam catatannya ia gunakan untuk menghapus sepuluh keburukan yang ada di dalam catatan setan, kemudian menggantinya dengan sepuluh kebaikan. Maka apabila seseorang di antara kalian hendak tidur, bertakbirlah sebanyak tigapuluh tiga kali, bertahmid sebanyak tiga puluh empat kali, dan bertasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, sehingga jumlahnya genap seratus.
Ibnu Abu Hatim mengatakan telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dan Arim. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sabit (yakni Ibnu Yazid Abu Zaid), telah menceritakan kepada kami Asim, dari Abu Usman, dari Salman yang mengatakan bahwa di hari kiamat ada seorang lelaki yang diberikan kepadanya buku catatan amal perbuatannya. Ia membaca bagian atasnya, dan ternyata yang tercatat adalah keburukan-keburukannya. Ketika ia hampir berburuk sangka atas dirinya, ia memandang ke bagian bawah catatannya, tiba-tiba tercatat kebaikan-kebaikannya. Kemudian ia memandang ke bagian atas catatannya, dan ternyata telah diganti menjadi catatan kebaikan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Musa Az-Zuhri Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Abul Anbas, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa sesungguhnya pada hari kiamat dihadapkan kepada Allah sejumlah manusia yang merasa bahwa diri mereka banyak melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Ditanyakan, "Wahai Abu Hurairah, siapakah mereka?" Abu Hurairah menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Sayyar, telah menceritakan kepada kami Ja'far, telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah, dari Abus Saif—salah seorang murid sahabat Mu'az ibnu Jabal—yang mengatakan bahwa orang-orang yang masuk surga itu ada empat golongan, yaitu kaum muttaqin, kemudian kaum syakirin, lalu kaum kha'ifin (orang-orang yang takut kepada Allah), kemudian yang terakhir adalah as-habul yamin (golongan kanan). Abu Hamzah bertanya, "Mengapa mereka dinamakan as-habul yam'in? Abus Saif menjawab bahwa mereka telah melakukan amal keburukan dan amal kebaikan. Kemudian catatan amal perbuatan mereka diberikan kepada mereka dari sebelah kanannya. Maka mereka membaca keburukan-keburukan mereka kalimat demi kalimat, lalu mereka bertanya, "Wahai Tuhan kami, ini adalah catatan keburukan kami, lalu manakah catatan kebaikan kami?" Maka pada saat itu Allah menghapus semua keburukan mereka dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan. Dan saat itu mereka berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Ambillah dan bacalah Kitabku (ini!). (Al-Haqqah: 19) Mereka adalah penduduk surga yang paling banyak jumlahnya.
Ali ibnul Husain Zainul Abidin telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebajikan. (Al-Furqan: 70) Bahwa hal ini terjadi di akhirat nanti. Mak-hul mengatakan bahwa Allah mengampuni dosa-dosa mereka, lalu menggantinya menjadi kebaikan. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Ibnu Jarir telah meriwayatkan hal yang semisal melalui Sa'id ibnul Musayyab.
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَزِيرِ الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مسلم، حَدَّثَنَا أَبُو جَابِرٍ، أَنَّهُ سَمِعَ مَكْحُولًا يُحَدِّثُ قَالَ: جَاءَ شَيْخٌ كَبِيرٌ هَرِمٌ قَدْ سَقَطَ حَاجِبَاهُ عَلَى عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، رَجُلٌ غَدَرَ وَفَجَرَ، وَلَمْ يَدَعْ حَاجَةً وَلَا دَاجَةَ إِلَّا اقْتَطَعَهَا بِيَمِينِهِ، لَوْ قُسِّمَتْ خَطِيئَتُهُ بَيْنَ أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَوْبَقَتْهُمْ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أسلمتَ؟ " قَالَ: أَمَّا أَنَا فَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَإِنَّ اللَّهَ غَافِرٌ لَكَ مَا كُنْتَ كَذَلِكَ، وَمُبْدِّلٌ سَيِّئَاتِكَ حَسَنَاتٍ". فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وغَدَراتي وفَجَراتي؟ فَقَالَ: "وغَدرَاتك وفَجَراتك". فَوَلّى الرَّجُلُ يُهَلِّلُ وَيُكَبِّرُ
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Wazir Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu Jabir; ia pernah mendengar Mak-hul mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki tua yang karena usianya teramat lanjut alis matanya turun ke matanya. Laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah, saya adalah seorang lelaki yang suka berkhianat dan berbuat lacur (durhaka). Tiada suatu keinginan pun dan tiada suatu kebutuhan pun yang aku biarkan melainkan kuterjang dan kulakukan. Seandainya dosa-dosaku dibagi-bagikan ke seluruh penduduk bumi niscaya semuanya kebagian, maka adakah jalan bagiku untuk bertobat?" Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam balik bertanya, "Apakah kamu Islam?" Laki-laki tua menjawab, "Adapun aku, sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya." Maka Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah akan mengampunimu selagi kamu tetap bertobat, dan Allah akan mengganti keburukanmu dengan kebaikan. Laki-laki tua itu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan semua perbuatan khianat dan perbuatan durhakaku?" Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Juga Allah akan mengampuni perbuatan khianat dan durhakamu." Maka laki-laki tua itu pergi seraya bertakbir dan bertahlil.
وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرو ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِي فَرْوَةَ -شَطْب -أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم فقال: أَرَأَيْتَ رَجُلًا عَمِلَ الذُّنُوبَ كُلَّهَا، وَلَمْ يَتْرُكْ حَاجَةً وَلَا دَاجَةً، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: "أسلمتَ؟ " فَقَالَ: نَعَمْ، قَالَ: "فَافْعَلِ الْخَيِّرَاتِ، وَاتْرُكِ السَّيِّئَاتِ، فَيَجْعَلَهَا اللَّهُ لَكَ خَيْرَاتٍ كُلَّهَا". قَالَ: وغَدرَاتي وفَجَراتي؟ قَالَ: "نَعَمْ". قَالَ فَمَا زَالَ يُكَبِّرُ حَتَّى تَوَارَى
