Selasa, 23 Januari 2018

Hikmah Sabar

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Innaa lillaahi wa innaaa ilaihi raaji'uun" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 157)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Dalam kisah Nabi Musa Alaihissalam dalam mencari ilmu terdapat hikmah yang manusia tidak dapat bersabar karenanya.

Musa Alaihissalam kerapkali protes terhadap perlakuan Nabi Khidir Alaihissalam terhadap beberapa peristiwa, yang menurut Nabi Musa Alaihissalam seharusnya tidak dilakukan oleh Nabi Khidir Alaihissalam dan mendapat upah.

Di bawah ini diungkapkan ilmu Allah yang Mahaluas, yang manusia hanya diberi sedikit sekali, seperti sepatukan burung pipit, di tengah samudera yang sangat luas, sehingga manusia tidak dapat bersabar karena keterbatasan ilmunya.

Khidir Alaihissalam berka­ta:
Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberi­tahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. 

(1) Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. (Al-Kahfi: 78-79)

(2) Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesalan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mere­ka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapak­nya). (Al-Kahfi: 80-81)

(3) Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda sim­panan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah se­orang yang saleh; maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai pada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku
melaku­kannya itu menuruti kemauanku sendiri. (Al-Kahfi: 82)

Artinya, semuanya itu aku (Khidir Alaihissalam) lakukan bukan atas kehendak diriku sendiri {melainkan karena kehendak Allah yang ilmunya diberikan kepada Nabi Khidir tanpa melalui proses belajar - ilmu laduni, tetapi diberikan langsung oleh Allah Azza Wajalla}.  

"Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (Al-Kahfi: 82)

Hikmah

Manusia tidak akan mampu bersabar karena ilmunya sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah sangat luas.
Manusia perlu mengubah cara pandang terhadap suatu musibah yang menimpa dirinya dengan menggunakan akal lahir (ikhtiar) dan akal batin (tawakal) sehingga apa pun yang terjadi atas diri manusia, baik berupa musibah maupun kebahagiaan, hanya dapat terjadi atas izin Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (laa hawla wala quwwata illa billah)

Oleh karena itu, berprasangka baiklah selalu kepada Allah, karena Allah akan mengikuti persangkaan hamba-Nya.

Catatan:

Ilmu Ma'rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan Kasyf (wahyu ilham/ terbukanya tabir ghaib) atau ru'ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan saleh. Ilmu Kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan "ilmu laduni" di kalangan ahli tasawuf.
(sumber: belajarilmuladuni.com)

Entri yang Diunggulkan

Talut dan Jalut

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman: وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا  ۗ  قَالُوْۤا...