Kamis, 01 Februari 2018

Tata Cara Shalat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat
(HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Khusyuk

Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya (khusyuk-red). Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini  dihasankan Syaikh Al Albani)
Ini adalah perintah beliau kepada umatnya agar meneladani tata cara shalat Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam. Lalu bagaimana kaifiyah shalat yang diajarkan beliau?

Berikut ini adalah tuntunan shalat sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

1. RAKAAT PERTAMA
Berwudhu terlebih dahulu.[1]
“Siapa yang berwudhu,’ ia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, maka keluar dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluar dosanya dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluar dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya maka keluar dosanya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluar dosanya dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku kakinya. Shalatnya dan langkahnya ke masjid dihitung sebagai amal tambahan.” (HR. Ibnu Majah)

Tata Cara Wudhu 

Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai berikut.
1) Berniat –dalam hati- untuk menghilangkan hadas.
2) Membaca basmalah: ‘Bismillah.’
3) Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
4) Mengambil air dengan tangan kanan, lalu dimasukkan ke dalam mulut (berkumur-kumur atau madmadho) dan dimasukkan dalam hidung (istinsyaq) sekaligus –melalui satu cidukan-. Kemudian air tersebut dikeluarkan (istintsar) dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali.
5) Membasuh seluruh wajah sebanyak tiga kali dan menyela-nyela jenggot.
6) Membasuh tangan -kanan kemudian kiri - hingga siku dan sambil menyela-nyela jari-jemari.
7) Membasuh kepala 1 kali dan termasuk di dalamnya telinga. Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Kedua telinga termasuk bagian dari kepala” (HR Ibnu Majah, disahihkan oleh Al Albani).
Tata cara membasuh kepala ini adalah sebagai berikut: kedua telapak tangan dibasahi dengan air, kemudian diusapkan dari kepala bagian depan lalu menarik kedua telapak tangan hingga bagian belakang kepala, kemudian menarik tangan kembali hingga bagian depan kepala. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan memasukkan jari telunjuk ke lubang telinga, sedangkan ibu jari menggosok telinga bagian luar dari bagian bawah sampai ke atas.
8) Membasuh kaki 3 kali hingga ke mata kaki dengan mendahulukan kaki kanan sambil membersihkan sela-sela jemari kaki dengan jari agar terbasuh air wudhu.
Membaca doa setelah wudhu [2]

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam:
“Tidaklah seorang di antara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdo’a:
Asyhadu ala ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu wa asyahadu anna muhammadan abduhu warasuuluh
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Melainkan dibukakan baginya delapan pintu Surga. Dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki
• Berniat di dalam hati dan tidak dilisankan. [3]
• Menghadap kiblat, yaitu Ka’bah. [4]

Perhatian:
Menghadap ke arah Ka’bah sebagai Kiblat tidak berarti menyembah Ka’bah, tetapi menyembah Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:
Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke Kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan Kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 144)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Menempatkan sutrah di hadapanmu (sutrah yaitu pembatas, seperti: tembok, tiang, dan lain-lain). Tinggi sutrah yaitu setinggi satu hasta (dari ujung jari tengah sampai siku). [5] Jarak antara sutrah dengan tempat sujud kira-kira dapat dilalui seekor kambing. [6]

Lakukanlah shalat dengan berdiri, bila tidak mampu berdiri, boleh duduk. Bila tidak mampu duduk, boleh berbaring, dan jika tidak mampu menggerakkan anggota badan, boleh dengan isyarat. Bila tidak mampu dengan isyarat, boleh dengan hati. [7]

Footnote:
[1] HR. Bukhari dan Muslim
[2] HR. Muslim (I/209 no. 234).
[3] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[4] QS. Al-Baqarah: 144
[5] HR. Muslim
[6] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[7] HR. Al-Bukhari

2. Bertakbiratul ihram, dengan mengucapkan: “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu [7] atau telinga, [8] serta pandangan mata diarahkan ke tempat sujud, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. [9]
Mengangkat tangan ketika takbir dapat dilakukan dengan satu di antara tiga keadaan:
1. Sebelum ucapan takbir. [10]
2. Bersamaan dengan ucapan takbir. [11]
3. Sesudah ucapan takbir. [12]
Jari-jemari tangan saat takbir dirapatkan, tidak digenggam, dan ujung jari-jemarinya menghadap ke atas, sedangkan telapak tangan menghadap ke arah Kiblat.