Imam Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Abul Mugirah, dari Safwan ibnu Umar, dari Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Abu Farwah, bahwa ia datang kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang seorang laki-laki yang telah mengerjakan semua jenis dosa, dan tiada suatu keinginan serta tiada pula suatu kebutuhan yang ditinggalkannya. Maka adakah jalan baginya untuk bertobat?" Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam balik bertanya, "Apakah kamu telah masuk Islam?" Ia menjawab, "Ya." Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
Kerjakanlah amal-amal kebaikan dan tinggalkanlah keburukan-keburukan, maka Allah akan menjadikan kebaikan semuanya buatmu. Ia bertanya, "Bagaimanakah dengan perbuatan khianat dan kedurhakaanku?" Rasul Shallallahu'alaihi wa sallam menjawab, "Ya (diganti pula dengan kebaikan)." Maka kedengaran ia terus-menerus bertakbir hingga hilang dari pandangan mata.
Imam Tabrani meriwayatkan hadis ini melalui jalur Abu Farwah Ar-Rahawi, dari Yasin Az-Zayyat, dari Abu Salamah Al-Himsi, dari Yahya ibnu Jabir, dari Salamah ibnu Nufail secara marfu'.
قَالَ أَيْضًا: حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعة، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ شُعَيْبِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ فُلَيْح الشَّمَّاسِ، عَنْ عُبَيْدِ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: هَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ إِنِّي زَنَيْتُ وَوَلَدْتُ وَقَتَلْتُهُ. فَقُلْتُ لَا وَلَا نَعمت الْعَيْنُ وَلَا كَرَامَةَ. فَقَامَتْ وَهِيَ تَدْعُو بِالْحَسْرَةِ. ثُمَّ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ، فَقَصَصْتُ عَلَيْهِ مَا قَالَتِ الْمَرْأَةُ وَمَا قَلْتُ لَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بِئْسَمَا قُلْتَ! أَمَا كُنْتَ تَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةِ: {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ} إِلَى قَوْلِهِ: {إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} فَقَرَأْتُهَا عَلَيْهَا. فخرَّت سَاجِدَةً وَقَالَتِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِي مَخْرَجًا.
Imam Tabrani telah mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Zur'ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Syu'aib ibnu Sauban, dari Falih ibnu Ubaid ibnu Ubaidusy Syamasy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa pernah datang kepadanya seorang wanita, lalu bertanya, "Apakah masih ada jalan tobat bagiku, sedangkan aku ini orang yang telah berbuat zina hingga punya anak, lalu saya bunuh anak itu?" Aku (Abu Hurairah) menjawab, "Tidak ada, semoga hatimu tidak tenteram dan tidak ada kemuliaan bagimu." Maka wanita itu pergi seraya menyerukan kalimat kekecewaan. Kemudian aku (Abu Hurairah) salat Subuh bersama Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam. Seusai salat, kuceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh wanita itu dan jawaban yang kukemukakan kepadanya. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Alangkah buruknya jawabanmu itu. Tidakkah kamu pernah membaca firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berikut: 'Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah'. (Al-Furqan: 68) sampai dengan firman-Nya: 'kecuali orang-orang yang bertobat' (Al-Furqan: 70), hingga akhir ayat. Kemudian aku bacakan ayat tersebut kepada si wanita itu. Maka wanita itu menyungkur bersujud seraya berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan jalan keluar bagiku."
Hadis ini garib bila ditinjau dari jalurnya, di dalam sanadnya terdapat nama perawi yang tidak dikenal."
Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal. Dalam riwayat ini disebutkan bahwa wanita itu menyerukan kalimat kekecewaan seraya berkata, "Aduhai, alangkah kecewanya daku. Apakah kebaikan ini diciptakan untuk neraka?"
Dalam riwayat ini disebutkan bahwa ketika Abu Hurairah pulang dari sisi Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, ia mencari wanita itu ke seluruh pelosok kota Madinah, tetapi tidak menjumpainya. Kemudian pada malam berikutnya wanita itu datang sendiri kepada Ahu Hurairah, dan Abu Hurairah menceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam. Maka wanita itu menyungkur bersujud seraya berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan jalan keluar bagiku dan menerima tobat dari apa yang telah kukerjakan." Lalu wanita itu memerdekakan budak perempuan miliknya berikut anak perempuannya, dan ia bertobat kepada Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa.
******
Kemudian Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa memberitahukan tentang rahmat-Nya yang ditujukan kepada semua hamba-Nya secara umum, bahwa barang siapa di antara mereka yang bertobat kepada-Nya dari dosa apa pun yang telah dilakukannya, baik kecil maupun besar, niscaya Allah akan menerima tobatnya. Untuk itu Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:
{وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا}
Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya. (Al-Furqan: 71)
Yaitu Allah akan menerima tobatnya', seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ}
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya diri. (An-Nisa: 110), hingga akhir ayat.
{أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ}
Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hambanya. (At-Taubah: 104), hingga akhir ayat
Dan firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ}
Katakanlah "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53), hingga akhir ayat.
Yakni bagi orang yang bertobat kepada-Nya.
Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Rabu, 21 Maret 2018

