Rabu, 31 Oktober 2018

Al-Quran adalah petunjuk untuk seluruh umat

Rosul tidak mengharapkan upah atau imbalan apapun karena menyampaikan Al-Quran kepada kalian.

Dengan Al-Quran mereka menjadi sadar dan mendapat petunjuk dari kegelapan menuju ke jalan hidayah, dan dari kesesatan menuju ke jalan petunjuk, dan dari kekafiran menuju pada iman, berkat Al-Qur'an.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰٮهُمُ اقْتَدِهْ   ۗ  قُلْ لَّاۤ اَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا  ۗ  اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ

ulaaa`ikallaziina hadallohu fa bihudaahumuqtadih, qul laaa as`alukum 'alaihi ajroo, in huwa illaa zikroo lil-'aalamiin

"Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur'an). Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 90)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Al-An'am: 84-90

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84) وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85) وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (86) وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (87) ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (88) أُولَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا هَؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ (89) أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ (90)

Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami berikan petunjuk dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh), yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang sholih, dan Ismail, Al-Yasa’, Yunus, dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rosul-rosul), dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Alloh, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Alloh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka (a) kitab, (b) hikmah, dan (c) kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, “Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam menyampaikan (Al-Qur'an)." Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.

Alloh Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa Dia mengaruniakan seorang anak kepada Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ishaq, padahal usia Nabi Ibrahim sangat lanjut dan telah putus harapan untuk mendapatkan seorang anak; begitu pula istrinya, yaitu Sarah. Pada suatu hari datanglah sejumlah malaikat bertamu kepada Nabi Ibrahim dalam perjalanan mereka menuju tempat kaum Nabi Lut. Lalu mereka menyampaikan berita gembira akan kedatangan Ishaq kepada keduanya. Maka istri Nabi Ibrahim merasa heran terhadap berita tersebut dan mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:

{قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ * قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ}

"Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata, ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Alloh? (Itu adalah)
rahmat Alloh dan keberkatan-Nya  dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Alloh Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud: ayat 72-73)

Para malaikat itu menyampaikan berita gembira pula perihal kenabian yang akan diperoleh anaknya selagi ia masih hidup, dan bahwa kelak anaknya akan mempunyai keturunan pula, seperti yang disebutkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta'aalaa melalui firman-Nya:

{وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ}

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan
(kelahiran) Ishaq,
seorang nabi yang termasuk orang-orang yang sholih (Ash-Shaffat: 112)

Hal ini lebih sempurna dan merupakan nikmat yang paling besar. Dalam ayat lainnya disebutkan melalui firman-Nya:

{فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ}

maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran)
Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub. (QS. Hud: ayat 71)

Dengan kata lain, sesudah itu dilahirkan pula seorang anak dari anakmu selagi kamu berdua masih hidup, sehingga hatimu menjadi senang karenanya, sebagaimana hati anakmu pun senang pula mendapatkannya. Karena sesungguhnya kegembiraan mendapat seorang cucu sangat kuat, mengingat hal itu sebagai pertanda akan keberlangsungannya keturunan. Juga mengingat anak yang dilahirkan dari pasangan yang sudah lanjut usia diduga tidak akan dapat melahirkan keturuhan selanjutnya, sebab keadaannya sudah lemah. Lalu terjadilah suatu kegembiraan dengan lahirnya seorang cucu, maka cucu itu dinamakan Ya'qub yang berakar dari kata keturunan atau cucu.

Hal tersebut merupakan imbalan yang diberikan oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa kepada Nabi Ibrahim 'alaihissalam berkat perjuangannya. Ia rela hijrah mening­galkan kaumnya dan negeri tempat tinggalnya, pergi mengembara ke tempat yang jauh untuk beribadah kepada Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa Maka Alloh mengganti kaum dan handai taulannya dengan mengaruniakan anak-anak yang sholih kepadanya dari tulang sulbinya dan berpegang pada agamanya agar hati Nabi Ibrahim senang dengan keberadaan mereka. Hal ini disebutkan oleh Alloh Subhaanahuu wa Ta'ala melalui firman-Nya:

{فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا}

Maka tatkala Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Alloh, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi. (Maryam: 49)

Sedangkan dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

{وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلا هَدَيْنَا}

Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk (QS. Al-An'am: ayat 84)

*******

Mengenai firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ}

dan kepada Nuh. sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk.(Al-An'am: 84)