Footnote:
[7] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[8] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[9] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[10] HR. Muslim
[11] HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud
[12] HR. Al-Bukhari dan Muslim

3. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, atau di lengan bawah tangan kiri, atau tangan kanan menggenggam tangan kiri, [13] dan posisi kedua tangan di dada. [14]

Membaca doa Iftitah, di antaranya:
Subhaanakallahumma wa bi hamdika
wa tabaarokasmuka
wa ta’aalaa jadduka
wa laa ilaha ghoiruk."
Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu,
Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu,
tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. [15]

Ibnu Taimiyah menyatakan, “Disunnahkan membaca doa iftitah tersebut dalam shalat wajib,  sedangkan doa iftitah yang lain dianjurkan oleh sebagian ulama untuk dibaca pada shalat nafilah (shalat sunnah).” (Kitab Shifatish Shalah min Syarhil ‘Umdah karya Ibnu Taimiyah, hal. 86).

Footnote:
[13] HSR. An-Nasa-i
[14] HSR. Abu Dawud dan An-Nasa-i
[15] HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804.

Membaca Ta’awudz:
A’uu dzubillahi minasy-syaithaanirrajiim
(Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk.) [17]
• Membaca surat al-Faatihah, namun, bacaan “Bismillaahirrahmaanirrahiim” tidak dikeraskan. [17]
Membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim" tidak dikeraskan berdasarkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasa membuka shalatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin
(HR. Muslim)

Dalil lainnya dari Radhiyallahu anhu, ia berkata,
Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘bismillaahir rahmaanirrahiim’.” (HR. Muslim no. 399)

Pendapat 4 Imam 

Madzhab Imam Abu Hanifah rahimahullah (80 H – 150 H), Hanafiyah, disunnahkan membaca basmalah secara lirih bagi imam dan orang yang shalat sendirian di setiap membaca awal Al-Fatihah di setiap raka’at.

Madzhab Imam Anas bin Malik rahimahullah (93 H – 179 H), Malikiyah, basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah sehingga basmalah tidak dibaca dalam shalat wajib yang sirr (Zhuhur dan Ashar) dan jahr( Maghrib, Isya
dan Shubuh), baik bagi imam, makmum maupun munfarid (orang yang shalat sendirian).

Madzhab Imam Syafi’i Muhammad rahimahullah (150 H – 204 H), wajib bagi imam dan makmum serta munfarid untuk membaca basmalah dalam setiap raka’at sebelum membaca Al-Fatihah.

Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (164 H – 241 H), Hambali, tidak wajib membaca basmalah saat membaca Al-Fatihah, begitu pula surat lainnya di setiap raka’at.

Footnote:
[16] HSR. Abu Dawud dan selainnya
[17] HSR. An-Nasa-i

5. Imam membaca:
“Aamiin” diikuti oleh makmum setelah selesai membaca “Waladhdhooolliin.” [18]
Dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda:
Apabila seorang imam mengucapkan ghoiril magdubi 'alaihim walad dooolliin, lalu ia mengucapkan 'aamiin.' Ternyata bacaan 'aamiin' penduduk bumi bersamaan dengan bacaan 'aamiin' penduduk langit (para malaikat), niscaya Allah mengampuni hamba yang bersangkutan dari dosa-dosanya yang terdahulu (Ibnu Katsir).
• Setelah membaca al-Faatihah, bacalah satu surah atau ayat-ayat al-Qur’an yang engkau hafal.[19] 
Bacaan surah atau ayat-ayat ini dibaca pada raka'at pertama dan kedua saja.
• Setelah selesai membaca surah,  berdiam sejenak (thuma’niinah). [20]
Footnote:
[18] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[19] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[20] HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi

6. Melakukan rukuk sambil bertakbir (mengucapkan: “Allahu Akbar”) dan mengangkat kedua tangan sejajar dengan pundak atau telinga. [21]
Posisi rukuk:
Punggung rata dengan lantai, kepala sejajar dengan punggung, dan pandangan mata diarahkan pada tempat sujud. [22] Kedua telapak tangan diletakkan [23] atau menggenggam [24] kedua lutut dan jari-jemari direnggangkan. [25]
Lakukanlah rukuk dengan thuma’niinah, yaitu diam sejenak, hingga tulang-tulang menempati posisinya. [26]

Kemudian membaca:
Subhaana Robbiyal ‘Adziim
(Mahasuci Allah Yang Mahaagung) (sebanyak 3x) [27]

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits dengan penyebutan membaca tiga kali diriwayatkan oleh tujuh orang sahabat. Namun boleh-boleh saja membaca dzikir tersebut lebih dari tiga kali.

Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir disebutkan mengenai bacaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat rukuk, 
Subhanaa robbiyal ‘azhimi wa bi hamdih
Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung dan pujian untuk-Nya
sebanyak tiga kali [28]

Saat ruku’ dan sujud dapat pula membaca bacaan lainnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata,
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memperbanyak membaca ketika ruku’ dan sujud bacaan, “Subhanakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfirlii (artinya: Mahasuci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku).” Beliau menerangkan maksud dari ayat Al Qur’an dengan bacaan tersebut
[29]

Footnote:
[21] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[22] HSR. Abu Dawud
[23] HR. Al-Bukhari
[24] HSR. Abu Dawud
[25] HR. Al-Bukhari
[26] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[27] HR. Muslim no. 772
[28] (HR. Abu Daud no. 870. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al Albani dalam Shifat Shalat Nabi, hal. 115. Kata Syaikh Al Albani hadits ini diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthni, Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Baihaqi.
[29] HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484).

7. Bangkit dari rukuk (I’tidaal), dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau kedua telinga sambil mengucapkan:
Sami’-Allahu Liman Hamidah
(Allah Mahamendengar orang yang memuji-Nya) [28]
Setelah Imam tegak berdiri, makmum  mengucapkan:
Robbana wa lakalhamdu, hamdanhkatsiiran thoyyiban mubaarakan fiih
(Ya Rabb kami, segala puji hanya milik-Mu dengan pujian yang baik lagi banyak serta penuh berkah) [29]
“Robbana walakal hamdu, hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih (artinya: wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah).” Disebutkan dalam hadits Rifa’ah bin Rofi’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bagi orang yang mengucapkan semacam itu, “Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya.” [30]
Ketika berdiri ini pun harus tenang, tidak terburu-buru. [31]

Footnote:
[28] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[29] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[30]  HR. Bukhari no. 799
[31] HR. Al-Bukhari dan Muslim

8. Melakukan sujud sambil bertakbir, kemudian meletakkan kedua lutut terlebih dahulu daripada kedua tangan (atau boleh pula sebaliknya, meletakkan kedua telapak tangan kemudian lutut). [31]

Posisi sujud:
Kedua telapak tangan terbuka, tidak mengepal, dan diletakkan sejajar dengan bahu atau telinga, kedua sikut diangkat, dijauhkan dari lantai dan direnggangkan/dijauhkan dari lambung kiri dan kanan sehingga terlihat ketiak, kecuali ketika shalat berjamaah, maka kedua sikut dirapatkan ke sisi lambung. [32]
– Posisi jari-jemari ketika sujud: Jari-jemari tangan dirapatkan [33] dan ujung jari-jemari menghadap ke arah Kiblat. [34]