Ilmu Al-Quran


Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ   ۚ  وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰۤى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖ  وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
fa ta'aalallohul-malikul-haqq, wa laa ta'jal bil-qur`aani ming qobli ay yuqdhooo ilaika wahyuhuu wa qur robbi zidnii 'ilmaa
"Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 114)
Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Tafsir Ibnu Katsir
Surah Thaha, ayat 113-114
{وَكَذَلِكَ أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا (113) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (114) }
Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. Maka Maha-tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya; dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah, "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman, "'Mengingat hari kembali dan hari pembalasan amal baik dan amal buruk itu pasti terjadi, maka Kami turunkan Al-Qur'an se­bagai pembawa berita gembira dan menyampaikan peringatan dengan bahasa Arab yang jelas lagi fasih, tiada kekeliruan dan tiada pula kesulitan padanya."
{وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ}
dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa. (Thaha: 113)
Yaitu agar mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa dan perbuatan-perbuatan yang haram serta semua perbuatan yang fahisyah (keji).
{أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا}
atau (agar) Al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (Thaha: 113)
Yakni menimbulkan ketaatan dan pekerjaan-pekerjaan yang mendekatkan diri mereka kepada Allah.
{فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ}
Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. (Thaha: 114)
Artinya, Mahasuci Allah, Raja yang sebenar-benarnya; janji-Nya benar, ancaman-Nya benar, rasul-rasul-Nya benar, surga benar, neraka benar (adanya), dan segala sesuatu yang datang dari-Nya adalah benar belaka. Sifat Mahaadil Allah ialah Dia tidak mengazab seseorang sebelum memberikan peringatan dan mengutus rasul-rasul-Nya dan sebagai alasan­Nya kepada makhluk-Nya, agar tidak ada lagi hujah dan keraguan bagi seorang pun terhadap apa yang telah diputuskan oleh-Nya kelak.
*******************
Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ}
Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu. (Thaha: 114)
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa dalam surat lainnya yang mengatakan:
{لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ * إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ}
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (Al-Qiyamah: 16-19)
Di dalam hadis sahih telah disebutkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sangat bersemangat bila menerima wahyu; hal inilah yang mendorongnya menggerakkan lisannya. Lalu Allah menurunkan ayat ini. Sebelum itu apabila Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam kedatangan Malaikat Jibril membawa wahyu, setiap kali Jibril mengatakan suatu ayat, Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam ikut membacanya bersama Jibril, karena keinginannya yang keras untuk menghafal Al-Qur'an dengan cepat. Maka Allah memberinya petunjuk kepada cara yang lebih mudah dan lebih ringan bagi Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam agar beliau tidak berat. Untuk itulah maka Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya.
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. 
(Al-Qiyamah: 16-17) Yakni Kamilah yang akan menghimpunnya dalam dadamu, kemudian kamu dapat membacakannya kepada manusia tanpa ada sesuatu pun darinya yang terlupakan olehmu. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (Al-Qiyamah: 18-19)
Dalam surat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ}
dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu. (Thaha: 114)
melainkan dengarlah dengan penuh perhatian. Apabila malaikat telah selesai membacakannya kepadamu, mulailah kamu membacanya.
{وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا}
dan katakanlah, "Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha: 114)
Maksudnya, berilah aku tambahan ilmu dari-Mu.
Ibnu Uyaynah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam terus-menerus mendapat tambahan ilmu hingga Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa mewafatkannya. Karena itulah di dalam sebuah hadis telah disebutkan:
"إِنَّ اللَّهَ تَابَعَ الْوَحْيَ عَلَى رَسُولِهِ، حَتَّى كَانَ الْوَحْيُ أَكْثَرَ مَا كَانَ يَوْمَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya secara berturut-turut, sehingga wahyu banyak diturunkan di hari-hari beliau menjelang wafatnya.
قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حدثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْر، عَنْ مُوسَى بْنِ عُبَيْدَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا علَّمتني، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ"
Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Numair, dari Musa ibnu Ubaidah, dari Muhammad ibnu Sabit, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah berkata dalam doanya:
Ya Allah, berilah aku manfaat melalui ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan, dan segala puji bagi Allah dalam semua keadaan.
Imam Turmuzi mengetengahkan hadis ini melalui Abu Kuraib, dari Abdullah ibnu Numair dengan sanad yang sama, selanjutnya Imam Turmuzi mengatakan bahwa ditinjau dari jalur periwayatannya hadis ini berpredikat garib.
Al-Bazzar meriwayatkannya dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Abu Asim, dari Musa ibnu Ubaidah dengan sanad yang sama, hanya di akhir hadis ditambahkan doa berikut:
"وَأَعُوذُ بِاللَّهِ من حال أهل النار"
Dan aku berlindung kepada Allah dari keadaan ahli neraka.
Karena itulah disebutkan di dalam Sahih Muslim melalui hadis Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ عَلَمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ مَنْ بَعْدَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ"
Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu anak saleh yang mendoakan (orang tua)nya, atau ilmu yang bermanfaat sesudah dia tiada, atau sedekah jariyah.
----------
Mengapa ilmu agama lebih utama?
Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh Imam Nawawi.
Pertama, manfaat ilmu (agama) lebih meluas kepada kaum Muslimin, sedangkan ibadah sunnah manfaatnya hanya untuk perseorangan, yaitu orang yang melakukan ibadah sunnah tersebut.
Kedua, karena ilmu itu mengoreksi ibadah, sedangkan ibadah sunnah itu membutuhkan ilmu.
Ketiga, ulama adalah pewaris para Nabi.
Keempat, karena ilmu tetap kekal meskipun ahli ilmu meninggal dunia, sedangkan ibadah sunnah terputus, jika seseorang meninggal dunia (Imam Nawawi, Muqaddimah Syarah Majmu’, hal. 48).
----------
Amalkan ilmu-mu, agar tidak rugi di dunia dan akhirat
Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:
"Orang yang paling kasihan adalah orang yang umurnya habis dalam (menuntut) ilmu, tapi dia tidak mengamalkannya!
Dia tidak menikmati kelezatan-kelezatan dunia, begitu pula kebaikan-kebaikan akhirat sehingga dia datang dalam keadaan bangkrut, padahal hujjah atas dia begitu kuat."
Shaidul khaathir, hal 159
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny, MA
Dewan Pembina Yayasan Risalah Islam
Oleh: Mutiara Risalah Islam
Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari dari Ustadz Dr. Musyaffa’ad Dariny, MA
Anda akan mendapatkan Nasihat, Artikel, Tanya Jawab Terbaik Setiap Hari di Group WA Mutiara Risalah Islam [MRI]
Daftar melalui WA: 089628222285 atau klik http://gabung.kliksini.me/wa/groupMRI

