Rabu, 27 Juni 2018

Khilaf

Khilaf

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ}

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya. (Al-Ahzab: 5)

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa menghapuskan dosa kekeliruan (tidak sengaja melakukan perbuatan dosa, red), sebagaimana yang ditunjukkan oleh-Nya melalui firman-Nya yang memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar dalam doanya mengucapkan:

{رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا}

Robbanaa laa tu'akhiznaa in nasiinaa au akhtho'na

Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. (Al-Baqarah: 286)

Di dalam hadis sahih Muslim disebutkan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah bersabda:

"قَالَ اللَّهُ: قَدْ فَعَلْتُ"

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman (menjawab doa tersebut), "Kami luluskan.”

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Amr ibnul As r.a. yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah bersabda:

"إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِنِ اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ"

Apabila seorang hakim berijtihad dan ternyata benar, maka dia memperoleh dua pahala. Dan apabila ia berijtihad dan ternyata keliru, maka baginya satu pahala.

Di dalam hadis lain disebutkan:

"إِنَّ اللَّهَ رَفَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ، وَمَا يُكرَهُون عَلَيْهِ"

Sesungguhnya Alloh Subhaanahuu wa telah memaafkan dari umatku perbuatan keliru, lupa, dan melakukan perbuatan yang dipaksakan kepada mereka.

Dan firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa dalam surat ini:

{وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab: 5)

Yakni sesungguhnya yang dinilai dosa itu ialah melakukan perbuatan yang batil dengan sengaja, sebagaimana yang disebutkan pula oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ

Alloh tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja (Al-Maidah: 89), hingga akhir ayat.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Perdagangan yang tidak akan rugi

Membaca alquran
Melaksanakan sholat
Menginfakkan sebagian rezeki

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَ

innallaziina yatluuna kitaaballohi wa aqoomush-sholaata wa anfaquu mimmaa rozaqnaahum sirrow wa 'alaaniyatay yarjuuna tijaarotal lan tabuur

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Alloh (Al-Qur'an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi, agar Alloh menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Alloh Maha Pengampun, Maha Mensyukuri."
(QS. Fatir 35: Ayat 29-30)

Sumber:
Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com



Selasa, 26 Juni 2018

Pemimpin yang dicintai Alloh

Pemimpin yang dicintai Alloh akan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin), dijauhkan dari segala macam musibah karena dicintai oleh penduduk langit.

Pemimpin yang dicintai Alloh akan mencintai rosul-Nya melebihi kecintaannya kepada yang lain.

Pemimpin yang dicintai Alloh akan menjadikan Al-Quran sebagai sumber acuan yang tertinggi dalam kehidupannya.

Pemimpin yang dicintai Alloh percaya pada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata lahir, tetapi terlihat oleh mata batinnya.

Pemimpin yang dicintai Alloh menempatkan Dia di atas kepentingan yang lain.

Pemimpin yang dicintai Alloh percaya bahwa kehidupan di dunia ini sebagai sarana untuk memperoleh kemenangan yang sesungguhnya di akhirat.

Pemimpin yang dicintai Alloh akan memilih orang-orang yang taat pada perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa merahmati negeri ini dan memberi ampunan kepada penduduknya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya, baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur.

27/06/2018

Larangan mengunjungi tempat tinggal kaum yang pernah ditimpa Azab

Dalam perjalanan menuju medan Tabuk, yaitu pada tahun sembilan Hijriah, Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah melalui bekas tempat tinggal kaum Tsamud.

Karena melanggar perintah dan larangan Alloh (membunuh unta betina yang keluar dari celah batu sebagai mukjizat Alloh), kaum Tsamud ditimpa azab yang sangat cepat dari langit dengan suara guntur yang menggelegar, yang sangat menakutkan disertai gempa bumi yang sangat kuat sehingga mereka hancur lebur seakan-akan mereka tidak pernah ada (QS. Al-Hijr: 80, Huud: 68, Qoof: 12).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad. Telah menceritakan kepada kami Sakhr ibnu Juwairiyah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam dalam perjalanannya menuju medan Tabuk memerintahkan orang-orang beristirahat di daerah Al-Hajar, yaitu di bekas tempat tinggal kaum Tsamud. Kemudian orang-orang (para sahabat) mengambil air dari sumur-sumur yang dahulu dipakai untuk minum oleh kaum Tsamud. Mereka membuat adonan roti dengan air sumur-sumur itu dan menem­patkannya di panci-panci besar. Tetapi Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam memerintahkan kepada mereka agar menumpahkan air yang ada di panci-panci itu dan mem­berikan adonan mereka kepada unta-unta mereka sebagai makanannya. Kemudian Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam membawa mereka berangkat hingga turun istirahat bersama mereka di sebuah sumur yang pernah dijadikan sebagai tempat minum unta tersebut (unta Nabi Saleh). Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam melarang mereka memasuki bekas daerah kaum yang pernah diazab, dan Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya saya merasa khawatir bila kalian akan ditimpa oleh azab seperti yang menimpa mereka, maka janganlah kalian memasuki bekas tempat tinggal mereka.

Ibnu Katsir

Rabu, 20 Juni 2018

Syaithoon atau Setan

Setan adalah bangsa jin yang dapat masuk ke dalam aliran darah manusia, membisikkan atau mengajak manusia agar hidup abadi, mempersekutukan Alloh, meminum minuman keras, berzina, berjudi, mencuri, membunuh yang tidak dibenarkan secara syariat, dan sebagainya sampai manusia melakukan  perbuatan buruk tersebut dengan baik, setan telah berhasil menyesatkan manusia dan akan lepas tangan karena setan hanya membisikkan angan-angan atau janji-janji palsu, sedangkan janji-janji Alloh pasti benar.

Hanya orang-orang yang bertakwa, yang taat pada perintah dan larangan Alloh, yang dapat lolos dari godaan setan.

Setan adalah seburuk-buruk teman yang selalu mengajak pada keburukan dan jalan yang menyimpang dari ketaatan pada perintah dan larangan Alloh

Dengan kata lain, sesungguhnya yang mendorong mereka melakukan perbuatan yang buruk itu dan menyimpang dari jalan ketaatan adalah setan.

Setan yang membisikkan perbuatan buruk kepada mereka dan membuat mereka berangan-angan untuk melakukannya. Dan setan selalu menemani mereka hingga semua perbuatan yang buruk akan mereka kerjakan dengan baik.

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan seperti berikut: Barang siapa yang menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. (An-Nisa: 38)

A'uudzubillaahi minasysyaithoonirrojiim
Aku berlindung kepada Alloh dari syaithoon yang terkutuk.




Minggu, 17 Juni 2018

Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya

Qatadah mengatakan bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan yang akan ditinggalkan; tidak lama kemudian, demi Alloh yang tidak ada Tuhan selain Dia, pasti (kesenangan itu, red) menyurut dan hilang dari pemiliknya. Karena itu, ambillah dari kehidupan ini (dunia) sebagai sarana untuk taat kepada Alloh, jika kalian mampu dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa.

Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adziim

"Tidak ada daya (untuk menghindar dari maksiat) dan tidak ada kekuatan (untuk mengerjakan ibadah atau ketaatan kepada Alloh) kecuali dengan pertolongan Alloh Yang Mahatinggi Lagi Mahabesar'.”

Tafsir Ibnu Katsir


Jumat, 15 Juni 2018

Kemenangan yang Besar

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ  الْمَوْتِ ۗ  وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ  فَمَنْ  زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَازَ  ۗ  وَمَا  الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

kullu nafsin zaaa`iqotul mauut, wa innamaa tuwaffauna ujuurokum yaumal-qiyaamah, fa man zuhziha 'anin-naari wa udkhilal-jannata fa qod faaz, wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa mataa'ul-ghuruur

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 185)

Tafsir Ibnu Katsir
Ali Imran, ayat 185-186

كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّما تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فازَ وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُورِ (185) لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذىً كَثِيراً وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (186)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian. Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kalian BERSABAR dan BERTAKWA, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa memberitahukan kepada semua makhluknya secara umum. bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Perihalnya Sama dengan firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa yang mengatakan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْها فانٍ وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْإِكْرامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetap kekal Zat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman: 26-27)

Hanya Dia sendirilah yang Hidup Kekal dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia semuanya mati, begitu pula para malaikat umumnya dan para malaikat pemangku Arasy. Hanya Alloh sematalah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa Yang Kekal Abadi. Dengan demikian, berarti Alloh Yang Mahaakhir, sebagaimana Dia Maha Pertama (Akhirnya Alloh tidak ada kesudahannya dan Permulaan Alloh tidak ada awal-nya, pent.).

