Kamis, 01 Februari 2018

Tata Cara Sholat Nabi Shollalloohu 'Alaihi Wasallam


Tata Cara Sholat Nabi Shollallaohu'alaihi wasallam

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺃَﻳﺘُﻤُﻨِﻲ ﺃُﺻَﻠِّﻲ

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” 
(HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Khusyu'

“Ingatlah kematian dalam sholatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam sholatnya, maka ia akan memperbagus sholatnya (khusyu'-red). Sholatlah seperti sholat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan sholat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini  dihasankan Syaikh Al Albani)

Lalu bagaimana tata cara sholat yang diajarkan Rosuulullooh shollalloohu'alaihi wasallam? 

Berikut ini adalah tuntunan sholat sesuai sunnah Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam. 

1. ROKAA'AT PERTAMA

Berwudhu terlebih dahulu.[1]

“Siapa yang berwudhu,’ ia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, maka keluar dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluar dosanya dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluar dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya maka keluar dosanya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluar dosanya dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku kakinya. Sholatnya dan langkahnya ke masjid dihitung sebagai amal tambahan.” (HR. Ibnu Majah)

Tata cara wudhu Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam sebagai berikut.

1) Berniat –dalam hati- untuk menghilangkan hadas.
2) Membaca basmalah: ‘Bismillah.’ 
3) Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
4) Mengambil air dengan tangan kanan, lalu dimasukkan ke dalam mulut (berkumur-kumur atau madmadho) sekaligus dimasukkan ke dalam hidung lalu dihirup (istinsyaq) dengan satu cidukan tangan kanan, kemudian air tersebut dikeluarkan (istintsar) dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali.
5) Membasuh seluruh wajah sebanyak tiga kali dengan cara menampung air di kedua telapak tangan kemudian langsung dibasuhkan ke seluruh wajah sambil menyela-nyela jenggot.
6) Membasuh tangan sampai ke siku dimulai dari tangan kanan kemudian tangan kiri sambil menyela-nyela jari-jemari.
7) Membasuh kepala 1 (satu) kali termasuk telinga. 

Rosuulullooh 
Shollalloohu'
alaihi wasallam bersabda, 
“Kedua telinga termasuk bagian dari kepala” (HR Ibnu Majah, disahihkan oleh Al Albani). 

Tata cara membasuh kepala ini sebagai berikut: kedua telapak tangan dibasahi dengan air, kemudian diusapkan dari batas wajah dengan rambut bagian depan dan samping hingga bagian belakang kepala, tidak sampai leher, kemudian menarik kembali kedua telapak tangan hingga batas wajah dengan rambut bagian depan dan samping kepala, kemudian dilanjutkan dengan memasukkan kedua jari telunjuk ke lubang telinga, ibu jari dan jari telunjuk diusapkan bersama-sama daun telinga bagian luar dan dalam sekaligus, dimulai dari bagian bawah telinga hingga ke bagian atas telinga.
8) Membasuh kaki 3 kali hingga ke mata kaki dengan mendahulukan kaki kanan sambil membersihkan sela-sela jari kaki dengan jari tangan kiri agar terbasuh semua.

Membaca doa setelah wudhu [2]

Berdasarkan sabda Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam: 
“Tidaklah seorang di antara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdo’a:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalahu wa asyahadu anna muhammadan abduhu warasuuluh
“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Melainkan dibukakan baginya delapan pintu Surga. Dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki.”

• Berniat di dalam hati dan tidak dilisankan. [3]

• Menghadap masjidilharam (Ka'bah) sebagai Kiblat [4]

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ  فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ  فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ ۗ  وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ  ۗ  وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَـعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ  وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

qod naroo taqolluba waj-hika fis-samaaa,' fa lanuwalliyannaka qiblatan tardhoohaa fa walli waj-haka syathrol-masjidil-haroom, wa haisu maa kuntum fa walluu wujuuhakum syathroh, wa innallaziina uutul-kitaaba laya'lamuuna annahul-haqqu mir robbihim, wa mallohu bighoofilin 'ammaa ya'maluun
("Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke Kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan Kiblat) itu adalah kebenaran dari Robb mereka. Dan Alloh tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.")
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 144)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

