Kamis, 11 Oktober 2018

Memilih pemimpin yang beriman

Pilihlah pemimpin yang (a) beriman kepada Alloh, tidak ada Ilaah selain Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya; (b) beriman  kepada Malaikat-malaikatNya (yang bersayap, yang taat pada perintah-Nya, dan tidak berjenis kelamin); beriman kepada Rosul-rosul Nya (dari Adam alaihissalam sampai Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam), beriman padapada Kitab-k Nya (Taurat yang diwahyukan kepada Musa alaihissalam, Zabur yang diwahyukan kepada Daud alaihissalam, Injil yang diwahyukan kepada Isa alaihissalam, Al-Quran yang diwahyukan kepada Muhammad Shollalloohu'alaihi wasallam), beriman para hari Kiamat (hari pembalasan atas iman dan amal selama hidup di dunia), dan beriman pada Qodho (penciptaan Alloh Azza wa Jalla tentang segala sesuatu yang telah menjadi ketentuan Alloh) dan Qodar (terjadinya penciptaan sesuai timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya atau takdir)

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ  وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّاۤ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰٮةً   ۗ  وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ  ۗ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ

laa yattakhizil-mu`minuunal-kaafiriina auliyaaa`a min duunil-mu`miniin, wa may yaf'al zaalika fa laisa minallohi fii syai`in illaaa an tattaquu min-hum tuqooh, wa yuhazzirukumullohu nafsah, wa ilallohil-mashiir

"Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Alloh, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Alloh memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Alloh tempat kembali."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 28)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

*******
Tafsir Ibnu Katsir
Ali Imran, ayat 28

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (28) }

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Alloh memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Alloh kembali (kalian).

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin berpihak kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka teman yang setia dengan menyampaikan kepada mereka berita-berita rahasia karena kasih sayang kepada mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa mengancam perbuatan tersebut melalui firman-Nya:

{وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ}

Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh. (Ali Imran: 28).

Dengan kata lain, barang siapa yang melakukan hal tersebut yang dilarang oleh Alloh, maka sesungguhnya ia telah melepaskan ikatan dirinya dengan Alloh. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِياءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ- إِلَى أَنْ قَالَ-: وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَواءَ السَّبِيلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. (Al-Mumtahanah: 1) sampai dengan firman-Nya: Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Mumtahanah: 1)

Demikian pula dalam firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa yang mengatakan:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا}

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksa kalian)? (An-Nisa: 144)

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ [إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ] }

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian), sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat.

Dan Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman sesudah menyebutkan masalah kasih sayang dan hubungan yang intim di antara orang-orang mukmin dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Ansar, dan orang-orang Arab, yaitu:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang kafir, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Alloh itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al-Anfal: 73)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً

kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. (Ali Imran: 28)

Dengan kata lain, kecuali bagi orang mukmin penduduk salah satu negeri atau berada di dalam waktu tertentu yang merasa khawatir akan kejahatan mereka (orang-orang kafir). Maka diperbolehkan baginya bersiasat untuk melindungi dirinya hanya dengan lahiriahnya saja, tidak dengan batin dan niat. Seperti apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Darda yang mengatakan:

"إنَّا لَنَكْشرُ فِي وُجُوهِ أقْوَامٍ وَقُلُوبُنَا تَلْعَنُهُمْ".

Sesungguhnya kami benar-benar tersenyum di hadapan banyak kaum (di masa lalu), sedangkan hati kami (para sahabat) melaknat mereka (orang-orang musyrik).

As-Sauri mengatakan bahwa sahabat Ibnu Abbas pernah mengatakan taqiyyah
(sikap diplomasi) bukan dengan amal perbuatan, melainkan hanya dengan lisan saja. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, yaitu bahwa sesungguhnya
taqiyyah itu hanya dilakukan dengan lisan. Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, Abusy Sya'sa, Ad-Dahhak, dan Ar-Rabi' ibnu Anas. Pendapat mereka dikuatkan oleh firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa yang mengatakan:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمانِ

Barang siapa yang kafir kepada Alloh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh); kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). (An-Nahl: 106), hingga akhir ayat.

Imam Bukhori mengatakan, Al-Hasan pernah berkata bahwa taqiyyah (terus berlangsung) sampai hari kiamat.

*******

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ

Dan Alloh memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali Imran: 28)

Yakni Alloh memperingatkan kalian terhadap pembalasan-Nya bila Dia ditentang dalam perintah-Nya, dan siksa serta azab Alloh akan menimpa orang yang memihak kepada musuh-Nya dan memusuhi kekasih-kekasih-Nya.

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Dan hanya kepada Alloh kembali (kalian). (Ali Imran: 28)

Maksudnya, hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan, karena Dia akan membalas tiap-tiap diri sesuai dengan amal perbuatan yang telah dilakukannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Sa'id, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Husain, dari Abdur Rahman ibnu Sabit, dari Maimun ibnu Mihran yang menceritakan, "Sahabat Mu'az pernah berdiri di antara kami, lalu ia mengatakan, 'Hai Bani Aud, sesungguhnya aku adalah utusan Rosuulullooh kepada kalian. Kalian mengetahui bahwa tempat kembali hanyalah kepada Alloh, yaitu ke surga atau ke neraka'."

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Talut dan Jalut

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman: وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا  ۗ  قَالُوْۤا...