Rabu, 31 Oktober 2018

Al-Quran adalah petunjuk untuk seluruh umat

Rosul tidak mengharapkan upah atau imbalan apapun karena menyampaikan Al-Quran kepada kalian.

Dengan Al-Quran mereka menjadi sadar dan mendapat petunjuk dari kegelapan menuju ke jalan hidayah, dan dari kesesatan menuju ke jalan petunjuk, dan dari kekafiran menuju pada iman, berkat Al-Qur'an.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰٮهُمُ اقْتَدِهْ   ۗ  قُلْ لَّاۤ اَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا  ۗ  اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ

ulaaa`ikallaziina hadallohu fa bihudaahumuqtadih, qul laaa as`alukum 'alaihi ajroo, in huwa illaa zikroo lil-'aalamiin

"Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur'an). Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 90)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Al-An'am: 84-90

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84) وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85) وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (86) وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (87) ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (88) أُولَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا هَؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ (89) أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ (90)

Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami berikan petunjuk dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh), yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang sholih, dan Ismail, Al-Yasa’, Yunus, dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rosul-rosul), dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Alloh, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Alloh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka (a) kitab, (b) hikmah, dan (c) kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, “Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam menyampaikan (Al-Qur'an)." Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.

Alloh Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa Dia mengaruniakan seorang anak kepada Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ishaq, padahal usia Nabi Ibrahim sangat lanjut dan telah putus harapan untuk mendapatkan seorang anak; begitu pula istrinya, yaitu Sarah. Pada suatu hari datanglah sejumlah malaikat bertamu kepada Nabi Ibrahim dalam perjalanan mereka menuju tempat kaum Nabi Lut. Lalu mereka menyampaikan berita gembira akan kedatangan Ishaq kepada keduanya. Maka istri Nabi Ibrahim merasa heran terhadap berita tersebut dan mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:

{قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ * قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ}

"Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata, ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Alloh? (Itu adalah)
rahmat Alloh dan keberkatan-Nya  dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Alloh Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud: ayat 72-73)

Para malaikat itu menyampaikan berita gembira pula perihal kenabian yang akan diperoleh anaknya selagi ia masih hidup, dan bahwa kelak anaknya akan mempunyai keturunan pula, seperti yang disebutkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta'aalaa melalui firman-Nya:

{وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ}

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan
(kelahiran) Ishaq,
seorang nabi yang termasuk orang-orang yang sholih (Ash-Shaffat: 112)

Hal ini lebih sempurna dan merupakan nikmat yang paling besar. Dalam ayat lainnya disebutkan melalui firman-Nya:

{فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ}

maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran)
Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub. (QS. Hud: ayat 71)

Dengan kata lain, sesudah itu dilahirkan pula seorang anak dari anakmu selagi kamu berdua masih hidup, sehingga hatimu menjadi senang karenanya, sebagaimana hati anakmu pun senang pula mendapatkannya. Karena sesungguhnya kegembiraan mendapat seorang cucu sangat kuat, mengingat hal itu sebagai pertanda akan keberlangsungannya keturunan. Juga mengingat anak yang dilahirkan dari pasangan yang sudah lanjut usia diduga tidak akan dapat melahirkan keturuhan selanjutnya, sebab keadaannya sudah lemah. Lalu terjadilah suatu kegembiraan dengan lahirnya seorang cucu, maka cucu itu dinamakan Ya'qub yang berakar dari kata keturunan atau cucu.

Hal tersebut merupakan imbalan yang diberikan oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa kepada Nabi Ibrahim 'alaihissalam berkat perjuangannya. Ia rela hijrah mening­galkan kaumnya dan negeri tempat tinggalnya, pergi mengembara ke tempat yang jauh untuk beribadah kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa Maka Alloh mengganti kaum dan handai taulannya dengan mengaruniakan anak-anak yang sholih kepadanya dari tulang sulbinya dan berpegang pada agamanya agar hati Nabi Ibrahim senang dengan keberadaan mereka. Hal ini disebutkan oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'ala melalui firman-Nya:

{فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا}

Maka tatkala Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Alloh, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi. (Maryam: 49)

Sedangkan dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

{وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلا هَدَيْنَا}

Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk (QS. Al-An'am: ayat 84)

*******

Mengenai firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ}

dan kepada Nuh. sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk.(Al-An'am: 84)

Artinya, sebelum itu Kami telah memberikan petunjuk kepada Nuh, sebagaimana Kami telah memberikan petunjuk kepadanya (Ibrahim) dan Kami anugerahkan kepadanya keturunan yang baik (sholih). Masing-masing dari keduanya (Nuh dan Ibrahim) mempunyai keistimewaan tersendiri yang sangat besar. Adapun Nabi Nuh 'alaihissalam, maka ketika Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menenggelamkan semua penghuni bumi —kecuali orang-orang yang beriman kepada Nabi Nuh, yaitu mereka yang menemaninya dalam perahunya— maka Alloh menjadikan keturunannya adalah orang-orang yang menjadi generasi penerus; umat manusia semuanya merupakan keturunan Nabi Nuh 'alaihissalam, sedangkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah kekasih Alloh. Maka tidak sekali-kali Alloh mengutus seorang nabi sesudahnya melainkan berasal dari keturunannya, seperti yang disebutkan oleh Alloh dalam firman-Nya:

{وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ} الْآيَةَ

dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya. (QS. Al-Ankabut: ayat 27), hingga akhir ayat.

{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al-Kitab. (Al-Hadid: 26)

{أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا}

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam: ayat 58)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berikut ini:

{وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ}

dan dari keturunannya. (QS. Al-An'am: ayat 84)

Artinya, dan Kami beri petunjuk kepada sebagian dari keturunannya.

{دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ}

yaitu Daud dan Sulaiman. (QS. Al-An'am: ayat 84), hingga akhir ayat.

Damir yang ada pada lafaz zurriyyatihi kembali kepada Nuh, karena lafaz Nuh merupakan lafaz yang paling dekat di antara lafaz yang ada, lagi pula cukup jelas, tidak ada kesulitan mencarinya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Dan bila dikembalikan kepada lafaz Ibrahim —mengingat dialah yang disebutkan dalam konteks ayat ini— memang dinilai baik, tetapi sulit untuk mengaitkannya dengan lafaz Lut, karena Nabi Lut bukan termasuk keturunan Nabi Ibrahim, melainkan anak saudaranya yang bernama Haran ibnu Azar. Kecuali jika ia dimasukkan ke dalam pengertian keturunan berdasarkan kriteria taglib (mayoritas), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ}

Adakah kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, "Apakah yang kalian sembah sepeninggalanku?” Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Robb-mu dan Robb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Robb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqoroh: ayat 133)

Nabi Ismail adalah pamannya, tetapi ia dimasukkan ke dalam pengertian ayah-ayahnya secara taglib. Sama pula dengan pengertian yang terkandung di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa lainnya, yaitu:

{فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ  إِلا إِبْلِيسَ

Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. (Al-Hijr: 30-31)

Dalam ayat ini iblis dimasukkan ke dalam malaikat dalam hal mendapat perintah untuk bersujud, dan iblis dicela karena menentang perintah itu. Dia menyerupai mereka, karena itu dia diperlakukan sama dengan mereka (para malaikat) dan dikategorikan sebagai golongan para malaikat secara taglib; karena sesungguhnya pada kenyataannya iblis termasuk makhluk jin yang diciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari nur.

Penyebutan Isa 'alaihissalam ke dalam keturunan Nabi Ibrahim atau Nabi Nuh, menurut pendapat lainnya hal ini menunjukkan dimasukkannya keturunan anak perempuan ke dalam golongan keturunan anak laki-laki, karena sesungguhnya nasab Isa 'alaihissalam berkaitan dengan Nabi Ibrahim 'alaihissalam hanyalah melalui ibunya, yaitu Maryam a.s sebab Isa 'alaihissalam tidak berayah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Yahya Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abis, dari Abdullah ibnu Ata Al-Makki, dari Abu Harb ibnu Abul Aswad yang menceritakan bahwa Al-Hajjaj mengirimkan utusan kepada Yahya ibnu Ya'mur untuk menyampaikan pesan, "Telah sampai kepadaku suatu berita bahwa engkau menduga Al-Hasan dan Al-Husain termasuk keturunan Nabi Shollalloohu'alaihi Wasallam dan kamu jumpai dalilnya di dalam Kitabulloh (Al-Qur'an). Padahal aku telah membaca Al-Qur'an dari awal sampai akhir, tetapi tidak menemukannya." Yahya ibnu Ya'mur menjawab, "Tidak pernahkah engkau membaca suatu ayat di dalam surat Al-An'am yang mengatakan: dan dari keturunannya, yaitu Daud dan Sulaiman. (Al-An'am: 84) sampai pada firman-Nya: Yahya dan Isa. (Al-An'am: 85)." Al-Hajjaj menjawab, "Ya." Yahya ibnu Ya'mur berkata, "Bukankah Isa termasuk keturunan Nabi Ibrahim, padahal dia tidak berayah?" Al-Hajjaj menjawab, "Engkau benar."

Karena itulah apabila seseorang berwasiat kepada keturunannya, atau mewakafkan kepada mereka, atau memberi mereka suatu hibah, maka keturunan dari anak-anak perempuan termasuk ke dalam golongan keturunannya.