Footnote:
[31] HSR. Abu Dawud
[32] HSR. Abu Dawud dan An-Nasa-i
[33] HSR. Ibnu Khuzaimah
[34] HR. Al-Bukhari

9. – Posisi ketika sujud: Kedua paha dibuka, [35] lalu ujung jari-jemari kaki menghadap ke arah Kiblat dan kedua telapak kaki ditegakkan serta kedua tumit dirapatkan. [36] Jarak antara paha dengan lambung dijauhkan.
– Sujudlah dengan thuma’niinah dan lakukanlah dengan menempelkan tujuh anggota badan:
(1) dahi dan hidung,
(2, 3) kedua tangan,
(4, 5) kedua lutut, dan
(6, 7) ujung jari-jemari kedua kaki. [37]

Bacaan ketika sujud:
SUBHAANA RABBIYAL A’LAA.
(Mahasuci Allah Yang Mahatinggi) (sebanyak 3 kali) [38]

Footnote:
[35] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[36] HSR. Ibnu Khuzaimah
[37] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[38] HR. Muslim

10. Bangkit dari sujud sambil bertakbir lalu duduk Iftirasy (untuk duduk di antara dua sujud), yaitu duduk dengan bertumpu pada telapak kaki kiri dan telapak kaki kanan ditegakkan. [39]
Cara duduk Iftirasy yang salah: Duduk bertumpu di atas kedua telapak kaki.
Footnote:
[39] HR. Muslim

11. – Posisi tangan ketika duduk iftirasy: telapak tangan kanan diletakkan di atas paha kanan, demikian pula dengan tangan kiri. [40] Atau telapak tangan kanan diletakkan di lutut kanan seolah-olah menggenggamnya, demikian pula telapak tangan kiri. [41]
Membaca:
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman -radhiallahu anhu- dia berkata:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat duduk di antara dua sujud mengucapkan Rabbighfirli  Rabbighfirli  Wahai Rabbku ampunilah aku, wahai Rabbku ampunilah aku
[42]
Atau, membaca:
Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa'afini wa'fu'anni  [43]
(Yaa Rabb ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku).

Footnote:
[40] HR. Muslim
[41] HSR. An-Nasa-i
[42] HR. Ibnu Majah no. 897
[43] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tarmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim

12. Lalu sujud kembali, kemudian bangkit dari sujud sambil bertakbir, dan duduk sejenak sebagai duduk istirahat. [43] Kemudian bangkit dengan mengepalkan tangan [47] atau dengan membukanya.[45]

RAKAAT KEDUA:
Melakukan raka'at kedua dengan bersedekap, lalu membaca surat al-Faatihah.[46]
– Raka'at kedua lebih singkat dari rakaat pertama. [47] Membaca surah yang lebih pendek dari surah di raka'at pertama. Kemudian ruku’, i’tidaal, sujud dan duduk di antara dua sujud sebagaimana pada raka'at pertama.

Footnote:
[43] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[44] HSR. Al-Baihaqi
[45] HR. Al-Bukhari
[46] HR. Muslim
[47] HR. Muslim

13. Setelah sujud kedua, maka lakukanlah tasyahhud Awal dengan posisi duduk Iftirasy.
Posisi tangan ketika tasyahhud awal:
“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas paha kanan, dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya.” [48]

Ada  tiga pilihan:
Pertama, sejak membaca attahiyatul sampai sebelum salam, jari telunjuk diangkat lurus diarahkan ke Kiblat.
Kedua, setelah membaca asyhadu ala ilaaha illallah ..., jari telunjuk diangkat lurus diarahkan ke Kiblat kemudian diturunkan.
Ketiga, pada saat membaca asyhadu ala ilaaha illallah, jari telunjuk diangkat dan  diarahkan ke Kiblat, kemudian jari telunjuk diturunkan kembali sebelum salam,  menengok ke kanan dengan mengucapkan Assalamu'alaikum warahmatullaah (sambil menengok ke kanan),  kemudian menengok ke kiri dengan mengucapkan Assalamu'alaikum warahmatullaah
– Pandangan mata tertuju pada telunjuk. [49]

