Rabu, 13 Juni 2018

Merayakan Iidul Fithri bersama Keluarga

Anas radhiallohu anhu berkata: Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga menjadikanku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya. (HR.Bukhori)

Pada malam Takbiran, keluarga Ali ibn Abi Tholib alaihissalam istrinya Fathimah az-Zahro radhiyallohu anha  terlihat sibuk membagikan gandum dan kurma untuk fakir miskin.

Ali radhiyallohu anhu menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma. Ali radhiyallohu anhu memanggul gandum, sementara Fathimah radhiyallahu anha menuntun kedua putranya, Hasan dan Husein. Mereka sekeluarga menyantuni kaum fakir miskin.

Keesokan harinya sholat ‘
Iidul Fithri. Mereka sekeluarga mengikuti sholat berjama’ah dengan khusyu' dan mendengarkan khutbah sampai selesai. Selepas khutbah ‘Iid, keluarga Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau Shollalloohu'alaihi wasallam bahwa, Ibnu Rofi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Iidul Fithri kepada keluarga putri Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengangnya Ibnu Rofi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rosuulullooh.

Ali radhiyallohu anhu, Fathimah radhiyallohu anha, putranya Hasan dan Husein yang masih kanak-kanak, dalam merayakan ‘Iidul Fithri hanya makan gandum basi tanpa mentega, yang baunya tercium apek oleh sahabat Nabi itu. Seketika Ibnu Rofi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rofi’i berlinang butiran air mata, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Dalam dadanya berkecamuk sangat kuat, setengah berlari, Ibnu Rofi’i bergegas menghadap Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam. 

Tiba di depan rumah Rosuulullooh, “Ya Rosuulullooh, ya Rosuulullooh, ya Rosuulullooh. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rofi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rosuulullooh.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rosuulullooh. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rosuululloh Shollalloohu'alaihi wasallam pun bergegas menuju rumah anaknya, Fathimah az-Zahro radhiyallohu anha. Tiba di teras rumah, Rosuulullooh mendengar tawa bahagia mengisi percakapan antara Ali radhiyallohu anhu dengan Fathimah radhiyallahu anha dan kedua anaknya. Mata Rosuululloh pun berlinang air mata.  Butiran air mata bening menghiasi wajah Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam.

Air mata Rosululloh berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fithri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rosuululloh Shollalloohu alaihi wasallam penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tidak sedap karena sudah basi.

“Ya Alloh, Allohumma Isyhad. Ya Alloh saksikanlah, saksikanlah. Di hari ‘Iidul Fithri,  keluargaku makanannya gandum yang telah basi. Di hari ‘Iidul Fithri, keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum fakir-miskin, ya Alloh. Mereka mencintai kaum fuqoro' dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa makan makanan yang lezat. Allohumma Isyhad, saksikanlah ya Alloh, saksikanlah,” bibir Rosuulullooh berbisik lembut.

Fathimah radhiyallohu anha tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri di depan pintu. “Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rosuulullooh tidak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rofi’i, keluarga Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam merayakan hari raya ‘Iidul Fithri dengan menyantap makanan yang sudah basi. Ibnu Rofi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rosuululloh Shollalloohu alaihi wasallam agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Iidul Fithri. Aku pun menyimpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritakan agar menjadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman 232).

Ya Rosuulullooh, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga. Siapa gerangan yang tidak malu? Siapa orangnya yang tidak miris? Kami di hari nan fithri, selalu menyediakan makanan yang lezat untuk disantap bersama keluarga. Harus kami apakan diri ini, ya Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam? Ya Alloh berilah kami taufik dan hidayah-Mu, lapangkan dada kami agar tidak bermegah-megah dengan kehidupan dunia, sementara kaum fakir-miskin menderita. Lapangkanlah hati kami untuk bisa mencintai kaum fakir-miskin sebagaimana keluarga baginda Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wasallam telah memberikan teladan yang sangat mulia...

۞ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَل ﻋَﻠﮱ ﻣُﺤَﻤّﺪْ
 ﻭَﻋَﻠﮱ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪ۞

Allahumma sholli alaa aali muhammad wa alaa aali muhammad

Entri yang Diunggulkan

Talut dan Jalut

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman: وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا  ۗ  قَالُوْۤا...