Adapun jika seseorang memberi kepada anak laki-lakinya atau mewakafkan sesuatu kepada anak-anak laki-lakinya, maka hal tersebut hanya khusus bagi mereka dan bagi keturunannya dari anak laki-lakinya. Mereka yang berpendapat demikian berdalilkan kepada ucapan seorang penyair Arab yang mengatakan:

بَنُونَا بَنُو أَبْنَائِنَا وَبَنَاتُنَا ...بَنُوهُنَّ أَبْنَاءُ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ

Anak-anak laki-laki kami adalah keturunan kami; sedangkan anak-anak laki-laki dari keturunan anak-anak perempuan kami, mereka adalah para putra dari laki-laki lain.

Pendapat lainnya lagi mengatakan bahwa anak-anak laki-laki dari keturunan anak-anak perempuan termasuk pula ke dalam pengertian keturunan dari anak laki-laki, karena berdasarkan kepada sebuah hadits yang disebutkan di dalam kitab Shohih Bukhori yang menyatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Al-Hasan ibnu Ali:

"إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ"

Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid mudah-mudahan Alloh mendamaikan dengan melaluinya dua golongan yang besar dari kalangan kaum muslim.

Dalam hadits ini Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi Wasallam menyebutkan Al-Hasan sebagai anak laki-lakinya. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Hasan (yang merupakan anak dari putrinya) dianggap sebagai anak Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi Wasallam sendiri.

Pendapat yang lainnya lagi membolehkannya (yakni boleh
me­masukkan keturunan dari anak perempuan ke dalam golongan keturunan dari anak laki-laki).

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ}

dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. (QS. Al-An'am: ayat 87)

Disebutkan orang-orang tua mereka, anak-anak mereka, dan saudara-saudara mereka yang setara; dan bahwa hidayah serta pilihan mencakup mereka seluruhnya. Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

Dan Kami telah memilih mereka, dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-An'am: ayat 87)

*******

Kemudian disebutkan pula:

{ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ}

Itulah petunjuk Alloh, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. (Al-An'am: 88)

Dengan kata lain, hal tersebut terjadi semata-mata berkat taufik dari Alloh dan hidayah-Nya kepada mereka.

{وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Seandainya mereka mempersekutukan Alloh niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (Al-An'am: 88)

Hal ini sebagai peringatan keras, sanksi yang berat terhadap perbuatan mempersekutukan Alloh, dan bahwa pelakunya melakukan dosa terbesar, seperti yang disebutkan Alloh dalam firman lainnya:

{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ}

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu, "Jika kamu mempersekutukan
(Robb), niscaya akan hapuslah amalanmu.”
(Az-Zumar: 65), hingga akhir ayat.

Hal ini adalah syarat, sedangkan syarat itu bukan berarti pasti akan terjadi; perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya:

{قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ}

Katakanlah "Jika benar Robb yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad)
orang yang mula-mula menyembah
(memuliakan anak itu)." (Az-Zukhruf: 81)

{لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ}

Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (QS. Al-Anbiya: ayat 17)

{لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ}

Kalau sekiranya Alloh hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya Mahasuci Alloh Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS. Az-Zumar: ayat 4)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ}

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka (a) kitab, (b) hikmat, dan (c) kenabian. (QS. Al-An'am: ayat 89)

Artinya, merekalah orang-orang yang telah Kami berikan nikmat kepada mereka berupa hal-hal tersebut sebagai rahmat buat hamba-hamba Kami melalui mereka, dan sebagai kasih sayang Kami terhadap semua makhluk.

{فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا}

Jika ingkar terhadapnya. (Al-An'am: 89)

Yakni terhadap kenabian. Dapat pula diinterpretasikan bahwa damir yang ada kembali pada ketiga perkara tersebut, yaitu (a) al-Kitab, (b) hikmat, dan (c) kenabian.

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{هَؤلاءِ}

orang-orang itu. (QS. Al-An'am: ayat 89)

Yaitu penduduk Makkah, menurut Ibnu Abbas, Sa'id ibnul Musayyab, Ad-Dahhak, Qatadah, dan As-Saddi serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

{فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ}

maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (QS. Al-An'am: ayat 89)

Dengan kata lain, jika semua nikmat ini diingkari oleh orang-orang dari kalangan Quraisy dan lain-lainnya, baik yang Arab maupun yang 'Ajam, dan baik dari kalangan Ahli Kitab maupun dari kalangan agama lainnya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang lain —yakni kaum Muhajirin dan kaum Ansar serta pengikut mereka— sampai hari kiamat.

{لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ}

yang sekali-kali mereka tidak akan mengingkarinya. (Al-An'am: 89)

Maksudnya, mereka sama sekali tidak akan mengingkarinya dan tidak akan menolak barang satu huruf pun darinya, bahkan mereka beriman kepada semuanya, baik yang muhkam maupun yang mutasyabih.
Semoga Alloh menjadikan kita ke dalam golongan mereka berkat karunia, kedermawanan, dan kebajikan-Nya.

*******

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berkhitab
(berbicara) kepada hamba dan Rosul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Sholalloohu'alaihi Wasallam, melalui firman-Nya:

{أُولَئِكَ}

Mereka itulah (QS. Al-An'am: ayat 90)

Yakni para nabi yang telah disebutkan di atas serta orang-orang yang di­sebutkan bersama mereka dari kalangan para orang tua dan keturunannya serta saudara-saudaranya yang setara dengan mereka.

{الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ}

Orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh (QS. Al-An'am: ayat 90)

Artinya, hanya merekalah yang mendapat petunjuk, bukan selain mereka.

{فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}

maka ikutilah petunjuk mereka. (QS. Al-An'am: ayat 90)

Yakni anuti dan ikutilah mereka. Apabila hal ini merupakan perintah yang ditujukan kepada Rosul Sholalloohu'alaihi Wasallam, maka umatnya mengikut kepadanya dalam semua yang disyariatkan dan yang diperintahkan olehnya kepada mereka.

Sehubungan dengan ayat ini Imam Bukhori mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hisyam, bahwa Juraij pernah bercerita kepada mereka, bahwa telah menceritakan kepadaku Sulaiman Al-Ahwal, bahwa Mujahid pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, "Apakah di dalam surat Sad terdapat ayat yang menganjurkan bersujud tilawah?" Ibnu Abbas mengiakannya, lalu membacakan firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa: Dan Kami anugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. (QS. Al-An'am: ayat 84) sampai dengan: maka ikutilah petunjuk mereka. (QS. Al-An'am: ayat 90) Kemudian ia berkata, "Nabi Shollalloohu'alaihi Wasallam termasuk salah seorang dari mereka."

Yazid ibnu Harun, Muhammad ibnu Ubaid, dan Suhail ibnu Yusuf menambahkan dari Al-Awwam, dari Mujahid, bahwa ia bertanya kepada Ibnu Abbas mengenainya. Lalu Ibnu Abbas menjawab, "Nabi kalian termasuk salah seorang yang diperintahkan untuk mengikuti petunjuk mereka."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا}

Katakanlah, "Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam menyampaikannya (Al-Qur'an)." (QS. Al-An'am: ayat 90)

Artinya, dalam menyampaikan Al-Qur'an ini aku tidak meminta suatu upah pun kepada kalian. Dengan kata lain, aku tidak bermaksud sesuatupun dari kalian.

{إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ}

Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.(QS. Al-An'am: ayat 90)

Yakni mereka menjadi sadar dan mendapat petunjuk dari kegelapan menuju ke jalan hidayah, dan dari kesesatan menuju ke jalan petunjuk, dan dari kekafiran menuju pada iman,
berkat Al-Qur'an.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Selasa, 30 Oktober 2018

Pasar Konvensional dan Pasar Online

Pasar, tempat bertemunya pedagang (penjual) dengan pembeli. Sebelum mengenal uang, transaksi dilakukan dengan tukar menukar barang (barter). Untuk memudahkan tukar menukar barang  diciptakan uang sebagai alat tukar untuk membeli barang dan jasa. Ada barang dan jasa ada harga. Jadi, transaksi telah berubah dari barter menjadi jual-beli dengan menggunakan uang, yang disepakati setelah terjadi tawar menawar antara penjual dengan pembeli. Jika harga telah disepakati, terjadilah transaksi jual-beli.

Transaksi jual-beli itu dilakukan di pasar, baik pasar konvensional maupun pasar online,  yang saat ini telah berkembang pesat, apalagi dengan adanya perkembangan teknologi digital, telah mengubah wajah pasar dari pasar konvensional menjadi pasar online, atau lebih dikenal dengan istilah market place, seperti Bukalapak, Tokopedia, Amazon, Blibli, Alibaba dsb. Di pasar digital juga terjadi transaksi jasa dengan pengguna, seperti Go-jek, Grab, Blue Bird dsb.

Pasar online (market place) telah mengubah gaya hidup pembeli dalam melakukan transaksi barang maupun jasa, dari transaksi langsung (tatap muka) menjadi tidak langsung (melalui website atau mobile apps).

Pertumbuhan ekonomi digital menimbulkan persaingan di antara penyedia barang dan jasa jasa. Persaingan harga dan pelayanan tidak dapat dihindari. Pembeli atau konsumen semakin selektif dalam memilih market place atau pasar online.

Sebagaimana transaksi ekonomi lainnya, kepercayaan (trust) terhadap penyedia barang dan jasa menjadi perhatian utama pembeli atau pengguna jasa.

Isu yang menjadi perhatian pembeli atau pengguna jasa pun berkembang, tidak hanya harga atau kemudahan dalam memberi pelayanan, tetapi juga isu apakah barang dan jasa yang ditawarkan halal dan tidak mengandung riba? Pembahasan mengenai hal ini banyak menjadi perhatian ahli ekonomi syariah.