Footnote:
[48] HR. Muslim
[49] HR. Muslim

14. Lalu membaca doa Tasyahhud Awal:

ATTAHIYYATULILLAH WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBATS, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHANNABIYYU WARAHMATULLAHI WABARAKAATUH, ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADIL-LAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU AN-LAA ILAAHA ILLALLAAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH.
“Seluruh penghormatan hanyalah milik Allah dan juga seluruh pengagungan serta kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan tercurahkan kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah hamba dan Rasul-Nya.”) [50]

Footnote:
[50] HR. Al-Bukhari dan Muslim

15. Lalu membaca shalawat Ibrahim:

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHALLAITA ‘ALAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAARAKTA ‘ALAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.
(“Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung. Ya Allah berkahilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung.”) [51]

Footnote:
[51] HR. Al-Bukhari dan Muslim

16. Bila shalat Shubuh, Jum’at atau shalat dua raka'at lainnya, tidak ada Tasyahhud Awal, namun langsung melakukan Tasyahhud Akhir, dengan posisi duduk Iftirasy, [52] dan membaca seperti bacaan di atas lalu ditambah dengan doa:

ALLAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM, WA MIN ‘ADZAABIL QABRI, WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAATI, WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAL.
(“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Neraka jahannam, adzab kubur, fitnah dalam kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah al-Masih Dajjal.”) [53]

Lalu berdoa sesuai yang diinginkan.

Footnote:
[52] HR. Al-Bukhari
[53] HR. Al-Bukhari dan Muslim

17. Bila engkau telah melakukan Tasyahhud Awal, maka bangkitlah, lalu kerjakan raka'at ketiga dengan tangan bersedekap dan membaca al-Faatihah dan tidak membaca surat lain setelahnya. Kemudian ruku’, i’tidaal, sujud dan duduk di antara dua sujud lalu sujud kedua seperti biasa.
– Bila shalat Maghrib, di raka'at ketiga melakukan Tasyahhud Akhir setelah melakukan sujud kedua, dengan posisi duduk Tawarruk (dengan posisi: Telapak kaki kanan ditegakkan, kaki kiri diletakkan di bawah kaki kanan, dan pantat duduk di lantai). Bacaannya sama dengan yang sebelumnya. [54]

Footnote:
[54] HR. Al-Bukhari

18. Bila engkau telah melakukan sujud kedua, maka bangkitlah lalu kerjakanlah raka'at keempat. Lalu ruku’, i’tidaal, sujud, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti biasa. Maka lakukanlah Tasyahhud Akhir dengan posisi duduk Tawarruk.
• Setelah itu salam, dimulai dengan menolehkan wajah ke kanan sambil mengucapkan salam:
ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAAH.
(“Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian.”) [55]
Lalu menolehkan wajah ke kiri dengan mengucapkan ucapan salam yang sama.

Footnote:
[55] HR. Muslim
Demikianlah tuntunan shalat secara ringkas berdasarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dzikir Setelah Shalat Sesuai Tuntunan Nabi Shallallahu'alahi wasallam