• Menempatkan sutrah di hadapanmu (sutrah yaitu pembatas, seperti: tembok, tiang, dan lain-lain). Tinggi sutrah yaitu setinggi satu hasta (dari ujung jari tengah sampai siku). [5] Jarak antara sutrah dengan tempat sujud kira-kira dapat dilalui seekor kambing. [6]

• Lakukanlah sholat dengan berdiri, bila tidak mampu berdiri, boleh duduk. Bila tidak mampu duduk, boleh berbaring, dan jika tidak mampu menggerakkan anggota badan, boleh dengan isyarat. Bila tidak mampu dengan isyarat, boleh dengan hati. [7]

Footnote:
[1] HR. Bukhori dan Muslim
[2] HR. Muslim (I/209 no. 234).
[3] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[4] QS. Al-Baqoroh: 144
[5] HR. Muslim
[6] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[7] HR. Al-Bukhori

2. Bertakbiratul ihram, dengan mengucapkan: “Alloohu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu [7] atau telinga, [8] serta pandangan mata diarahkan ke tempat sujud, tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. [9]

Mengangkat tangan ketika takbir dapat dilakukan dengan satu di antara tiga keadaan:
1. Sebelum mengucapkan takbir. [10]
2. Bersamaan dengan mengucapkan takbir. [11]
3. Sesudah mengucapkan takbir. [12]

Jari-jemari tangan saat takbir dirapatkan, tidak digenggam, dan ujung jari-jemari menghadap ke atas, sedangkan telapak tangan menghadap ke arah Kiblat.

Footnote:
[7] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[8] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[9] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[10] HR. Muslim
[11] HR. Al-Bukhori dan Abu Dawud
[12] HR. Al-Bukhori dan Muslim

3. Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, atau di lengan bawah tangan kiri, atau tangan kanan menggenggam tangan kiri, [13] dan posisi kedua tangan di dada. [14]

• Membaca doa Iftitah, di antaranya:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Alloohu akbar kabiiro walhamdulillah katsiiro wasubhaanallohi bukrottaw wa' ashiila

“Alloh Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Alloh dengan pujian yang banyak, Maha Suci Alloh, baik waktu pagi dan petang” (HR. Muslim 2/99)

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar Rodhiallahu’anhu, ia berkata:

بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: … فذكره. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء “. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك

“Ketika kami sholat bersama Rosuulullooh 
Shollalloohu’ alaihi wasallam, ada seorang laki-laki yang berdoa istiftah: (lalu disebutkan doa di atas). Rosuulullooh 
Shollalloohu’alaihi wasallam lalu bersabda: ‘Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit.‘ Ibnu Umar pun berkata:’Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian.’”

Doa iftitah yang lain

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Alhamdulillahi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, pujian yang terbaik, dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya.” (HR. Muslim 2/99).

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik Rodhialloohu’anhu, ketika ada seorang laki-laki yang membaca doa istiftah tersebut, Rosuulullooh 
Shollalloohu’ alaihi 
wasallam bersabda:

لقد رأيت اثني عشر ملكاً يبتدرونها ؛ أيهم يرفعها

“Aku melihat dua belas malaikat bersegera menuju kepadanya. Mereka saling berlomba untuk mengangkat doa itu (kepada Alloh Ta’aalaa)”

Doa iftitah yang lain

“Subhaanakallohumma wa bi hamdika 
tabaarokasmuka 
wa ta’aalaa jadduka 
wa laa ilaaha ghoiruk." 
("Maha suci Engkau ya Alloh, aku memuji-Mu, 
Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, 
tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.”) [15]

Ibnu Taimiyah menyatakan, “Disunnahkan membaca doa iftitah tersebut dalam sholat wajib,  sedangkan doa iftitah yang lain dianjurkan oleh sebagian ulama untuk dibaca pada saat sholat nafilah (sholat sunnah).” (Kitab Shifatish Shalah min Syarhil ‘Umdah karya Ibnu Taimiyah, hal. 86).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Subhaanakallohumma wa bihamdika tabaarokasmuka wa ta'aalaa jadduka wa laa ilaaha ghoiruk

“Maha suci Engkau, ya Allah. Kusucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Sholatin Nabi 1/252)

Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara marfu’, yaitu dari ‘Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir 
rodhialloohu’anhu.

