Kamis, 04 Januari 2018

Wajah itu ...

Wajah itu

Teng...

Terdengar suara jam berdenting 1 kali menandakan pukul 01.00 dini hari.

“Assalamu’alaikum…!” diulangnya sampai tiga kali.

Tidak ada yang menjawab salamnya. Anak dan istrinya pasti tertidur pulas.

"Biarlah malaikat yang menjawab salamku,” gumamnya dalam hati.

Diletakkanlah tas, ponsel, dan kunci-kunci di atas meja.

Setelah itu, barulah Abdurrahman menuju kamar mandi sekalian berwudlu kemudian berganti pakaian.

Semua tertidur pulas, tidak ada satu-pun yang terbangun.

Segera dia  beranjak menuju kamar tidur.
Pelan-pelan dibukanya pintu kamar.
Dia tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang tidur pulas.

Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadiran suaminya.

Kemudian Abdurrahman duduk di pinggir tempat tidurnya.

Dipandanginya dalam-dalam wajah istrinya.

Abdurrahman teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum dia menikah.

Ayahnya berpesan :
"Jika kamu sudah menikah nanti,
jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan keinginanmu karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya. Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter yang sama seperti dirimu karena suami dan istri adalah dua orang yang berbeda, tidak untuk disamakan, tetapi untuk saling melengkapi.

Dan, jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak lainnya, ...lihatlah wajah istrimu ketika tidur..."

“Mengapa waktu dia tidur?”
Tanyanya kala itu.

Ayahnya menjawab :
“Nanti kamu akan tahu sendiri."

Waktu itu, dia tidak sepenuhnya memahami maksud ayahnya, tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ayahnya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam itu, Abdurrahman mulai memahaminya. Malam itu, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat.

Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaannya di dalam dada.

Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima.

Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, dan tanpa dibuat-buat. Pancaran yang tulus dari dalam kalbu.

Abdurrahman memandang wajah istrinya, yang menyeruakkan berbagai macam perasaan.

Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap, dan entah perasaan apalagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, Dia  bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang dapat engkau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri. Aku menambahkan kewajiban yang tidak sedikit, memberikanmu banyak batasan, dan mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan, aku pula yang menjadikanmu seorang ibu, menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan, dan mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku, ...
engkau yang dulu dapat  melenggang kemanapun tanpa beban, kini aku memberikan beban di tanganmu, dan di pundakmu untuk mengurus keperluanku, merawat anak-anakku, juga memelihara kenyamanan rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku.

Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku.

Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku.

Kau buang egomu untuk menaatiku.

Kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku..
Di kala susah, kau setia mendampingiku.

Ketika sulit, kau tegar di sampingku.

Saat sedih, kau pelipur laraku.

Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku.

Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku.

Kala aku bimbang, engkau penguat tekadku.

Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku.

Ketika aku salah, engkau yang menasihatiku.

Wahai istriku, ...
Telah sekian lama engkau mendampingiku.

Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa kepadamu..?!

Dengan alasan apa aku marah kepadamu..?!

Andai kau punya kesalahan atau kekurangan.
Semuanya itu tidak cukup bagimu untuk menitikkan air mata.

Akulah yang harus membimbingmu.
Aku adalah imammu.

Jika engkau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu.

Jika ada kekurangan pada dirimu.
Itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah.

Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku...
Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan.

Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Alloh azza wa jalla.

Segala puji hanya untuk Alloh azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodoh untukku.

Tanpa terasa air matanya menetes deras di kedua pipinya.

Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.

Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan.

Tak lama kemudian ia pun terlelap.

Teng... teng...

Suara jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Istri Abdurrahman terperanjat sambil berucap :
“Astaghfirulloh, sudah pukul dua..!"

Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya.

Pelan-pelan ia duduk, sambil berdoa memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu.

Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa.

Sudah makan apa belum ya dia..?!"
Gumamnya dalam hati.

Ada niat mau membangunkan, tapi ach.. tidak tega.
Akhirnya dia cuma memandangi saja wajah suaminya.

Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya.

Perasaan yang campur aduk, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Hanya hatinya yang bicara :
“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku.

Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku.

Begitu besar harapan kusandarkan padamu.

Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

Wahai suamiku, ketika aku sendirian, engkau datang menghampiriku.
Saat aku lemah, engkau ulurkan tanganmu menuntunku.
Dalam duka, engkau sediakan dadamu untuk merengkuhku.
Dengan segala kemampuanmu, engkau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku,
Tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku.
Tidak kenal waktu engkau menuntaskan tugasmu.

Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal, tidak menyurutkan langkahmu.

Bahkan seringkali engkau lupa memerhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

Lalu, atas dasar apa aku tidak berterima kasih kepadamu.

Dengan alasan apa aku tidak berbakti kepadamu?

Seberapa pun materi yang engkau berikan adalah hasil
perjuanganmu, buah dari usahamu menegakkan agama.

Walaupun engkau belum sepandai da’i dalam menasihatiku, tetapi
kesungguhan & tekadmu beramal sholeh, mengajakku, dan anak-anak agar istiqomah di jalan Alloh, membuat aku bahagia.

Maafkan aku wahai suamiku..
Akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah... segala puji hanya milik Alloh, yang telah mengirimmu menjadi imamku.

Aku akan taat kepadamu untuk mentaati Alloh.

Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya.

Sumber: Kisah Abdurrahman dan Qonitat, dikirim oleh seorang sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Hidayah itu Haknya Allah

Masih saja ada yang mengatakan, bahwa ada bid'ah hasanah dalam Syariat Islam, padahal Imam Malik -rohimahulloh- yang dijuluki sebagai &...