Pertanyaan berikut apakah pasar online akan mematikan pasar konvensional?

Pertanyaan di atas telah terbukti dengan tutupnya beberapa mal yang menyediakan barang kebutuhan sandang dan pangan atau sepi pengunjung karena telah terjadi perubahan gaya hidup konsumen dalam membeli barang atau menggunakan jasa yang ditawarkan.

Apakah penyedia jasa perjalanan wisata akan tutup?

Pertanyaan di atas telah terbukti dengan tutupnya penyedia jasa perjalanan, yang selama ini hanya menjual tiket perjalanan karena sekarang wisatawan dapat memesan tiket perjalanan langsung ke penyedia jasa perjalanan, seperti jasa penerbangan dan kereta api, daripada melalui penyedia jasa perjalanan wisata.

Kondisi yang sama, bila penyedia akomodasi, seperti hotel,  menyediakan aplikasi untuk pemesanan kamar sendiri, yang memudahkan wisatawan untuk memesan kamar sendiri, tentu wisatawan akan memesan kamar sendiri daripada melalui penyedia jasa akomodasi online. Tetapi, bisnis yang berjalanan justru wisatawan yang memesan langsung kamar hotel akan dikenakan harga yang lebih mahal daripada memesan kamar dengan menggunakan penyedia jasa akomodasi online karena kamar yang dijual sebenarnya kamar dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga kamar yang lainnya. Mengapa harga kamar yang dijual oleh jasa akomodasi online lebih murah? Karena penyedia jasa akomodasi online menjual jasa penjualan kamar dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga kamar yang dijual langsung oleh  manajemen hotel. Dalam hal ini, transaksi pembayaran melalui jasa akomodasi online biasanya menggunakan kartu kredit atau transfer antarbank.

Apakah destinasi wisata akan dikunjungi wisatawan?

Pertanyaan di atas hanya dapat dijawab dengan pertanyaan, apakah pembeli atau pengguna jasa (wisatawan) dapat memenuhi kebutuhannya sendiri?

Pertanyaan di atas akan semakin menarik, jika pembeli atau pengguna jasa, seperti wisatawan, lebih tertarik dengan permainan interaktif, yang menyediakan berbagai aktivitas atau pengalaman baru bagi wisatawan, yang belum pernah berkunjung ke destinasi wisata, dapat berwisata dengan menggunakan teknologi virtual reality, tanpa harus berkunjung atau melihat langsung berbagai destinasi wisata di dunia.

Demikian juga acara masak memasak di beberapa stasiun televisi telah mengubah gaya hidup penonton untuk belajar memasak sendiri daripada makan di restoran.

Perubahan gaya hidup di era digital perlu diantisipasi karena akan terjadi perubahan yang lebih dahsyat ketika kita memasuki era keberlimpahan.

Di era keberlimpahan, setiap orang akan menjadi produsen sekaligus sebagai pembeli barang dan jasa (prosumer). Fenomena ini tengah berlangsung dengan maraknya media sosial, seperti facebook, twitter, instagram, dsb. Apalagi adanya  perkembangan teknologi uang digital, yang dapat digunakan sebagai alat transaksi di seluruh dunia, uang tidak lagi mengenal kewarganegaraan, apalagi kebangsaan.

Kecerdasan akal dan teknologi telah mengubah wajah dunia,  yang akan membuat semua orang mempunyai peluang yang sama untuk meraih sukses.

Semoga perubahan di era digital ini memberi berkah untuk orang banyak.

Pemerhati pariwisata dan ekonomi kreatif



Senin, 22 Oktober 2018

Larangan duduk bersama orang-orang yang memperolok-olokan ayat-ayat Alloh

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْـكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُبِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۤ   ‏  ۖ  اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَـنَّمَ جَمِيْعَا 

wa qod nazzala 'alaikum fil-kitaabi an izaa sami'tum aayaatillaahi yukfaru bihaa wa yustahza`u bihaa fa laa taq'uduu ma'ahum hattaa yakhuudhuu fii hadiisin ghoirihiii innakum izam misluhum, innalloha jaami'ul-munaafiqiina wal-kaafiriina fii jahannama jamii'aa

"Dan sungguh, Alloh telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Alloh akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam,"
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 140)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

An-Nisa, ayat 137-140

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدادُوا كُفْراً لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلاً (137) بَشِّرِ الْمُنافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذاباً أَلِيماً (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعاً (139) وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتابِ أَنْ إِذا سَمِعْتُمْ آياتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِها وَيُسْتَهْزَأُ بِها فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جامِعُ الْمُنافِقِينَ وَالْكافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً (140)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Alloh tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh. Dan sungguh Alloh telah menurunkan kepada kalian di dalam Al-Qur'an, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam Jahannam.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menceritakan perihal orang yang beriman, lalu ia kafir, kemudian kembali beriman lagi; dan terakhir ia kafir, lalu berkelanjutan dalam kesesatannya dan makin bertambah hingga mati. Maka sesungguhnya tiada tobat baginya sesudah mati, dan Alloh tidak akan memberikan ampunan baginya, juga tidak akan menjadikan baginya sesuatu yang dapat menuntunnya ke arah hidayah. Karena itulah disebutkan melalui firman-Nya:

{لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلا}

maka sekali-kali Alloh tidak akan memberi ampunan kepada mereka dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (An-Nisa: 137)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdah, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Jami', dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: kemudian bertambah kekafirannya. (An-Nisa: 137) Bahwa makna yang dimaksud ialah mereka berkepanjangan di dalam kekafirannya hingga mati. Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui jalur Jabir Al-Ma'la, dari Amir Asy-Sya'bi, dari Ali r.a., bahwa ia pernah mengatakan, "Orang yang murtad disuruh bertobat sebanyak tiga kali." Kemudian ia membacakan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Alloh tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (An-Nisa: 137)

*******

Selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

بَشِّرِ الْمُنافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذاباً أَلِيماً

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih. (An-Nisa: 138)

Bahwa orang-orang munafik itu adalah yang mempunyai sifat demikian, karena sesungguhnya pada mulanya mereka beriman, kemudian kafir, lalu hati mereka dikunci mati. Kemudian Alloh menyebutkan sifat mereka yang lain, bahwa mereka mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka selain orang-orang mukmin. Dengan kata lain, mereka pada hakikatnya berpihak kepada orang-orang kafir dan menyembunyikan rasa cinta mereka kepada orang-orang kafir. Apabila mereka kembali kepada orang-orang kafir, mereka mengatakan, "Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok," yakni terhadap orang-orang mukmin dengan menampakkan sikap sependirian dengan mereka secara lahiriah.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa mengingkari sepak terjang mereka yang berpihak kepada orang-orang kafir, yang hal ini diungkapkan oleh firman-Nya:

{أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ}

Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? (An-Nisa: 139)

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa memberitahukan bahwa kekuatan itu seluruhnya hanyalah milik Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dalam ayat yang lain disebutkan hal yang semakna, yaitu:

مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعاً

Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Alloh-lah kemuliaan itu semuanya. (QS. Fathir: ayat 10)

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa yang mengatakan:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلكِنَّ الْمُنافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Alloh, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui. (QS. Al-Munafiqun: ayat 8)

Makna yang dimaksud dari ayat ini ialah menggerakkan hati mereka untuk mencari kekuatan (kemuliaan) di sisi Alloh, beribadah kepada-Nya dengan ikhlas, dan menggabungkan diri ke dalam barisan hamba-hamba-Nya yang beriman, karena hanya merekalah yang mendapat pertolongan di dalam kehidupan dunia ini dan di hari semua saksi dibangkitkan (hari kiamat).

Kiranya sesuai bila dalam pembahasan ini kami ketengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ حُمَيْد الْكِنْدِيِّ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيِّ، عَنْ أَبِي رَيْحَانَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنِ انْتَسَبَ إِلَى تِسْعَةِ آبَاءٍ كُفَّارٍ، يُرِيدُ بِهِمْ عِزًّا وَفَخْرًا، فَهُوَ عَاشِرُهُمْ فِي النَّارِ".

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Humaid Al-Kindi, dari Ubadah ibnu Nissi, dari Abu Raihanah, bahwa Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam telah bersabda: Barang siapa yang menyebutkan nasabnya sampai kepada sembilan orang kakek moyangnya yang semuanya kafir dengan maksud memuliakan diri dengan mereka dan berbangga diri dengan mereka, maka dia akan menemani mereka di dalam neraka.

Hadits ini diriwayatkan secara munfarid
(menyendiri) oleh Imam Ahmad. Abu Raihanah yang disebut di dalam sanadnya adalah seorang dari kabilah Azd. Menurut pendapat yang lain, dia adalah seorang Ansar, nama aslinya ialah Syam'un. Demikianlah menurut Imam Bukhari. Sedangkan menurut yang lainnya, nama aslinya adalah Sam'un.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتابِ أَنْ إِذا سَمِعْتُمْ آياتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِها وَيُسْتَهْزَأُ بِها فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ

Dan sungguh Alloh telah menurunkan kepada kalian di dalam Al-Qur'an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian) tentulah kalian serupa dengan mereka. (QS. An-Nisa: ayat 140)

Sesungguhnya jika kalian melakukan hal yang terlarang sesudah larangan sampai kepada kalian, dan kalian rela duduk bersama-sama mereka di tempat yang padanya diingkari ayat-ayat Alloh, diperolok-olokkan serta dikecam dengan pedas, lalu kalian menyetujui hal tersebut, berarti sesungguhnya kalian berserikat dan bersekongkol dengan mereka dalam hal itu.