Imam Muslim membawakan riwayat :

أن عمر بن الخطاب كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول : سبحانك اللهم وبحمدك . تبارك اسمك وتعالى جدك . ولا إله غيرك

“Umar bin Khoththob pernah menjahrkan doa ini (ketika sholat) : (lalu menyebut doa di atas)” (HR. Muslim no.399)

Demikianlah, doa ini banyak diamalkan oleh para sahabat Nabi shollalloohu'alaihi wasallam, sehingga para ulama pun banyak yang lebih menyukai untuk mengamalkan doa ini dalam sholat. Selain itu doa ini cukup singkat dan sangat tepat bagi imam yang mengimami banyak orang yang kondisinya lemah, semisal anak-anak, orang tua, atau ibu-ibu yang sedang menyusui.

Footnote:
[13] HSR. An-Nasa-i
[14] HSR. Abu Dawud dan An-Nasa-i
[15] HR. Muslim no. 399, Abu Daud no. 775, Tirmidzi no. 242, Ibnu Majah no. 804.

Membaca Ta’awudz:

A’UU DZUBILLAHI  MINASY- SYAITHOONIRROJIIM
(Aku berlindung kepada Alloh dari (godaan) syaithoon yang terkutuk.) [17]

• Membaca surat al-Faatihah, namun, bacaan “Bismillaahirrohmaanirrohiim” tidak dikeraskan. [17]

Membaca "bismillaa
hirrohmaanirrohiim" tidak dikeraskan berdasarkan hadits dari ‘Aisyah rodhiyalloohu anha,  berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

“Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wasallam biasa membuka sholatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.” (HR. Muslim no. 498).

Dalil lainnya dari ... Radhiyallahu anhu, ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ )

“Aku pernah sholat bersama Rosuulullooh Shollallohu ‘alaihi wasallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘bismillaahirrohmaanirrohiim’.” 
(HR. Muslim no. 399).

Pendapat Imam Empat

Madzhab Imam Abu Hanifah rohimahulloh (80 H – 150 H), Hanafiyah, disunnahkan membaca basmalah secara lirih bagi imam dan orang yang sholat sendirian di setiap membaca awal Al-Fatihah di setiap raka’at. 

Madzhab Imam Anas bin Malik rohimahulloh (93 H – 179 H), Malikiyah, basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah sehingga basmalah tidak dibaca dalam sholat wajib yang sirr (Zhuhur dan Ashar) dan jahr 
(Maghrib, Isya dan Shubuh), baik bagi imam, makmum maupun munfarid (orang yang sholat sendirian).

Madzhab Imam Syafi’i Muhammad rohimahulloh (150 H – 204 H), wajib bagi imam dan makmum serta munfarid untuk membaca basmalah dalam setiap rokaa’at sebelum membaca Al-Fatihah.

Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh (164 H – 241 H), Hambali, tidak wajib membaca basmalah saat membaca Al-Fatihah, begitu pula surat lainnya di setiap rokaa’at.

Footnote:
[16] HSR. Abu Dawud dan selainnya
[17] HSR. An-Nasa-i

5. • Imam membaca:

“Aamiiin” diikuti oleh makmum setelah selesai membaca “Waladhdhooolliin.” [18]

Dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollallohu'alaihi wasallam pernah bersabda: 
Apabila seorang imam mengucapkan ghoiril magdubi 'alaihim walad dooolliin, lalu ia mengucapkan 'aamiiin.' Ternyata bacaan 'aamiiin' penduduk bumi bersamaan dengan bacaan 'aamiiin' penduduk langit (para malaikat), niscaya Alloh mengampuni hamba yang bersangkutan dari dosa-dosanya yang terdahulu (Ibnu Katsir).

• Setelah membaca al-Faatihah, bacalah satu surah atau ayat-ayat al-Qur’an yang engkau hafal.[19] 

Bacaan surah atau ayat-ayat ini dibaca pada rokaa'at pertama dan kedua saja.