Artinya, sebelum itu Kami telah memberikan petunjuk kepada Nuh, sebagaimana Kami telah memberikan petunjuk kepadanya (Ibrahim) dan Kami anugerahkan kepadanya keturunan yang baik (sholih). Masing-masing dari keduanya (Nuh dan Ibrahim) mempunyai keistimewaan tersendiri yang sangat besar. Adapun Nabi Nuh 'alaihissalam, maka ketika Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa menenggelamkan semua penghuni bumi —kecuali orang-orang yang beriman kepada Nabi Nuh, yaitu mereka yang menemaninya dalam perahunya— maka Alloh menjadikan keturunannya adalah orang-orang yang menjadi generasi penerus; umat manusia semuanya merupakan keturunan Nabi Nuh 'alaihissalam, sedangkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah kekasih Alloh. Maka tidak sekali-kali Alloh mengutus seorang nabi sesudahnya melainkan berasal dari keturunannya, seperti yang disebutkan oleh Alloh dalam firman-Nya:

{وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ} الْآيَةَ

dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya. (QS. Al-Ankabut: ayat 27), hingga akhir ayat.

{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al-Kitab. (Al-Hadid: 26)

{أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا}

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam: ayat 58)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berikut ini:

{وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ}

dan dari keturunannya. (QS. Al-An'am: ayat 84)

Artinya, dan Kami beri petunjuk kepada sebagian dari keturunannya.

{دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ}

yaitu Daud dan Sulaiman. (QS. Al-An'am: ayat 84), hingga akhir ayat.

Damir yang ada pada lafaz zurriyyatihi kembali kepada Nuh, karena lafaz Nuh merupakan lafaz yang paling dekat di antara lafaz yang ada, lagi pula cukup jelas, tidak ada kesulitan mencarinya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Dan bila dikembalikan kepada lafaz Ibrahim —mengingat dialah yang disebutkan dalam konteks ayat ini— memang dinilai baik, tetapi sulit untuk mengaitkannya dengan lafaz Lut, karena Nabi Lut bukan termasuk keturunan Nabi Ibrahim, melainkan anak saudaranya yang bernama Haran ibnu Azar. Kecuali jika ia dimasukkan ke dalam pengertian keturunan berdasarkan kriteria taglib (mayoritas), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ}

Adakah kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, "Apakah yang kalian sembah sepeninggalanku?” Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Robb-mu dan Robb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Robb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqoroh: ayat 133)

Nabi Ismail adalah pamannya, tetapi ia dimasukkan ke dalam pengertian ayah-ayahnya secara taglib. Sama pula dengan pengertian yang terkandung di dalam firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa lainnya, yaitu:

{فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ  إِلا إِبْلِيسَ

Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. (Al-Hijr: 30-31)

Dalam ayat ini iblis dimasukkan ke dalam malaikat dalam hal mendapat perintah untuk bersujud, dan iblis dicela karena menentang perintah itu. Dia menyerupai mereka, karena itu dia diperlakukan sama dengan mereka (para malaikat) dan dikategorikan sebagai golongan para malaikat secara taglib; karena sesungguhnya pada kenyataannya iblis termasuk makhluk jin yang diciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari nur.

Penyebutan Isa 'alaihissalam ke dalam keturunan Nabi Ibrahim atau Nabi Nuh, menurut pendapat lainnya hal ini menunjukkan dimasukkannya keturunan anak perempuan ke dalam golongan keturunan anak laki-laki, karena sesungguhnya nasab Isa 'alaihissalam berkaitan dengan Nabi Ibrahim 'alaihissalam hanyalah melalui ibunya, yaitu Maryam a.s sebab Isa 'alaihissalam tidak berayah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Yahya Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abis, dari Abdullah ibnu Ata Al-Makki, dari Abu Harb ibnu Abul Aswad yang menceritakan bahwa Al-Hajjaj mengirimkan utusan kepada Yahya ibnu Ya'mur untuk menyampaikan pesan, "Telah sampai kepadaku suatu berita bahwa engkau menduga Al-Hasan dan Al-Husain termasuk keturunan Nabi Shollalloohu'alaihi Wasallam dan kamu jumpai dalilnya di dalam Kitabulloh (Al-Qur'an). Padahal aku telah membaca Al-Qur'an dari awal sampai akhir, tetapi tidak menemukannya." Yahya ibnu Ya'mur menjawab, "Tidak pernahkah engkau membaca suatu ayat di dalam surat Al-An'am yang mengatakan: dan dari keturunannya, yaitu Daud dan Sulaiman. (Al-An'am: 84) sampai pada firman-Nya: Yahya dan Isa. (Al-An'am: 85)." Al-Hajjaj menjawab, "Ya." Yahya ibnu Ya'mur berkata, "Bukankah Isa termasuk keturunan Nabi Ibrahim, padahal dia tidak berayah?" Al-Hajjaj menjawab, "Engkau benar."

