Kamis, 22 November 2018

Sebuah pemikiran untuk strategi pemajuan kebudayaan

Isu-isu pokok kongres kebudayaan

8 dari 10 pokok-pokok isu yang akan dibahas dalam Kongres Kebudayaan, 5-9 Desember mendatang termasuk dalam warisan budaya takbenda, yaitu (1) bahasa, (2) manuskrip*, (3) adat istiadat, (4) ritus, (5) tradisi lisan, (6) pengetahuan tradisional, (7) teknologi tradisional, (8) seni permainan rakyat, (9) olahraga tradisional, dan (10) cagar budaya.

* Manuskrip termasuk program Memory of the World, UNESCO.

Indonesia telah meratifikasi konvensi internasional di bawah naungan UNESCO.

UNESCO adalah lembaga dunia yang menangani pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, yang bertujuan mewujudkan perdamaian dunia melalui promosi keberagaman budaya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.  

Inter-relasi 3 Konvensi UNESCO

Ada 3 Konvensi di bawah naungan UNESCO, yaitu Konvensi 1972 tentang Proteksi Warisan Alam dan Dunia, atau disebut juga Warisan Dunia; Konvensi 2003 tentang Pelindungan Warisan Budaya Takbenda (budaya hidup), dan Konvensi 2005 tentang Proteksi dan Promosi Ekspresi Keberagaman Budaya.

Warisan Dunia (Konvensi 1972)

- Konservasi warisan dan tempat-tempat yang tidak dapat dipindahkan (immovable heritage)
- Nilai universal yang luar biasa (outstanding universal value)
- Keaslian, keutuhan membantu untuk menentukan nilai, dan seringkali membatasi perubahan.

Ruang lingkup:
- Warisan alam, seperti taman nasional
- Warisan budaya benda (tangible heritage), seperti candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Situs Manusia Purba
- Gabungan warisan alam dan budaya benda (natural and culture heritage)

Warisan Budaya Takbenda (Konvensi 2003)

- Pelindungan atas ekspresi, keterampilan, praktik-praktik, dan pengetahuan.
- Budaya dan/ atau sosial
- Komunitas mendefinisikan nilai yang relevan dengan mereka.
- Orang-orang memberlakukan dan mentransmisikan, jadi warisan budaya takbenda selalu berubah dari waktu ke waktu.
- Warisan budaya takbenda adalah praktik-praktik kolektif, yang ditransmisikan sedikitnya satu generasi.
- Fokus pada pelindungan atas praktik dan transmisi warisan budaya takbenda.

Ruang Lingkup:
- Ekspresi tradisi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda, seperti Saman.
- Seni pertunjukan, seperti pertunjukan Wayang, Angklung, Tari Bali
- Praktik-praktik sosial, ritual-ritual dan festival-festival, seperti Tari Bali
- Pengetahuan dan praktik-praktik tentang alam dan alam semesta, seperti Tari Bali, Batik
- Keterampilan tradisional, seperti Keris, Noken Papua, Pinisi, Batik

Produk dan Jasa (Konvensi 2005)

- Aktivitas budaya, produk (barang-barang dan jasa-jasa)
- Ekspresi-ekspresi budaya yang seringkali baru.
- Fokus pada industri budaya, diseminasi, dan pengembangan

Ruang lingkup:
- Pertunjukan dan perayaan-perayaan (Seni pertunjukan, musik, festival, fair, dan pesta)
- Seni-seni visual dan kerajinan (seni rupa, fotografi, kerajinan)
- Buku dan Penerbitan (buku, surat kabar dan majalah, barang cetakan lainnya, perpustakaan termasuk virtual library; pameran buku).
- Audio-visual dan media interaktif (film dan video, televisi dan radio termasuk live streaming televisi dan radio.
- Video games (permainan video)
- Desain dan jasa-jasa kreatif (desain mode, desain grafis, desain interior, desain lanskap, jasa arsitektural, dan jasa iklan)

Dalam konteks nasional, warisan budaya benda (tangible heritage/ world heritage) telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sedangkan warisan budaya hidup (intangible cultural heritage) telah diatur dalam undang-undang, antara lain Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta dan Undang-Undang Nomor 5  Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. 

Konvensi 2005 tentang Proteksi dan Promosi Ekspresi Keberagaman Budaya, antara lain diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan tidak mengatur pelindungan, pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan tentang produk budaya yang  berupa barang maupun jasa.

Konvensi 2005 sangat erat kaitannya dengan industri budaya, yang kemudian berkembang menjadi industri kreatif, yang sekarang dikenal  dengan istilah ekonomi baru atau ekonomi kreatif (UNCTAD).

Bahan baku industri budaya atau industri kreatif bersumber dari budaya atau nilai-nilai, yang digali dan dikembangkan dari warisan alam dan budaya benda (cagar budaya) dan/ atau warisan budaya takbenda (budaya hidup), yang diekspresikan dalam berbagai aktivitas sosial dan perlengkapan hidup manusia untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan hidupnya. 

Konteks ruang dan waktu

Budaya mempunyai konteks ruang dan waktu atau lokalitas tertentu. Dengan kemajuan teknologi saat ini, konteks ruang dan waktu menjadi tanpa batas (borderless) sehingga budaya di suatu tempat (spatial) dan waktu tertentu (temporal) dapat dilihat dan didengar oleh orang-orang dari berbagai tempat di dunia (borderless society). 