Senin, 19 Maret 2018

Pasangan dan Keturunan sebagai Penyenang Hati


Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا  مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
wallaziina yaquuluuna robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrota a'yuniw waj'alnaa lil-muttaqiina imaamaa
"Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)
Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Tafsir Ibnu Katsir
Surah Al-Furqon, ayat 72-74:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (72) وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا (73) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74)
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka "tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Apa yang telah disebutkan di atas merupakan sebagian dan sifat-sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah, yaitu bahwa mereka tidak pernah memberikan kesaksian palsu. Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud adalah tidak pernah berbuat kemusyrikan dan tidak pernah menyembah berhala. Menurut pendapat yang lainnya lagi ialah tidak pernah berdusta, tidak pernah berbuat fasik, tidak pernah berbuat kekafiran, tidak pernah melakukan perbuatan yang tidak ada faedahnya, dan tidak pernah berbuat kebatilan. Menurut Muhammad ibnul Hanafiyah, makna yang dimaksud ialah perbuatan yang tidak ada faedahnya dan bernyanyi. Abul 'Aliyah, Tawus, Ibnu Sirin, Ad-Dahhak, dan Ar-Rabi' ibnu Anas serta lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak pernah menghadiri hari-hari raya kaum musyrik. Menurut Umar ibnu Qais, maknanya ialah tidak pernah menghadiri majelis yang di dalamnya dilakukan kejahatan dan kefasikan.
Malik telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa makna yang dimaksud ialah tidak pernah minum khamr dan tidak pernah menghadiri tempatnya serta tidak pernah menyukainya, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis:
"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَجْلِسْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ"
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka janganlah ia duduk di suatu hidangan yang digilirkan kepadanya minuman khamr.
Menurut pendapat yang lain, makna firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa: yang tidak memberikan persaksian palsu. (Al-Furqan: 72) Yakni kesaksian palsu alias sengaja berdusta untuk mencelakakan orang lain, seperti pengertian yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بأكْبر الْكَبَائِرِ" ثَلَاثًا، قُلْنَا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: "الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ". وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ، فَقَالَ: "أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ، أَلَا وَشَهَادَةُ الزُّورِ [أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ] . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا، حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ
"Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang dosa yang paling besar?”, sebanyak tiga kali.
Maka kami menjawab, "Wahai Rasulullah, kami mau.” Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
"Mempersekutukan Allah dan menyakiti kedua orang tua.” 
Pada mulanya beliau bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda, "Ingatlah, ucapan dusta, ingatlah kesaksian palsu!"
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam mengulang-ulang sabda terakhirnya ini, sehingga kami berkata (dalam hati) bahwa seandainya beliau diam.
Akan tetapi, menurut makna lahiriah nas ayat ini menunjukkan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak menghadiri hal-hal yang berdosa. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:
{وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا}
dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan: 72)
Yakni mereka tidak mau menghadiri perbuatan yang tidak berfaedah itu, dan apabila secara kebetulan mereka bersua dengan orang-orang yang sedang melakukannya, maka mereka lewati saja dan tidak mau mengotori dirinya dengan sesuatu pun dari perbuatan yang berdosa itu. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{مَرُّوا كِرَامًا}
mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan: 72)
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الأشَجّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ الْعِجْلِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ، أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْسَرة، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ مَرَّ بِلَهْوٍ مُعْرِضًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَقَدْ أَصْبَحَ ابْنُ مَسْعُودٍ، وَأَمْسَى كَرِيمًا"