Karena itulah dinyatakan oleh firman-Nya:

{إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ}

tentulah kalian serupa dengan mereka. (QS. An-Nisa: ayat 140)

Yakni dalam hal dosa, seperti yang disebut di dalam sebuah hadits:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلَا يَجْلِسْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ»

Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian, maka janganlah ia duduk di dalam sebuah hidangan yang disediakan padanya minuman khamr.

Larangan mengenai hal tersebut yang ada dalam ayat ini, cara menanggulanginya disebutkan di dalam ayat surat Al-An'am melalui firman-Nya:

وَإِذا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آياتِنا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka. (QS. Al-An'am: ayat 68), hingga akhir ayat.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa ayat surat Al-An'am ini menasakh firman-Nya: tentulah kalian serupa dengan mereka. (An-Nisa: 140) Karena ada dalil firman Alloh yang mengatakan:

وَما عَلَى الَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنْ حِسابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَلكِنْ ذِكْرى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikit pun atas orang-orang yang memelihara dirinya terhadap dosa mereka (yang memperolok-olokkan ayat-ayat Alloh); tetapi (kewajibannya ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa. (QS. Al-An'am: ayat 69)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

إِنَّ اللَّهَ جامِعُ الْمُنافِقِينَ وَالْكافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً

Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (QS. An-Nisa: ayat 140)

Maksudnya, sebagaimana orang-orang munafik itu bersekutu dengan orang-orang kafir dalam kekufuran, maka Alloh pun menghimpun di antara mereka dalam kekekalan di neraka Jahannam untuk selama-lamanya, dan Dia mengumpulkan mereka semua di dalam rumah siksaan dan pembalasan dengan belenggu dan rantai yang mengikat mereka serta minuman air yang mendidih —bukan air yang tawar— dan makanan berupa darah dan nanah.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Sabtu, 20 Oktober 2018

Menang dalam perkara di dunia, tetapi di akhirat mendapat siksa Alloh

Selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Beginilah kalian, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka (orang munafik, lihat QS. An-Nisa: ayat 108) dalam kehidupan dunia ini. (QS. An-Nisa: ayat 109)

Dengan kata lain, misalnya mereka (orang munafik) menang dalam perkaranya berkat apa yang mereka kemukakan atau berkat alasan-alasan yang mereka ajukan kepada para hakim yang menjalankan tugasnya menurut apa yang ada pada lahiriahnya saja, sekalipun mereka (para hakim-red) itu dianggap beribadah di dalam pekerjaannya. Maka apakah yang akan dilakukan oleh mereka (orang munafik-red) kelak di hari kiamat di hadapan peradilan Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa yang mengetahui semua rahasia dan yang tidak tampak? Siapakah yang akan membela mereka pada hari kiamat itu untuk memperkuat pengakuan mereka? Dengan kata lain, makna yang dimaksud ialah tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka (orang munafik-red). Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan: Atau siapakah yang akan menjadi pelindung
mereka (orang munafik-red) terhadap siksa Alloh? (QS. An-Nisa: ayat 109)

Ibnu Katsir

Ancaman dan peringatan terhadap orang munafik

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ

mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Alloh. (An-Nisa: 108)

Ayat ini mengingkari perbuatan orang-orang munafik, karena mereka menyembunyikan keburukan-keburukannya dari mata manusia, agar manusia percaya kepada mereka, tetapi mereka berani terang-terangan melakukan hal tersebut terhadap Alloh, karena Alloh melihat semua rahasia mereka dan mengetahui apa yang terkandung di dalam hati sanubari mereka.

Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا}

padahal Alloh beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak Alloh ridhoi. Adalah Alloh Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. An-Nisa: ayat 108)

Ayat ini mengandung makna ancaman dan peringatan terhadap mereka (orang munafik-red).

Ibnu katsir

Jumat, 19 Oktober 2018

Teman yang sebaik-baiknya

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصّٰلِحِيْنَ  ۚ  وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا 

wa may yuthi'illaaha war-rosuula fa ulaaa`ika ma'allaziina an'amallohu 'alaihim minan-nabiyyiina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaaa`i wash-shoolihiin, wa hasuna ulaaa`ika rofiiqoo

"Dan barang siapa menaati Alloh dan Rosul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Alloh, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 69)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Dan barang siapa yang menaati Alloh dan Rosul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu nabi-nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa: ayat 69)

Dengan kata lain, barang siapa yang mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa akan menempatkannya di dalam rumah kehormatan-Nya (yakni surga) dan menjadikannya berteman dengan para nabi, orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka yaitu para siddiqin, lalu orang-orang yang mati syahid, dan semua kaum mukmin, yaitu mereka yang sholih lahir dan batinnya.

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa memuji mereka melalui firman selanjutnya:

{وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا}

Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa: ayat 69)

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَوْشَب، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُرْوَة، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "مَا مِنْ نَبِيٍّ يَمْرَضُ إِلَّا خُيِّر بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ" وَكَانَ فِي شَكْوَاهُ الَّتِي قُبِضَ فِيهِ، فَأَخَذَتْهُ بُحَّة شَدِيدَةٌ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: {مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ} فَعَلِمْتُ أَنَّهُ خُيِّر.

Imam Bukhori mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Hausyab, telah menceritakan kepada kami Ibrohim ibnu Sa'd, dari ayahnya, dari Urwah, dari Siti Aisyah rodhiyAlloohu anha yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam bersabda:
Tiada seorang nabi pun yang mengalami sakit melainkan ia disuruh memilih antara dunia dengan akhirat. Tersebutlah pula bahwa ketika Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam dalam sakit yang membawa pada kewafatannya, beliau terserang rasa sakit yang sangat, lalu Siti Aisyah rodhiyAlloohu anha mendengar Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam mengucapkan kalimat berikut: bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu nabi-nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih. Maka Siti Aisyah rodhiyAlloohu anha mengetahui bahwa saat itu Nabi Shollalloohu'alaihi wasallam sedang disuruh memilih oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui hadits Syu'bah, dari Sa'd ibnu Ibrahim dengan lafaz yang sama.

Hadits di atas merupakan makna dari sabdanya yang menyebutkan:

"اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى" ثَلَاثًا ثُمَّ قَضَى،

Ya Alloh, (aku memilih) bersama-sama Rofiiqul A'la (teman yang tertinggi, red). Kalimat tersebut beliau ucapkan sebanyak tiga kali, kemudian wafatlah beliau.

Semoga sholawat dan salam yang paling afdhol terlimpahkan kepadanya.

Ibnu Katsir

Kematian terindah dalam sejarah umat manusia

Saudaraku seiman, saya ingin menceritakan kisah ini kepada anda sekalian, yang di dalamnya terkandung nasihat dan pelajaran. Maka janganlah ragu, dan jangan segan-segan untuk mengirimkannya kepada orang-orang yang anda cintai, dan men-du'aaa-kan orang yang telah menulis, membaca dan mengutipnya.

Ya sebuah kisah yang menceritakan detik-detik terakhir wafatnya Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam. Wafatnya Nabi kita tercinta Muhammad Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam. Sebuah kisah yang sangat mengagumkan dan menggetarkan dada orang-orang yang beriman. Maka simaklah detik-detik yang mengharukan berikut ini.

Sebelum beliau wafat, beliau melakukan haji terakhir yang disebut sebagai haji wada’ (haji perpisahan). Saat beliau melakukan ibadah tersebut turunlah firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa yang artinya: ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah: ayat 3)

Maka menangislah Abu Bakar as shiddiq rodhiyAlloohu anhu Bersabdalah Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis dalam ayat tersebut?” Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu menjawab:
”Ini adalah berita kematian Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam.”

Kembalilah Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dari haji wada’ dan kurang dari tujuh hari wafat beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, turunlah ayat al-Qur’an paling akhir yang artinya: “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Alloh. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”
(QS.al-Baqoroh: ayat 281).

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam mulai menampakkan sakit beliau. Beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam berkata: ”Aku ingin mengunjungi syuhada ‘Uhud”, maka beliaupun berangkat pagi menuju syuhada ‘Uhud di awal-awal bulan Shafar tahun 11 H. Lalu berdiri di atas makam para syuhada dan berkata:” Assalamu’alaikum wahai syuhada ‘Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului kami dan kami in syaaa Alloh akan menyusul kalian, dan sesungguhnya aku, in syaaa Alloh akan menyusul kalian.”

Kemudian Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam pulang sambil menangis. Maka para sahabat bertanya kepada Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam: “Apa yang membuat anda menangis wahai Rosuulullooh?” Beliau bersabda:” Aku merindukan saudara-saudaraku seiman.” Mereka berkata:” Bukankah kami adalah saudaramu seiman wahai Rosuulullooh?” Beliau bersabda:” Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku, adapun saudara-saudaraku seiman adalah suatu kaum yang datang setelahku, mereka beriman kepadaku sedang mereka belum pernah melihatku.”

Saya berdoa kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa mudah-mudahan kita semua termasuk mereka yang dirindukan oleh Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam.

Pada hari Senin, 29 Shafar beliau menghadiri jenazah di Baqi’. Ketika pulang beliau merasakan pusing di kepala dan panas badannya meninggi. Maka beliaupun mulai sakit dan terus bertambah sakit. Selama sakitnya itu beliau tetap memimpin shalat selama 11 hari dari 13 atau 14 hari masa sakit beliau. Sejak kamis malam, 4 hari sebelum wafat beliau, pada waktu sholat Isya’, beliau meminta agar Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu menggantikannya dalam memimpin sholat.