Ayat ini merupakan belasungkawa kepada semua manusia, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini melainkan pasti mati. Apabila masa telah habis dan nutfah yang telah ditakdirkan oleh Alloh keberadaannya dari sulbi Adam telah habis. serta semua makhluk habis, maka Alloh melakukan hari kiamat dan membalas semua makhluk sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing, yang besar, yang kecil, yang banyak, yang sedikit.serta yang tua dan yang muda, semuanya mendapat balasannya. Tiada seorang pun yang dianiaya barang sedikit pun dalam penerimaan pembalasannya. Karena itulah maka Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. (Ali Imran: 185)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Al-Uwaisi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Ali Al-Hasyimi, dari Ja'far ibnu Muhammad Ali ibnul Husain, dari ayah-nya, dari.Ali ibnu Abu Thalib r.a. yang menceritakan bahwa ketika Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam wafat, dan belasungkawa berdatangan, maka datanglah kepada mereka seseorang yang mereka rasakan keberadaannya, tetapi mereka tidak dapat melihat ujudnya. Orang tersebut mengatakan: Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, hai Ahlul Bait. Begitu pula rahmat Alloh dan berkahnya, tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Sesungguhnya belasungkawa dari setiap musibah itu hanyalah kepada Alloh, dan hanya kepada-Nya memohon ganti dari setiap yang telah binasa, dan hanya kepada-Nya meminta disusulkan dari setiap yang terlewatkan. Karena itu, hanya kepada Alloh-lah kalian percaya, dan hanya kepada-Nyalah kalian berharap, karena sesungguhnya orang yang tertimpa musibah itu ialah orang yang terhalang tidak mendapat pahala. Dan semoga keselamatan terlimpah kepada kalian. begitu pula rahmat Alloh dan berkah-Nya. Ja'far ibnu Muhammad mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, bahwa Ali Abu Talib berkata.”Tahukah kalian, siapakah orang ini?" Ali mengatakan pula, "Dia adalah Al-Khidir a.s."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}

Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. (Ali Imran)

Artinya, barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan selamat darinya serta dimasukkan ke dalam surga, berarti ia sangat beruntung.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرو بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَوْضع سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خيرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فيها، اقرؤوا إن شئم: {فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda: Tempat sebuah cemeti di dalam surga lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya. Bacalah oleh kalian jika kalian suka, yaitu firman-Nya, "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguhlah ia telah beruntung" (Ali Imran: 186).

Hadis ini ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur lain tanpa memakai tambahan ayat.

Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim serta Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya tanpa memakai tambahan ini melalui hadis Muhammad ibnu Amr.

Telah diriwayatkan pula dengan memakai tambahan ini oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur yang lain. Untuk itu Ibnu Murdawaih mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَنَا حُمَيْد بْنُ مَسْعَدَةَ، أَنْبَأَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَمَوْضِعُ سَوط أحَدكم فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا". قَالَ: ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya. telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa’d yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda: sesungguhnya tempat sebuah cemeti seseorang di antara kalian di dalam surga lebih baik daripada dunia ini dan semua yang ada di dalamnya. Sahl ibnu Sa'd melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu beliau Shollalloohu'alaihi wasallam membacakan firman-Nya: Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. (Ali Imran: 185)

Dalam pembahasan yang lalu sehubungan dengan firman-Nya:

{وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}

dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Waki' ibnul Jarrah di dalam kitab tafsimya, dari Al-A'masy ibnu Zaid ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَأَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أن يؤتى إليه»

Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati sedang ia dalam keadaan beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Dan hendaklah ia memberikan kepada orang-orang apa yang ia suka bila diberikan kepada dirinya sendiri.

Imam  Ahmad meriwayatkannya  di  dalam  kitab  musnadnya  dari Waki' dengan lafaz yang sama.

*******

Firman Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ}

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185)

Makna ayat ini mengecilkan perkara duniawi dan meremehkan urusannya. Bahwa masalah duniawi itu adalah masalah yang rendah, pasti lenyap, sedikit, dan pasti rusak. Seperti yang diungkapkan oleh Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَياةَ الدُّنْيا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقى

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.(Al-A'la: 16-17)

وَما أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَزِينَتُها وَما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقى

Dan apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al-Qashash: 60)

Dan dalam sebuah hadis disebutkan:

«وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يَغْمِسُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ إِلَيْهِ»

Demi Alloh, tiadalah dunia ini dalam kehidupan di akhirat, melainkan sebagaimana seseorang di antara kalian mencelupkan jari telunjuknya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat apa yang didapat olehnya dari laut itu.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185) Bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan yang akan ditinggalkan; tidak lama kemudian, demi Alloh yang tidak ada Robb selain Dia, pasti menyurut dan hilang dari pemiliknya. Karena itu, ambillah dari kehidupan ini sebagai sarana untuk taat kepada Alloh, jika kalian mampu dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ}

Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian. (Ali Imran: 186)

Ayat ini sama maknanya dengan ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَراتِ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. (Al-Baqarah: 155), hingga akhir ayat berikutnya.

Dengan kata lain, seorang mukmin itu harus diuji terhadap sesuatu dari hartanya atau dirinya atau anaknya atau istrinya. Seorang mukmin mendapat ujian (dari Alloh) sesuai dengan tingkatan kadar agamanya; apabila agamanya kuat, maka ujiannya lebih dari yang lain.

{وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا}

Dan (Juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186)

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman kepada orang-orang mukmin ketika mereka tiba di Madinah sebelum Perang Badar untuk meringankan beban mereka dari tekanan gangguan yang menyakitkan hati yang dilakukan oleh kaum Ahli Kitab dan kaum musyrik. Sekaligus memerintahkan mereka agar bersikap pemaaf dan bersabar serta memberikan ampunan hingga Alloh memberikan jalan keluar dari hal tersebut. Untuk itu Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ}

Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.(Ali Imran: 186)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib ibnu Abu Hamzah, dari Az-Zuhri; Urwah ibnuz Zubair menceritakan kepadanya, Usamah ibnu Zaid pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi dan para sahabatnya di masa lalu selalu bersikap pemaaf terhadap orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, sesuai dengan perintah Alloh kepada mereka, dan mereka bersabar dalam menghadapi gangguan yang menyakitkan. Perintah Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa tersebut adalah melalui firman-Nya: Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186) Tersebutlah bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam bersikap pemaaf sesuai dengan pengertiannya dari apa yang diperintahkan oleh Alloh kepadanya, sehingga Alloh mengizinkan kepada beliau terhadap mereka (yakni bertindak terhadap mereka). Demikianlah menurut apa yang diketengahkannya secara ringkas.

Imam Bukhari mengetengahkannya dalam bentuk yang panjang lebar di saat ia menafsirkan ayat ini. Dia mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَنْبَأَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ؛ أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكِبَ عَلَى حمَار، عَلَيْهِ قَطِيفَةٌ فَدكيَّة وَأَرْدَفَ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ وَرَاءَهُ، يَعُودُ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ فِي بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ، قَبْل وَقْعَةِ بَدْر، قَالَ: حَتَّى مَرَّ بِمَجْلِسٍ فِيهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ بن سَلُول، وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُسْلِمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ، فَإِذَا فِي الْمَجْلِسِ أَخْلَاطٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ، عَبَدَة الْأَوْثَانِ وَالْيَهُودِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَفِي الْمَجْلِسِ عبدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحة، فَلَمَّا غَشَيت المجلسَ عَجَاجةُ الدَّابَّةِ خَمَّر عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ أَنْفَهُ بِرِدَائِهِ وَقَالَ: "لَا تُغَبروا عَلَيْنَا. فَسَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ وَقَفَ، فَنَزَلَ فَدَعَاهُمْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وجل،وَقَرَأَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أبَي: أَيُّهَا المَرْء، إِنَّهُ لَا أحْسَنَ مِمَّا تَقُولُ، إِنْ كَانَ حَقًّا فَلَا تؤْذنا بِهِ فِي مَجَالِسِنَا، ارْجِعْ إِلَى رَحْلِكَ، فَمَنْ جَاءَكَ فَاقْصُصْ عَلَيْهِ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَاغْشنَا بِهِ فِي مَجَالِسِنَا فَإِنَّا نُحب ذَلِكَ. فاستَب الْمُسْلِمُونَ وَالْمُشْرِكُونَ وَالْيَهُودُ حَتَّى كَادُوا يَتَثَاورون فَلَمْ يَزَلِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخفضهم حَتَّى سَكَتُوا، ثُمَّ رَكِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَابته، فَسَارَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادة، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا سَعْدُ، أَلَمْ تَسْمَع إِلَى مَا قَالَ أَبُو حُبَاب -يُرِيدُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ-قَالَ كَذَا وَكَذَا". فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اعْفُ عَنْهُ وَاصْفَحْ فوَالله الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ لَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْحَقِّ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ، وَلَقَدِ اصْطَلَحَ أَهْلُ هَذِهِ البُحَيْرَة عَلَى أَنْ يُتَوِّجوه وَيُعَصِّبُوه بِالْعِصَابَةِ، فَلَمَّا أَبَى اللَّهُ ذَلِكَ بِالْحَقِّ الَّذِي أَعْطَاكَ اللَّهُ شَرِقَ بِذَلِكَ، فَذَلِكَ الَّذِي فَعَل بِهِ مَا رأيتَ، فَعَفَا عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ يَعْفُونَ عَنِ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلِ الْكِتَابِ، كَمَا أَمَرَهُمُ اللَّهُ، وَيَصْبِرُونَ عَلَى الْأَذَى، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا [وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ] } وَقَالَ تَعَالَى: {وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ} الْآيَةَ [الْبَقَرَةِ:109] ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَأوّل فِي الْعَفْوِ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ بِهِ، حَتَّى أذنَ اللَّهُ فِيهِمْ، فَلَمَّا غَزَا رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدْرًا، فَقَتَلَ اللَّهُ بِهِ صَنَادِيدَ كُفَّارِ قُرَيْشٍ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أبَيّ ابْنُ سَلُول وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَعَبَدَةِ الْأَوْثَانِ: هَذَا أَمْرٌ قَدْ تَوَجّه، فبايعُوا الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَأَسْلَمُوا

telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Urwah ibnuz Zubair; Usamah ibnu Zaid telah menceritakan kepadanya bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam mengendarai himar (keledai) dengan memakai kain qatifah fadakiyah, seraya membonceng Usamah ibnu Zaid di belakangnya, dalam rangka hendak menjenguk Sa'd ibnu Ubadah yang ada di Banil Haris ibnul Khazraj. Hal ini terjadi sebelum Perang Badar. Ketika beliau melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul sebelum dia Islam (lahiriahnya), ternyata di dalam majelis terdapat campuran orang-orang yang terdiri atas kaum muslim, kaum musyrik penyembah berhala, dan Ahli Kitab Yahudi. Di dalam majelis itu terdapat pula Abdullah ibnu Rawwahah. Di saat majelis tersebut tertutup oleh debu kendaraan Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam, maka Abdullah ibnu Ubay menutupi hidungnya dengan kain selendangnya, lalu berkata, "Janganlah engkau membuat kami berdebu." Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam mengucapkan salam kepada mereka, lalu berhenti dan turun dari kendaraannya, kemudian menyeru mereka untuk menyembah Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka. Maka Abdullah ibnu Ubay berkata, "Hai manusia, sesungguhnya aku tidak pandai mengucapkan apa yang kamu katakan itu, jika hal itu benar. Maka janganlah kamu ganggu kami dengannya dalam majelis kami ini. Kembalilah ke kendaraanmu, dan barang siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah (hal itu) kepadanya!' Abdullah ibnu Rawwahah berkata, "Tidak, wahai Rosuulullooh, liputilah kami dengan debumu di majelis kami ini, karena sesungguhnya kami menyukai apa yang engkau sampaikan itu!" Akhirnya kaum muslim saling mencaci dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi, hingga hampir saja mereka saling baku hantam, tetapi Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam terus-menerus melerai mereka hingga mereka tenang kembali. Sesudah itu Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam mengendarai kembali keledainya, lalu meneruskan perjalanannya hingga sampai di rumah Sa'd ibnu Ubadah. Beliau masuk ke dalam rumahnya, lalu bersabda kepadanya, "Hai Sa'd, tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Hubab —yang beliau maksud adalah Abdullah ibnu Ubay—? Dia telah mengatakan anu dan anu." Sa'd ibnu Ubadah menjawab, "Wahai Rasulullah, maafkanlah dia dan ampunilah dia. Demi Robb yang telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu, sesungguhnya Alloh telah menurunkan perkara yang hak kepadamu, dan sesungguhnya semua penduduk kota ini telah berdamai (setuju) untuk mengangkat dia (Ibnu Ubay) menjadi pemimpin mereka dan membelanya dengan penuh kefanatikan. Akan tetapi, setelah Alloh menolak hal tersebut dengan perkara hak yang telah Dia turunkan kepadamu, maka dia merasa tersisihkan, maka apa yang telah engkau lihat itu merupakan ungkapan rasa tidak puasnya." Maka Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam memaafkan tindakan Ibnu Ubay itu. Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam dan para sahabatnya bersikap pemaaf terhadap gangguan kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab seperti apa yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, dan tetap bersabar serta menahan diri. Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa telah berfirman: Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186), hingga akhir ayat. Dalam ayat yang lainnya Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa telah berfirman: Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Alloh mendatangkan perintah-Nya. (Al-Baqarah: 109), hingga akhir ayat. Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam bersikap pemaaf menurut pengertian yang beliau pahami dari perintah Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa sehingga Alloh memberikan izin kepada beliau untuk bertindak terhadap mereka. Ketika Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam melakukan Perang Badar, yang di dalam perang itu Alloh mematikan banyak para pemimpin orang-orang kafir Quraisy, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan orang-orang musyrik penyembah berhala yang mengikutinya mengatakan, "Ini merupakan suatu perkara yang sudah kuat, maka berbaiatlah kalian kepada Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam untuk Islam." Akhirnya mereka berbaiat dan masuk Islam.

Setiap orang yang menegakkan kebenaran atau memerintahkan kepada kebajikan atau melarang terhadap perbuatan mungkar pasti mendapat gangguan dan rintangan, dan tiada jalan baginya kecuali bersabar demi membela agama Alloh dan meminta pertolongan kepada-Nya serta mengembalikan segala sesuatunya kepada Dia.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Rabu, 13 Juni 2018

Merayakan Iidul Fithri bersama Keluarga

Anas radhiallohu anhu berkata: Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga menjadikanku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya. (HR.Bukhori)

Pada malam Takbiran, keluarga Ali ibn Abi Tholib alaihissalam istrinya Fathimah az-Zahro radhiyallohu anha  terlihat sibuk membagikan gandum dan kurma untuk fakir miskin.

Ali radhiyallohu anhu menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma. Ali radhiyallohu anhu memanggul gandum, sementara Fathimah radhiyallahu anha menuntun kedua putranya, Hasan dan Husein. Mereka sekeluarga menyantuni kaum fakir miskin.

Keesokan harinya sholat ‘
Iidul Fithri. Mereka sekeluarga mengikuti sholat berjama’ah dengan khusyu' dan mendengarkan khutbah sampai selesai. Selepas khutbah ‘Iid, keluarga Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau Shollalloohu'alaihi wasallam bahwa, Ibnu Rofi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Iidul Fithri kepada keluarga putri Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengangnya Ibnu Rofi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rosuulullooh.

Ali radhiyallohu anhu, Fathimah radhiyallohu anha, putranya Hasan dan Husein yang masih kanak-kanak, dalam merayakan ‘Iidul Fithri hanya makan gandum basi tanpa mentega, yang baunya tercium apek oleh sahabat Nabi itu. Seketika Ibnu Rofi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rofi’i berlinang butiran air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Dalam dadanya berkecamuk sangat kuat, setengah berlari, Ibnu Rofi’i bergegas menghadap Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam. 

Tiba di depan rumah Rosuulullooh, “Ya Rosuulullooh, ya Rosuulullooh, ya Rosuulullooh. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rofi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rosuulullooh.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rosuulullooh. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rosuululloh Shollalloohu'alaihi wasallam pun bergegas menuju rumah anaknya, Fathimah az-Zahro radhiyallohu anha. Tiba di teras rumah, Rosuulullooh mendengar tawa bahagia mengisi percakapan antara Ali radhiyallohu anhu dengan Fathimah radhiyallahu anha dan kedua anaknya. Mata Rosuululloh pun berlinang air mata.  Butiran air mata bening menghiasi wajah Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam.

Air mata Rosululloh berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fithri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rosuululloh Shollalloohu alaihi wasallam penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tidak sedap karena sudah basi.

“Ya Alloh, Allohumma Isyhad. Ya Alloh saksikanlah, saksikanlah. Di hari ‘Iidul Fithri,  keluargaku makanannya gandum yang telah basi. Di hari ‘Iidul Fithri, keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum fakir-miskin, ya Alloh. Mereka mencintai kaum fuqoro' dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa makan makanan yang lezat. Allohumma Isyhad, saksikanlah ya Alloh, saksikanlah,” bibir Rosuulullooh berbisik lembut.

Fathimah radhiyallohu anha tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri di depan pintu. “Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rosuulullooh tidak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rofi’i, keluarga Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam merayakan hari raya ‘Iidul Fithri dengan menyantap makanan yang sudah basi. Ibnu Rofi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rosuululloh Shollalloohu alaihi wasallam agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Iidul Fithri. Aku pun menyimpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritakan agar menjadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman 232).

Ya Rosuulullooh, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga. Siapa gerangan yang tidak malu? Siapa orangnya yang tidak miris? Kami di hari nan fithri, selalu menyediakan makanan yang lezat untuk disantap bersama keluarga. Harus kami apakan diri ini, ya Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam? Ya Alloh berilah kami taufik dan hidayah-Mu, lapangkan dada kami agar tidak bermegah-megah dengan kehidupan dunia, sementara kaum fakir-miskin menderita. Lapangkanlah hati kami untuk bisa mencintai kaum fakir-miskin sebagaimana keluarga baginda Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam telah memberikan teladan yang sangat mulia...

۞ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَل ﻋَﻠﮱ ﻣُﺤَﻤّﺪْ
 ﻭَﻋَﻠﮱ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪ۞

Allahumma sholli alaa aali muhammad wa alaa aali muhammad

Alloh memberi perbendaharaan Arasy-Nya kepada Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam

Abu Na'im di dalam kitab Dala'ilun Nubuwwah mengatakan: telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Al-Gatrifi, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Sahl Al-Juwaini, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Qasim ibnu Bahzan Al-Haiti, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Hammad, dari Usman ibnu Ata, dari Az-Zuhri, dari Anas yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pernah bersabda: Setelah aku selesai dari menerima apa yang diperintahkan kepadaku menyangkut semua urusan langit dan bumi, lalu aku bertanya, "Ya Robb-ku, sesungguhnya tiada seorang nabi pun sebelumku melainkan Engkau telah memuliakannya; Engkau telah menjadikan IBRAHIM alaihissalam sebagai KHALIL (kekasih), MUSA alaihissalam sebagai KALIM (yang Engkau ajak bicara langsung), Engkau telah tundukkan gunung-gunung bagi DAUD alaihissalam, dan bagi SULAIMAN alaihissalam angin dan semua syaithon, dan Engkau hidupkan bagi ISA alaihissalam orang-orang yang telah mati. Maka apakah yang Engkau berikan kepadaku?”Alloh berfirman, "Bukankah Aku telah MEMBERIMU dari hal tersebut SELURUHNYA, bahwa sesungguhnya TIDAKLAH NAMA-NAMA-KU DISEBUT MELAINKAN ENGKAU DISEBUT PULA BERSAMA-KU; dan Aku telah menjadikan DADA UMATMU SEBAGAI KITAB-KITAB, MEREKA DAPAT MEMBACA AL-QUR’AN SECARA HAFALAN, dan hal itu belum pernah Kuberikan kepada suatu umat pun. Dan Aku telah memberimu suatu PERBENDAHARAAN DARI 'ARASY-KU, yaitu kalimah 'TIDAK ADA DAYA (untuk menghindar dari maksiat) DAN TIADA KEKUATAN (untuk mengerjakan ibadah) KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLOH YANG MAHATINGGI LAGI MAHABESAR'.”

LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL ADZIIM

Sumber:
Ibnu Katsir

Selasa, 12 Juni 2018

HATI

HATI yang KOTOR mempunyai sifat IRI (kurang senang dengan kelebihan orang lain) dan DENGKI (perasaan marah, benci kepada keberuntungan orang lain), sedangkan hati yang BERSIH akan memiliki perasaan LEMBUT terhadap anak kecil dan KASIH SAYANG kepada orang dewasa.

Abu Hurairah adalah orang yang paling berani menanyakan kepada Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam tentang berbagai masalah yang tidak ada seorang pun berani menanyakannya kepada beliau Shollalloohu'alaihi wasallam selain dia. Maka Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rosuulullooh, apakah yang mula-mula engkau Iihat dari urusan kenabian ini?" Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam duduk tegak dan menjawab:
Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak sepuluh tahun lebih beberapa bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?” Maka keduanya datang menyambutku dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya, dan sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya, dan belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh seseorang. Keduanya datang kepadaku dengan jalan kaki, hingga masing-masing dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya, 'Rebahkanlah dia.' Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit. Kemudian salah seorangnya berkata kepada yang lainnya, "Belahlah dadanya, " maka salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang mengalir dan tanpa rasa sakit. Lalu berkata kepada yang membelahku, "Keluarkanlah iri hati dan dengki.” Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti segumpal darah, kemudian ia membuangnya jauh-jauh. Dan berkata lagi ia kepada orang yang membelahku, "Masukkanlah lemah lembut dan kasih sayang.” Maka tiba-tiba kulihat sesuatu sebesar apa yang baru dikeluarkan, bentuknya mengilap seperti perak (dimasukkan ke dalam dadaku), kemudian ia mengguncangkan jempol kakiku yang sebelah kanan, dan berkata, "Kembalikanlah ke semula dalam keadaan utuh.” Maka setelah itu aku pulang dengan berlari dan terasa dadaku dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Pendidikan Anak

Pembentukan generasi dimulai dari dalam lingkungan keluarga, siapakah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak?

Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api).
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Sumber informasi sudah semakin terbuka sehingga informasi dapat diperoleh dengan mudah dari internet.

GiGo (Garbage in Garbage out)

Informasi yang masuk kali pertama ke dalam diri seorang anak melalui mata, telinga, dan hatinya akan menjadi nilai dasar yang akan membentuk  kepribadian anak di kemudian hari.

Informasi yang salah, ibarat sampah, akan menghasilkan sampah (garbage in, garbage out).

Informasi yang diserap anak secara terus menerus akan menjadi kebiasaan, selanjutnya akan menjadi karakter,  yang akan diaktualisasikan menjadi identitasnya. Akhirnya, akan menjadi takdirnya, yang dapat diubah hanya oleh tangannya sendiri, setelah anak dapat berpikir dan mengambil keputusannya sendiri.

Jadi, sebelum anak dewasa dan berumah tangga masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya.

Hanya orang-orang yang hatinya bersih, yang dapat membedakan yang benar (hak) dengan jalan yang salah (batil).

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6-7)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allah murka kepada orang-orang Yahudi, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ

yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Alloh. (Al-Maidah: 60)

Yang dikhususkan mendapat predikat sesat adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَواءِ السَّبِيلِ

mereka telah sesat sebelum (kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah: 77)

(Tafsir Ibnu Katsir surah al-Fatihah, ayat 7)

Dari Abu Hurairah, Nabi shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari nomor 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri rodhiyalloohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rosuulullooh, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim nomor 2669).

Imam Nawawi rohimahulloh ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah laku orang Yahudi dan Nasrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”  (Syarh Muslim, 16: 219)

Semoga Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa memberi pertolongan kepada kita di jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat, Aamiiin, Aamiin, Aamiiin Ya Robbal' Aalamiin. 

Surat Kaisar Romawi dan Hamba Allah Umar Ibnul Khoththob Amirul Mukminin

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ali As-Sairafi, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnul Haris At-Ta-ifi, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa Kaisar Romawi berkirim surat kepada Khalifah Umar ibnul Khoththob, yang isinya sebagai berikut:

Melalui surat ini kuberitahukan kepada tuan bahwa utusanku telah tiba darimu, mereka mengira bahwa di kalangan kalian terdapat sebuah pohon yang kelihatannya tidak mengandung suatu kebaikan pun. Pada mulanya mengeluarkan kelopak mayangnya yang seperti daun telinga keledai, lalu mayang itu terbuka mengeluarkan benih buah-buahnya yang kelihatan seperti mutiara. Lalu menjadi hijau seperti permata zamrud yang hijau, setelah itu tampak memerah sehingga seperti batu yaqut yang merah. Lalu masaklah ia, dan buahnya sangat lezat rasanya; bila buah itu kering, maka dapat dijadikan sebagai makanan pokok bagi orang yang mukim dan dapat dijadikan bekal bagi musafir. Jika utusan-utusanku itu berkata sejujurnya kepadaku, maka aku berpendapat bahwa pohon itu tiada lain kecuali salah satu dari pohon surga.

Maka Umar ibnul Khaththab membalas suratnya yang isinya sebagai berikut; Dari hamba Alloh Umar ibnul Khoththob Amirul Mu’minin, ditujukan kepada Kaisar Romawi. Sesungguhnya para utusanmu itu berkata sebenarnya kepadamu, pohon ini memang ada di kalangan kami, yaitu pohon yang sama seperti pohon yang ditumbuhkan oleh Alloh untuk Maryam ketika dia melahirkan putranya Isa Alaihissalam. Maka bertakwalah engkau kepada Alloh dan janganlah engkau menjadikan Isa Alaihissalam sebagai Robb selain Alloh, karena sesungguhnya,

{مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ}

perumpamaan
(penciptaan) Isa di sisi Alloh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Alloh menciptakan Adam dari tanah, kemudian Alloh berfirman kepadanya, "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah ia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Robb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Ali Imran: ayat 59-60)

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir ar-Rahman, ayat 1-13

Senin, 11 Juni 2018

Berbisnis dengan Alloh untuk Meraih Husnul Khotimah

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعٰمِلُوْنَ

limisli haazaa falya'malil-'aamiluun

"Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal."
(QS. As-Saffat 37: Ayat 61)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Tafsir Ibnu Katsir

Ash-Shoffat, ayat 50-61

{فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ (50) قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ (51) يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ (52) أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَدِينُونَ (53) قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ (54) فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ (55) قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ (56) وَلَوْلا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ (57) أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ (58) إِلا مَوْتَتَنَا الأولَى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (59) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (60) لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ (61) }

Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?’ Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau (temanku itu)?’ Maka ia meninjaunya, lalu ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata(pula), 'Demi Alloh, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Robb-ku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja'.”

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa menceritakan perihal ahli surga, bahwa sebagian dari mereka berhadapan dengan sebagian yang lain sambil saling bertanya (bercakap-cakap). Mereka memperbincangkan kehidupan mereka sewaktu di dunia dan penderitaan mereka sewaktu di dunia. Yang demikian itu merupakan satu di antara topik pembicaraan mereka di tempat mereka minum-minum dan berkumpul serta bergaul dengan ahli surga lainnya, sambil duduk di atas tahta-tahta kebesaran, sedangkan para pelayan berada di sekitar mereka menyuguhkan kebaikan yang besar kepada mereka berupa berbagai macam makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga (beritanya), dan belum pernah terdetik di hati seorang manusia pun.

{قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ}

Berkatalah salah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman." (Ash-Shaffat: 51)

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qorin ialah syaithon.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa yang dimaksud adalah teman yang musyrik, dia menjadi teman orang mukmin ketika di dunianya.

Tidak ada pertentangan antara pendapat Mujahid dan Ibnu Abbas, karena sesungguhnya syaithon itu adakalanya dari makhluk jin yang suka menggoda jiwa manusia, adakalanya pula dari kalangan manusia sendiri yang dapat berkomunikasi dengannya. Kedua qorin itu saling membantu.

Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

{يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا}

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An'am: 112)

Masing-masing qorin tersebut selalu menggoda, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاس

dari kejahatan (bisikan)
syaithon yang bisa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan) jin dan manusia. (An-Nas: 4-6)

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

{قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ. يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ}

Berkatalah salah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)'?" (Ash-Shaffat: 51-52)

Yakni apakah engkau percaya dengan adanya hari berbangkit dan hari penghisaban serta hari pembalasan. Dia mengatakannya dengan nada heran, tidak percaya, dan menganggap mustahil, serta ingkar terhadapnya.

{أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَدِينُونَ}

Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan? (Ash-Shoffat: 53)

Mujahid dan As-Saddi mengatakan, "Benar-benar akan dihisab."

Ibnu Abbas r.a. dan Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan, "Benar-benar akan mendapat pembalasan dari amal perbuatan kita.''

Kedua makna tersebut sahih.

**********

Firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ}

Berkata pulalah ia, "Maukah kamu meninjau (temanku itu)?” (Ash-Shaffat: 54)

Yakni menengoknya.

Kalimat ini dikatakan oleh orang mukmin kepada teman-temannya sesama penghuni surga.

{فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ}

Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. (Ash-Shaffat: 54)

Ibnu Abbas r.a., Sa'id ibnu Jubair, Khulaid Al-Asri, Qatadah, As-Saddi, dan Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah berada di tengah-tengah neraka Jahim.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, makna yang dimaksud ialah berada di tengah-tengah neraka seakan-akan rupanya seperti bintang yang menyala-nyala (karena terbakar api neraka).