1. Astaghfirullah (dibaca 3 kali)
2. Allahuma anta salam wa minka salam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.
(“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia.“ (HR. Muslim: 1/414)
3. Allahumma la mani'a lima a'tayta,
wa la mu'tiya lima mana'ta,
wa la yanfa'u dzal-jaddi, minkal-jad.
("Ya Allah Tidak ada yang dapat menyangkal apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan; dan keberuntungan dan kemakmuran tidak akan berguna di hadapan Allah"). [Al-Bukhari dan Muslim].
Catatan:
Karena Allah hanya akan memperhitungkan iman dan amal saleh pada hari perhitungan (yaumul hisab).
4. Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.
("Ya Allah, tolong aku mengingat Engkau, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk menyembah Engkau dengan cara yang sangat baik") [Abu Dawud]
5. Ayat Kursi 
Allah Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:
Allohu laaa ilaaha illaa huwal-hayyul-qoyyuum, laa ta`khuzuhuu sinatuw wa laa na`uum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, man zallazii yasyfa'u 'indahuuu illaa bi`iznih, ya'lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai`im min 'ilmihiii illaa bimaa syaaa`, wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh, wa laa ya`uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-'aliyyul-'azhiim
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)
6. Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas
Al-Ikhlas
Bismillahirrahmaanirrohiim
(Dengan nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang)
1) Qul huwallohu ahad
("Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.")
2) Allohush-shomad
("Allah tempat meminta segala sesuatu.")
3) Lam yalid wa lam yuulad
("(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.")
4) Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad
("Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.")
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1-4)
Al-Falaq
Bismillahirrahmaanirrohiim
(Dengan nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang)
1) Qul a'uuzu birobbil-falaq
("Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),")
2) Min syarri maa kholaq
("Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,")
3) Wa min syarri ghoosiqin izaa waqob
("Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,")
4) Wa min syarrin-naffaasaati fil-'uqod
("Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),")
5) Wa min syarri haasidin izaa hasad
("Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.")
(QS. Al-Falaq 113: Ayat 1-5)
An-Nas
Bismillahirrahmaanirrohiim
(Dengan nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang)
1) Qul a'uuzu birobbin-naas
("Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,")
2) Malikin-naas
("Rajanya manusia,")
3) ilaahin-naas
("Tuhannya manusia,")
4) Min syarril-waswaasil-khonnaas
("Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,")
5) Allazii yuwaswisu fii shuduurin-naas
("Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,")
6) Minal-jinnati wan-naas
("Dari (golongan) jin dan manusia.")
(QS. An-Nas 114: Ayat 1-6)
Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com
Catatan:
Pada saat shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya' masing-masing dibaca satu kali, sedangkan pada shalat Shubuh dan Maghrib masing-masing dibaca 3 kali).
7. Membaca dzikir (dengan tangan kanan):
Subhaanallah = 33 kali; Alhamdulillah = 33 kali; Allahu Akbar = 33 kali; seluruhnya = 99 kali.
Digenapkan 100 kali, dengan membaca:
"La ilaha illallah wahdahu la syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa 'ala kulli sya'in qadir."
(Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya adalah semua kerajaan dan puji-pujian dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu).
Catatan:
Dzikir tersebut dibaca sendiri (tidak dipimpin oleh Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam atau imam shalat), sedangkan urutan membacanya dapat berubah.
Setelah berdzikir, Rasulullah Shallallahu'alahi wasallam langsung berdiri di depan pintu masjid dan melayani umat yang ada keperluan atau ingin menanyakan sesuatu kepada Rasulullah Shallallahu'alahi wasallam.

Disarikan dari ceramah ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA dan Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.

Shalat sunnah Rawatib
Sesungguhnya amalan yang kali pertama akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan kepada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.”[56]

Barang siapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”[57]

Shalat-shalat sunnah Rawatib tersebut, sebaiknya dikerjakan di rumah, untuk menghindari riya,' kecuali shalat fardhu, bagi laki-laki shalat berjama'ah di masjid, kecuali ada udzur (halangan).

Footnote:
[56] HR. Abu Daud no. 874
[57] HR. Tirmidzi no. 414

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Gunungpun pasti tunduk terpecah belah

Gunungpun pasti tunduk terpecah belah kalau sekiranya Al-Quran diturunkan kepadanya disebabkan takut kepada Allah Bagaimana dengan ma...