Tiga hari sebelum beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam wafat, sakit beliau mulai mengeras. Beliau saat itu berada dirumah Sayyidah Maimunah rodhiyAlloohu anhu. Beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Kumpulkanlah istri-istriku.” Maka berkumpullah istri-istri beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda kepada mereka:” Apakah kalian mengizinkan aku untuk tinggal di rumah ‘Aisyah?” Maka mereka menjawab:” Kami mengizinkan anda wahai Rosuulullooh.”

Kemudian beliau berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah ‘Ali ibn Abi Thalib, dan al-Fadl ibn al-‘Abbas ra. Maka merekapun membopong Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, lalu mereka memindahkan beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dari kamar Maimunah rodhiyAlloohu anha menuju kamar ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha.

Adapun para sahabat rodhiyAlloohu anhum, baru pertama kali ini mereka melihat Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dibopong di atas dua tangan, maka berkumpullah para sahabat rodhiyAlloohu anhum dan mereka berkata:” Apa yang terjadi pada Rosuulullooh, apa yang terjadi pada Rosuulullooh?”

Mulailah manusia berkumpul di dalam masjid. Masjidpun mulai penuh dengan para sahabat rodhiyAlloohu anhum Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dibawa menuju rumah ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha. Mulailah Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam mencucurkan keringat, berkeringat dan berkeringat. Berkatalah ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha: ”Sungguh belum pernah aku melihat ada seorang manusia yang berkeringat deras seperti ini.” Maka dia mengambil tangan Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dan dengannya dia mengusap keringat beliau. (Maka mengapakah dia mengusap keringat dengan tangan beliau dan tidak mengusapnya dengan tangannya sendiri?) ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha berkata: ”Sesungguhnya tangan Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam lebih lembut dan lebih mulia daripada tanganku, oleh karena itulah aku mengusap keringat beliau dengan tangan beliau dan tidak dengan tanganku.” (ini adalah sebuah penghormatan terhadap Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam)

‘Aisyah rodhiyAlloohu anha berkata:”Aku mendengar beliau berkata: ”Laa Ilaaha illallooh, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat, Laa Ilaaha illallooh, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat.”

Mulailah suara-suara di dalam masjid meninggi. Bersabdalah Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam: ”Apa ini?” Berkatalah ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha: “Sesungguhnya manusia mengkhawatirkan anda wahai Rosuulullooh.” Beliaupun bersabda: ”Bawalah aku kepada mereka.” Maka beliau berkehendak untuk bangun, akan tetapi tidak mampu. maka para sahabat menyiramkan tujuh qirbah (timba) air kepada beliau hingga beliau bangkit, dan membawa beliau naik ke atas mimbar.

Jadilah khutbah tersebut adalah khutbah terakhir beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, menjadi kalimat terakhir Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dan doa terakhir Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam. Beliau bersabda:” Wahai manusia, kalian mengkhawatirkan aku?” Mereka menjawab:” Ya, wahai Rosuulullooh.” Bersabdalah Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam: ”Sesungguhnya tempat perjanjian kalian dengan aku bukanlah di dunia, tempat perjanjian kalian denganku adalah di haudh (telaga). Demi Alloh, sungguh seakan-akan aku sekarang sedang melihat kepadanya di depanku ini. Wahai manusia, demi Alloh, tidaklah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan adalah dibukanya dunia atas kalian, sehingga kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

Kemudian beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda: ”Alloh Alloh, sholat, Alloh Alloh, sholat.”
(maksudnya; Aku bersumpah demi Alloh terhadap kalian agar kalian menjaga sholat) beliau terus mengulang-ulangnya, lantas bersabda: ”Wahai manusia, bertakwalah kalian terhadap kaum wanita, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap kaum wanita.”

Kemudian beliau bersabda: ”Wahai manusia, sesungguhnya ada seorang hamba, yang Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa telah memberikan pilihan kepadanya antara dunia dan antara apa yang ada di sisi-Nya, maka dia memilih apa yang ada di sisi-Nya.”

Tidak ada yang memahami siapakah yang dimaksud dengan seorang hamba oleh Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam tadi, padahal yang dimaksud oleh Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam adalah diri beliau sendiri. Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa telah memberikan pilihan kepada beliau dan tidak ada seorangpun yang paham selain Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu dan kebiasaan para sahabat rodhiyAlloohu anhum saat beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam sedang berbicara adalah mereka diam, seakan-akan ada seekor burung yang bertengger di atas kepala mereka. maka saat Abu Bakar ra mendengar perkataan Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, dia tidak mampu menguasai dirinya, dengan serta merta dia menangis dengan sesengukan, dan ditengah masjid dia memotong pembicaraan Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata: ”Kami tebus anda dengan bapak-bapak kami wahai Rosuulullooh, kami tebus anda dengan ibu-ibu kami wahai Rosuulullooh, kami tebus anda dengan harta-harta kami wahai Rosuulullooh.” dia mengulang-ulangnya, sementara para sahabat rodhiyAlloohu anhum melihat kepadanya dengan pandangan heran, bagaimana dia berani memotong khutbah Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam?”

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda :”Wahai manusia, tidak ada seorangpun di antara kalian yang memiliki keutamaan di sisi kami melainkan kami telah membalasnya, kecuali Abu Bakar, aku tidak mampu membalasnya, maka aku tinggalkan balasannya kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa. Setiap pintu masjid ditutup kecuali pintu Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu tidak akan di tutup selamanya.”

Kemudian mulailah beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam berdu’aaa untuk mereka dan berkata pada akhir du’aaa beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam sebelum wafat: ”Mudah-mudahan Alloh menetapkan kalian, mudah-mudahan Alloh menjaga kalian, mudah-mudahan Alloh menolong kalian, mudah-mudahan Alloh meneguhkan kalian, mudah-mudahan Alloh menguatkan kalian, mudah-mudahan Alloh menjaga kalian.”

Dan kalimat terkahir yang beliau sampaikan sebelum beliau turun dari atas mimbar sambil menghadapkan wajah beliau kepada ummat dari atas mimbar adalah:
”Wahai manusia sampaikanlah salamku kepada orang yang mengikutiku di antara ummatku hingga hari kiamat.” Setelah itu beliaupun dibawa kembali ke rumah beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam.

Masuklah Abdurrahman ibn Abu Bakar, dan ditangannya ada sebatang siwak. Beliau Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam terus melihat ke arah siwak tersebut, tetapi tidak mampu berkata aku menginginkan siwak. ‘Aisyah rodhiyAlloohu anhu berkata: ”Aku paham dari pandangan kedua mata beliau, bahwa beliau menginginkan siwak tersebut. Maka aku ambil siwak itu darinya (yakni Abdurrahman ibn Abu Bakar), kemudian aku letakkan di mulutku, agar aku melunakkannya untuk Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, kemudian aku berikan siwak tersebut kepada beliau. Maka sesuatu yang paling akhir masuk ke dalam perut Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam adalah air ludahku.” ‘Aisyah rodhiyAlloohu anhu berkata: ”Termasuk sebuah keutamaan dari Robb-ku atasku adalah Dia telah mengumpulkan antara air ludahku dengan air ludah Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau wafat.”

Kemudian masuklah putri beliau Fathimah rodhiyAlloohu anha pada waktu dhuha di hari Senin 12 Rabi’ul awal 11 H, lalu dia menangis saat masuk kamar Rosuulullooh Shalalloohu ‘Alaihi Wassalam. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui Rosuullullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, beliau berdiri dan menciumnya di antara kedua matanya, akan tetapi sekarang beliau tidak mampu berdiri untuknya. Maka Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepadanya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia (Fatimah) pun menangis. Kemudian beliau bersabda lagi untuk kedua kalinya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu sekali lagi, maka dia (Fatimah)pun tertawa.

Maka setelah kematian Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, mereka bertanya kepada Fathimah rodhiyAlloohu anha: “Apa yang telah dibisikkan oleh Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam kepadamu sehingga engkau menangis, dan apa pula yang beliau bisikkan hingga engkau tertawa?” Fathimah rodhiyAlloohu anha berkata: ”Pertama kalinya beliau berkata kepadaku:” Wahai Fatimah, aku akan meninggal malam ini.” Maka akupun menangis. Maka saat beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata kepadaku:” Engkau wahai Fatimah, adalah keluargaku yang pertama kali akan bertemu denganku.” Maka akupun tertawa.

Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam memanggil Hasan dan Husain, beliau mencium keduanya dan berwasiat kebaikan kepada keduanya. Lalu Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kepada seluruh manusia yang hadir agar menjaga sholat. Beliau mengulang-ulang wasiat itu.

Lalu rasa sakitpun terasa semakin berat, maka beliau bersabda:” Keluarkanlah siapa saja dari rumahku. ”Beliau bersabda:” Mendekatlah kepadaku wahai ‘Aisyah!” Beliaupun tidur di dada istri beliau ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha berkata:” Beliau mengangkat tangan beliau seraya bersabda:” Bahkan Ar-Rofiiqul A’la bahkan Ar-Rofiiqul A’la.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih di antara kehidupan dunai atau Ar-Rofiiqul A’la.

Masuklah malaikat Jibril menemui Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata:” Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.” Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan untuknya wahai Jibril.” Masuklah malaikat Maut seraya berkata:” Assalamu’alaika wahai Rosuulullooh. Alloh telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Alloh di Akhirat.” Maka Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Bahkan aku memilih Ar-Rofiiqul A’la (Teman yang tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rofiiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh yaitu: para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah rofiiq (teman) yang sebaik-baiknya.”