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Al-Ajali, dari Muhammad ibnu Muslim, bahwa Ibrahim ibnu Maisarah telah menceritakan kepadaku bahwa Ibnu Mas'ud pernah bersua dengan orang-orang yang sedang melakukan perbuatan yang tidak berfaedah, maka dia tidak berhenti. Lalu Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Ibnu Mas’ud di pagi hari dan petang harinya menjadi orang yang menjaga kehormatan dirinya.
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَمَةَ النَّحْوِيُّ، حَدَّثَنَا حِبَّانُ، أنا عَبْدُ اللَّهِ، أنا مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمٍ، أَخْبَرَنِي ابْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ مَرَّ بِلَهْوٍ مُعْرِضًا فَلَمْ يَقِفْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَقَدْ أَصْبَحَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَمْسَى كَرِيمًا". ثُمَّ تَلَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْسَرَةَ: {وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا}
Telah menceritakan pula kepada kami Al-Husain ibnu Muhammad ibnu Salamah An-Nahwi, telah menceritakan kepada kami Hibban, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muslim, telah menceritakan kepadaku Maisarah; telah sampai suatu berita kepadanya bahwa Ibnu Mas'ud pernah bersua dengan orang-orang yang sedang melakukan perbuatan yang tidak berfaedah, tetapi dia tidak berhenti. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Ibnu Mas’ud di pagi hari dan petang harinya menjadi orang yang menjaga kehormatan dirinya. Kemudian Ibrahim ibnu Maisarah membaca firman-Nya: dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan: 72)
******
Adapun firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا}
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.(Al-Furqan: 73)
Hal ini pun merupakan satu di antara sifat dan ciri khas orang-orang mukmin, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ}
mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka(karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakal. (Al-Anfal: 2)
Berbeda dengan orang kafir; karena sesungguhnya apabila dia mendengar kalamullah, 
tiada pengaruh dalam dirinya dan tiada perubahan dari apa yang sebelumnya dia lakukan, bahkan dia tetap pada kekafiran, kesesatan, kejahilan, dan melampaui batas. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:
{وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ}
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, "Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedangkan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafirannya 
(yang telah ada). (At-Taubah:124-125)
*****
Adapun firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا}
mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Al-Furqan: 73)
Yaitu berbeda dengan orang kafir yang apabila mendengar ayat-ayat Allah, maka dirinya tidak terpengaruh, bahkan tetap dalam keadaannya yang kafir, seakan-akan tidak mendengarnya bagaikan orang yang tuli dan buta.
Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka tidak menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Al-Furqan: 73) Maksudnya, mereka tidak mendengarkannya, tidak mau melihatnya, dan tidak mau mengerti akan sesuatu pun darinya. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa betapa banyaknya laki-laki yang membaca ayat-ayat Allah, sedangkan mereka menghadapinya seperti orang-orang yang tuli dan bisu.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Al-Furqan: 73) Yakni mereka tidak tuli terhadap perkara yang hak dan tidak buta terhadap­nya; mereka—demi Allah— adalah kaum yang memikirkan perkara hak dan beroleh manfaat dari apa yang mereka dengar dari Kitab-Nya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usaid ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Hamran, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Asy-Sya'bi tentang seorang laki-laki yang melihat suatu kaum sedang melakukan sujud, tetapi dia tidak mendengar ayat yang menyebabkan mereka melakukan sujud. Bolehkah ia ikut sujud bersama mereka? Asy-Sya'bi membacakan ayat ini kepadanya. Dengan kata lain, yang dimaksudkan oleh Asy-Sya'bi ialah laki-laki itu tidak boleh ikut sujud bersama mereka karena dia tidak mendengar apa yang menyebabkan mereka sujud. Tidaklah layak bagi seorang mukmin menjadi seorang yang membebek, bahkan dia harus mengetahui apa yang dilakukannya dan melakukan perbuatannya dengan penuh keyakinan dan keterangan (alasan) yang jelas.
****
Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ}
Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). (Al-Furqan: 74)