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa orang mukmin itu menengok temannya, maka ia melihat batok-batok kepala teman-teman kafirnya yang ada di neraka mendidih.

Telah diceritakan pula kepada kami bahwa Ka'bul Ahbar pernah mengatakan, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat jendela pengintai. Apabila seorang ahli surga hendak melihat keadaan musuhnya di neraka, maka ia melongokkan pandangannya melalui jendela itu ke arah neraka. Karena itu, makin bertambahlah rasa syukurnya."

{قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ}

Ia berkata (pula), "Demi Alloh, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku.” (Ash-Shoffat: 56)

Orang mukmin berkata kepada orang kafir (yang ada di dalam neraka), "Demi Alloh, engkau hampir saja mencelakakan diriku sekiranya aku menuruti kehendakmu."

{وَلَوْلا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ}

Jikalau tidaklah karena nikmat Robb-ku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 57)

Yakni sekiranya bukan karena karunia dari Alloh, tentulah aku menjadi orang yang senasib denganmu berada di tengah-tengah neraka Jahim, tempat kamu berada dan diseret bersamamu ke dalam azab neraka. Tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya kepadaku, maka Dia memberiku petunjuk kepada iman dan membimbingku ke jalan mengesakan Dia.

{وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ}

Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Alloh tidak memberi petunjuk kepada kami. (Al-A'raf: 43)

********

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ. إِلا مَوْتَتَنَا الأولَى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ}

Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)

Ini merupakan kata-kata dari orang mukmin yang merasa kagum dengan pemberian Alloh kepada dirinya berupa kehidupan yang kekal di dalam surga dan bertempat di tempat yang terhormat tanpa mati dan tanpa azab. Karena itu, disebutkan oleh firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa selanjutnya:

{إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}

Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar (Ash-Shaffat: 60)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya kepada penduduk surga: (Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Tur: 19) Bahwa yang dimaksud dengan Hani-an ialah tidak akan mati lagi di dalam surga. Dan saat itu berkatalah penghuni surga, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, mereka mengetahui bahwa pemutus semua kenikmatan adalah maut. Karena itu, mereka mengatakan: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59). Lalu dikatakan kepada mereka bahwa mereka tidak akan mati lagi. Maka mereka menjawab: Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. (Ash-Shoffat: 60)

**********

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

{لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ}

Untuk kemenangan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. (Ash-Shaffat: 61)

Qatadah mengatakan bahwa ini merupakan perkataan penduduk surga.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ini adalah perkataan Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa yang artinya 'untuk meraih kenikmatan dan kemenangan seperti ini hendaklah orang-orang di dunia berusaha agar mereka dapat meraihnya kelak di akhirat.'

Mereka mengetengahkan sebuah kisah tentang dua orang laki-laki dari kaum Bani Israil yang keduanya terikat dalam suatu perseroan usaha. Kisah keduanya berkaitan dengan keumuman makna surat Ash-Shaffat ini.

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Habib ibnusy Syahid, telah menceritakan kepada kami Attab ibnu Basyir, dari Khasif, dari Furat ibnu Sa'labah An-Nahrani sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman. (Ash-Shaffat: 51); Di masa dahulu ada dua orang laki-laki yang terikat dalam suatu perseroan. Keduanya berhasil menghimpun dana sebanyak delapan ribu dinar. Salah seorang dari keduanya mempunyai profesi, sedangkan yang lainnya tidak; pada akhirnya orang yang mempunyai profesi berkata kepada teman seperseroannya yang tidak mempunyai profesi, "Kamu tidak mempunyai profesi, maka tiada pilihan lain bagiku kecuali memecatmu dari perseroan dan memberikan hakmu yang ada pada perseroan ini." Akhirnya keduanya berbagi harta, lalu perseroan keduanya bubar. Kemudian laki-laki yang berprofesi membeli sebuah rumah dengan harga seribu dinar. Rumah itu adalah milik seorang raja yang telah mati. Lalu ia mengundang teman bekas seperseroannya itu, lalu memerlihatkan rumah yang baru dibeli itu kepadanya seraya berkata kepadanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang rumah yang baru saya beli dengan harga seribu dinar ini?" Ia menjawab, "Alangkah indah dan mewahnya." Setelah keluar, ia berkata, "Ya Alloh, sesungguhnya temanku ini telah membeli sebuah rumah dengan harga seribu dinar, dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sebuah rumah di surga," lalu ia menyedekahkan uangnya sebanyak seribu dinar. Setelah itu ia tinggal selama masa yang dikehendaki oleh Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa. Kemudian lelaki yang mempunyai pekerjaan kawin dengan seorang wanita dengan mahar sebanyak seribu dinar, dan ia mengundang temannya itu ke perjamuan pernikahannya. Setelah temannya datang, ia berkata, "Sesungguhnya saya telah mengawini wanita ini dengan maskawin seribu dinar." Temannya menjawab, "Alangkah cantiknya dia." Setelah pergi, ia berkata, "Ya Alloh, sesungguhnya temanku baru saja mengawini seorang wanita dengan maskawin seribu dinar, dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu seorang wanita dari bidadari yang bermata jeli," lalu ia menyedekahkan uangnya sebanyak seribu dinar. Dan ia tinggal selama masa yang dikehendaki oleh Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa. Kemudian laki-laki yang berprofesi itu membeli dua buah kebun seharga dua ribu dinar, lalu memanggil temannya dan memerlihatkan kedua kebun itu kepadanya seraya berkata, "Sesungguhnya aku telah membeli dua kebun ini seharga dua ribu dinar." Maka ia menjawab, "Alangkah indahnya kebun itu." Setelah ia keluar dari temannya itu, berkatalah ia, "Ya Alloh, sesungguhnya temanku telah membeli dua kebun seharga dua ribu dinar, dan aku momohon kepada-Mu dua buah kebun di surga," lalu ia menyedekahkan uangnya yang tinggal dua ribu dinar itu. Setelah itu malaikat maut datang kepada kedua laki-laki tersebut dan mencabut nyawa keduanya, lalu ia membawa pergi laki-laki yang bersedekah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah rumah yang membuatnya kagum. Tiba-tiba di dalamnya ada seorang wanita yang karena cantiknya sehingga bagian bawahnya bersinar terang, kemudian memasukkannya ke dalam dua buah kebun dan dianugerahkan kepadanya sesuatu yang hanya Alloh sajalah yang mengetahuinya.

Perawi mengatakan bahwa alangkah miripnya apa yang disebutkan dalam ayat ini dengan perihal laki-laki yang disebutkan dalam riwayat ini.

Selanjutnya malaikat berkata, "Sesungguhnya rumah ini adalah untukmu, begitu pula kedua kebun ini dan wanita cantik itu." Maka laki-laki itu berkata, bahwa sesungguhnya dahulu ia pernah mempunyai seorang teman yang mengatakan kepadanya: Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? (Ash-Shaffat: 52) Dikatakan kepadanya bahwa temannya itu berada di dalam neraka Jahim. Berkatalah ia, "Maukah kamu meninjau (temanku itu)?" Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. (Ash-Shoffat: 54-55) Maka pada saat itu ia berkata: Demi Alloh, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Robb-ku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 56-57)

Ibnu Jarir selanjutnya mengatakan bahwa riwayat ini memperkuat orang yang membaca ayat ini dengan bacaan berikut:

"أَئِنَّكَ لَمِنَ المُصَّدّقِينَ"

Orang-orang yang menyedekahkan
(hartamu). (Ash-Shaffat: 52)

