Selasa, 12 Juni 2018

Pendidikan Anak

Pembentukan generasi dimulai dari dalam lingkungan keluarga, siapakah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak?

Rosuulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api).
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

Sumber informasi sudah semakin terbuka sehingga informasi dapat diperoleh dengan mudah dari internet.

GiGo (Garbage in Garbage out)

Informasi yang masuk kali pertama ke dalam diri seorang anak melalui mata, telinga, dan hatinya akan menjadi nilai dasar yang akan membentuk  kepribadian anak di kemudian hari.

Informasi yang salah, ibarat sampah, akan menghasilkan sampah (garbage in, garbage out).

Informasi yang diserap anak secara terus menerus akan menjadi kebiasaan, selanjutnya akan menjadi karakter,  yang akan diaktualisasikan menjadi identitasnya. Akhirnya, akan menjadi takdirnya, yang dapat diubah hanya oleh tangannya sendiri, setelah anak dapat berpikir dan mengambil keputusannya sendiri.

Jadi, sebelum anak dewasa dan berumah tangga masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya.

Hanya orang-orang yang hatinya bersih, yang dapat membedakan yang benar (hak) dengan jalan yang salah (batil).

Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa berfirman:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6-7)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allah murka kepada orang-orang Yahudi, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa:

مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ

yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Alloh. (Al-Maidah: 60)

Yang dikhususkan mendapat predikat sesat adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَواءِ السَّبِيلِ

mereka telah sesat sebelum (kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah: 77)

(Tafsir Ibnu Katsir surah al-Fatihah, ayat 7)

Dari Abu Hurairah, Nabi shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari nomor 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri rodhiyalloohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosuulullooh shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rosuulullooh, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim nomor 2669).

Imam Nawawi rohimahulloh ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah laku orang Yahudi dan Nasrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”  (Syarh Muslim, 16: 219)

Semoga Allah Subhaanahuu wa ta'aalaa memberi pertolongan kepada kita di jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat, Aamiiin, Aamiin, Aamiiin Ya Robbal' Aalamiin. 

Entri yang Diunggulkan

Menang dalam perkara di dunia, tetapi di akhirat mendapat siksa Alloh

Selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman: هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا Beginilah...