• Setelah selesai membaca surah,  berdiam sejenak (thuma’niinah). [20]

Footnote:
[18] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[19] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[20] HSR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi

6. • Melakukan rukuk sambil bertakbir (mengucapkan: “Alloohu Akbar”) dan mengangkat kedua tangan sejajar dengan pundak atau telinga. [21]

Posisi rukuk: 
Punggung rata dengan lantai, kepala sejajar dengan punggung, dan pandangan mata mengarah ke tempat sujud. [22] Kedua telapak tangan diletakkan [23] atau menggenggam [24] kedua lutut dan jari-jemari direnggangkan. [25]
Lakukanlah rukuk dengan thuma’niinah, yaitu diam sejenak, hingga tulang-tulang menempati posisinya. [26]

Kemudian membaca:

SUBHAANA ROBBIYAL ‘ADZIIM
(“Mahasuci Alloh Yang Mahaagung.”) (sebanyak 3x) [27]

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits dengan penyebutan membaca tiga kali diriwayatkan oleh tujuh orang sahabat. Namun boleh-boleh saja membaca dzikir tersebut lebih dari tiga kali. 

Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir disebutkan mengenai bacaan Rosuulullooh Shollallohu‘alaihi wasallam saat rukuk,

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

“Subhanaa robbiyal ‘azhimi wa bi hamdih (artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung dan pujian untuk-Nya).” Ini dibaca tiga kali. [28] 

Saat ruku’ dan sujud dapat pula membaca bacaan lainnya.

Dari ‘Aisyah rodhiyalloohu anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلميُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِى رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى » يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ

“Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam memperbanyak membaca ketika ruku’ dan sujud bacaan, “Subhaanakallohumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfirlii (artinya: Mahasuci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku).” Beliau menerangkan maksud dari ayat Al Qur’an dengan bacaan tersebut.” [29] 

Footnote:
[21] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[22] HSR. Abu Dawud
[23] HR. Al-Bukhari
[24] HSR. Abu Dawud
[25] HR. Al-Bukhori
[26] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[27] HR. Muslim no. 772
[28] (HR. Abu Daud no. 870. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syaikh Al Albani dalam Sifat Sholat Nabi, hal. 115. Kata Syaikh Al Albani hadits ini diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthni, Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Baihaqi.
[29] HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484).

7. Bangkit dari rukuk (I’tidaal), dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau kedua telinga sambil mengucapkan:

SAMI’-ALLOOHU LIMAN HAMIDAH
(“Alloh Mahamendengar orang yang memuji-Nya.”) [28]

Setelah Imam tegak berdiri, makmum  mengucapkan:

ROBBANA WA LAKALHAMDU, HAMDAN KATSIIRAN THOYYIBAN, MUBAARAKAN FIIH.
(“Ya Rabb kami, segala puji hanya milik-Mu dengan pujian yang baik lagi banyak serta penuh berkah.”) [29]

“Robbana walakal hamdu, hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih (artinya: wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah).” Disebutkan dalam hadits Rifa’ah bin Rofi’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bagi orang yang mengucapkan semacam itu, “Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya.” [30]

Ketika berdiri ini pun harus tenang, tidak terburu-buru. [31]

Footnote:
[28] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[29] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[30]  HR. Bukhori no. 799
[31] HR. Al-Bukhori dan Muslim

8. • Melakukan sujud sambil bertakbir, kemudian meletakkan kedua lutut terlebih dahulu daripada kedua tangan (atau boleh pula sebaliknya, meletakkan kedua telapak tangan kemudian lutut). [31]
– Posisi sujud: 
Kedua telapak tangan terbuka, tidak mengepal, dan diletakkan sejajar dengan bahu atau telinga, kedua sikut diangkat, dijauhkan dari lantai dan direnggangkan/dijauhkan dari lambung kiri dan kanan sehingga terlihat ketiak, kecuali ketika sholat berjama'ah, maka kedua sikut dirapatkan ke sisi lambung. [32]
– Posisi jari-jemari ketika sujud: Jari-jemari tangan dirapatkan [33] dan ujung jari-jemari menghadap ke arah Kiblat. [34]

Footnote:
[31] HSR. Abu Dawud
[32] HSR. Abu Dawud dan An-Nasa-i
[33] HSR. Ibnu Khuzaimah
[34] HR. Al-Bukhori