Karena itulah apabila seseorang berwasiat kepada keturunannya, atau mewakafkan kepada mereka, atau memberi mereka suatu hibah, maka keturunan dari anak-anak perempuan termasuk ke dalam golongan keturunannya.

Adapun jika seseorang memberi kepada anak laki-lakinya atau mewakafkan sesuatu kepada anak-anak laki-lakinya, maka hal tersebut hanya khusus bagi mereka dan bagi keturunannya dari anak laki-lakinya. Mereka yang berpendapat demikian berdalilkan kepada ucapan seorang penyair Arab yang mengatakan:

بَنُونَا بَنُو أَبْنَائِنَا وَبَنَاتُنَا ...بَنُوهُنَّ أَبْنَاءُ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ

Anak-anak laki-laki kami adalah keturunan kami; sedangkan anak-anak laki-laki dari keturunan anak-anak perempuan kami, mereka adalah para putra dari laki-laki lain.

Pendapat lainnya lagi mengatakan bahwa anak-anak laki-laki dari keturunan anak-anak perempuan termasuk pula ke dalam pengertian keturunan dari anak laki-laki, karena berdasarkan kepada sebuah hadits yang disebutkan di dalam kitab Shohih Bukhori yang menyatakan bahwa Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Al-Hasan ibnu Ali:

"إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ"

Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid mudah-mudahan Alloh mendamaikan dengan melaluinya dua golongan yang besar dari kalangan kaum muslim.

Dalam hadits ini Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi Wasallam menyebutkan Al-Hasan sebagai anak laki-lakinya. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Hasan (yang merupakan anak dari putrinya) dianggap sebagai anak Rosuulullooh Shollalloohu'alaihi Wasallam sendiri.

Pendapat yang lainnya lagi membolehkannya (yakni boleh
me­masukkan keturunan dari anak perempuan ke dalam golongan keturunan dari anak laki-laki).

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ}

dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. (QS. Al-An'am: ayat 87)

Disebutkan orang-orang tua mereka, anak-anak mereka, dan saudara-saudara mereka yang setara; dan bahwa hidayah serta pilihan mencakup mereka seluruhnya. Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

Dan Kami telah memilih mereka, dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-An'am: ayat 87)

*******

Kemudian disebutkan pula:

{ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ}

Itulah petunjuk Alloh, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. (Al-An'am: 88)

Dengan kata lain, hal tersebut terjadi semata-mata berkat taufik dari Alloh dan hidayah-Nya kepada mereka.

{وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Seandainya mereka mempersekutukan Alloh niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (Al-An'am: 88)

Hal ini sebagai peringatan keras, sanksi yang berat terhadap perbuatan mempersekutukan Alloh, dan bahwa pelakunya melakukan dosa terbesar, seperti yang disebutkan Alloh dalam firman lainnya:

{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ}

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu, "Jika kamu mempersekutukan
(Robb), niscaya akan hapuslah amalanmu.”
(Az-Zumar: 65), hingga akhir ayat.

Hal ini adalah syarat, sedangkan syarat itu bukan berarti pasti akan terjadi; perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya:

{قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ}

Katakanlah "Jika benar Robb yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad)
orang yang mula-mula menyembah
(memuliakan anak itu)." (Az-Zukhruf: 81)

{لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ}

Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (QS. Al-Anbiya: ayat 17)

{لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ}

Kalau sekiranya Alloh hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya Mahasuci Alloh Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS. Az-Zumar: ayat 4)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ}

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka (a) kitab, (b) hikmat, dan (c) kenabian. (QS. Al-An'am: ayat 89)

Artinya, merekalah orang-orang yang telah Kami berikan nikmat kepada mereka berupa hal-hal tersebut sebagai rahmat buat hamba-hamba Kami melalui mereka, dan sebagai kasih sayang Kami terhadap semua makhluk.

{فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا}

Jika ingkar terhadapnya. (Al-An'am: 89)

Yakni terhadap kenabian. Dapat pula diinterpretasikan bahwa damir yang ada kembali pada ketiga perkara tersebut, yaitu (a) al-Kitab, (b) hikmat, dan (c) kenabian.

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{هَؤلاءِ}

orang-orang itu. (QS. Al-An'am: ayat 89)

Yaitu penduduk Makkah, menurut Ibnu Abbas, Sa'id ibnul Musayyab, Ad-Dahhak, Qatadah, dan As-Saddi serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

{فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ}

maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (QS. Al-An'am: ayat 89)

Dengan kata lain, jika semua nikmat ini diingkari oleh orang-orang dari kalangan Quraisy dan lain-lainnya, baik yang Arab maupun yang 'Ajam, dan baik dari kalangan Ahli Kitab maupun dari kalangan agama lainnya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang lain —yakni kaum Muhajirin dan kaum Ansar serta pengikut mereka— sampai hari kiamat.

{لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ}

yang sekali-kali mereka tidak akan mengingkarinya. (Al-An'am: 89)

Maksudnya, mereka sama sekali tidak akan mengingkarinya dan tidak akan menolak barang satu huruf pun darinya, bahkan mereka beriman kepada semuanya, baik yang muhkam maupun yang mutasyabih.
Semoga Alloh menjadikan kita ke dalam golongan mereka berkat karunia, kedermawanan, dan kebajikan-Nya.

*******

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berkhitab
(berbicara) kepada hamba dan Rosul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Sholalloohu'alaihi Wasallam, melalui firman-Nya:

{أُولَئِكَ}

Mereka itulah (QS. Al-An'am: ayat 90)

Yakni para nabi yang telah disebutkan di atas serta orang-orang yang di­sebutkan bersama mereka dari kalangan para orang tua dan keturunannya serta saudara-saudaranya yang setara dengan mereka.

{الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ}

Orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh (QS. Al-An'am: ayat 90)

Artinya, hanya merekalah yang mendapat petunjuk, bukan selain mereka.

{فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}

maka ikutilah petunjuk mereka. (QS. Al-An'am: ayat 90)

Yakni anuti dan ikutilah mereka. Apabila hal ini merupakan perintah yang ditujukan kepada Rosul Sholalloohu'alaihi Wasallam, maka umatnya mengikut kepadanya dalam semua yang disyariatkan dan yang diperintahkan olehnya kepada mereka.

Sehubungan dengan ayat ini Imam Bukhori mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hisyam, bahwa Juraij pernah bercerita kepada mereka, bahwa telah menceritakan kepadaku Sulaiman Al-Ahwal, bahwa Mujahid pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, "Apakah di dalam surat Sad terdapat ayat yang menganjurkan bersujud tilawah?" Ibnu Abbas mengiakannya, lalu membacakan firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa: Dan Kami anugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. (QS. Al-An'am: ayat 84) sampai dengan: maka ikutilah petunjuk mereka. (QS. Al-An'am: ayat 90) Kemudian ia berkata, "Nabi Shollalloohu'alaihi Wasallam termasuk salah seorang dari mereka."

Yazid ibnu Harun, Muhammad ibnu Ubaid, dan Suhail ibnu Yusuf menambahkan dari Al-Awwam, dari Mujahid, bahwa ia bertanya kepada Ibnu Abbas mengenainya. Lalu Ibnu Abbas menjawab, "Nabi kalian termasuk salah seorang yang diperintahkan untuk mengikuti petunjuk mereka."

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا}

Katakanlah, "Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam menyampaikannya (Al-Qur'an)." (QS. Al-An'am: ayat 90)

Artinya, dalam menyampaikan Al-Qur'an ini aku tidak meminta suatu upah pun kepada kalian. Dengan kata lain, aku tidak bermaksud sesuatupun dari kalian.

{إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ}

Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.(QS. Al-An'am: ayat 90)

Yakni mereka menjadi sadar dan mendapat petunjuk dari kegelapan menuju ke jalan hidayah, dan dari kesesatan menuju ke jalan petunjuk, dan dari kekafiran menuju pada iman,
berkat Al-Qur'an.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Sikap orang mukmin dan orang-orang durhaka

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman: Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada merek...