dengan bacaan memakai tasydid, yaitu al-musaddiqin (bukan al-musdiqin, yang artinya membenarkan hari berbangkit)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdur Rahman Al-Abar, telah menceritakan kepada kami Abu Hafs yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ismail As-Saddi tentang makna ayat berikut, yaitu firrnan-Nya: Berkatalah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang menyedekahkan
(hartamu)-?” (Ash-Shaffat: 51-52) " Ismail As-Saddi berkata, "Mengapa kamu tanyakan hal ini-" Aku menjawab, "Aku tadi baru saja membacanya, maka aku ingin menanyakan maknanya kepadamu." Ismail As-Saddi berkata dengan nada tegas, menyuruhnya agar mencamkan kisah berikut. Yaitu bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat dua orang yang berkongsi; salah seorangnya mukmin, sedangkan yang lainnya kafir. Akhirnya perseroan keduanya bubar, dan modal mereka ada enam ribu dinar; maka masing-masing orang mendapat tiga ribu dinar. Keduanya berpisah dan tinggal dalam jarak masa yang dikehendaki oleh Alloh, lalu keduanya bersua. Maka yang kafir bertanya kepada yang mukmin, "Apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu? Apakah engkau tanamkan pada sesuatu ataukah engkau mengembangkannya dalam perniagaan?" Orang yang mukmin berkata kepadanya, "Tidak, lalu apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu?" Si kafir menjawab, "Kugunakan seribu dinar untuk membeli tanah, kebun kurma, buah-buahan, dan mata air." Orang mukmin bertanya, "Benarkah engkau lakukan itu?" Si kafir menjawab, "Ya." Orang yang mukmin pulang, dan pada malam harinya ia melakukan sholat selama apa yang dikehendaki oleh Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa. Setelah menyelesaikan sholatnya ia mengambil seribu dinar dan meletakkannya di hadapannya, kemudian berdoa, "Ya Alloh, sesungguhnya si Fulan —yakni temannya yang kafir— telah membeli sebidang tanah, sebuah kebun kurma dan buah-buahan serta mata air dengan harga seribu dinar, yang bila ia mati di kemudian hari ditinggalkannya. Ya Alloh, sesungguhnya aku membeli dari-Mu dengan seribu dinar ini sebidang tanah di surga, kebun kurma, dan buah-buahan serta mata airnya." Pada keesokan harinya ia bagi-bagikan uang seribu dinar itu kepada kaum fakir miskin. Setelah beberapa waktu berselang menurut apa yang dikehendaki oleh Alloh, keduanya bersua kembali, dan si kafir bertanya kepada si mukmin; "Apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu, apakah engkau tanamkan pada sesuatu, ataukah engkau kembangkan dalam berdagang?" Si mukmin menjawab, "Tidak. Tetapi kamu, apakah yang telah kamu lakukan terhadap hartamu?" Si kafir menjawab, "Hartaku makin banyak dan sangat berat kulakukan pengurusan dan pembiayaannya, maka kubeli seorang budak seharga seribu dinar, lalu kutugaskan untuk bekerja mengurusnya untuk kepentinganku." Si mukmin bertanya, "Engkau benar lakukan hal itu?" Si kafir menjawab, "Ya." Si mukmin pulang. Ketika malam hari tiba, ia sholat selama yang dikehendaki oleh Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa. Setelah selesai, ia mengambil seribu dinar. lalu diletakkannya di hadapannya, kemudian berdoa, "Ya Alloh, sesungguhnya si Fulan —temannya yang kafir itu— telah membeli seorang budak dengan harga seribu dinar, budak yang ada di dunia ini, yang di kemudian hari bila ia mati pasti budak itu ditinggalkannya; atau bila budak itu mati, maka ia ditinggalkan oleh budaknya. Ya Alloh, sesungguhnya aku ingin membeli dari-Mu dengan seribu dinar ini budak yang ada di dalam surga." Kemudian pada keesokan harinya ia bagi-bagikan uangnya itu kepada kaum fakir miskin. Selang beberapa lama kemudian menurut apa yang dikehendaki oleh Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa, keduanya bersua kembali. Maka si kafir bertanya kepada si mukmin, "Apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu, apakah engkau tanamkan pada sesuatu ataukah engkau kembangkan dengan berdagang?" Si mukmin menjawab, "Tidak, lalu apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu itu?" Si kafir menjawab, "Sebenarnya semua urusanku telah sempurna, terkecuali suatu hal, yaitu si Fulanah ditinggal mati oleh suaminya. Lalu kulamar dia dengan seribu dinar, maka dia datang kepadaku sebagai istri dengan membawa seribu dinar dan kelipatannya yang sama jumlahnya (dari hasil warisannya)." Si mukmin bertanya, "Apakah kamu memang lakukan hal itu?" Si kafir menjawab, "Ya." Si mukmin pulang. Dan pada malam harinya ia mengerjakan sholat selama yang dikehendaki oleh Alloh. Setelah selesai dari sholatnya ia mengambil seribu dinar yang terakhir dari hartanya, lalu diletakkannya di hadapannya seraya berdoa, "Ya Alloh, sesungguhnya si Fulan —temannya yang kafir itu—telah mengawini salah seorang wanita di dunia ini dengan maskawin seribu dinar, yang bila ia mati istrinya itu ditinggalkannya, atau bila ia mati di kemudian hari istrinya itu membiarkannya. Ya Alloh, sesungguhnya aku melamar kepada-Mu dengan seribu dinar ini bidadari yang bermata jeli di surga." Pada keesokan harinya ia membagi-bagikan hartanya itu kepada kaum fakir miskin. Pada akhirnya si mukmin itu tidak memiliki harta sedikit pun. Lalu ia mengenakan baju gamis dari katun dan jubah dari kain bulu. Selanjutnya ia mengambil cangkul, lalu disandangnya di pundaknya dengan maksud akan menjadi tukang gali yang upahnya nanti untuk biaya hidupnya. Ia didatangi oleh seorang laki-laki yang berkata kepadanya, "Hai hamba Alloh, maukah engkau menjadi buruh bulananku sebagai tukang pemelihara hewan ternakku, engkau beri makan hewan-hewanku itu dan engkau bersihkan kandangnya setiap harinya?" Si mukmin menjawab, "Saya setuju dan akan saya lakukan pekerjaan itu." Si mukmin itu bekerja padanya dengan gajian bulanan sebagai tukang mengurusi ternak laki-laki tersebut, sedangkan pemilik ternak itu setiap hari­nya selalu mengontrol hasil pekerjaannya dengan memeriksa ternak-ternaknya. Apabila ia melihat ada seekor hewan yang kelihatan kurus, maka ia pegang kepala si mukmin itu, lalu mencekiknya dengan kuat seraya berkata kepadanya, "Rupanya tadi malam kamu curi gandum makanannya!" Mengalami nasib yang sangat menyakitkan karena bekerja pada laki-laki tersebut, akhirnya si mukmin berkata, "Aku akan mendatangi bekas teman seperseroanku yang kafir itu, dan aku benar-benar akan bekerja padanya dengan harapan semoga ia mau memberiku makan setiap hari dan memberiku pakaian yang kukenakan ini bila telah rusak." Maka berangkatlah ia menuju rumah temannya yang kafir itu. Ketika sampai di tempatnya ia mencari-cari temannya itu, ternyata terdapat sebuah bangunan seperti istana yang tinggi menjulang ke langit, dan di sekitar gedung itu terdapat banyak penjaga pintunya. Lalu ia berkata kepada mereka, "Mintakanlah izin masuk kepada pemilik gedung ini untukku, karena sesungguhnya jika kalian sampaikan hal ini kepadanya pasti dia gembira." Mereka menjawab, "Jika kamu benar, pergilah dan tidurlah (menginaplah) di dekat pintu ini, maka pada pagi harinya kamu akan bersua dengannya." Maka si mukmin itu pergi dan menggelarkan separuh dari pakaiannya untuk alas tidurnya, sedangkan separuh yang lain ia gunakan untuk menutupi tubuhnya, lalu ia tidur di tempat tersebut. Pada pagi harinya temannya yang kafir itu keluar. Ketika si kafir melihatnya, ia langsung mengenalnya, lalu ia turun dari kendaraannya dan menjabat tangannya seraya berkata kepadanya, "Mengapa tidak engkau lakukan terhadap hartamu itu seperti yang aku lakukan terhadap hartaku?" Si mukmin menjawab, "Memang benar." Si kafir berkata, "Inilah keadaanku dan itulah keadaanmu." Si mukmin menjawab, "Memang benar." Si kafir bertanya, "Ceritakanlah kepadaku apakah yang telah engkau lakukan terhadap hartamu?" Ia menjawab, "Janganlah engkau menanyakan hal itu kepada diriku." Si kafir bertanya, "Lalu apakah gerangan yang mendorongmu datang kepadaku?" Si mukmin menjawab, "Aku datang kepadamu untuk bekerja di lahanmu ini dengan imbalan engkau beri aku makan setiap harinya dan pakaian seperti ini bila apa yang kupakai ini telah rusak." Si kafir berkata, "Tidak, tetapi aku akan menempatkanmu pada pekerjaan yang lebih baik daripada apa yang kamu katakan itu. Dan kamu jangan berharap aku melakukanmu dengan baik sebelum kamu ceritakan kepadaku apa yang telah engkau lakukan terhadap hartamu itu." Si mukmin menjawab, "Aku mengutangkannya." Si kafir bertanya, "Kepada siapa?" Si mukmin menjawab, "Kepada Yang Mahakaya lagi Maha Memenuhi janji-Nya." Si kafir bertanya, "Siapakah dia?" Si mukmin menjawab, "Alloh." Saat itu si kafir masih dalam keadaan menjabat tangannya, lalu mencabut tangannya dan berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya. "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (Ash-Shoffat: 52-53) - Menurut As-Saddi, madinima artinya dihisab (untuk diberi pembalasan)- Akhirnya si kafir itu pergi meninggalkannya. Setelah si mukmin melihat si kafir itu bersikap demikian terhadapnya tanpa memberi harapan, maka ia pulang dan tidak menggangu si kafir lagi. Si mukmin hidup sengsara selama suatu masa, dan si kafir hidup mewah dalam suatu masa. Pada hari kiamat nanti manakala Alloh telah memasukkan orang mukmin itu ke dalam surga, ia merasa terkejut dengan adanya lahan dan kebun kurma serta buah-buahan dan mata air. Maka ia bertanya, "Kepunyaan siapakah ini?" Dikatakan kepadanya, "Ini semua adalah milikmu." Ia berkata, "Subhaanallah,"
apakah keutamaan amalku sampai pada tingkatan yang membuatku mendapat pahala seperti ini?" Ia berjalan lagi di dalam surga itu, dan ternyata ia menjumpai banyak budak yang jumlahnya tidak terhitung, lalu ia bertanya, "Untuk siapakah budak-budak ini?" Dikatakan kepadanya," Mereka adalah untukmu." Ia berkata, Subhaanallah, apakah keutamaan amalku sampai pada tingkatan yang menyebabkan aku mendapat pahala seperti ini?" Kemudian ia berjalan lagi, tiba-tiba ia menjumpai sebuah kubah yang terbuat dari yaqut merah yang berongga, di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang cantik-cantik lagi bermata jeli. Lalu ia bertanya, 'Untuk siapakah ini?" Dikatakan kepadanya, "Semuanya itu adalah untukmu. Ia berkata "Subhaanallah,
apakah keutamaan amalku sampai ke tingkatan ini yang menjadikan diriku mendapat balasan seperti ini? Kemudian ia teringat temannya yang kafir itu, lalu berkata: Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata, "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit).' Apakah bila kita telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (Ash-Shoffat: 51-52). Surga berada di tempat yang tinggi, dan neraka berada di tempat yang paling bawah. Lalu Alloh memperlihatkan kepadanya temannya itu berada di tengah-tengah neraka di antara penghuni neraka lainnya. Ketika orang mukmin itu melihatnya, ia langsung mengenalnya dan berkata: Demi Alloh, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Robb-ku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. (Ash-Shaffat: 56-61) Yakni mengerjakan amal perbuatan yang semisal untuk meraih pahala tersebut. Kemudian orang mukmin itu teringat akan penderitaan yang telah dia alami semasa hidup di dunia. Maka sepanjang ingatannya tiada suatu penderitaan di dunia pun yang telah dilaluinya lebih keras bila dibandingkan dengan penderitaan saat mati.