‘Aisyah rodhiyAlloohu anha menuturkan bahwa sebelum Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan dia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a:

“Ya Alloh, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rofiiq al-a’la. Ya Alloh (aku minta) ar-rofiiq al-a’la, Ya Alloh (aku minta) ar-rofiiq al-a’la.” Berdirilah malaikat Maut di sisi kepala Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang di antara kita- dan berkata:” Wahai roh yang bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhoan Alloh, dan menuju Robb yang ridho dan tidak murka.”

Sayyidah ‘Aisyah rodhiyAlloohu anha berkata: ”Maka jatuhlah tangan Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.” Dia rodhiyAlloohu anha berkata: ”Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tidak ada yang kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yang di sana ada para sahabat, dan kukatakan: ”Rosuulullooh telah wafat, Rosuulullooh telah wafat, Rosuulullooh telah wafat.” Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib rodhiyAlloohu anhu terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan rodhiyAlloohu anhu seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri. Adapun Umar bin al-Khoththob RodhiyAlloohu anhu berkata:” Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Robb-Nya sebagaimana Musa Alaihissalam pergi untuk menemui Robb-Nya.” Adapun orang yang paling tegar adalah Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu, dia masuk kepada Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

Keluarlah Abu Bakar rodhiyAlloohu anhu menemui manusia dan berkata:” Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barang siapa yang menyembah Alloh, maka sesungguhnya Alloh kekal, hidup, dan tidak akan mati.” Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Inna lillahi wainna ilaihi rooji’uun, telah berpulang ke rahmat Alloh orang yang paling mulia, orang yang paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. semoga sholawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kita tercinta Muhammad Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam.

Ya Alloh, berikanlah rizqi kepada kami, syafa'at kekasih kami Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam dan satu teguk air yang menyegarkan dari haudh (telaga) beliau dengan tangan beliau yang mulia.

(Dikutip dari majalah Qiblati edisi 07 tahun II)

Disadur dari link:
https://abuzubair.wordpress.com/2007/07/21/kematian-terindah-dalam-sejarah-manusia/


Ketaatan dan kepatuhan

Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Sa'd ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam mengirimkan suatu pasukan khusus, dan mengangkat menjadi panglimanya seorang laki-laki dari kalangan Ansar. Manakala mereka berangkat, maka si laki-laki Ansar tersebut menjumpai sesuatu pada diri mereka. Maka ia berkata kepada mereka, "Bukankah Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kalian untuk taat kepadaku?" Mereka menjawab, "Memang benar." Laki-laki Ansar itu berkata, "Kumpulkanlah kayu bakar buatku." Setelah itu si laki-laki Ansar tersebut meminta api, lalu kayu itu dibakar. Selanjutnya laki-laki Ansar berkata, "Aku bermaksud agar kalian benar-benar memasuki api itu." Lalu ada seorang pemuda dari kalangan mereka berkata, "Sesungguhnya jalan keluar bagi kalian dari api ini hanyalah kepada Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam. Karena itu, kalian jangan tergesa-gesa sebelum menemui Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam. Jika Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam memerintahkan kepada kalian agar memasuki api itu, maka masukilah." Kemudian mereka kembali menghadap Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam bersabda kepada mereka:
Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar untuk selama-lamanya. Sebenarnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.

*******

Apakah tunduk dan patuh (loyal), apabila diperintahkan melakukan perbuatan dosa atau melanggar perintah Alloh?

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Nafi', dari Abdullah ibnu Umar, dari Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam yang telah bersabda: Tunduk dan patuh diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk maksiat. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh tunduk dan tidak boleh patuh.

Ibnu Katsir

Kamis, 18 Oktober 2018

Talut dan Jalut

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا  ۗ  قَالُوْۤا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۗ  قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮهُ عَلَيْکُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ ۗ  وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْکَهٗ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

wa qoola lahum nabiyyuhum innalloha qod ba'asa lakum thooluuta malikaa, qooluuu annaa yakuunu lahul-mulku 'alainaa wa nahnu ahaqqu bil-mulki min-hu wa lam yu`ta sa'atam minal-maal, qoola innallohashthofaahu 'alaikum wa zaadahuu basthotan fil 'ilmi wal-jism, wallohu yu`tii mulkahuu may yasyaaa`, wallohu waasi'un 'aliim

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Talut menjadi rajamu. Mereka menjawab, Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak? (Nabi) menjawab, Alloh telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Alloh memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Alloh Maha Luas, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 247)

Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqoroh, ayat 247

{وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (247) }

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Talut menjadi raja kalian." Mereka menjawab, "Bagaimana Talut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata, "Sesungguhnya Alloh telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa" Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Ketika mereka meminta kepada nabi mereka agar diangkat seorang raja buat mereka, maka Alloh menentukan Talut untuk menjadi raja mereka. Talut adalah seorang laki-laki dari kalangan prajurit mereka, bukan berasal dari keluarga raja mereka; karena raja mereka berasal dari keturunan Yahuza, sedang Talut bukan dari keturunannya. Karena itulah disebut oleh firman-Nya, bahwa mereka mengatakan:

{أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا}

Bagaimana Talut memerintah kami. (Al-Baqoroh: 247)

Dengan kata lain, mana mungkin Talut menjadi raja kami.

{وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ}

padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak? (Al-Baqoroh: 247)

Yakni selain dari itu Talut adalah orang yang miskin lagi tidak berharta yang dapat membantunya untuk menjadi seorang raja. Sebagian ulama mengatakan bahwa Talut adalah seorang pengangkut air. Menurut pendapat yang lain, Talut adalah penyamak kulit.

Ungkapan ini merupakan sanggahan mereka terhadap nabi mereka dan sekaligus sebagai suatu protes, padahal yang lebih utama bagi mereka hendaknya mereka taat dan mengucapkan kata-kata yang baik. Selanjutnya nabi mereka memberikan jawabannya yang disitir oleh firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ}

Sesungguhnya Alloh telah memilihnya menjadi raja kalian.(Al-Baqoroh: 247)

Yaitu Alloh-lah yang memilihnya menjadi raja kalian melalui nabi kalian. Alloh lebih mengetahui tentang Talut daripada kalian. Dengan kata lain, bukan aku yang menentukan Talut menjadi raja atas kemauanku sendiri, melainkan Alloh-lah yang memerintahkan kepadaku agar memilihnya di saat kalian meminta hal tersebut kepadaku.

{وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ}

dan (Alloh) menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. (Al-Baqoroh: 247)

Selain dari itu Talut lebih berilmu daripada kalian, lebih cerdik, lebih banyak akalnya daripada kalian, dan lebih kuat, lebih teguh dalam peperangan serta lebih berpengalaman mengenainya. Singkatnya, Talut lebih sempurna ilmunya dan lebih kuat tubuhnya daripada kalian. Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang raja hendaknya memiliki ilmu, bentuk, cakap, kuat, serta perkasa tubuh dan jiwanya. Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ}

Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqoroh: 247)

Artinya, Dialah yang berkuasa yang melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya dan Dia tidak diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah diperbuat-Nya, sedangkan mereka diharuskan mempertanggung-jawabkannya. Hal ini berkat ilmu dan kebijaksanaan-Nya serta belas kasihan-Nya kepada makhluk-Nya. Untuk itu dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}

Dan Alloh Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqoroh: 247)

Yakni Dia Mahaluas karunia-Nya, Dia mengkhususkan rahmat-Nya buat siapa yang dikehendaki-Nya, lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak menjadi raja dan siapa yang tidak berhak.

*******

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اٰيَةَ مُلْکِهٖۤ اَنْ يَّأْتِيَکُمُ التَّابُوْتُ فِيْهِ  سَکِيْنَةٌ مِّنْ رَّبِّکُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ اٰلُ مُوْسٰى وَاٰلُ هٰرُوْنَ  تَحْمِلُهُ الْمَلٰٓئِكَةُ  ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

wa qoola lahum nabiyyuhum inna aayata mulkihiii ay ya`tiyakumut-taabuutu fiihi sakiinatum mir robbikum wa baqiyyatum mimmaa taroka aalu muusaa wa aalu haaruuna tahmiluhul-malaaa`ikah, inna fii zaalika la`aayatal lakum ing kuntum mu`miniin

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb-mu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Alloh) bagimu jika kamu orang beriman."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 248)

Tafsir Ibnu Katsir:
QS  Al-Baqoroh, ayat 248

{وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (248) }

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepada kalian, di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb kalian dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, tabut itu dibawa oleh malaikat.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kalian, jika kalian orang yang beriman.

Nabi mereka berkata kepada mereka bahwa sesungguhnya alamat keberkatan Raja Talut kepada kalian ialah dengan dikembalikannya tabut kepada kalian oleh Alloh, yang sebelumnya telah direbut dari tangan kalian.

{فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ}

di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb kalian. (QS. Al-Baqoroh: ayat 248)

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan sakinah ialah ketenangan dan keagungan.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan sakinah adalah ketenangan. Menurut Ar-Rabi', sakinah artinya rahmat.

Hal yang sama dikatakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.

Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa ia pernah bertanya kepada Ata tentang makna firman-Nya: di dalamnya terdapat ketenangan dari Robb kalian. (Al-Baqoroh: 248) Menurutnya ialah semua ayat Alloh yang kalian kenal dan kalian merasa tenang dengannya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Hasan Al-Basri.

