Selasa, 09 Oktober 2018

Tanda-tanda kekuasaan Alloh

Mengapa kita tidak dapat membaca dengan hati, tanda-tanda kekuasaan Alloh?

Bersyukurlah orang-orang yang beriman dan melakukan perbaikan.

Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Alloh kepada kalian dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan maka adakah yang dibinasakan (Alloh)
selain dari orang-orang yang zhoolim?” Dan tidaklah Kami mengutus para rosul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَخَذَ اللّٰهُ سَمْعَكُمْ وَ اَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ مَّنْ اِلٰـهٌ غَيْرُ اللّٰهِ يَأْتِيْكُمْ بِه ۗ  اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُوْنَ

qul a ro`aitum in akhozallohu sam'akum wa abshoorokum wa khotama 'alaa quluubikum man ilaahun ghoirullohi ya`tiikum bih, unzhur kaifa nushorriful-aayaati summa hum yashdifuun

"Katakanlah (Muhammad), Terangkanlah kepadaku jika Alloh mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Alloh yang kuasa mengembalikannya kepadamu? Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami), tetapi mereka tetap berpaling."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 46)

Sumber: Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

*******
Tafsir Ibnu Katsir
Al-An'am, ayat 46-49

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ (46) قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ (47) وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (48) وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (49)

Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku jika Alloh mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hati kalian, siapakah ilah selain Alloh yang kuasa mengembalikannya kepada kalian?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Alloh kepada kalian dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan maka adakah yang dibinasakan (Alloh) selain dari orang-orang yang zhoolim?” Dan tidaklah Kami mengutus para rosul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman kepada Rosul-Nya, bahwa katakanlah kepada mereka yang mendustakan dan ingkar kepada kekuasaan Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ}

Terangkanlah kepadaku jika Alloh mencabut pendengaran dan penglihatan kalian. (Al-An'am: 46)

Yakni Dia mencabutnya dari kalian sebagaimana Dia telah mem­berikannya kepada kalian, seperti yang disebutkan dalam firman lain:

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ

Dialah Yang menciptakan kalian dan menjadikan bagi kalian pendengaran dan penglihatan. (Al-Mulk: 23), hingga akhir ayat.

Dapat diinterpretasikan pula bahwa ungkapan ini mengandung makna larangan menggunakan pendengaran dan penglihatan menurut apa yang diperintahkan oleh syariat, karena pada firman selanjutnya disebutkan:

{وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ}

serta menutup hati kalian. (Al-An'am: 46)

Perihalnya sama dengan yang disebutkan oleh firman-Nya:

{أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ}

atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan? (Yunus: 31)

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ}

dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghalang-halangi antara manusia dan hatinya. (Al-Anfal: 24)

*******

Mengenai firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ}

siapakah ilah selain Alloh yang kuasa mengembalikannya kepada kalian? (Al-An'am: 46)

Artinya, apakah ada seseorang selain Alloh yang dapat mengembalikan hal itu kepada kalian, jika Alloh mencabutnya dari kalian? Jelas tidak ada seorang pun yang mampu melakukannya selain Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa. Karena itulah pada firman selanjutnya disebutkan:

{انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ}

Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami). (Al-An'am: 46)

Yakni Kami terangkan, Kami jelaskan, dan Kami tafsirkan tanda-tanda tersebut yang semuanya menunjukkan bahwa tidak ada Ilah selain Alloh, dan semua yang mereka sembah selain Alloh adalah batil dan sesat.

{ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ}

kemudian mereka tetap berpaling (juga). (Al-An'am: 46)

Yaitu sekalipun dengan adanya keterangan yang jelas itu, mereka tetap berpaling dari kebenaran dan menghalang-halangi manusia untuk mengikutinya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yasdifiina ialah menyimpang. Menurut Mujahid dan Qatadah adalah berpaling, sedangkan menurut As-Saddi menghambat (menghalang-halangi).

*******

Firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً}

Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Alloh kepada kalian dengan sekonyong-konyong.” (Al-An'am: 47)

Yakni kalian tidak merasakannya sehingga kedatangannya mengejutkan kalian.

{أَوْ جَهْرَةً}

atau terang-terangan. (Al-An'am: 47)

Maksudnya, dengan jelas dan kelihatan.

{هَلْ يُهْلَكُ إِلا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ}

maka adakah yang dibinasakan (Alloh),
selain dari orang-orang yang zhoolim? (Al-An'am: 47)

Yakni sesungguhnya pembinasaan itu hanyalah meliputi orang-orang yang berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, karena kemusyrikan mereka. Dan Alloh menyelamatkan orang-orang yang selalu menyembah-Nya semata serta tidak mempersekutukan-Nya. Maka tiada ketakutan yang mencekam mereka, tidak pula mereka bersedih hati; perihalnya sama dengan yang disebutkan oleh firman-Nya:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

allaziina aamanuu wa lam yalbisuuu iimaanahum bizhulmin ulaaa`ika lahumul-amnu wa hum muhtaduun

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhooliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 82)

*******

Adapun firman Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa:

{وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ}

Dan tidaklah Kami mengutus para rosul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. (Al-An'am: 48)

Artinya, menyampaikan berita gembira kebaikan kepada hamba-hamba Alloh yang beriman, dan memberi peringatan kepada orang-orang yang kafir kepada Alloh dengan pembalasan Alloh dan siksaan-siksaan-Nya. Dalam ayat selanjutnya disebutkan:

{فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ}

Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan. (Al-An'am: 48)

Yakni barang siapa yang hatinya beriman kepada apa yang disampaikan oleh para rosul dan memperbaiki amal perbuatannya dengan mengikuti petunjuk mereka.

{فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ}

maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. (Al-An'am: 48)

Yaitu bila dikaitkan dengan masa depan mereka.

{وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}

dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-An'am: 48)

Yakni bila dikaitkan dengan masa lalu mereka dan apa yang mereka tinggalkan di belakang mereka menyangkut perkara duniawi dan aneka ragamnya. Alloh-lah yang menjadi pelindung mereka dari apa yang telah mereka tinggalkan dan Alloh-lah yang memelihara mereka dari masa lalunya.

Kemudian Alloh Subhaanahuu wa Ta'aalaa berfirman:

{وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ}

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (Al-An'am: 49)

Maksudnya, mereka akan mendapat azab karena kekafiran mereka terhadap apa yang telah disampaikan oleh para rosul, dan karena mereka menyimpang jauh dari perintah-perintah Alloh, tidak mau taat kepada-Nya, selalu mengerjakan hal-hal yang dilarang dan yang diharamkan-Nya serta selalu melanggar batasan-batasan yang diharamkan-Nya.

Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir

Entri yang Diunggulkan

Big data warisan budaya takbenda

Pertemuan informal dengan Adam Cao dari Yong Xin Hua Yun Cultural Industry Investment Group Co., Ltd. pada Sesi ke-13 the Intergovernmenta...