DOA PAGI DAN PETANG

Alloh akan perintahkan 70 ribu malaikat  memohon ampunan baginya, jika ia mati di hari itu, maka ia mati sebagai syahid.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Khalid (yakni Ibnu Tahman alias Abul Ala Al-Khaffaf), telah menceritakan kepada kami Nafi' ibnu Abu Nafi', dari Ma'qal ibnu Yasar, dari Nabi Shollalloohu'alaihi wa sallam yang telah bersabda:
Barang siapa mengucapkan doa ini di waktu pagi hari sebanyak tiga (3) kali, yaitu:
"Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syaithon yang terkutuk," kemudian membaca pula tiga ayat terakhir surah Al-Hasyr, maka Alloh memerintahkan kepada tujuh puluh ribu malaikat untuk memohonkan ampunan baginya hingga petang hari. Dan jika ia mati di hari itu, maka ia mati sebagai syahid. Dan barang siapa yang mengucapkannya di kala petang hari, maka ia beroleh kedudukan yang seperti itu.

Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Mahmud ibnu Gailan, dari Abu Ahmad Az-Zubairi dengan sanad yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini ghorib, kami tidak mengenalnya kecuali hanya melalui jalur ini.

Doa pagi dan petang:

A'uuzubillahissamii'il aliimi minasy-syaithoonirrojiim (dibaca  3 kali)

Huwallohullazii laaa ilaaha illaa huw,
'aalimul-ghoibi wasy-syahaadah,
huwar-rohmaanur-rohiim
huwallohullazii laaa ilaaha illaa huw,
al-malikul-qudduusus-salaamul-mu`minul-muhaiminul-'aziizul-jabbaarul-mutakabbir,
sub-haanallohi 'ammaa yusyrikuun
huwallohul-khooliqul-baari`ul-mushowwiru lahul-asmaaa`ul-husnaa,
yusabbihu lahuu maa fis-samaawaati wal-ardh,
wa huwal-'aziizul-hakiim (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 22- 24)

Artinya:

Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syaiton yang terkutuk.

"Dialah Alloh, tidak ada ilah selain Dia. Mengetahui yang ghoib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 22- 24)

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir 

Sabtu, 09 Juni 2018

Sidratul Muntaha

Sidratul Muntaha

Ka'bul Ahbar mengatakan bahwa sesungguhnya Sidratul Muntaha itu berada di perbatasan langit ketujuh dekat dengan surga, udaranya adalah campuran antara udara dunia dengan udara akhirat. Dahan dan ranting-rantingnya berada di bawah Al-Kursi. Padanya terdapat malaikat-malaikat yang bilangannya tiada yang mengetahuinya kecuali hanya Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa. Mereka selalu melakukan ibadah kepada Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa di semua dahannya dan di setiap tempat bulu pohon itu terdapat seorang malaikat, sedangkan kedudukan Malaikat Jibril berada di tengah-tengahnya.

Alloh memanggil Jibril untuk turun di setiap malam kemuliaan (lailatul qadar) bersama dengan para malaikat yang menghuni Sidratul Muntaha. Tiada seorang malaikat pun dari mereka melainkan telah dianugerahi rasa lembut dan kasih sayang kepada orang-orang mukmin.

Maka turunlah mereka di bawah pimpinan Jibril a.s. di malam kemuliaan di saat matahari terbenam. Maka tiada suatu tempat pun di bumi di malam kemuliaan melainkan telah terisi oleh malaikat; ada yang sedang sujud, ada pula yang sedang berdiri mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.Terkecuali tempat ibadah agama lain (red), tempat pemujaan api, atau tempat pemujaan berhala, atau sebagian tempat yang dipakai oleh kalian untuk membuang kotoran, atau rumah yang di dalamnya terdapat orang mabuk, atau rumah yang ada minuman yang memabukkan, atau rumah yang di dalamnya ada anjing (red), atau gambar makhluk bernyawa (red) atau berhala yang terpasang, atau rumah yang di dalamnya ada lonceng yang tergantung atau tempat sampah, atau tempat sapu.

Mereka terus-menerus sepanjang malam itu mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Jibril tidak sekali-kali mendoakan seseorang dari kaum mukmin melainkan ia menyalaminya. Dan sebagai pertandanya ialah bila seseorang yang sedang melakukan qiyam bulunya merinding (berdiri) dan hatinya lembut serta matanya menangis, maka itu akibat salam Jibril kepadanya (jabat tangan Jibril kepadanya).

Ka'bul Ahbar menyebutkan bahwa barang siapa yang di malam kemuliaan membaca kalimah "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah" sebanyak tiga kali, Allah memberikan ampunan baginya dengan salah satunya, dan menyelamatkannya dari neraka dengan satunya lagi, dan dengan yang terakhir Allah memasukkannya ke dalam surga.

Maka kami bertanya kepada Ka'bul Ahbar, "Hai Abu Ishaq, benarkah ucapanmu itu?" Ka'bul Ahbar menjawab, "Tiada yang mengucapkan kalimah 'Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah' kecuali hanyalah orang yang benar. Demi Robb yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya Lailatul Qadar itu benar-benar terasa berat bagi orang kafir dan orang munafik, sehingga seakan-akan beratnya seperti bukit di punggungnya."

Ka'bul Ahbar melanjutkan, bahwa para malaikat itu terus-menerus dalam keadaan demikian hingga fajar terbit. Dan malaikat yang mula-mula naik ke langit adalah Malaikat Jibril; manakala sampai di ufuk yang tinggi di dekat matahari, maka ia membuka lebar-lebar sayapnya. Ia memiliki sepasang sayap yang berwarna hijau, dan dia belum pernah membukanya kecuali hanya di saat itu. Karenanya maka cahaya matahari kelihatan redup.

Kemudian Jibril memanggil malaikat demi malaikat, maka naiklah yang dipanggilnya sehingga berkumpullah nur para malaikat dan nur kedua sayap Jibril. Maka matahari di hari itu terus-menerus kelihatan cahayanya pudar. Dan Jibril beserta para malaikat bermukim di antara bumi dengan langit di hari itu dalam keadaan berdoa dan memohonkan rahmat serta ampunan bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan bagi orang-orang yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala Allah. Dan Jibril mendoakan orang yang hatinya mengatakan bahwa jika dia hidup sampai Ramadan tahun depan, maka ia akan puasa lagi karena Allah.

Bila hari telah petang, mereka memasuki perbatasan langit yang terdekat, lalu mereka duduk dan membentuk lingkaran-lingkaran dan bergabung dengan mereka semua malaikat yang ada di langit terdekat. Maka para malaikat langit yang terdekat menanyakan kepada mereka tentang perihal laki-laki dan perempuan dari penduduk dunia, lalu para malaikat Sidratul Muntaha menceritakan keadaan orang-orang yang ditanyakan mereka kepada mereka. Hingga mereka bertanya, "Apakah yang dikerjakan oleh si Fulan dan bagaimanakah engkau menjumpainya di tahun ini?" Maka para malaikat yang baru datang itu menjawab, "Kami jumpai si Fulan di permulaan malam tahun lalu sedang ibadah, dan kami jumpai dia tahun ini dalam keadaan mengerjakan perbuatan bid'ah. Dan kami telah menjumpai si Fulan di tahun kemarin dalam keadaan berbuat bid'ah, sedangkan di tahun ini kami menjumpainya dalam keadaan beribadah."

Maka para malaikat langit yang terdekat tidak lagi mendoakan ampunan bagi orang yang berbuat bid'ah dan memohonkan ampunan bagi orang yang beribadah. Dan mereka memberitahukan bahwa kami jumpai si Fulan dan si Anu dalam keadaan berdzikir kepada Alloh, dan kami jumpai si Fulan sedang rukuk, dan kami jumpai si Fulan sedang sujud, dan kami jumpai si Anu sedang membaca Kitabullah.

Ka'bul Ahbar melanjutkan, bahwa mereka di siang dan malam hari itu tetap dalam keadaan demikian, hingga naiklah mereka ke langit yang kedua. Dan di setiap langit mereka singgah selama sehari semalam, hingga sampailah mereka ke tempat semula di Sidratul Muntaha.

Maka Sidratul Muntaha menyambut mereka dan berkata, "Hai para pendudukku, ceritakanlah kepadaku tentang manusia dan sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku, karena sesungguhnya aku mempunyai hak atas kalian, dan sesungguhnya aku menyukai orang-orang yang menyukai Alloh."

Ka'bul Ahbar menceritakan bahwa mereka menyebutkan kepada Sidratul Muntaha apa yang diinginkannya dengan menyebutkan nama tiap laki-laki dan perempuan yang diceritakannya, juga nama orang tua-orang tua mereka. Kemudian surga datang kepada Sidratul Muntaha dan mengatakan, "'Ceritakanlah kepadaku apa yang telah diceritakan oleh malaikat-malaikat yang menghunimu," lalu Sidratul Muntaha menceritakan hal itu kepadanya.