Mereka adalah orang-orang yang memohon kepada Allah agar dikeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang taat kepada Allah dan menyembah­Nya semata, tanpa mempersekutukan-Nya.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka ingin memperoleh keturunan yang selalu mengerjakan ketaatan kepada Allah sehingga hati mereka menjadi sejuk melihat keturunannya dalam keadaan demikian, baik di dunia maupun di akhirat.
Ikrimah mengatakan, mereka tidak bermaksud agar beroleh keturunan yang tampan, tidak pula yang cantik, tetapi mereka menginginkan keturunan yang taat.
Al-Hasan Al-Basri pernah ditanya tentang makna ayat ini. Ia menjawab, "Makna yang dimaksud ialah bila Allah memperlihatkan kepada seorang hamba yang muslim, istri, saudara, dan kerabatnya yang taat kepada Allah. Demi Allah, tiada sesuatu pun yang lebih menyejukkan hati seorang muslim daripada melihat anak, cucu, saudara, dan kerabatnya yang taat kepada Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa."
Ibnu Juraij telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). (Al-Furqan: 74) Yakni orang-orang yang menyembah-Mu dengan baik dan tidak menjerumuskan kami ke dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa mereka memohon kepada Allah agar Dia memberikan petunjuk kepada istri-istri mereka dan keturunan mereka untuk memeluk agama Islam.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Nafir, dari ayahnya yang mengatakan, "Pada suatu hari kami duduk di majelis Al-Miqdad ibnul Aswad. Kemudian lewatlah seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya, 'Beruntunglah kedua matanya yang telah melihat Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam. Seandainya saja kami dapat melihat seperti apa yang telah dilihat matanya dan menyaksikan apa yang telah disaksikannya.' Maka Al-Miqdad marah sehingga membuat diriku terheran-heran, sebab laki-laki tersebut tidak mengucapkan kata-kata kecuali yang baik-baik. Kemudian Al-Miqdad berpaling ke arah laki-laki itu seraya berkata, 'Apakah gerangan yang membuat laki-laki itu mengharapkan hal yang digaibkan oleh Allah darinya? Dia tidak mengetahui seandainya ditakdirkan dia menyaksikan masa itu (masa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam), apa yang bakal dilakukannya. Demi Allah, sesungguhnya banyak kaum yang semasa dengan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, tetapi Allah menyeret mereka ke dalam neraka Jahanam karena mereka tidak menyambut seruannya dan tidak pula membenarkannya. Apakah kalian tidak memuji kepada Allah karena Dia telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa pun kecuali hanya Tuhan kalian seraya percaya pada apa yang disampaikan kepada kalian oleh nabi kalian; sesungguhnya kalian telah ditolong dari musibah oleh selain kalian. Allah mengutus Nabi-Nya di masa yang paling buruk yang pernah dialami oleh seseorang nabi, yaitu di masa Jahiliah. Orang-orang di masa itu tidak melihat adanya suatu agama yang lebih utama daripada agama yang menganjurkan menyembah berhala. Lalu datanglah Nabi dengan membawa Al-Qur'an yang membedakan antara perkara yang hak dengan perkara yang batil, dan membedakan (hak) antara orang tua dengan anak. Seorang laki-laki yang telah dibukakan hatinya untuk beriman pasti akan yakin terhadap anaknya, orang tuanya, dan saudaranya yang masih kafir, bahwa jika mati mereka pasti masuk neraka. Dan pasti tidak akan senang hatinya bila mengetahui bahwa orang yang dikasihinya dimasukkan ke dalam neraka." Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa: Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). (Al-Furqan: 74)
Sanad asar ini sahih, tetapi para ahli sunan tidak ada yang mengetengahkannya.
*****
Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
Ibnu Abbas, Al-Hasan As-Saddi, Qatadah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa yang dimaksud ialah para pemimpin yang mengikuti kami dalam kebaikan.
Selain mereka mengatakan, yang dimaksud ialah para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk dan para penyeru kebaikan; mereka menginginkan agar ibadah mereka berhubungan dengan ibadah generasi penerus mereka, yaitu anak cucu mereka. Mereka juga menginginkan agar hidayah yang telah mereka peroleh menurun kepada selain mereka dengan membawa manfaat, yang demikian itu lebih banyak pahalanya dan lebih baik akibatnya. Karena itulah disebutkan di dalam Sahih Muslim melalui hadis Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ عَلَمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ مَنْ بَعْدَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ"
Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu anak saleh yang mendoakan (orang tua) nya, atau ilmu yang bermanfaat sesudah dia tiada, atau sedekah jariyah.