9. – Posisi ketika sujud: Kedua paha dibuka, [35] lalu ujung jari-jemari kaki menghadap ke arah Kiblat dan kedua telapak kaki ditegakkan serta kedua tumit dirapatkan. [36] Jarak antara paha dengan lambung dijauhkan. 
– Sujudlah dengan thuma’niinah dan lakukanlah dengan menempelkan tujuh anggota badan: 
(1) dahi dan hidung, 
(2, 3) kedua tangan, 
(4, 5) kedua lutut, dan 
(6, 7) ujung jari-jemari kedua kaki. [37]

Bacaan ketika sujud:

SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA.
(“Mahasuci Alloh Yang Mahatinggi.”) (sebanyak 3 kali) [38]

Footnote:
[35] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[36] HSR. Ibnu Khuzaimah
[*] Kitab Al-Qaulul Mubin Fil Akhtaail Mushalliin
[37] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[38] HR. Muslim

10. • Bangkit dari sujud sambil bertakbir lalu duduk Iftirasy (untuk duduk di antara dua sujud), yaitu duduk dengan bertumpu pada telapak kaki kiri dan telapak kaki kanan ditegakkan. [39]
Cara duduk Iftirasy yang salah: Duduk bertumpu di atas kedua telapak kaki.

Footnote:
[39] HR. Muslim

11. – Posisi tangan ketika duduk iftirasy: telapak tangan kanan diletakkan di atas paha kanan, demikian pula dengan tangan kiri. [40] Atau telapak tangan kanan diletakkan di lutut kanan seolah-olah menggenggamnya, demikian pula telapak tangan kiri. [41]

Membaca:
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman -rodhiyalloohu anhu- dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ رَبِّ اغْفِرْ لِي رَبِّ اغْفِرْ لِي

“Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam saat duduk di antara dua sujud mengucapkan: “ROBBIGHFIRLI ROBBIGHFIRLI (Wahai Robbku ampunilah aku, wahai Robbku ampunilah aku).” [42]

Atau, membaca:

ROBBIGHFIRLI WARHAMNI WAJBURNI WARFA’NI WARZUQNI WAHDINI WA’AFINI WA’FU ‘ANNI [43]
("Yaa Robb ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku).

Footnote:
[40] HR. Muslim
[41] HSR. An-Nasa-i
[42] HR. Ibnu Majah no. 897 
[43] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tarmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim

12. • Lalu sujud kembali, kemudian bangkit dari sujud sambil bertakbir dan duduk sejenak sebagai duduk istirahat. [43] Kemudian bangkit dengan mengepalkan tangan [47] atau dengan membukanya.[45]

• ROKAA'AT KEDUA:
Melakukan rokaa'at kedua dengan bersedekap, lalu membaca surat al-Faatihah.[46]
– Roka'at kedua lebih singkat dari rokaa'at pertama. [47] Membaca surah yang lebih pendek dari surah di roka'at pertama. Kemudian ruku’, i’tidaal, sujud dan duduk di antara sujud sebagaimana pada rokaa'at pertama.

Footnote:
[43] HR. Al-Bukhori dan Muslim
[44] HSR. Al-Baihaqi
[45] HR. Al-Bukhori
[46] HR. Muslim
[47] HR. Muslim

13. – Setelah sujud kedua, maka lakukanlah tasyahhud Awal dengan posisi duduk Iftirasy.

Posisi tangan ketika tasyahhud awal:
– “Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas paha kanan, dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya.” [48]

Ada  tiga pilihan:
PERTAMA, sejak membaca attahiyatul sampai sebelum salam, jari telunjuk diangkat lurus diarahkan ke Kiblat.
KEDUA, setelah membaca asyhadu an-laa ilaaha illallooh ..., jari telunjuk diangkat lurus diarahkan ke Kiblat kemudian diturunkan.
KETIGA, pada saat membaca asyhadu an laa ilaaha illallooh, jari telunjuk diangkat dan  diarahkan ke Kiblat, kemudian jari telunjuk diturunkan kembali sebelum salam,  menengok ke kanan dengan mengucapkan Assalamu'alaikum warohmatullooh (sambil menengok ke kanan),  kemudian menengok ke kiri dengan mengucapkan Assalamu'alaikum warohmatullooh
– Pandangan mata tertuju pada telunjuk. [49]

Footnote:
[48] HR. Muslim
[49] HR. Muslim

Pendapat Imam Asy Syafi’i ini dikuatkan pula oleh Ibnu Hazm rohimahullooh. Ibnu Hazm rohimahullooh 
berkata,