Menurut suatu pendapat, sakinah adalah sebuah piala (gelas besar) dari emas yang dipakai untuk mencuci hati para nabi. Piala itu diberikan oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa kepada Nabi Musa a.s., maka piala tersebut dipakai untuk tempat menaruh lembaran-lembaran (kitab Taurat). Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahil, dari Abul Ahwas, dari Ali yang mengatakan bahwa sakinah mempunyai wajah seperti wajah manusia, kemudian merupakan angin yang wangi baunya lagi cepat tiupannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Hammad ibnu Salamah serta Abul Ahwas; semuanya dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur'urah, dari Ali yang mengatakan bahwa sakinah adalah angin kencang yang mempunyai dua kepala. Menurut Mujahid, sakinah mempunyai sepasang sayap dan ekor.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Wahb ibnu Munabbih, bahwa sakinah adalah kepala kucing yang telah mati; apabila mengeluarkan suara di dalam tabut (peti)nya, mereka yakin bahwa kemenangan akan mereka peroleh.

Abdur Razzaq mengatakan, Bakkar ibnu Abdullah pernah bercerita kepadanya bahwa ia pernah mendengar Wahb ibnu Munabbih mengatakan, "Sakinah adalah roh dari Alloh (ciptaan-Nya). Apabila mereka (kaum Bani Israil) berselisih pendapat dalam sesuatu hal, maka roh tersebut berkata kepada mereka menjelaskan apa yang mereka kehendaki."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ}

dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. (Al-Baqoroh: 248)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Musanna, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini. Yang dimaksud dengan peninggalan tersebut adalah tongkat Nabi Musa dan lembaran-lembaran lauh (Taurat). Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah, As-Saddi, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan Ikrimah. Ikrimah menambahkan bahwa selain dari itu ada kitab Taurat.

Abu Saleh mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan sisa dari peninggalan keluarga Musa. (Al-Baqarah: 248) Yakni tongkat Nabi Musa dan tongkat Nabi Harun serta dua lembar lauh kitab Taurat serta manna.

Atiyyah ibnu Sa'id mengatakan bahwa isinya adalah tongkat Musa dan Harun, baju Musa dan Harun, serta lembaran-lembaran lauh.

Abdur Razzaq mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada As-Sauri tentang makna firman-Nya: dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. (Al-Baqoroh: ayat 248) Maka As-Sauri mengatakan bahwa di antara mereka ada yang mengatakan bahwa peninggalan tersebut berupa adonan manna, lembaran lauh. Ada pula yang mengatakan bahwa peninggalan tersebut adalah tongkat dan sepasang terompah.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ}

tabut itu dibawa oleh malaikat.(QS. Al-Baqoroh: ayat 248)

Ibnu Juraij mengatakan, Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa malaikat datang seraya memikul tabut di antara langit dan bumi, hingga tabut itu diturunkan di hadapan Talut, sedangkan orang-orang menyaksikan peristiwa tersebut.

As-Saddi mengatakan bahwa pada pagi harinya tabut telah berada di tempat Talut, maka mereka beriman kepada kenabian Syam'un dan taat kepada Talut.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari As-Sauri, dari salah seorang di antara guru-gurunya, bahwa para malaikat datang membawa tabut itu yang dinaikkan di atas sebuah kereta yang ditarik oleh seekor lembu betina. Menurut pendapat yang lain, ditarik oleh dua ekor lembu betina.

Sedangkan yang lainnya menyebutkan bahwa tabut tersebut berada di Ariha; dan orang-orang musyrik ketika mengambilnya, mereka meletakkannya di tempat peribadatan mereka, yaitu di bawah berhala mereka yang paling besar. Akan tetapi, pada keesokan harinya tabut itu telah berada di atas kepala berhala mereka. Maka mereka menurunkannya dan meletakkannya kembali di bawah berhala itu, tetapi ternyata pada keesokan harinya terjadi hal yang sama. Maka mereka memakunya di bawah berhala mereka, tetapi yang terjadi ialah tiang-tiang penyangga berhala mereka runtuh dan ambruk jauh dari tempatnya.

Akhirnya mereka mengetahui bahwa hal tersebut terjadi karena perintah Alloh yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Maka mereka mengeluarkan tabut itu dari negeri mereka dan meletakkannya di salah satu kampung, tetapi ternyata penduduk kampung itu terkena wabah penyakit pada leher mereka. Kemudian salah seorang wanita tawanan dari kalangan kaum Bani Israil menganjurkan kepada mereka agar mengembalikan tabut itu kepada kaum Bani Israil agar mereka terhindar dari penyakit itu.

Maka mereka memuatkan tabut itu di atas sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor lembu betina, lalu kedua lembu itu berjalan membawanya; tiada seorang pun yang mendekatinya melainkan pasti mati. Ketika kedua ekor lembu betina itu telah berada di dekat negeri kaum Bani Israil, kendali kedua ekor lembu itu patah dan keduanya kembali. Lalu datanglah kaum Bani Israil mengambilnya.

Menurut suatu pendapat, yang menerimanya adalah Nabi Daud a.s.; dan ketika Nabi Daud mendekati kedua lembu itu, ia merasa malu karena gembiranya dengan kedatangan tabut itu. Menurut pendapat yang lain, yang menerimanya adalah dua orang pemuda dari kalangan mereka.

Menurut pendapat yang lainnya, tabut itu berada di sebuah kampung di negeri Palestina yang dikenal dengan nama Azduh.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ}

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kalian. (Al-Baqoroh: 248)

Yakni tanda yang membenarkan diriku terhadap apa yang aku sampaikan kepada kalian, yakni kenabianku; juga membenarkan apa yang aku perintahkan kepada kalian agar taat kepada Talut.

{إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

jika kalian orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqoroh: ayat 248)

Maksudnya, beriman kepada Alloh dan hari kemudian.

*******

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُـنُوْدِ ۙ  قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْکُمْ بِنَهَرٍ ۚ  فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْ ۚ  وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْۤ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً  ۢ بِيَدِهٖ ۚ  فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ  فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ  ۙ  قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ  قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ  کَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً کَثِيْرَةً ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ  وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

fa lammaa fashola thooluutu bil-junuudi qoola innalloha mubtaliikum binahar, fa man syariba min-hu fa laisa minnii, wa mal lam yath'am-hu fa innahuu minniii illaa manightarofa ghurfatam biyadih, fa syaribuu min-hu illaa qoliilam min-hum, fa lammaa jaawazahuu huwa wallaziina aamanuu ma'ahuu qooluu laa thooqota lanal-yauma bijaaluuta wa junuudih, qoolallaziina yazhunnuuna annahum mulaaqullohi kam min fi`ating qoliilatin gholabat fi`atang kasiirotam bi`iznillaah, wallohu ma'ash-shoobiriin

"Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, Alloh akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barang siapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Alloh berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 249)

Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqoroh, ayat 249

{فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (249) }

Maka tatkala Talut keluar membawa tentaranya, ia berkata, "Sesungguhnya Alloh akan menguji kalian dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, kecuali mencedok secedok tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Talut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, "Tidak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Alloh berkata, "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar."

Melalui ayat ini Alloh menceritakan perihal Talut —Raja kaum Bani Israil— ketika keluar bersama bala tentaranya dan orang-orang yang taat kepadanya dari kalangan kaum Bani Israil. Menurut apa yang dikatakan oleh As-Saddi, jumlah mereka ada delapan puluh ribu orang tentara. Talut berkata kepada mereka yang disitir oleh firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم [بِنَهَر] }

Sesungguhnya Alloh akan menguji kalian dengan suatu sungai, (Al-Baqoroh: 249)

Yakni Alloh akan menguji kesetiaan kalian dengan sebuah sungai. Menurut Ibnu Abbas, sungai tersebut terletak di antara negeri Yordania dan negeri Palestina, yaitu sebuah sungai yang dikenal dengan nama Syari'ah.

{فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي}

Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. (Al-Baqarah: 249)

Artinya, janganlah ia menemaniku sejak hari ini menuju ke arah ini.

{وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ}

Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali mencedok secedok tangan, maka ia adalah pengikutku. (Al-Baqoroh: 249)

Yakni tidak mengapa baginya.

Selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ}

Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. (Al-Baqoroh: 249)

Ibnu Juraij mengatakan, "Menurut Ibnu Abbas, barang siapa yang mencedok air dari sungai itu dengan secedok tangannya, maka ia akan kenyang; dan barang siapa yang meminumnya, maka ia tidak kenyang dan tetap dahaga."

Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi, dari Abu Malik,dari Ibnu Abbas; dikatakan pula oleh Qatadah dan Ibnu Syauzab.