Minggu, 11 Maret 2018

Ciri-ciri orang yang berpikir negatif (bed):

1) blaming: menyalahkan Tuhan, diri sendiri, atau orang lain;
2) excuse: mencari-cari alasan (berdalih) untuk untuk menutupi perbuatannya yang salah;
3) denial: menolak kebenaran.

Orang yang berpikir negatif selalu pesimis dan membawa masalah.

Ciri-ciri orang yang berpikir positif (oar):
1) ownership: merasa memiliki tanggung jawab, ikhlas dalam bekerja;
2) accountable: dapat mempertanggung-jawabkan kepada Tuhan dan penggugat;
3) responsible: bertanggung jawab, membuat perjanjian untuk melakukan sesuatu (komitmen), mematuhi aturan yang telah disepakati, melaksanakan hak dan kewajiban, mendapat ganjaran (reward) dan ikhlas menerima hukuman (punishment).

Orang yang berpikir positif selalu optimis dan memberi solusi.

Atas arahan Coach Margetty Herwin
[https://coachmargetty.com/]

Sabtu, 10 Maret 2018

Jalan Takdirmu


Hati-hati dengan PIKIRANMU karena akan menjadi UCAPANMU.

Hati-hati dengan UCAPANMU karena akan menjadi PERILAKUMU.

Hati-hati dengan PERILAKUMU karena akan menjadi KEBIASAANMU.

Hati-hati dengan KEBIASAANMU karena akan menjadi KARAKTERMU.

Hati-hati dengan KARAKTERMU karena akan menjadi IDENTITASMU.

Hati-hati dengan IDENTITASMU karena akan menjadi TAKDIRMU.

Madinah, 2010

Rabu, 28 Februari 2018

Berdoa dengan rendah hati dan suara yang lembut


Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dan membuat kerusakan.

Al-A'raf, ayat 55-56

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55) وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56) }
Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar mereka berdoa memohon kepada-Nya untuk kebaikan urusan dunia dan akhirat mereka. Untuk itu Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً}
Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. (Al-A'raf: 54)

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah mengucapkan doa dengan perasaan yang rendah diri, penuh harap, dan dengan suara yang lemah lembut. 

Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu (Al-A'raf: 205), hing­ga akhir ayat

Di dalam kitab Sahihain 
disebutkan dari Abu Musa Al-Asy'ari yang menceritakan bahwa suara orang-orang terdengar keras saat mengucap­kan doanya. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أصمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ
Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang gaib, sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar lagi Mahadekat

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurrasani, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dengan berendah diri dan suara yang lembut. (Al-A'raf: 55) 
Yang dimaksud dengan khufyah ialah suara yang pelan.

Ibnu Jarir mengatakan, makna tadarru' ialah berendah diri dan tenang dalam ketaatan kepada-Nya. Yang dimaksud dengan khufyah ialah dengan hati yang khusyuk, penuh keyakinan kepada Keesaan dan Kekuasaan-Nya terhadap semua yang ada antara kalian dan Dia, bukan dengan suara yang keras untuk pamer.
Abdullah ibnul Mubarak meriwayatkan dari Mubarak ibnul Fudalah, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar hafal Al-Qur'an seluruhnya, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Dahulu ada orang yang benar-benar banyak menguasai ilmu fiqih, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. 

Sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar gemar melakukan salat yang panjang-panjang di dalam rumahnya, sedangkan di rumahnya banyak terdapat para pengunjung yang bertamu, tetapi mereka tidak mengetahuinya. Sesungguhnya kita sekarang menjumpai banyak orang yang tiada Suatu amal pun di muka bumi ini mereka mampu mengerjakannya secara tersembunyi, tetapi mereka mengerjakannya dengan terang-terangan. Padahal sesungguhnya kaum muslim di masa lalu selalu berupaya dengan keras dalam doanya tanpa terdengar suaranya selain hanya bisikan antara mereka dengan Tuhannya. Demikian itu karena Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa telah berfirman di dalam Kitab-Nya: Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. (Al-A'raf: 55); Dan firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa ketika menceritakan seorang hamba yang saleh yang Dia ridai perbuatannya, yaitu:
{إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا}
yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (Maryam: 3)

Ibnu Juraij mengatakan bahwa makruh mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdoa; hal yang diperintahkan ialah melakukannya dengan penuh rasa rendah diri dan hati yang khusyuk.

Kemudian Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurasahi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-A'raf: 55) Yakni dalam berdoa, juga dalam hal lainnya.