فَفِيْ الصَّلاَةِ أَرْبَعُ جَلَسَاتٍ : جِلْسَةُ بَيْنَ كُلِّ سَجْدَتَيْنِ, وَجِلْسَةُ إِثْرِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَّةِ مِنْ كُلِّ رَكْعَةٍ, وَجِلْسَةُ لِلتَّشَهُّدِ بَعْدَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ, يَقُوْمُ مِنْهَا إِلىَ الثَّالِثَةِ فِيْ اْلمَغْرِبِ, وَاْلحَاضِرُ فِيْ الظُّهْرِ وَاْلعَصْرِ وَاْلعِشَاءِ اْلآخِرَةِ, وَجِلْسَةُ لِلتَّشَهُّدِ فِيْ آخِرِ كُلِّ صَلاَةٍ, يُسَلِّمُ فِيْ آخِرِهَا. وَصِفَةُ جَمِيْعِ اْلجُلُوْسِ اْلمَذْكُوْرِ أَنْ يَجْعَلَ أَلِيْتِهِ اْليُسْرَى عَلَى بَاطِنِ قَدَمِهِ اْليُسْرَى مُفَتَرِشًا لِقَدَمِهِ, وَيَنْصِبُ قَدَمَهُ اْليُمْنَى ,رَافِعًا لِعَقِبِهَا,مُجَلِّسُا لَهَا عَلَى بَاطِنِ أَصَابِعِها, إِلاَّ اْلجُلُوْس الّذِيْ يَلِي السَّلاَم مِنْ كُلِّ صَلاَةٍ, فَإِنَّ صِفَتَهُ أَنْ يَفْضِيَ بِمَقَاعِدِهِ إِلىَ مَا هُوَ جَالِسٌ عَلَيْهِ, وَلاَ يَجْلِس عَلىَ بَاطِنِ قَدَمِهِ فَقَطّ

“Di dalam sholat ada empat keadaan duduk, yaitu duduk di antara dua sujud, duduk setelah sujud kedua dari setiap rokaa’at (duduk istirahat, pen), duduk tasyahud setelah rokaa’at kedua (bangkit menuju rokaa’at ketiga pada sholat maghrib, dan sholat muqim [orang yang menetap, tidak bersafar] pada sholat Zhuhur, Ashar dan Isya), dan duduk untuk tasyahud pada akhir setiap sholat yang dia mengucapkan salam pada akhirnya. Tata cara semua duduk yang disebutkan adalah dengan menjadikan bokong kirinya berada di atas telapak kaki kirinya dengan menidurkan kakinya tersebut, menegakkan kaki kanan, mengangkat tumitnya mendudukkannya di atas bagian dalam jari jemari (kakinya) tersebut (maksudnya, melakukan duduk iftirasy, pen). Kecuali untuk duduk yang diikuti dengan salam dari setiap sholat (duduk tasyahud akhir), maka caranya adalah dengan duduk di lantai, dan bukan duduk di atas telapak kaki kirinya (maksudnya, melakukan duduk tawarruk, pen).”[19]

[19] Al Muhalla, 4/125

14. Lalu membaca doa Tasyahhud Awal:

ATTAHIYYATULILLAH WASH SHALAWAATU WATH THAYYIBATS, ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHANNABIYYU WAROHMATULLAHI WABAROKAATUH, ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADIL-LAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU AN-LAA ILAAHA ILLALLOOH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH.
“Seluruh penghormatan hanyalah milik Alloh dan juga seluruh pengagungan serta kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam, demikian pula rahmat Alloh dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan tercurahkan kepada kita dan kepada hamba-hamba Alloh yang sholih. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam adalah hamba dan Rosul-Nya.”) [50]

Footnote:
[50] HR. Al-Bukhari dan Muslim

15. Lalu membaca sholawat Ibrahim:

ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.
(“Ya Alloh, berikanlah rahmat kepada Nabi Muhammad Shollalloohu ‘alaihi wasallam dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung. Ya Alloh berkahilah Nabi Muhammad Shollalloohu ‘alaihi wasallam dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung.”) [51]

Footnote:
[51] HR. Al-Bukhari dan Muslim

16. • Bila sholat Shubuh, Jum’at atau sholat dua rokaa'at lainnya, tidak ada Tasyahhud Awal, namun langsung melakukan Tasyahhud Akhir, dengan posisi duduk tawaruk (telapak kaki kanan ditegakkan, kaki kiri diletakkan di bawah kaki kanan, dan bokong duduk di lantai), dan membaca seperti bacaan di atas lalu ditambah dengan doa:
ALLAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM, WA MIN ‘ADZAABIL QOBRI, WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT, WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAL.
(“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Neraka jahannam, adzab kubur, fitnah dalam kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah al-Masih Dajjal.”) [53]

Lalu berdoa sesuai yang diinginkan.

