Rabu, 06 Juni 2018

Pidato Abu Bakar radhiyallohu anhu dan Umar ibn Khoththao radhiyallohu anhu pada saat dilantik sebagai khalifah

Selesai ikrar, Abu Bakar radhiyalloohu anhu kemudian berdiri di hadapan kaum muslimin lalu berpidato,  Setelah mengucapkan puji syukur kepada Alloh Subhaanahuu wa ta'aalaa, Abu Bakr radhiyalloohu anhu berkata:

"Kemudian, saudara-saudara, saya sudah dijadikan pemimpin  kalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan dan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya nanti saya berikan kepadanya - insyaa Alloh, dan orang yang kuat, buat saya adalah lemah sesudah haknya itu nanti saya ambil - insyaa Alloh.

Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Alloh, maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada mereka.

Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Alloh akan menyebarkan bencana kepada mereka.

Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Alloh dan Rosul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Alloh dan Rosul, maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah sholat kamu, Alloh akan merahmati kamu sekalian."

Abu Bakar dilantik sebagai khalifah di Saqifah Bani Sa’idah beberapa hari setelah Rosuulullooh
Shollalloohu alaihi wa sallam wafat.


Umar bin Khaththab dilantik sebagai khalifah berdasarkan keputusan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan disetujui oleh kaum muslimin. Abu Bakar sangat khawatir, jika tidak menunjuk khalifah yang akan menggantikannya,  akan terjadi kekosongan kepemimpinan di tengah-tengah umat Islam.

Setelah Abu Bakar wafat, kaum muslimin berbaiat secara umum kepada Umar di Masjid Nabawi. Umar pun menerima amanah kekhalifahan itu meskipun dia tidak berambisi untuk menjadi khalifah.

Umar naik ke atas mimbar Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam, namun dirinya menolak untuk berdiri di tempat Abu Bakar biasa berdiri. Hal itu disampaikannya terus terang kepada semua orang.

Umar berkata, “Alloh tidak menganggap diriku berhak menempati majelis Abu Bakar.” Umar kemudian menuruni satu anak tangga di mimbar tersebut.

Kemudian dia menghadap ke arah kaum muslimin dan berpidato,

“Wahai manusia, sesungguhnya aku diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandainya bukan karena adanya harapan agar aku menjadi yang terbaik untuk kalian, yang terkuat atas kalian, dan yang paling kuat memikul urusan kalian, aku tidak akan bersedia menjadi pemimpin kalian. Cukuplah bagi Umar untuk menunggu perhitungan dari Allah.

Jika aku tahu bahwa ada orang lain yang lebih kuat memikulnya daripada diriku, maka leherku dipenggal lebih aku sukai daripada aku menjadi pemimpinnya.”

Umar melanjutkan pidatonya,

“Sesungguhnya Alloh menguji kalian dengan diangkatnya aku sebagai pemimpin dan menguji aku dengan kalian. Alloh menetapkan aku atas kalian setelah dua sahabatku tiada (Rosuulullooh shollalloohu alaihi wasallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu).

Demi Alloh, tidaklah datang kepadaku sesuatu dari perkara kalian, lalu seseorang selain aku mengurusnya, dan tidaklah sesuatu itu tidak tampak olehku, lalu aku tidak memberikan balasan yang setimpal dan tidak amanah.

Maka, jika orang itu berbuat baik, akan aku balas pula dengan kebaikan. Tetapi jika dia melakukan kejahatan, maka terimalah bencana yang akan aku timpakan kepadanya.”

Setelah itu, Umar menengadahkan tangannya untuk berdoa dan meminta kaum muslimin untuk mengamini.

Umar berdoa,

“Ya Alloh, aku ini sungguh keras, maka lunakkanlah hatiku. Ya Alloh, aku sangat lemah maka berilah kekuatan. Ya Alloh, aku ini kikir maka jadikanlah aku orang yang dermawan dan bermurah hati.”

Doanya diaminkan oleh seluruh kaum muslimin yang hadir.

Sepeninggal Abu Bakar, ketika Umar ibn Khaththab dilantik menjadi khalifah, ia justru menangis. Orang-orang pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis menerima jabatan ini?”

“Aku ini keras, banyak orang yang takut kepadaku. Kalau aku nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan?”

Tiba-tiba muncullah seorang Arab Badui dengan menghunus pedangnya, seraya berkata,

"Aku, akulah yang akan mengingatkanmu dengan pedang ini. Apabila engkau benar, wahai khalifah, aku akan menaatimu. Tetapi, jika engkau menyimpang, pedang ini yang akan meluruskanmu."

Dengan tersenyum, Umar mengucapkan, "Alhamdulillah,” karena masih ada orang yang mau dan berani mengingatkannya bila ia melakukan kesalahan.

Sumber:
Sirah Nabawiyah
Dikutip dari buku 10 Sahabat yang dijanjikan Masuk Surga karya Abdus Sattar Asy-Syaikh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Syaithoon atau Setan

Setan adalah bangsa jin yang dapat masuk ke dalam aliran darah manusia, membisikkan atau mengajak manusia agar hidup abadi, mempersekutukan...