Abu Mijlaz mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-A'raf: 55) 

Maksudnya, janganlah seseorang meminta kepada Allah agar ditempat­kan pada kedudukan para nabi.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عن زياد ابن مِخْراق، سَمِعْتُ أَبَا نَعَامَةَ (9) عَنْ مَوْلًى لِسَعْدٍ؛ أَنَّ سَعْدًا سَمِعَ ابْنًا لَهُ يَدْعُو وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ، إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيمَهَا وَإِسْتَبْرَقَهَا وَنَحْوًا مِنْ هَذَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَسَلَاسِلِهَا وَأَغْلَالِهَا. فَقَالَ: لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ خَيْرًا كَثِيرًا، وَتَعَوَّذْتَ بِاللَّهِ مِنْ شَرٍّ كَثِيرٍ، وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يَقُولُ: "إِنَّهُ سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ". وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: {ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً [إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ] } وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَقُولَ: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ"
Imam Ahmad mengatakan
telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Ziad ibnu Mikhraq; ia pernah mendengar Abu Nu'amah meriwayatkan dari seorang maula Sa'd bahwa Sa'd pernah mendengar salah seorang anak lelakinya mengatakan dalam doanya, "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadamu surga dan semua kenikmatannya dan baju sutranya, serta hal lainnya yang semisal. Saya berlindung kepada-Mu dari neraka, rantai, dan belenggunya." Maka Sa'd mengatakan, "Engkau telah meminta kepada Allah kebaikan yang banyak dan berlindung kepada Allah dari kejahatan yang banyak. Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda
'Sesungguhnya kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa'."Menurut lafaz yang lain disebutkan, "Melampaui batas dalam
bersuci dan berdoa." Kemudian Sa'd membacakan
firman-Nya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri. (Al-A'raf: 55) Sa'd mengatakan, "Sesungguhnya sudah cukup bagimu jika kamu mengucapkan dalam doamu hal berikut, 'Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau surga dan semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya. Saya berlindung kepada Engkau dari neraka dan dari semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya

Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Syu'bah, dari Ziyad ibnu Mikhraq, dari Abu Nu'amah, dari maula Sa'd, dari Sa'd, lalu ia menuturkan hadis ini.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عفَّان، حَدَّثَنَا حَمَّاد بْنُ سَلَمَةَ، أَخْبَرَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي نَعَامة: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ: اللَّهُمَّ، إِنِّي أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الْأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا. فَقَالَ: يَا بُنَيَّ، سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ، وَعُذْ بِهِ مِنَ النَّارِ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يقول: "يَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ والطَّهُور".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah
men­ceritakan kepada kami Al-Hariri, dari Abu Nu'amah, bahwa Abdullah ibnu Mugaffal pernah mendengar anaknya mengucapkan doa berikut, "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau gedung putih yang ada di sebelah kanan surga, jika saya masuk surga." Maka Abdullah berkata kepadanya, "Hai anakku, mintalah surga kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari neraka. Karena sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: 'Kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam doa dan bersucinya
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Affan.
Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Musa ibnu Ismail, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sa'id ibnu Iyas Al-Hariri, dari Abu Nu'amah yang nama aslinya ialah Qais ibnu Ubayah Al-Hanafi Al-Basri. Sanad ini dinilai baik dan dapat dipakai.
*******************
Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:
{وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا}
Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah
memperbaikinya(Al-A'raf: 56)
Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa melarang perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi dan hal-hal yang membahayakan kelestariannya sesudah diper­baiki. Karena sesungguhnya apabila segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kelestariannya, kemudian terjadilah pengrusakan padanya, hal tersebut akan membahayakan semua hamba Allah. Maka Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa melarang hal tersebut, dan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah-Nya dan berdoa kepada-Nya serta berendah diri dan memohon belas kasihan-Nya. 

Untuk itulah Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman;
{وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا}
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). (Al-A'raf; 56)

Yakni dengan perasaan takut terhadap siksaan yang ada di sisi-Nya dan penuh harap kepada pahala berlimpah yang ada di sisi-Nya. Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:
{إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ}
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-A'raf: 56)
Maksudnya, sesungguhnya rahmat Allah selalu mengincar orang-orang yang berbuat kebaikan, yaitu mereka yang mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa. (Al-A'raf: 156), hingga akhir ayat

Dalam ayat ini disebutkan qaribun dan tidak disebutkan
qaribatun mengingat di dalamnya (yakni lafaz rahmat) terkandung pengertian pahala; atau karena disandarkan kepada Allah, karena itu disebutkan qaribun minal muhsinin (amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik).

Matar Al-Warraq pernah mengatakan, "Laksanakanlah janji Allah dengan taat kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Hidayah itu Haknya Allah

Masih saja ada yang mengatakan, bahwa ada bid'ah hasanah dalam Syariat Islam, padahal Imam Malik -rohimahulloh- yang dijuluki sebagai &...