Footnote:
[52] HR. Al-Bukhori
[53] HR. Al-Bukhori dan Muslim

17. • Bila engkau telah melakukan Tasyahhud Awal, maka bangkitlah, lalu kerjakan rokaa'at ketiga dengan tangan bersedekap dan membaca al-Faatihah dan tidak membaca surat lain setelahnya. Kemudian ruku,’ i’tidaal, sujud dan duduk di antara dua sujud lalu sujud kedua seperti biasa.
– Bila sholat Maghrib, di rokaa'at ketiga melakukan Tasyahhud Akhir setelah melakukan sujud kedua, dengan posisi duduk Tawarruk (posisi duduk: Telapak kaki kanan ditegakkan, kaki kiri diletakkan di bawah kaki kanan, dan bokong duduk di lantai). Bacaannya sama dengan yang sebelumnya. [54]

Footnote:
[54] HR. Al-Bukhari

18. • Bila engkau telah melakukan sujud kedua, maka bangkitlah lalu kerjakanlah rokaa'at keempat. Lalu ruku’, i’tidaal, sujud, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti biasa. Maka lakukanlah Tasyahhud Akhir dengan posisi duduk Tawarruk.

• Setelah itu salam, dimulai dengan menolehkan wajah ke kanan sambil mengucapkan salam:

Cara salam adalah dengan memalingkan wajah ke kanan sampai orang di belakang melihat pipi, begitu pula salam ke kiri sampai orang di belakang melihat pipi. Disebutkan dalam hadits,

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ

Dari ‘Amir bin Sa’ad dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah melihat Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga aku melihat pipinya yang putih.” (HR. Muslim no. 582).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ »

“Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam biasa mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri sampai terlihat pipinya yang putih, lalu beliau mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaikum warohmatulloh, assalamu ‘alaikum warohmatulloh’ ” (HR. Abu Daud no. 996 dan Tirmidzi no. 295. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

ASSALAAMU ‘ALAIKUM WAROHMATULLOOH.
(“Semoga keselamatan dan rahmat Alloh tercurah kepada kalian.”) [55]

Lalu menolehkan wajah ke kiri dengan mengucapkan salam yang sama.

Footnote:
[55] HR. Muslim

Demikianlah tuntunan sholat secara ringkas berdasarkan sunnah Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam. 

Dzikir Setelah Sholat Sesuai Tuntunan Nabi Shollalloohu'alahi wasallam 

1. Astaghfirulloh (dibaca 3 kali)

2. Allahuma anta salam wa minka salam tabarokta ya dzal jalali wal ikram.
(“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia.“ (HR. Muslim: 1/414)

3. Allahumma la mani'a lima a'thoyta, 
wa la mu'tiya lima mana'ta, 
wa la yanfa'u dzal-jaddi, minkal-jad.
("Ya Alloh Tidak ada yang dapat menyangkal apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan; dan keberuntungan dan kemakmuran tidak akan berguna di hadapan Alloh"). [Al-Bukhari dan Muslim].

Catatan:
Karena Alloh hanya akan memperhitungkan iman dan amal saleh pada hari perhitungan (yaumul hisab).

4. Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.
("Ya Alloh, tolong aku mengingat Engkau, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk menyembah Engkau dengan cara yang sangat baik") [Abu Dawud]

5. Ayat Kursi  
Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ   لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ  لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ  مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِذْنِهٖ ۗ  يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ  وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ  ۚ  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۚ  وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا  ۚ  وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allohu laaa ilaaha illaa huwal-hayyul-qoyyuum, laa ta`khuzuhuu sinatuw wa laa na`uum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, man zallazii yasyfa'u 'indahuuu illaa bi`iznih, ya'lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai`im min 'ilmihiii illaa bimaa syaaa,` wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh, wa laa ya`uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-'aliyyul-'azhiim

"Alloh, tidak ada Ilah selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa'at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 255)

6. Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas 

Al-Ikhlas

Bismillahirrohmaanirrohiim
(Dengan nama Alloh Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang)
1) Qul huwallohu ahad
("Katakanlah (Muhammad), Dialah Alloh, Yang Maha Esa.")
2) Allohush-shomad
("Alloh tempat meminta segala sesuatu.")
3) Lam yalid wa lam yuulad
("(Alloh) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.")
4) Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad
("Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.")
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1-4)

Al-Falaq
Bismillahirrohmaanirrohiim
(Dengan nama Alloh Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang)
1) Qul a'uuzu birobbil-falaq
("Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),")
2) Min syarri maa kholaq
("Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,")
3) Wa min syarri ghoosiqin izaa waqob
("Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,")
4) Wa min syarrin-naffaasaati fil-'uqod
("Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),")
5) Wa min syarri haasidin izaa hasad
("Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.")
(QS. Al-Falaq 113: Ayat 1-5)

An-Nas
Bismillahirrohmaanirrohiim
(Dengan nama Alloh Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang)
1) Qul a'uuzu birobbin-naas
("Katakanlah, Aku berlindung kepada Robb-nya manusia,")
2) Malikin-naas
("Rajanya manusia,")
3) ilaahin-naas
("Tuhannya manusia,")
4) Min syarril-waswaasil-khonnaas
("Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,")
5) Allazii yuwaswisu fii shuduurin-naas
("Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,")
6) Minal-jinnati wan-naas
("Dari (golongan) jin dan manusia.")
(QS. An-Nas 114: Ayat 1-6)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Catatan:
Pada saat sholat Dzuhur, Ashar, dan Isya' masing-masing dibaca satu kali, sedangkan pada saat sholat Shubuh dan Maghrib masing-masing dibaca 3 kali).

7. Membaca dzikir (dengan tangan kanan):
Subhaanalloh = 33 kali; Alhamdulillah = 33 kali; Allohu Akbar = 33 kali; seluruhnya = 99 kali.
Digenapkan 100 kali, dengan membaca: 
"Laa ilaaha illalloh wahdahu la syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa 'ala kulli sya'in qodir."
(Tiada Tuhan melainkan Alloh yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya adalah semua kerajaan dan puji-pujian dan Alloh adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Catatan:
Dzikir tersebut dibaca sendiri (tidak dipimpin oleh Nabi Muhammad Shollallohu' Alaihi Wasallam atau imam pada saat sholat berjama'ah), sedangkan urutan membacanya dapat berubah.

Setelah berdzikir, Rosulullah Shollallahu'alahi wasallam langsung berdiri di depan pintu masjid dan melayani umat yang ada keperluan dengannya atau ingin menanyakan sesuatu kepada Rosululloh Shollalloohu'alahi wasallam.

Disarikan dari ceramah ustadz Dr. Khalid Basalamah, MA dan Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.

Sholat Sunnah Rawatib

“Sesungguhnya amalan yang kali pertama akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah sholat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan kepada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada sholat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika sholatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika sholatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan sholat sunnah? Jika ia memiliki sholat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan sholat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.”[56]

“Barang siapa merutinkan sholat sunnah dua belas roka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas roka’at tersebut adalah empat rokaa’at sebelum zhuhur, dua rokaa’at sesudah zhuhur, dua roka’at sesudah maghrib, dua rokaa’at sesudah ‘Isya, dan dua rokaa’at sebelum shubuh.”[57]

Sholat-sholat sunnah Rawatib tersebut, sebaiknya dikerjakan di rumah, untuk menghindari riya,' kecuali sholat fardhu, bagi laki-laki sholat berjama'ah di masjid, kecuali ada udzur (halangan).

Footnote:
[56] HR. Abu Daud no. 874
[57] HR. Tirmidzi no. 414

Wallohu a’lam bish-showab.

Entri yang Diunggulkan

Menjaga Keutuhan Umat

Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik yang telah memecah belah agama mereka, yakni mengganti dan mengubahnya, serta beriman ...