Ka'bul Ahbar melanjutkan, bahwa setelah itu surga mengatakan, "Semoga Alloh melimpahkan rahmat-Nya kepada si Fulan dan semoga Allah melimpahkan pula rahmat-Nya kepada si Fulanah. Ya Allah, segerakanlah mereka kepadaku."

Jibril lebih dahulu sampai di tempatnya sebelum para malaikat yang menyertainya, lalu Allah mengilhamkan kepadanya untuk berbicara, maka Jibril berkata, "Aku telah menjumpai si Fulan sedang sujud, maka ampunilah dia," kemudian Allah memberikan ampunan bagi si Fulan yang besangkutan. Suara Jibril terdengar oleh para malaikat pemikul 'Arasy, maka mereka memohon, "Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada si Fulan, dan semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada si Fulanah, dan semoga ampunan Allah diberikan kepada si Fulan."

Jibril berkata, "Ya Robb-ku, aku menjumpai hamba'-Mu si Fulan yang telah kujumpai di tahun kemarin dalam keadaan menempuh jalan sunnah dan beribadah, sekarang di tahun ini aku menjumpainya telah melakukan suatu perbuatan bid'ah," lalu Jibril menolak untuk memohonkan ampunan dan rahmat bagi orang itu. Maka Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman, "Hai Jibril, jika dia bertobat dan kembali ke jalan-Ku tiga jam sebelum dia mati, Aku memberikan ampunan baginya."

Maka Jibril berkata, "Bagi-Mu segala puji, ya Robb-ku, Engkau lebih penyayang daripada semua makhluk-Mu, dan Engkau lebih penyayang kepada hamba-hamba-Mu daripada hamba-hamba-Mu terhadap diri mereka sendiri."

Ka'bul Ahbar mengatakan bahwa lalu 'Arasy berguncang berikut semua yang ada di sekitarnya dan juga semua hijab (tirai). Semua langit dan para penghuninya mengatakan, "Segala puji bagi Allah Yang Maha Penyayang."

Perawi mengatakan bahwa Ka'bul Ahbar telah mengatakan, "Barang siapa yang melakukan puasa Ramadan, sedangkan dalam dirinya ia berbicara bahwa apabila ia berbuka (yakni telah selesai dari puasa Ramadannya) ia bertekad untuk tidak akan berbuat durhaka kepada Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa, niscaya orang itu masuk surga tanpa pertanyaan dan tanpa hisab."

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Jumat, 08 Juni 2018

Seperti apakah Tuhan yang disembah umat Islam?

Tauhid

Orang-orang Musyrik, kelompok Yahudi, dan koalisasi orang kafir bertanya kepada Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam mengenai gambaran atau ciri-ciri Tuhan yang mengutus Rosulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam.

Imam At-Tirmidzi, Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Aliyah dari Ubai bin Ka'ab bahwa suatu ketika orang-orang musyrik berkata kepada Rosuulullooh, "Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau?"

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika kelompok Yahudi datang kepada Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam, di antara rombongan tersebut terdapat Ka'ab bin Asyraf dan Huyay bin Akhthab. Mereka lalu berkata, "Wahai Muhammad, gambarkanlah kepada kami ciri-ciri Tuhan yang mengutus engkau itu?!"

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Aliyah yang berkata, "Qatadah berkata, 'Sesungguhnya pasukan koalisi (kaum kafir) pernah berkata kepada Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam, 'Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau itu?'

Alloh kemudian menurunkan surah al-Ikhlas 112, ayat 1-4

Alloh Subhaanahu wa ta'aalaa berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ 
qul huwallohu ahad

"Katakanlah (Muhammad), Dialah Alloh, Yang Maha Esa."

اَللّٰهُ الصَّمَدُ 
allohush-shomad

"Alloh tempat meminta segala sesuatu."

لَمْ يَلِدْ    ۙ  وَلَمْ يُوْلَدْ 
lam yalid wa lam yuulad

"(Alloh) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan."

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
wa lam yakul lahuu kufuwan ahad

"Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."

Sumber:
Asbabun Nuzul Al-Quran
Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Kamis, 07 Juni 2018

Sholawat Nabi di Hari Jumat

Allahumma sholli alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam

Rosuulullooh -shollalloohu alaihi wasallam- bersabda: "Sungguh termasuk hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari JUM'AT, maka perbanyaklah BERSHOLAWAT kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian itu ditampakkan kepadaku."

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dan berilah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat dan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung.” (HR. Nasa’i, Thahawi, Abu Sa’id ibnul ‘Arabi dalam al-Mu’jam(79/2) dengan sanad shahih)

Rabu, 06 Juni 2018

Pidato Abu Bakar radhiyallohu anhu dan Umar ibn Khoththao radhiyallohu anhu pada saat dilantik sebagai khalifah

Selesai ikrar, Abu Bakar radhiyalloohu anhu kemudian berdiri di hadapan kaum muslimin lalu berpidato,  Setelah mengucapkan puji syukur kepada Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa, Abu Bakr radhiyalloohu anhu berkata:

"Kemudian, saudara-saudara, saya sudah dijadikan pemimpin  kalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan dan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya nanti saya berikan kepadanya - insyaa Alloh, dan orang yang kuat, buat saya adalah lemah sesudah haknya itu nanti saya ambil - insyaa Alloh.

Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Alloh, maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada mereka.

Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Alloh akan menyebarkan bencana kepada mereka.

Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Alloh dan Rosul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Alloh dan Rosul, maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah sholat kamu, Alloh akan merahmati kamu sekalian."

Abu Bakar dilantik sebagai khalifah di Saqifah Bani Sa’idah beberapa hari setelah Rosuulullooh
Shollalloohu alaihi wa sallam wafat.


Umar bin Khaththab dilantik sebagai khalifah berdasarkan keputusan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan disetujui oleh kaum muslimin. Abu Bakar sangat khawatir, jika tidak menunjuk khalifah yang akan menggantikannya,  akan terjadi kekosongan kepemimpinan di tengah-tengah umat Islam.

Setelah Abu Bakar wafat, kaum muslimin berbaiat secara umum kepada Umar di Masjid Nabawi. Umar pun menerima amanah kekhalifahan itu meskipun dia tidak berambisi untuk menjadi khalifah.

Umar naik ke atas mimbar Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam, namun dirinya menolak untuk berdiri di tempat Abu Bakar biasa berdiri. Hal itu disampaikannya terus terang kepada semua orang.

Umar berkata, “Alloh tidak menganggap diriku berhak menempati majelis Abu Bakar.” Umar kemudian menuruni satu anak tangga di mimbar tersebut.

Kemudian dia menghadap ke arah kaum muslimin dan berpidato,

“Wahai manusia, sesungguhnya aku diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandainya bukan karena adanya harapan agar aku menjadi yang terbaik untuk kalian, yang terkuat atas kalian, dan yang paling kuat memikul urusan kalian, aku tidak akan bersedia menjadi pemimpin kalian. Cukuplah bagi Umar untuk menunggu perhitungan dari Allah.

Jika aku tahu bahwa ada orang lain yang lebih kuat memikulnya daripada diriku, maka leherku dipenggal lebih aku sukai daripada aku menjadi pemimpinnya.”

Umar melanjutkan pidatonya,

“Sesungguhnya Alloh menguji kalian dengan diangkatnya aku sebagai pemimpin dan menguji aku dengan kalian. Alloh menetapkan aku atas kalian setelah dua sahabatku tiada (Rosuulullooh shollalloohu alaihi wasallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu).

Demi Alloh, tidaklah datang kepadaku sesuatu dari perkara kalian, lalu seseorang selain aku mengurusnya, dan tidaklah sesuatu itu tidak tampak olehku, lalu aku tidak memberikan balasan yang setimpal dan tidak amanah.

Maka, jika orang itu berbuat baik, akan aku balas pula dengan kebaikan. Tetapi jika dia melakukan kejahatan, maka terimalah bencana yang akan aku timpakan kepadanya.”

Setelah itu, Umar menengadahkan tangannya untuk berdoa dan meminta kaum muslimin untuk mengamini.

Umar berdoa,

“Ya Alloh, aku ini sungguh keras, maka lunakkanlah hatiku. Ya Alloh, aku sangat lemah maka berilah kekuatan. Ya Alloh, aku ini kikir maka jadikanlah aku orang yang dermawan dan bermurah hati.”

Doanya diaminkan oleh seluruh kaum muslimin yang hadir.

Sepeninggal Abu Bakar, ketika Umar ibn Khaththab dilantik menjadi khalifah, ia justru menangis. Orang-orang pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis menerima jabatan ini?”

“Aku ini keras, banyak orang yang takut kepadaku. Kalau aku nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan?”

Tiba-tiba muncullah seorang Arab Badui dengan menghunus pedangnya, seraya berkata,

"Aku, akulah yang akan mengingatkanmu dengan pedang ini. Apabila engkau benar, wahai khalifah, aku akan menaatimu. Tetapi, jika engkau menyimpang, pedang ini yang akan meluruskanmu."

Dengan tersenyum, Umar mengucapkan, "Alhamdulillah,” karena masih ada orang yang mau dan berani mengingatkannya bila ia melakukan kesalahan.

Sumber:
Sirah Nabawiyah
Dikutip dari buku 10 Sahabat yang dijanjikan Masuk Surga karya Abdus Sattar Asy-Syaikh.

Entri yang Diunggulkan

Big data warisan budaya takbenda

Pertemuan informal dengan Adam Cao dari Yong Xin Hua Yun Cultural Industry Investment Group Co., Ltd. pada Sesi ke-13 the Intergovernmenta...