As-Saddi mengatakan bahwa jumlah pasukan Talut terdiri atas delapan puluh ribu orang tentara. Yang meminum air sungai itu adalah tujuh puluh enam ribu orang, sehingga yang tersisa hanyalah empat ribu orang.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Israil dan Sufyan As-Sauri serta Mis'ar ibnu Kidam, dari Abu Ishaq As-Subai'i, dari Al-Barra ibnu Azib yang menceritakan bahwa kami menceritakan sahabat-sahabat Nabi Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam yang ikut dalam Perang Badar adalah tiga ratus lebih belasan orang, sesuai dengan jumlah sahabat Talut yang ikut bersamanya menyeberangi sungai. Tiada yang menyeberangi sungai itu bersama Talut melainkan hanya orang yang mukmin.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hal yang semisal dari Abdullah ibnu Raja, dari Israil ibnu Yunus, dari Abu Ishaq, dari kakeknya, dari Al-Barra.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ}

Maka tatkala Talut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, "Tidak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." (Al-Baqoroh: 249)

Yakni mereka mengundurkan dirinya, tidak mau menghadapi musuh karena jumlah musuh itu jauh lebih banyak. Maka para ulama dan orang-orang yang ahli perang membangkitkan semangat mereka, bahwa janji Alloh itu benar, dan sesungguhnya kemenangan itu dari sisi Alloh, bukan karena banyaknya bilangan, bukan pula karena perlengkapan senjata. Karena itulah disebutkan di dalam firman selanjutnya:

{كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ}

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Alloh. Dan Alloh beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqoroh: ayat 249)

*******

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَـالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَاۤ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْکٰفِرِيْنَ

wa lammaa barozuu lijaaluuta wa junuudihii qooluu robbanaaa afrigh 'alainaa shobrow wa sabbit aqdaamanaa wanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin

"Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, Ya Robb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 250)

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ  ۗ  وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰٮهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِکْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَآءُ  ۗ  وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰـکِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ

fa hazamuuhum bi`iznillaah, wa qotala daawuudu jaaluuta wa aataahullohul-mulka wal-hikmata wa 'allamahuu mimmaa yasyaaa`, walau laa daf'ullohin-naasa ba'dhohum biba'dhil lafasadatil-ardhu wa laakinnalloha zuu fadhlin 'alal-'aalamiin

"Maka mereka mengalahkannya dengan izin Alloh, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian, Alloh memberinya (Dawud) kerajaan, dan Hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Alloh tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam."
(QS. Al-Baqoroh 2: Ayat 251)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqoroh, ayat 250-252

{وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (250) فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ (251) تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (252) }

Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, "Ya Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Alloh dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Alloh memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Talut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Alloh. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.

Ketika tentara yang beriman yang berjumlah sedikit di bawah pimpinan Talut berhadap-hadapan dengan bala tentara Jalut yang berjumlah sangat besar itu, maka bala tentara Talut berdoa:

{قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا}

Ya Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami. (Al-Baqoroh: 250)

Yakni curahkanlah kepada kami kesabaran dari sisi-Mu.

{وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا}

dan kukuhkanlah pendirian kami.(Al-Baqoroh: ayat 250)

Yaitu dalam menghadapi musuh-musuh kami itu, dan jauhkanlah kami dari sifat pengecut dan lemah.

{وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ}

dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. (Al-Baqoroh:250)

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ}

Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Alloh. (Al-Baqoroh: 251)

Maksudnya, mereka dapat mengalahkan dan menaklukkan musuhnya berkat pertolongan Alloh yang diturunkan kepada mereka.

{وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ}

dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut. (Al-Baqoroh: 251)

Disebutkan di dalam kisah israiliyat bahwa Daud membunuh Jalut dengan katapel yang ada di tangannya; ia membidiknya dengan katapel itu dan mengenainya hingga Jalut terbunuh. Sebelum itu Talut menjanjikan kepada Daud, bahwa jika Daud dapat membunuh Jalut, maka ia akan menikahkan Daud dengan anak perempuannya dan membagi-bagi kesenangan bersamanya serta berserikat dengannya dalam semua urusan. Maka Talut menunaikan janjinya itu kepada Daud. Setelah itu pemerintahan pindah ke tangan Daud a.s. di samping kenabian yang dianugerahkan Alloh kepadanya. Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

{وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ}

kemudian Alloh memberikan kepadanya pemerintahan. (Al-Baqoroh: 251)

Yakni yang tadi dipegang oleh Talut, kini beralih ke tangan Daud a.s.

{وَالْحِكْمَةَ}

dan hikmah. (Al-Baqoroh: 251)

Yang dimaksud dengan hikmah ialah kenabian, sesudah Syamuel.

{وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ}

dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqoroh: 251)

Yaitu segala sesuatu yang dikehendaki Alloh berupa ilmu yang khusus diberikan kepadanya. Kemudian dalam firman selanjutnya Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ}

Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Al-Baqoroh: 251)

Yakni seandainya Alloh tidak membela suatu kaum dari keganasan kaum yang lain seperti pembelaan-Nya kepada kaum Bani Israil melalui perang mereka bersama Talut dan didukung oleh Daud a.s., niscaya kaum Bani Israil akan binasa. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَواتٌ وَمَساجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيراً

Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja; dan rumah-rumah ibadat orang Yahudi serta masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Alloh. (Al-Hajj: 40), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan:

حَدَّثَنِي أَبُو حُمَيْدٍ الْحِمْصِيُّ أَحْمَدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ وَبَرَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ لَيَدْفَعُ بِالْمُسْلِمِ الصَالِحٍ عَنْ مِائَةِ أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِهِ الْبَلَاءَ". ثُمَّ قَرَأَ ابْنُ عُمَرَ: {وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ}

telah menceritakan kepadaku Abu Humaid Al-Himsi salah seorang dari kalangan Banil Mugirah), telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Riff ibnu Sulaiman, dari Muhammad ibnu Suqah, dari Wabrah ibnu Abdur Rahman. dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya Alloh benar-benar menolak wabah (penyakit) melalui seorang muslim yang sholih terhadap seratus keluarga dari kalangan para tetangganya. Kemudian Ibnu Umar membacakan firman-Nya: Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (Al-Baqoroh: 251)

Sanad hadits ini dhoif, mengingat Yahya ibnu Sa'id yang dikenal dengan sebutan 'Ibnul Attar Al-Himsi' ini orangnya dhoif sekali.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبُو حُمَيْدٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ لَيُصْلِحُ بِصَلَاحِ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ وَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ وَأَهْلَ دُوَيْرَتِهِ وَدُوَيْرَاتٍ حَوْلَهُ، وَلَا يَزَالُونَ فِي حِفْظِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا دَامَ فِيهِمْ"

telah menceritakan kepada kami Abu Humaid Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abdur Rahman, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam pernah bersabda: Sesungguhnya Alloh benar-benar akan memberikan kebaikan berkat kebaikan seorang laki-laki muslim kepada anaknya, cucunya, keluarganya, dan para ahli bait yang tinggal di sekitarnya. Dan mereka masih tetap berada dalam pemeliharaan Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa selagi laki-laki yang muslim itu berada di antara mereka.

Hadits ini pun dhoif lagi ghorib karena alasan yang telah disebutkan di atas.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، حَدَّثَنِي حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أسماء عن ثوبان –رفع الْحَدِيثَ-قَالَ: "لَا يَزَالُ فِيكُمْ سَبْعَةٌ بِهِمْ تُنْصَرُونَ وَبِهِمْ تُمْطَرُونَ وَبِهِمْ تُرْزَقُونَ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ"

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ismail ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abus Siman, dari Sauban tentang sebuah hadis marfu, yaitu: Masih tetap berada di antara kalian tujuh orang, berkat keberadaan mereka kalian mendapat pertolongan, berkat keberadaan mereka kalian mendapat hujan, dan berkat keberadaan mereka kalian diberi rezeki hingga datang perintah Alloh (yakni hari kiamat).

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula:

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرِ بْنِ يَزِيدَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاذٍ نَهَارُ بْنُ عُثْمَانَ اللَّيْثِيُّ أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ أَخْبَرَنِي عُمَرُ الْبَزَّارُ، عَنْ عَنْبَسَةَ الْخَوَاصِّ، عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي قِلابة عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْأَبْدَالُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ بِهِمْ تَقُومُ الْأَرْضُ، وَبِهِمْ تُمْطَرُونَ وَبِهِمْ تُنْصَرُونَ" قَالَ قَتَادَةُ: إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ الْحَسَنُ مِنْهُمْ

telah menceritakan pula kepada kami Muhammad ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Jarir ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'az, yaitu Nahar ibnu Mu'az ibnu Usman Al-Laisi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbah, telah menceritakan kepadaku Umar Al-Bazzar, dari Anbasah Al-Khawwas, dari Qatadah, dari Abu Qilabah, dari Abul Asy'as As-San'ani, dari Ubadah ibnus Samit yang menceritakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi wasallam telah bersabda: Wali Abdal di kalangan umatku ada tiga puluh orang, berkat mereka kalian diberi rezeki, berkat mereka kalian diberi hujan, dan berkat mereka kalian mendapat pertolongan. Qatadah mengatakan, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga Al-Hasan (Al-Basri) adalah salah seorang dari mereka."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ}

Tetapi Alloh mempunyai karunia atas semesta alam. (Al-Baqoroh: 251)

Yakni Dialah yang memberikan karunia dan rahmat kepada mereka; dengan sebagian di antara mereka, maka tertolaklah keganasan sebagian yang lain. Bagi-Nyalah keputusan, hikmah, dan hujah atas makhluk-Nya dalam semua perbuatan dan ucapan-Nya. Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ}

Itu adalah ayat-ayat Alloh, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus. (Al-Baqoroh: 252)

Yaitu ayat-ayat Alloh yang Kami ceritakan kepadamu ini —yang menceritakan perihal orang-orang yang telah Kami sebutkan di dalamnya— merupakan perkara yang hak, yakni kejadian yang sesungguhnya dan sesuai dengan apa yang ada di dalam isi kitab kaum Bani Israil dan telah diketahui oleh semua ulama mereka.

{وَإِنَّكَ}

dan sesungguhnya kamu. (Al-Baqoroh: 252)

Khitab atau pembicaraan ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam

{لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ}

benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus. (QS. Al-Baqoroh: ayat 252)

Ungkapan ayat ini mengandung makna taukid (pengukuhan) dan mengandung qasam (sumpah).

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Big data warisan budaya takbenda

Pertemuan informal dengan Adam Cao dari Yong Xin Hua Yun Cultural Industry Investment Group Co., Ltd. pada Sesi ke-13 the Intergovernmenta...