Dalam kondisi demikian akan terjadi pinjam-meminjam dan tukar-menukar budaya di antara orang-orang dari berbagai belahan dunia, yang akan membentuk karakter dan identitas budaya yang diwarnai dengan nilai-nilai yang bersumber dari alam,  budaya, dan lingkungan, yang terus menerus mengalami perubahan sejak dari masa lalu, masa kini, dan masa depan seiring dengan dengan perjalanan sejarah umat manusia.

Intinya, proses pembelajaran di antara orang-orang di berbagai belahan dunia, yang dipercepat dengan kemajuan teknologi informasi, telah mengubah wajah dunia menjadi "Satu untuk semua atau semua untuk satu." Artinya, nilai-nilai yang diekspresikan melalui berbagai aktivitas dan perlengkapan hidup untuk memenuhi tujuan hidup orang-orang di suatu tempat dan waktu tertentu di dunia, selama terhubung dengan jaringan frekuensi, internet, atau satelit, akan memberi pengaruh terhadap orang-orang di seluruh dunia. Demikian juga nilai-nilai dari orang-orang di seluruh dunia, yang diekspresikan dalam berbagai aktivitas sosial dan perlengkapan hidup dalam rangka memenuhi kebutuhan atau tujuan hidupnya akan memengaruhi orang-orang di berbagai tempat di dunia. 

Ilustrasi:
Orang-orang yang menggunakan smartphone dapat memengaruhi gaya hidup orang-orang di seluruh dunia atau dipengaruhi oleh gaya hidup orang-orang dari seluruh dunia.

Pendidikan seumur hidup

Karena budaya dipelajari secara terus dari lingkungan dan digunakan secara selektif untuk menghadapi lingkungan (learning and adaptation) yang dinamis sehingga strategi pemajuan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan seumur hidup (lifelong education).

Belajar dari pengalaman

Manusia diberi akal untuk belajar dari perjalanan hidup manusia di masa lalu, dari perspektif kekinian untuk masa depan yang lebih baik. 

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Peradaban manusia di masa lalu, ada yang sudah hilang, rusak, atau punah; ada yang terancam punah; ada yang dikonservasi; ada yang masih hidup sampai sekarang; ada yang sedang berkembang, dan adapula yang menjadi praktik-praktik terbaik sehingga menjadi model pembelajaran di seluruh dunia. 

Data kebudayaan

Untuk menyusun sebuah strategi kebudayaan diperlukan data statistik kebudayaan yang mengacu pada Kerangka Statistik Kebudayaan yang dirilis oleh UNESCO Institute for Statistics tahun 2010, yang meliputi data warisan alam dan budaya (Konvensi 1972); data seni pertunjukan dan perayaan, data seni visual dan kerajinan, data buku dan penerbitan, data audio-visual dan media interaktif, data desain dan jasa kreatif (Konvensi 2005), data yang terkait dengan pariwisata, data yang terkait dengan olahraga dan rekreasi, dan data warisan budaya takbenda (Konvensi 2003).

Tanpa data statistik kebudayaan yang menyeluruh dan terkait dengan kebudayaan, mustahil dapat menyusun strategi pemajuan kebudayaan untuk 5 sampai 10 tahun ke depan. 

Strategi pemajuan kebudayaan

Kerangka statistik kebudayaan dapat digunakan untuk mengorganisasi data kebudayaan, yang antara lain bermanfaat untuk:

1. Pendidikan dan pelatihan seumur hidup melalui pendidikan formal dan nonformal (transmission).
2. Pengarsipan dan pelestarian 
3. Perlengkapan (sarana dan prasarana pendidikan)

Strategi pemajuan kebudayaan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi komunitas, kelompok, dan/ atau  individu-individu. 

Komunitas terdiri atas
praktisi (practitioner) dan 
penerus tradisi (tradition-bearer), orang yang meneruskan keahliannya kepada orang lain.

Komunitas adalah orang-orang yang berpartisipasi secara langsung atau tidak langsung dalam praktik dan/ atau transmisi (melalui pendidikan formal dan non-formal) unsur warisan budaya takbenda (atau sekumpulan unsur) dan/ atau yang mempertimbangkan warisan budaya takbenda sebagai bagian dari warisan budaya mereka.

Menurut Konvensi 2003, "Komunitas, khususnya komunitas adat, kelompok, dan dalam beberapa kasus individu, memainkan peran penting dalam produksi, pelindungan, pemeliharaan, dan penciptaan kembali warisan budaya takbenda, sehingga membantu memperkaya keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia."

Konvensi 2003 tidak membedakan "komunitas" dengan "kelompok." Beberapa penafsiran mengartikan "kelompok" sebagai jejaring orang (seperti praktisi, pelindung, atau penerus tradisi) di dalam komunitas, atau di seluruh komunitas yang memiliki pengetahuan khusus tentang unsur warisan budaya takbenda tertentu, atau yang mempunyai peran khusus dalam transmisi atau penggunaan atau praktik warisan budaya takbenda.

Pemerhati budaya, industri budaya, industri kreatif, ekonomi kreatif.


Entri yang Diunggulkan

Big data warisan budaya takbenda

Pertemuan informal dengan Adam Cao dari Yong Xin Hua Yun Cultural Industry Investment Group Co., Ltd. pada Sesi ke-13 the Intergovernmenta...